Simpanan

Simpanan
-Goresan Hati-


__ADS_3

“Setiap hubungan sangat perlu dengan yang namanya, kesetiaan dan kejujuran. Apabila diantara dua ini tidak ada disuatu hubungan. Maka bersiap-siap lah hubungan yang dilandasi keindahan akan hancur dengan begitu mudahnya.”


-Keisha-


Kania:


“Tunggu!” teriakku dilorong rumah sakit menghentikkan langkah Andika yang sedang berjalan sambil memegang kertas di tangannya. Aku tau ia habis mengurus administrasi ibunya.


Andika yang mendengar teriakan pun menghentikan langkahnya lalu berbalik. Saat ia tau jika aku yang memanggil nya, ia kembali berjalan membuat aku dengan cepat berlari lalu menghadang langkahnya agar ia tidak berjalan lagi.


“Andika, berhenti. Please, berhenti dulu.” Andika pun menghentikan langkahnya dan menatapku dengan tatapan tak suka. Aku rasa, aku harus membiasakan ditatap seperti itu olehnya.


Aku melihat Andika dengan nafas terengah-engah. Kuatur nafasku lalu berdiri dengan tegap menatap Andika yang sedang melihat ke arah lain.


“Andika, aku mau ngomong sama kamu,”


Andika tidak menjawab. “Tentang masalah ini,” lanjutku.


Andika melihatku dengan tatapan tajam, “Lo mau ngomong apa lagi sama gue?” Kali ini giliran aku yang diam. Andika benar-benar berbeda dengan yang kukenal sebelumnya. Ia bahkan berkata dengan kata-kata ‘lo-gue’ yang sebelumnya terlihat sopan ‘aku-kamu’.


Kurasa, ia sangat membenciku karena hal ini. Keluarga Bagaskara satu pun tidak ada yang welcome kepadaku. Entah bagaimana jika Keisha yang tau, apakah dia akan membenciku seperti ibu dan Andika saat ini.


“Aku mau ngomong aja sama kamu, kita ke kantin rumah sakit aja ya. Biar aku yang traktir, gimana? Ayo,” aku menarik tangan Andika namun Andika langsung menepisnya sangat kuat hingga aku terhuyung ke samping.


Aku melihat Andika yang masih menatapku dengan tatapan benci itu. “Dengar telinga lo baik-baik. Karena perbuatan lo sama abang gue, oke, gue ralat. Karena perbuatan lo sama Andri itu, penyakit nyokap gue yang seharusnya gak kumat malah kembali lagi.” Penyakit? Ibu Andri punya penyakit? Penyakit apa?


“Penyakit apa?”


“Jantung,” sontak aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tidak menyangka jika ia mempunyai penyakit mematikan seperti ini.


“Jangan sok syok deh! Kalau nyokap gue kehilangan nyawa karena perbuatan kalian berdua. Lihat aja, kalian gak bakal hidup dengan tenang. Apalagi menyangkut kehidupan nyokap dan kakak ipar gue,”


Aku hanya bisa diam dan mendengarkan perkataan Andika yang keluar dari mulutnya. Aku memang pantas diginiin olehnya. Karena aku lah yang memilih jalan ini. Kejadian seperti ini akan terjadi juga dalam hidupku.


“Kania,” panggil Andika. Aku pun mendongak melihat ia yang sedang menyunggingkan senyum miringnya itu. “Gue kira lo baik, ramah dan dermawan sama orang. Ternyata lo covernya doang ya,”


Jleb...


Perkataan Andika barusan menohok hatiku, ia barusan mengatai aku? Ya Tuhan, baru kali ini ada yang mengatakan perkataan seperti itu kepadaku. “Sifat buruk lo itu tertutup dengan cover lo yang lo cetak dengan sangat rapi. Gue merasa kasihan dengan kakak ipar gue. Punya teman kek lo, yang martabatnya sok melas, sok baik, dan sok perhatian. Nyata-nyatanya ia malah menikam sahabatnya sendiri di belakang. Dengan begitu rapi dan mulus,” kedua mataku mulai memanas, sepertinya air mata akan merembes keluar dengan begitu derasnya.


Tidak, Kania! Kau harus menahannya agar tidak terlihat terluka dihadapan Andika yang sedang memberikan kata-kata pedas terhadapmu. Kau bisa menerimanya. Kau bisa.


