Simpanan

Simpanan
-Debaran yang tidak biasa-


__ADS_3

“Tidak perlu mengotot untuk menjadikan orang itu untuk menjadi milik mu. Serahkan saja semuanya pada Yang Maha Kuasa, karena semuanya sudah di atur sebelum kita lahir ke dunia.”


-Haikal


Keisha:


“Jaga dirimu baik-baik ya Kei, maaf ibu gak bisa nemenin kamu dikarenakan ibu harus menghadiri wisuda Ade. Secepatnya jika urusan di sana sudah kelar, ibu akan pulang,”


Ya, kalimat itu, kalimat perpisahan ibu karena ibu akan pergi ke Paris. Saat ini aku hanya bisa menemani nya di bandara karena sebentar lagi ia akan berangkat ke sana. Aku hanya bisa menggenggam tangannya dan tersenyum ke ibu.


“Gak papa kok bu, ibu jalan-jalan saja dulu di Paris menikmati kota romantis itu. Ibu tidak perlu fikirin Kei disini, Kei bisa jaga diri dengan baik kok,”


“Hem baiklah kalau menurut kamu begitu.”


“Kira-kira, perjalanan ibu menuju ke Paris berapa jam ya bu?” tanya ku sedikit penasaran karena sampai kini Andri tidak menghubungiku ditelpon pun tidak ada aktif, apa ia belum sampai di Paris? Maklum saja aku tidak pernah keluar negeri.


“Kata Ade sih 21 jam perjalanan dengan transit 2 kali. Nanti pas transit, ibu akan menghubungi mu,” aku mengangguk pelan.


Hem, kalau ada transit nya seharusnya Andri menghubungi ku, kenapa dia tidak menghubungi ku sama sekali. Tidak khawatir kah ia kepada ku yang tinggal hanya seorang diri?


“Nanti kalau ibu sampai di Paris, ibu telpon saja Mas Andri. Siapa tau ibu bertemu dengan dia disana?”


“Itu pasti Kei, kalau bisa pas wisuda Ade, ibu akan telpon dia,”


“iya, sekalian menghadiri acara wisuda Ade kan bu?”


“Iya nak,” ibu tersenyum.


Aku hanya bisa menghela nafas pelan, berat rasanya kalau di tinggal pergi seperti ini. Serasa sepi kurasakan.


Ibu mengelus hijab ku, aku pun melihat nya dengan kedua mata nya yang sudah berkaca-kaca “Ibu selalu doakan yang terbaik buat menantu ku ini agar secepat nya bisa punya anak. Makasih ya Kei, selama ini kamu selalu sabar, selalu tersenyum, selalu perhatian dengan apapun yang terjadi. Ibu beruntung mendapatkan menantu seperti mu, ibu akan selalu menjaga Andri dari wanita lain Agar ia selalu bersama mu hingga akhir hayat ibu,”

__ADS_1


Aku tersenyum haru mendengar nya, aku meraih tubuhnya lalu memeluk nya dan mengusap punggungnya “Kei bersyukur punya mertua seperti ibu yang sudah Kei anggap sebagai ibu kandung. Selalu menerima kekurangan Kei walaupun Kei divonis mandul, ibu selalu menerima Kei dengan segela kekurangan yang ada pada diri Kei. Terima kasih ya bu, sudah memberikan sejuta kehangatan kepada Kei. Kei sangat berterima kasih, tetap sehat ya bu, agar Kei selalu bersama ibu.”


Ibu menguraikan pelukannya lalu memegang kedua pipi ku. Aku melihat setiap lekukan wajah ibu yang sudah mulai keriput disana-sini, aku tersenyum melihat wajah nya.


Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkan mertua seperti ibu Andri. Walaupun aku bukan anak nya, tetapi beliau selalu menganggap aku seperti anaknya. Aku sangat bersyukur untuk itu, tolong, jaga lah kesehatannya karena disaat ini hanya beliau yang ku punya.


Suara pemberitahuan pun terdengar, “Pesawat nya sudah mendarat bu, ibu masuk ke dalam gih, nanti ibu ketinggalan pesawat,” ibu tersenyum lalu ia meraih koper nya.


