Simpanan

Simpanan
-Kebahagiaan bercampur petaka-


__ADS_3

“Apakah salah mencintai seseorang yang juga di miliki orang lain? Aku rasa tidak salah. Karena aku berpendapat semua orang memiliki hak untuk mencintai punya orang juga. Jika pun ada yang melarangnya, siapa kah orang itu?”


-Kania-


Andri:


Sudah jam setengah 7 malam. Aku melihat suasana malam di Paris ini dengan hanya seorang diri. Sebenarnya aku tidak seorang diri, hanya saja aku sedang menunggu istri baruku disebuah kafe. Kami bertemu janji dengan ia di bawah Menara Effiel bermaksud ingin menambah kesan yang romantis untuk kami berdua. Tetapi karena masih awal, jadi aku memutuskan untuk meminum segelas kopi panas di kafe ini.


Sesekali aku melirik ponsel ku yang berada di atas meja sambil berfikir, apakah aku harus menghubungi Keisha atau tidak. Karena semenjak keberadaanku di Paris, aku sama sekali belum menghubungi nya.


Dan aku pun sudah berencana jika besok aku dan Kania akan kembali ke Indonesia. Aku sudah memesan tiket untuk kepulangan ku besok. Menurutku aku sudah sangat lama disini, bisa-bisa Keisha dan ibu curiga kepada ku. Apalagi aku tidak memberi kabar kepada mereka berdua.


Aku menopang dagu ku sedikit bingung, “Hem, apakah aku harus menghubungi Keisha?” aku rasa jawabannya iya.


Langsung saja aku mengambil ponsel ku dan mencari nama Keisha di kontak ponsel ku. Lalu menekan untuk menghubungi nya. Ku tempelkan ponsel ku ditelinga ku, suara panggilan masuk pun berbunyi. Aku menggigit bibir bawah ku sambil menggerakkan kaki bawah ku. Kurasa ini rasanya gugup yang sangat luar biasa atau rasa bersalah yang pernah ada karena aku tidak memberi kabar kepada nya.


“Halo,” suara disebrang sana sontak membuat aku terlonjak kaget bukan main.


Langsung saja aku menjauhkan ponselku sambil melihat bahwa Keisha mengangkat ponsel ku.


“Aduh, gimana ini,” aku menjadi bingung sendiri. Lalu aku menarik nafasku dan menghembuskannya begitu panjang. Kurasa aku harus bicara dengan Keisha.


“Halo?” ucapku ragu.


“Mas?!”


Aku menggaruk kepala ku yang terlihat tidak gatal merasa bingung, “Mas kemana saja ha? Kenapa baru menghubungi Keisha sekarang ha? Mas tidak tau bagaimana khawatir nya Keisha ke Mas? Mas tidak tau bagaimana kefikirannya Keisha ke Mas karena Mas tidak mengabari apapun kepada Keisha. Keisha kangen Mas tau gak!” cerocos nya di telepon membuat senyuman di bibir ku mengembang.


Astaga istri ku itu membuat aku membayangkan wajah merah nya dengan bibir yang maju beberapa senti karena ia mengomel. Aku yang membayangkan nya saja membuat hati ku terasa lega begitu saja. Keisha memang benar-benar wanita yang berbeda diantara wanita lainnya. Maafkan Mas ya Kei, Mas sudah mengkhianati pernikahan kita dan Mas sudah mengkhianati cinta yang kamu berikan kepada Mas.


“Hehehehe, maafkan Mas ya sayang. Semenjak Mas ada di Paris, Mas sibuk banget sampai gak pegang ponsel. Dan ini baru saja urusan Mas kelar, baru bisa pegang ponsel. Tapi percaya lah, walaupun Mas gak mengabari kamu. Mas kangen kamu juga sayang,” ujar ku dengan kebohongan yang mungkin terasa menjijikkan apabila didengar yang lainnya. Ini memang sangat menjijikkan.


Aku bukan sibuk dengan urusan pekerjaan. Melainkan aku sibuk dengan urusan yang namanya pernikahan ilegal ku dengan Kania, tapi mau bagaimana lagi kalau bukan karena aku berbohong bisa-bisa aku menyakiti hati Keisha. Aku tidak mau itu terjadi bagaimana pun juga.