“Dengar ya Kania, sampai kapanpun gue hanya punya kakak ipar yaitu Keisha. Gue gak punya kakak ipar lagi selain dia, ingat itu! Gue gak mau kakak ipar kek lo yang hasilnya merebut punya orang. Untuk sekarang lo bahagia karena sudah merebut suami kakak ipar gue. Tetapi untuk nanti, kebahagiaan lo akan hancur sedikit demi sedikit menyiksa kehidupan lo!”


Aku mengalihkan pandangan kearah lain. Rasanya setiap perkataan yang Andika lontarkan itu membuat hatiku terasa sangat sakit. Selama hidupku, aku tidak pernah mendapatkan perkataan seperti ini. Dan pada akhirnya perkataan pedas ini pun masuk ke telinga ku dan menusuk hati ku begitu dalamnya.


Andika pun mendekatiku. Aku hanya melihat ia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Tubuhku hanya bisa berdiri diam tidak bergerak sama sekali. Entah kenapa tiba-tiba aku tidak bisa menggerakkan tubuhku begini. Wajah Andika mendekati wajahku yang hanya menyisakan beberapa senti saja. Kurasa aku benar-benar tidak bisa bernafas karena tatapan bencinya itu.


“Congratulation, Kania. Sekarang, lo sudah dicap sebagai pelakor dikeluarga Bagaskara maupun dimasyarakat. Semoga lo menikmatinya,” begitu Andika berkata seperti itu. Ia berlalu dari hadapanku meninggalkanku seorang diri dilorong rumah sakit.


Saat Andika tidak ada dihadapanku. Kakiku pun langsung lunglai tidak bisa berdiri lagi. Aku terduduk dilantai dengan air mata yang sudah merembes begitu derasnya. Aku menangis terisak-isak dengan wajah yang sudah kututup dengan kedua tanganku. Rasanya perkataan terakhir dari Andika membuat hatiku seperti dipukul oleh batu yang begitu besar.


Aku tidak menyangka jika aku akan dipanggil pelakor oleh Andika. Dan untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan diriku seperti ini. Rasanya pernikahan yang terjadi ini bukan memberikan kebahagiaan terhadapku tetapi malah menyiksa perasaanku.


Rasanya aku sudah tidak memiliki harga diri lagi. Sehingga kata pelakor sudah disebutkan dihadapanku sendiri oleh adik dari suamiku. Seolah-olah aku memang sudah merebut suami dari temanku sendiri. Akan tetapi aku juga berfikir, disini apa hanya aku yang salah karena telah berani memiliki pasangan yang ternyata pasangan itu juga dimiliki oleh temanku.


Apa hanya disisi wanita saja yang bersalah? Apa Andri tidak bersalah juga disini? Karena dia juga sama-sama ingin memiliki ku. Harga diriku sebagai wanita hilang sudah karena kata pelakor itu.


Aku? Bukan sebagai Kania yang dikagumi oleh orang lagi.


Tetapi, aku?


Aku pelakor.


Perebut laki orang.


Orang itu adalah temanku sendiri.


Keisha:


Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Bukan tanpa alasan aku terbangun ditengah malam begini. Entah kenapa aku merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa. Gelisah tidak menentu yang tidak pernah terjadi selama hidupku. Dan ini untuk pertama kalinya aku merasakan kegelisahan ini.


Namun, itu tidak berlangsung lama karena ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponku ditengah malam begini.


“Halo?”


“Belum tidur Kei?” aku mengangkat sebelah alisku bingung. Lalu kulihat nama yang berada dilayar.


Haikal. Kenapa pria itu menelponku tengah malam begini? Tidak bisakah ia menghubungiku esok saja? Bukankah terlihat tidak sopan. Iya sih dia teman kecilku. Tetapi kalau difikir-fikir inikan tidak sopan.


“Kebangun Kal. Kamu kenapa nelpon aku malam-malam begini?” tanyaku yang sedikit risih kepadanya. Semenjak ia menjadi dokter konsultasi aku, kami menjadi semakin akrab begini. Bukan aku tidak suka dengan kedekatan kami berdua. Hanya saja masa lalu yang ada pada kita berdua tidaklah menyenangkan. Apalagi status Haikal yang masih sendiri. Kalau dia sudah memiliki pasangan mungkin aku akan sedikit tenang.


Bukan aku tidak suka dengannya. Hanya saja aku berjaga-jaga menjaga kedekatanku dengan teman priaku, apalagi statusku yang sudah menjadi istri. Sangatlah memungkinkan untuk setan menjerumuskan aku kedalam jalan yang salah. Dan aku tidak ingin itu terjadi.