“Sesampai disana ibu akan telpon kamu ya Kei, jaga dirimu baik-baik ya.”


“Iya ibu,” aku meraih tangannya lalu mencium punggung tangannya.


“Fii amanillah bu, hati-hati di jalan. Jaga kesehatan.” Ibu mengangguk dan tersenyum.


“Ibu pergi dulu ya Kei,”


“Iya bu.”


Setelah kepergiaan ibu, aku hanya bisa menghela nafas berat. Dengan langkah yang sangat lunglai, aku berjalan keluar dari bandara dengan kepala yang tertunduk. Namun, saat itu lah semuanya terjadi.


Brughh...


“Aw!” pekik ku.


Aku mundur beberapa kebelakang dan hampir terjatuh kalau bukan seseorang memegang tubuhku, kedua mata ku pun saling bertatapan dengan kedua mata itu.


Kedua mata yang pemilik nya sudah menolong ku, “Keisha?” ia memandang ku tidak percaya.


“Ha-ikal?”


Oh tidak! Sadar karena Haikal lah sudah memegang tubuhku, langsung saja aku melepaskan pegangannya begitupun dengan ia. Aku langsung mundur dan istigfar beberapa kali.

__ADS_1


“Eung-itu. Tadi kamu hampir jatuh, dan aku refleks menolongmu. Maaf Kei, aku benar-benar tidak sengaja,” ujar Haikal dengan nada tidak enak.


Aku hanya bisa meringis, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah menabrak ia. Dan aku pun merutuki diriku sendiri berjalan malah dengan kepala tertunduk, seperti ini lah jadi nya.


“A-aku juga minta maaf Kal, karena sudah menabrak mu tadi. Seharusnya aku lihat-lihat terlebih dahulu,”


Aku sambil melirik Haikal yang terlihat mengangguk,”Kamu, ngapain disini?” tanya ku dengan pertanyaan bodoh. Aku meringis lagi, astaga, kenapa aku malah menanyakan pertanyaan konyol itu.


“Hem, tadi aku lagi mau nganter teman ku yang mau pindah dinas ke Paris. Ya kebetulan juga aku lagi gak ada jam kerja, sekalian aja anterin dia sampai ke sini.”


Aku mengangguk mengerti, aku mengira jika dia menertawakan pertanyaan bodoh ku ini.


“Kamu sendiri, nganterin siapa?” tanya nya balik.


“Eng, ibu mertua ku.” jawab ku singkat.


“Ohh,”


Seketika menjadi hening, merasa tidak enak dengan situasi ini aku pun langsung menyudahi pertemuan ini “Hem, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Kal. Permisi,”


Aku langsung berjalan pamit undur diri dari hadapannya, tetapi langkah ku langsung terhenti ketika Haikal mengatakan bahwa ia, “Aku anter kamu pulang ya Kei?” Mendengar tawaran itu, aku hanya bisa menahan nafas.


Ingat lah Kei, kau dan Haikal hanya lah sebatas pasien dan dokter. Jangan sampai karena ini semuanya berubah sekejap saja, bukan aku tidak ingin menjalin silaturahmi dengannya tetapi aku hanya ingin sedikit menghindari nya karena dulu kami pernah melakukan ta’aruf.


Oke, kalau menurut ku pribadi dulu aku tidak punya perasaannya. Bagaimana dengan dia? Dia pasti lah memiliki perasaan itu. Terbukti dengan ia masih lajang hingga sekarang. Hanya asumsi ku saja, kalau emang iya aku harus jaga jarak dengannya kalau pun bukan ya Alhamdulillah, berarti itu tidak benar adanya.


Aku hanya diam tidak menoleh ke belakang “Tidak perlu Kal, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih,” aku langsung meninggalkannya dengan cepat tanpa memperdulikan ia.


Untung saja kebetulan dihadapan ku sudah ada taxi, langsung saja aku masuk ke dalam dan menyuruh sopir untuk pergi dari bandara ini sekarang.


Sesampai di dalam taxi, aku menyandarkan tubuhku ke punggung kursi sambil menghela nafas dan memejamkan mata. Aku hanya bisa memegang dada kiri ku, kenapa jantung ini malah berdebar sangat cepat? Ada apa? Detakannya pun tidak seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2