“Ahh, Mas. Kamu udah buat Kei takut aja. Tetapi sekarang ketakutan Kei sudah hilang saat mendengar suara Mas. Syukur alhamdulillah Kei panjatkan untuk itu, Mas.”


“Maafkan Mas ya Kei sudah membuat kamu khawatir dan sudah membuat takut karena Mas tidak memberikan kabar kepada mu,”


“Tidak apa-apa kok, Mas. toh, aku juga ngerti sama kesibukan mu yang luar biasa itu.”


Aku tersenyum mendengar perkataannya, ia memang benar-benar mengerti dengan keadaanku sekarang. Entah apa itu kenapa rasa bersalah ku menjadi bergejolak. Dadaku terasa sangat sesak sekali. Menyesakkan hingga masuk ke relung hati ku, astaga kenapa ini bisa begini?


Aku menghela nafas kasar membuang rasa sesak. “Tapi kamu jangan khawatir ya sayang. Besok Mas akan kembali ke Indonesia kok, jadi tunggu keberadaan Mas disana. Oke?”


“Benarkah?” tanya Keisha dengan suara senang nya. Aku tau saat ini wajah nya pasti sangat sumringah mendengar aku akan kembali, aku tau ekspresi nya sekarang ini.


Aku mengangguk kecil, walaupun Keisha tidak melihat anggukan ku ini. “Iya sayang, benar. Kemungkinan besok sekitaran jam 9 pagi aku akan berangkat ke Indonesia. Jadi, siap-siap lah kamu masak dirumah. Masak makanan kesukaan Mas ya?”


“Tapi Keisha ingin jemput Mas di bandara, gimana dong?”


“Jangan!” jawab ku cepat.


“Kenapa?” tanya nya dengan suara nya yang terdengar mengecil.


Astaga, bisa gawat dong jika dia menjemput ku dibandara apalagi jika aku bersama Kania. Kurasa pernikahan yang baru saja terjadi akan hancur juga karena ketahuan istri sah ku itu.


“Kenapa aku tidak boleh jemput Mas dibandara?” tanyanya lagi membuat aku mengusap wajah ku frustasi.


“Hem, soalnya Mas habis dari bandara harus ke kantor dulu sebentar. Ya, Mas dari bandara langsung menuju ke kantor. Jadi, kamu tunggu di rumah saja ya sayang. Dandan yang cantik dan menanti kedatangan Mas di rumah saja, ya?”


“Hem, iya deh. Keisha tunggu di rumah saja,” jawab nya lemah.


Aku rasa dia kecewa dengan pencegahan ku karena dia ingin menjemput ku di bandara. Tidak apa, tidak masalah. “Gak papa kok kamu gak jemput Mas di bandara. Yang penting kamu tunggu Mas dirumah itu sama dengan kamu jemput Mas di bandara. Sama-sama dapat pahala. Kamu masak makanan kesukaan Mas, lalu dandan yang cantik untuk Mas. Kamu udah dapat pahala, malah lebih besar pahala nya dibandingkan kamu jemput di bandara. Gimana? Kamu tunggu di rumah aja ya sayang?”

__ADS_1


“Iya Mas ku, aku akan tunggu Mas di rumah aja.” Aku menghela nafas lega.


“Makasih ya sayang,"


“Iya, Mas”


“Yaudah, Mas tutup telponnya dulu ya. Soalnya Mas mau kembali ke hotel,”


“Iya. Tapi sekarang Mas lagi ada dimana?”


“Ini lagi ada di kafe,”


“Ohh, yaudah. Hati-hati di jalan ya Mas,”


“Iya sayang,”


“Love you, Mas,”


“Love you too, sayang.” aku langsung memutuskan panggilan ku.


Kuletakkan begitu saja ponsel ku diatas meja sambil menghela nafas lega. Memegang dada ku yang berdebar-debar sangat kencang hingga aku bisa merasakan nya hanya dengan telapak tangan ku ini. Rasanya begitu menyeramkan.