Jadi, sebelum itu terjadi sebaiknya aku menjaga jarak saja. “Begini, maaf aku sudah menghubungimu malam-malam begini. Mungkin ini seperti terlihat lancang karena aku menghubungimu seperti ini. Seperti yang kita bicarakan tadi sore di kafe. Aku akan mengenalimu instruktur yoga kepadamu. Setelah ini aku akan mengirim kontaknya kepadamu. Aku sudah memberitahu kepadanya akan ada murid baru untuknya. Jadi, kamu langsung saja menghubunginya. Dia menunggu telponmu,” jelasnya cukup panjang lebar.


“Kenapa kamu tidak menghubungiku esok saja Kal? Kenapa harus malam-malam begini?” tanyaku yang terdengar sangat tidak suka. Memang sengaja aku menunjukkan rasa tidak sukaku begini agar ia tidak mengulanginya lagi dikemudian hari.


Sejujurnya ini sedikit menggangguku walaupun ia hanya sebagai temanku.


“Sebenarnya inginku begitu Kei. Hanya saja besok seharian aku akan sibuk. Jadwalku untuk 2 hari kedepan sangat padat, dan kamu harus mengikuti kelas yoga itu mulai besok,”


Keningku mengerut tidak mengerti dengan kata 2 hari itu, “Bukannya besok aku ada jadwal konsultasi denganmu ya Kal?”


“Ya, maka dari itu tadi sore aku memintamu untuk bertemu. Itu sebagai gantinya untuk jadwal besok kita bertemu. Aku ada urusan yang harus dikerjakan dengan beberapa dokter. Kemungkinan 2 hari itu jadwalku sangat padat. Jika aku tidak menghubungimu sekarang, kamu akan menunggu kabar ku tentang instruktur yoga itu. Makanya aku menghubungimu sekarang, ya walau itu terlihat seperti tidak sopan ya. Hehehe,” jelasnya lagi membuat aku langsung mengusap wajahku sambil istigfar.


Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku fikirkan terhadap Haikal? Bisa-bisanya aku berfikiran negatif kepadanya. Tentang pertemuan tadi sore hingga ia menghubungiku tengah malam begini, ia melakukan semua itu karena bersikap profesional terhadap dokter. Bukan bersikap sebagai pria kepada wanita. Apa yang sudah kufikirkan ini malah membuat Haikal tidak nyaman terhadapku.


Aku minta maaf kepadamu Kal. Rasanya aku sangat malu untuk meminta maaf kepadamu. Sudah berfikiran yang bukan-bukan. Ahh, apa yang sudah terjadi. Kenapa aku menjadi seperti ini?


“Keisha? Kamu masih ada disitu kan?”


Aku pun tersentak tersadar dari lamunanku sesaat. “Hah? Iya?”


“Jadi, nanti aku akan kirim kontak instruktur yoganya sama kamu ya. Mulai besok kamu udah bisa mulai masuk kelas yoga. Biasanya kelasnya dimulai sekitaran jam 7 pagi. Sebaiknya kamu lekas menghubungi instruktur nya ya,”


“Hem, i—iya Kal. Terima kasih ya,”


“Iya, sama-sama. Sekali lagi aku minta maaf ya udah menghubungimu malam-malam begini,”


“Ah, tidak apa-apa kok Kal.”


“Baiklah, aku tutup dulu ya telponnya. Selamat malam Kei,”


“Selamat malam juga Kal,”


Percakapan kita pun selesai. Haikal memutuskan panggilannya disebrang sana. Aku menurunkan ponselku perlahan lalu meletakkannya di nakas. Ada rasa bersalah dilubuk hatiku terhadap Haikal. Ini semua karena asumsi negatif yang mulai berada diotakku duluan.


Aku menghela nafas pelan lalu beranjak dari kasur menuju ke dapur untuk mengambil air putih. Sudahlah Keisha, tidak perlu difikirkan lagi. Besok, suamimu akan pulang. Kenapa perasaan dihatimu menjadi bercampur begini. Sebenarnya ada apa dengan mu?


Andika:


Masih berada di rumah sakit. Aku masuk kedalam kamar ibu setelah mengurus administrasi ibu. Sebelum aku masuk kekamarnya, terlebih dahulu aku mengatur emosiku terlebih dahulu. Pertemuanku dengan Kania tadi membuat emosiku sangat memuncak. Perkataan yang kulontarkan terhadapnya mungkin terasa sangat menusuk hati.