Aku melihat jam di arloji ku, jam 7 lewat 5 menit. Astaga, aku terlambat karena keasikan berbicara kepada Keisha. Aku rasa, Kania sudah berada di Menara Effiel. Langsung saja aku menggunakan jaket ku yang ku buka tadi. Lalu beralih kekasir membayar minuman ku. Berjalan tergesa-gesa keluar dari kafe menuju ke Menara Effiel. Semoga saja ia tidak menunggu ku begitu lama.


Kania:


Dengan dress yang ku gunakan sekarang. Berjalan di sekitaran Menara Effiel yang terdapat banyak orang berlalu lalang memandang ku. Entah kenapa mereka melihat ku seperti itu. Apa karena penampilanku yang seperti ini atau ada sesuatu di wajahku. Tetapi aku merasa seperti nya tidak ada apapun diwajah ku dan penampilan ku seperti nya tidak salah.


Ahh bodo amat lah dengan tatapan orang itu. Aku hanya kembali melanjutkan jalanku sambil mengedarkan pandangan ku berusaha mencari orang yang ingin ku cari. Dimana Andri? Kenapa aku belum menemukan ia? Sebenarnya ada di mana dia?


Aku berjalan hingga berada di bawah dekat Menara Effiel itu. Dari jauh aku melihat pria yang berbadan tegap tersenyum ke arahku sambil memegang sekuntum mawar merah di tangan nya.


Aku pun membalas senyuman itu lalu berjalan menghampiri nya. Ia pun ikut menghampiriku dari arah lawan sana. Saat aku berjalan menghampirinya, jantung ku berdetak tidak karuan. Keringat dingin membasahi telapak tangan ku. Aku meremas kedua tanganku sambil menundukkan kepalaku.


Tetapi walaupun aku dan dia sudah lama, tetap saja aku merasakan rasa gugup yang luar bisa. Entah karena apa itu, apa mungkin karena status kita yang sudah berbeda. Yang awal nya pacaran kini menjadi hubungan yang namanya suami istri. Ahh, mungkin ya karena itu. Bisa jadi.


Saat aku sudah berada didepan Andri. Aku pun mendongak kan kepala ku melihat wajah nya yang masih tersenyum ke arah ku. Sangat tampan, membuat kedua pipi ku memanas dan mungkin sekarang berwarna merah. Ahh, aku sungguh malu menatap ia secara terang-terangan seperti saat ini.


Aku menundukkan kepala ku lagi, tidak sanggup menatap nya untuk terlalu lama. “Kan,” panggil nya. Aku masih menunduk kan kepala ku hingga ia menarik dagu ku untuk menatap nya lagi.


“Mas,” ucap ku malu-malu.


Ia tersenyum lalu menarik tubuh ku kedekapannya. Astaga, kurasa jantung ku hampir saja melompat karenanya. Pelukannya saat ini terasa sangat hangat dan nyaman sekaligus memabukkan bagi ku.


Aku hanya bisa tersenyum sambil membalas pelukannya juga. Walaupun aku sering memeluk Andri, tetapi ini seperti untuk pertama kali nya aku memeluk Andri. Bukan sebagai pacar melainkan sebagai istri sah. Ya, aku sebagai istri sah nya sekarang.


Andri melepaskan pelukannya begitupun dengan aku. Cukup lama aku menatapnya hingga ia meraih kepala ku lalu mencium kening ku lumayan lama. Aku memegang pinggang nya lalu memejamkan kedua mata ku merasakan sensasi dicium oleh pasangan sendiri. Lalu ia melepaskan ciuman ku sendiri.


“Mas,” panggil ku hingga sesuatu yang tidak kubayangkan terjadi saat ini juga.


Cup


...


...


...


Andri?


Benarkah ini?


Apa ini hanya sebuah mimpi?

__ADS_1


Atau sebuah kenyataan?


Bahwa Andri?


Suami ku sendiri?


Mencium bibir ku walau hanya sekilas?


Benarkah ini?


Kedua mataku hanya bisa melotot besar dengan aksi nya yang hanya beberapa detik ini.


Andri tersenyum ke arah ku, “Happy anniversary yang ke 3 tahun ya sayang,” ucapnya. Aku membalas senyuman ku sambil ingin membalas ucapannya. Namun saat ingin membalas ucapannya itu, tiba-tiba ada yang memanggil Andri dengan teriakan yang cukup membuat aku dan Andri terkejut.


“ANDRI!!!!” sontak saja aku dan Andri kompak menoleh kearah suara itu.


Kami berdua terkejut saat siapa yang memanggil nama Andri. Samar-samar aku melihat orang itu, sepertinya aku mengenal ia. Aku menoleh ke Andri yang wajah nya sudah pucat pasi.


“Mas, ibu mu,” ucap ku.


Andri hanya bisa diam. Aku kembali melihat ibu Andri yang berjalan ke arah kami bersama seseorang disebelah nya. Jantung ku berdegup sangat cepat, bukan karena gugup melainkan karena takut hubungan kami ketahuan oleh ibu Andri.


Ya Tuhan, haruskah hubungan kami ketahuan seperti ini? Haruskah? Baru kami menikah kemarin masa kami harus berpisah karena ketahuan oleh ibu nya Andri. Ini sungguh tidak adil.


“I—bu,” panggil Andri terbata-bata. Aku langsung bersembunyi dibelakang Andri. Aku sangat takut berhadapan dengan ibu nya Andri. Takut ia melabrak ku, kini hancur sudah. Rahasia yang harus kami sembunyikan ini malah terbongkar dengan seperti ini.


Happy anniversary yang harus nya berujung bahagia malah berujung petaka. Aku tidak membayangkan jika seperti ini jadi nya.


“Ibu,” panggil Andri saat ibu nya sudah berada di hadapannya. Aku tetap bersembunyi di punggung Andri yang kurasakan bergetar hebat. Aku tau jika saat ini ia sama takut nya dengan ku.


Plaakk....


Suara tamparan mengejutkan diriku. Aku pun langsung keluar dari persembunyian itu melihat Andri sudah memegang pipi nya. Ya, ibu menampar Andri begitu kuat nya hingga pipi Andri berwarna merah.


“Mas, kamu tidak apa-apa?” aku sambil melihat Andri khawatir.


“Tega kamu ya Andri, tega kamu sama ibu! Tega kamu sama Keisha! Berani-berani nya kamu selingkuh di belakang istri mu sendiri!!” teriak ibu hingga membuat orang yang sedang berlalu lalang melihat ke arah kami.


Aku dan Andri tetap menunduk, bahkan aku tidak berani menatap wajah ibu nya.


Sungguh, ini hal yang paling memalukan yang pernah terjadi dihidup ku. Tetapi untung nya aku tidak sendiri, melainkan aku bersama Andri yang menemani ku.


“Ibu, lihat kamu dari jauh bersama wanita ini. Kamu peluk dia, cium dia bahkan hal yang menjijikkan yang belum pernah ibu lihat malah kamu lakukan di muka umum. Tidak ingat kah kamu Andri bahwa kamu punya istri di rumah! Keisha!! Istri mu!!” aku melihat Andri yang tetap menunduk.


“Siapa wanita ini hah?” ucap nya lagi.


Jantung ku langsung berhenti berdetak saat ibu nya bertanya diriku karena sedari tadi aku terus menunduk tanpa memperlihatkan wajah ku.


“Wanita mana yang berani menjadi selingkuhan mu yang sudah beristri? Biar ibu lihat! Sini kamu!” ibu Andri menarik ku cukup ganas hingga aku berhadapan dengan dia dengan wajah yang sudah mendongak.


Kedua tatapan kami bertemu. Bukan tatapan aku dengan ibu Andri saja melainkan dengan seseorang yang tadi aku temui di lift.


“Kania,”


“Kania,” ucap Andika dengan ibu Andri serempak di samping nya.


Tunggu, jadi ibu Andri itu ibu Andika? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?


“Jadi, suami yang kamu maksud kemarin itu abang ku?” tanya Andika dengan tatapan yang tidak percaya. Ibu Andri langsung menoleh melihat Andika tidak mengerti dengan perkataannya.


“Apa yang kamu katakan, De? Suami? Suami siapa?” tanya ibu.


Andika pun hanya menoleh melihat ibu nya. kini mereka berdua saling menatap satu sama lain. Aku dan Andri hanya bisa menunduk diam. Habis sudah.

__ADS_1


__ADS_2