Aku akui jika perkataanku terasa sangat pedas seperti itu. Bukan karena aku berani kepada wanita. Hanya saja apabila ada hal yang berkaitan menyakiti hati ibuku, aku tidak segan-segan akan membuat ia mati kutu.


Apabila ia wanita, aku hanya menggunakan perkataan saja. Tetapi apabila ia pria aku akan menggunakan nyawaku ini demi ibuku.


Sejujurnya kini aku merasa sangat malu. Entah kenapa, aku merasa malu saja walau aku tidak melakukan apa-apa. Aku malu kepada alm ayahku yang sedang berada disurga sana. Aku tidak bisa menjaga saudaraku sendiri dengan baik. Hari ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saudaraku sendiri sudah melukai hati seorang ibu.


Perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Andri membuat penyakit ibu yang seharusnya dinyatakan sembuh malah harus kambuh lagi. Ia sendirilah yang berjuang mati-matian untuk menyembuhkan penyakit ibu. Tetapi hanya dengan sekejap ia membuat penyakit ibu kembali.


Sebagai adik, aku sangat malu menganggap ia sebagai saudara kandungku sendiri. Bahkan untuk melihatnya saja aku sudah merasa malas. Orang yang kuanggap sebagai panutan, kini orang itu sudah kuanggap sebagai buangan.


Saat aku memasuki kamar ibu, aku mendengar suara isakan tangis kecilnya itu. Hari ini hari dimana kita bahagia. Hari wisudaku yang seharusnya penuh dengan tangis bahagia. Malah hari ini, hari wisuda itu menjadi tangis penuh luka.


Kenapa harus hari ini? Kenapa harus hari bahagiaku? Kenapa harus hari istimewaku? Ini membuat aku jadi enggan untuk mengingatnya. Ini membuat hari kelulusanku ternodai oleh perbuatan saudaraku sendiri. Perbuatan yang tidak pernah kudugai ia bakal melakukannya.


Perlahan aku berjalan menuju ke ranjang tidur ibu. Saat itulah ibu menghentikan tangisnya. Mungkin ia mendengarkan langkah kakiku dan tidak ingin tau bahwa saat ini ia sedang menangis. Menangis atas perbuatan menjijikkan anak sulungnya itu.


“De,” panggil ibu dengan suara seraknya tidak lupa kedua matanya yang sangat sembab. Ia pun masih memberikan senyuman kecil kepadaku.


Kini, aku melihat sendiri bahwa wanita itu memang masih bisa tersenyum dengan sangat indahnya walau dihatinya saat ini sedang menyimpan beribu-ribu luka. Dan kini aku pun percaya, bahwa wanita memang lemah tetapi hatinya bisa sekuat baja untuk yang namanya masalah.


“Bu,” aku meraih tangannya lalu menggenggamnya.


Aku merasa kasihan dengan ibu, wajah sendunya dan kejadian ini membuat aku semakin tidak tega kepada ibu. “Bagaimana ini bisa terjadi kepada keluarga kita, De? Kenapa Andri bisa-bisa nya tega melakukan seperti itu kepada ibu dan kepada kakak ipar mu? Kenapa dia berani melakukan itu? Sebenarnya siapa yang mendidik dia hingga dia bisa melakukan itu?” deretan pertanyaan pun keluar dari bibir ibu. Air mata pun ikut mengalir dipipinya. Aku mengusapnya dengan lembut.


“Bu, Ade percaya bahwa ibu dan alm ayah mendidik Andri dengan baik. Tetapi mau gimana lagi jika dia begitu? Dia sendirilah yang melakukannya. Dia sendirilah yang menginginkannya. Jadi, ibu jangan menyalahi diri ibu sendiri ya.”


“Bagaimana ibu tidak menyalahi diri ibu sendiri, De? Bagaimana nasib anak perempuan ibu itu, Keisha. Dia wanita yang kuat, selalu menemani Andri dari susah hingga sesukses sekarang. Tetapi apa yang sudah Andri lakukan terhadapnya. Ia malah bisa-bisanya menikahi wanita lain dibelakangnya. Apalagi wanita itu teman istrinya sendiri. Ibu tidak tau bagaimana perasaan dia kalau dia tau bahwa suaminya melakukan ini terhadapnya. Ibu sangat yakin bahwa dia sangat hancur. Ibu sebagai mertua sekaligus ibu dari suaminya sangat malu untuk melihat wajah Keisha, De. Ia pasti beranggapan bahwa ibu ini menyetujui pernikahan Andri karena dia tidak bisa memiliki anak. Ibu tidak ingin ia berfikiran seperti itu kepada ibu. Karena selama ini hanya Keisha lah menantu kesayangan ibu,” tangisan ibu semakin menjadi saat ia mengatakan itu.


Aku tau, betapa ia sangat menyayangi kakak ipar seperti anaknya sendiri. Karena ibu merasa sangat bersalah kepada kakak ipar dengan kejadian ini. Aku pun juga terlihat bingung dengan situasi ini, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Kehidupanku diluar negeri membuat aku tidak tau masalah awalnya.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan bu? Apa kita kasi tau kakak ipar bahwa Andri sudah menikah lagi dan mempunyai istri selain dia?”


“Jangan, De!” ucap ibu cepat.


“Kenapa, bu?”


“Jangan kasi tau dia, ibu mohon.”


“Kalau kita gak kasi tau kakak ipar. Sampai kapan kita menyembunyikan masalah ini bu? Ini akan membuat kita semakin merasa bersalah terhadap kakak ipar,”


“Bukan ibu ingin menyembunyikan ini, De. Hanya saja ibu tidak tega untuk menghadapi Keisha. Bahkan sekarang ibu merasa tidak memiliki muka untuk berhadapan dengan dia. Ibu merasa malu karena perbuatan yang sudah Andri lakukan terhadapnya.”


Aku pun hanya terdiam sesekali menghapus air mata ibu yang masih mengalir. “Ibu sudah menyuruh Andri untuk mengatakannya sendiri, karena dia sendirilah yang sudah memilih perbuatan ini. Jadi, kita tunggu saja dia untuk mengatakannya. Apa yang akan dia katakan kepada Keisha. Apa dia masih punya muka saat menatap Keisha langsung?” fikiranku pun melayang jauh mendengarkan perkataan ibu.


Membayangkan dimana Andri memberi tau bahwa ia sudah mempunyai kekasih lain dihatinya. Benar kata ibu, apa ia masih memiliki keberanian menatap wajah istrinya itu untuk mengatakan hal ini. Aku rasa, Andri sudah tidak memiliki hati lagi. Ia pasti dengan santainya mengatakan itu tanpa memiliki rasa bersalah sedikit pun dihati nya.


Bagaimana pun juga, cinta yang berdasarkan nafsu belaka membuat hati ia mati. Ia tidak memikirkan perasaan orang lain, ia hanya memikirkan kepuasan nafsunya belaka.


Orang seperti ini akan susah untuk bersikap adil untuk keesokan harinya. Memang awalnya ia akan bersikap adil untuk dua istri. Tetapi untuk selanjutnya ia tidak akan bisa melakukannya, karena aku sangat yakin salah satu istrinya akan meminta hak lebih kepada suaminya. Bahkan bisa juga, salah satu memiliki sifat iri terhadap istri yang lain karena suaminya lebih perhatian ke istri yang lain ketimbang dirinya.


Hanya istri yang memiliki sifat sabarlah dapat melanjutkan hidup seperti itu. Bahkan Allah saja akan memberi surga manapun kepada istri yang sanggup dipoligami walau istri itu sendiri rela untuk disakiti oleh sang suami sendiri.


Kania:


Saat ini aku dan Andri telah pulang dari rumah sakit. Sekarang kami berdua berada dihotel dan ada disatu kamar. Diperjalanan pulang menuju ke hotel, tidak ada yang bersuara diantara kami. Baik itu dari pihakku maupun dari pihak Andri. Kami tidak saling bertanya dengan kejadian ini. Fikiran kami sudah melayang entah kemana.


Saat dikamar pun aku langsung duduk didepan meja rias, melihat wajahku dipantulan kaca. Betapa sembabnya wajahku sehabis menangis dilorong rumah sakit tadi. Sudah tidak ada semangat lagi yang membara dihatiku. Semuanya lenyap begitu saja. entah, selanjutnya hubungan ini akan dibawa kemana oleh kami berdua. Aku benar-benar pasrah dengan semua ini. Aku benar-benar lelah memikirkannya. Apa hanya sampai disini saja perjalanan cintaku? Atau memang ada kelanjutannya yang tidak kuketahui.


Helaan nafas keluar dari mulutku, saat itulah bayangan lain dikaca sedang memelukku dari belakang. Ia memeluk leherku dan menopang dagunya diatas kepalaku. Aku melihat wajahnya yang sama frustasinya dengan aku.


Ia masih bisa memberiku pelukan disaat kita berdua sama-sama hampir pusing memikirkan masalah ini. Memang, kita sudah sepakat untuk bersama-sama apabila ini terjadi.


Andri menghela nafas pelan nan penjang, itu sangat terdengar jelas dari telinga ku.


“Maafkan aku, Kan.” Ucapnya pelan. Aku mengerutkan keningku, kenapa dia malah meminta maaf kepadaku?


Ia melepaskan pelukannya dan aku langsung berbalik melihat wajahnya dengan sangat jelas. Lalu ia berjongkok dihadapanku dengan tangan yang sudah menggenggam sangat erat tanganku.


“Maafkan aku,” ucapnya lagi.

__ADS_1


“Kenapa kamu minta maaf Mas?” tanyaku tidak mengerti.


“Karena aku, kamu jadi mengalami ini semua. Seharusnya aku lah yang pantas disalahkan, bukan kamu. Aku mendengar semua percakapan mu dengan Andika. Perkataannya sungguh menusuk hati,” jadi tadi dia ada disana? Kenapa dia tidak menghampiriku? Kenapa dia tidak menenangkan aku disaat aku menangis?


Kenapa dia tidak membela aku disaat Andika mengatakan itu semua? Kenapa Andri hanya diam saja? Dan kenapa aku jadi kecewa terhadap sikap Andri.


“Sekali lagi maafkan Mas Kei. Mas tadi tidak bisa berbuat apapun. Mas tidak menghampirimu, Mas tidak tega melihat kamu menangis. Mas juga bingung harus bagaimana. Mas juga pusing mikirinnya, karena ibuku—“ aku langsung menatapnya saat ia menyebut ibunya.


“Ibuku sudah tidak menganggapku sebagai anaknya lagi.”


Degh....


“Ibuku sudah menganggapku mati Kan, aku sudah dianggap mati dikeluarga Bagaskara. Begitu bencinya kah ibu terhadapku?” Andri menatapku dengan kedua mata yang sudah sangat merah. Kedua tangannya mengepal sangat kuat membuat tangannya terlihat sangat merah.


Aku pun langsung ikut jongkok dan memeluk Andri. Air mataku mengalir begitu saja, aku tau ia lebih rapuh dan terluka dibandingkan diriku. “Mas, kalau Mas ingin menangis. Menangis saja. Ada aku disini yang menemani Mas. Ada aku yang selalu mendampingin Mas, jangan tahan kesedihan Mas. Keluarkan saja,”


Saat itulah, untuk pertama kalinya aku mendengar suara isakan yang tertahan keluar dari bibir Andri. Dan untuk pertama kalinya aku melihat Andri menumpahkan kesedihannya dibahuku sendiri. Kukira ia terlihat sangat kuat. Tetapi dia sama juga dengan seperti manusia lainnya. Yang bisa juga menangis, hanya saja ia tidak bisa mengekspresikan itu dikarenakan ia laki-laki.


Aku juga tidak percaya bahwa ia bisa menanggung beban pekerjaan yang begitu banyak tetapi ia tidak bisa menanggung beban masalah seperti ini apalagi ini menyangkut ibunya sendiri. Bahkan ibunya sendiri sudah menganggap ia mati dalam hidupnya. Itu hal yang sangat menyakitkan.


Aku yang tidak merasakannya saja ikut merasakan sakitnya.


“Kania, sebegitu bencinya kah ibuku terhadap aku? Hingga ia tidak menganggap aku sebagai putranya lagi? Apa karena masalah ini ia sampai mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu aku dengar? Apa karena semua ini, ia rela mengatakan kalau aku sudah mati? Katakan Kania, sebegitu jijiknya kah ia melihatku karena kesalahan untuk pertama kalinya aku lakukan?”


tanyanya berderet disela-sela tangisannya.


Aku pun hanya bisa diam sambil mengelus punggung nya berusaha agar ia tenang. Aku tau ia sangat terluka dengan perkataan ibunya. Aku pun tidak tau jika perkataan ibunya itu sama menyakitkan dengan perkataan Andika sewaktu di rumah sakit tadi.


Aku hanya bisa menangis sambil mendongak ke atap langit kamar hotel kami. Menanyakan, haruskah seperti ini jalannya cerita cinta kami berdua? Haruskah banyak tantangan dan halangan yang harus kami hadapi setiap harinya. Tidak bisakah kami menjalankannya dengan begitu mulus dan mudahnya? Kenapa ada saja yang tidak suka dengan hubungan ini.


Bukankah hubungan ini sama saja dengan hubungan yang dijalankan seperti orang lainnya? Kenapa hanya kami berdua saja yang mengalami ini? Tidak bisa kah kami menjalankan cinta yang begitu indah dan begitu berwarna. Kenapa semuanya harus diawali dengan kesuraman dan kepahitan seperti ini. Aku benar-benar tidak mengerti atau memang ini salah kami yang menjalankan cinta yang tidak disukai oleh orang banyak.


...


...


...


Aku melihat Andri yang sudah tidur dengan sangat pulas diatas kasur. Kubelai rambutnya perlahan agar ia tidak terbangun dari tidurnya. Sesaat aku merasakan nyeri dikepalaku. Langsung saja aku mencari obat dikoperku. Setelah kutemukan aku mengeluarkan entah berapa pil dan aku langsung meneguknya.


Nyeri dikepalaku pun mereda dengan sendirinya. Aku memang memiliki riwayat penyakit, apabila terlalu kefikiran dengan masalah yang sangat berat membuat pusingku kambuh lagi dan salah satunya yang bisa menghilangkan rasa pusingku ini yaitu obat. Kejadian masa kecil membuat aku memiliki trauma yang sangat hebat. Hingga aku memutuskan mengkonsumsi obat itu.


Memang sepenuhnya rasa sakit itu tidak akan hilang dengan sendirinya, hanya saja bisa meredakan walau pun hanya sesaat.


Kuhirup oksigen dengan perlahan lalu kuhembuskan begitu kasarnya. Rintihan hati seolah-olah berteriak kenapa harus seperti ini kisah cintaku dengan Andri? Tidak bisakah kisah cintaku ini berakhir dengan bahagia seperti orang lainnya?


Dan salahkah aku apabila berharap ingin meminta perjalanan cinta yang sangat indah walau itu hasil milik orang lain? Karena bagaimana pun juga aku menginginkannya walau banyak yang menentangnya.


Andika:


Cklek...


Pintu kamar hotel pun terbuka. Aku memapah ibu masuk kedalam kamar secara perlahan dan hati-hati lalu menuntunnya menuju kekasur dan membaringkannya. Aku melihat ibu sambil menghela nafas berkali-kali. Aku menggelengkan kepala tidak mengerti dengan apa yang sudah ibu lakukan sekarang. Ibu yang mendengar helaan nafasku ia pun menoleh. Ia menarik tanganku dan menggenggam tanganku dengan begitu lembutnya.


“De, jangan memasang wajah seperti itu kepada ibu,” ucapnya lemas. Karena ia belum sepenuhnya sembuh dan malah meminta ingin pulang terus dari rumah sakit. Tentu saja aku tidak setuju dan menolaknya mentah-mentah namun karena paksaan ibu mau tidak mau aku pun menyetujuinya.


Dan inilah sekarang, rasanya kekesalanku semakin bertambah dengan paksaan ibu yang terus ingin pulang padahal ia masih saja menahan sakit pada jantungnya. Aku hanya takut penyakit ibu kambuh dengan tiba-tiba. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Kejadian tadi saja aku sudah takut setengah mati apalagi terulang lagi.


Aku memejamkan mataku berusaha menahan kesalku ini agar tidak meledak-ledak ke ibu. Aku pun duduk ditepi ranjang dan membalas genggaman tangan ibu. “Bu, sudah Ade bilang. Tolong, nginap untuk beberapa hari lagi. Tapi ibu malah minta pulang terus. Kalau penyakit ibu kambuh lagi gimana?”


“Jangan berkata seperti itu De, doakan saja semoga penyakit ibu gak kambuh lagi agar kita besok bisa pulang ke Indonesia,”


“Ibu, tolonglah. Jangan fikirkan untuk pulang ke Indonesia. Fikirkan lah terlebih dahulu kesehatan ibu baru kita fikirkan pulang. Kalau ibu tidak sehat bagaimana kita pulang nya?”


“De, ibu tidak akan sehat jika ibu tidak segera pulang ke Indonesia dan lekas menemui Keisha. Karena hanya Keisha lah yang menjadi obat ibu, De. Hanya dia yang ada difikiran ibu. Kalau ibu tidak segera menemuinya bisa-bisa ibu selalu kefikiran Keisha dan membuat ibu semakin sakit De. Ibu hanya ingin menemui dia agar ibu tidak kefikiran dengan masalah ini. Karena bagaimana pun juga ibu merasa bersalah kepada Keisha atas perbuatan Andri sendiri.”


Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan ibu, lalu mengangguk pelan beberapa kali tanda mengerti dengan apa yang ia maksudkan kepadaku.


“Baiklah, kalau menurut ibu bertemu dengan kakak ipar membuat ibu menjadi sembuh. Kita akan teruskan kepulangan kita besok ke Indonesia,”


Ibu pun menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Ya, walaupun senyuman itu tidak selebar seperti biasanya tetapi senyuman itu membuat aku sedikit tenang melihatnya.


“Yaudah, ibu istirahat dulu ya. Biar Ade yang packing baju kita. Ibu harus banyak-banyak istirahat,” ibu mengangguk pelan.


Aku menarik selimutnya dan menutup sebagian badannya. Lalu aku mencium kening ibu sebagai ucapan selamat tidur untuknya.


Aku mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur agar ibu nyenyak tidur dan keesokannya ia bugar seperti biasanya.


Setelah ibu memejamkan matanya aku pun beranjak dari kasur menuju ke lemari. Aku mengambil koperku dan koper ibu dan mulai menyusun baju-baju kedalamnya. Besok jam 3 sore aku dan ibu akan berangkat menuju ke Indonesia. Kemungkinan menghabiskan waktu 16 jam perjalanan untuk sampai di sana.


Aku hanya berharap setelah sampai disana, ibu tidak semakin kefikiran dengan masalah ini. Ibu tidak semakin terbebani karena adanya istri Andri yang lain. Dan semoga saja ibu tidak semakin bersalah saat bertemu dengan kakak ipar nanti. Bagaimana pun juga, aku tau ibu seperti apa. Walaupun ia melemparkan masalah ini kepada Andri tapi tetap saja ibu ikut menanggungnya juga.


Karena bagaimana pun juga ini menyangkut keluarga Bagaskara. Ini menyangkut harga diri Bagaskara. Dan ujung-ujungnya bukan Andri lah yang akan disalahkan. Tetapi ibuku.


Ibu pasti akan disalahkan karena membuat menantu Bagaskara tidak berguna. Sudah setia, selalu bersama dari bawah hingga sukses seperti ini. Tetapi anak dari Bagaskara malah berkhianat dan menikah lagi tanpa sepengetahuan istrinya.


Dan aku, tidak akan tau seperti apa nanti jadinya jika kakak ipar mengetahui semua ini. Apa ia memilih tetap bersama atau memutuskan untuk berpisah. Tidak akan ada yang tau jawaban apa yang dipilih oleh kakak ipar. Aku hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menjawab ini semua.


Andri:


Aku menggeliat kesamping kanan. Aku merasakan tangan yang sedang memeluk pinggangku. Kulihat Kania yang sedang tidur pulas disampingku. Sangat pulas. Aku mengulas senyuman tipis dan mengelus pipinya pelan.


“Maafkan aku Kan, aku sudah membuat kamu terkena masalah seperti ini. Bukan kamu yang bersalah, tetapi cinta kita berdua lah yang salah. Kita harus menjalankannya bagaimana pun juga, karena ini adalah suratan takdir yang Tuhan berikan sama kita. Berat atau tidaknya mari kita jalani bersama-sama hem,” ucapku pelan.


Lalu aku menurunkan tangannya yang berada dipinggangku. Aku beranjak dari kasur perlahan menuju keluar dari kamar. Kulihat jam didinding masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Mungkin keluar sebentar mencari udara segar membuat aku sedikit tenang.


Apalagi bayang-bayang perkataan ibu sedari tadi terus memenuhi fikiranku. Siapa tau dengan keluar membuat aku sedikit bisa melupakannya.


Ting...


Lift pun terbuka.


Namun aku tidak masuk kedalam lift itu. Tatapan kami bertemu saat ini. Ini bukan tatapan hangat melainkan ini tatapan membunuh. Membunuh fikiran dan perasaan.


Saat ini didalam lift itu aku bertemu dengan Andika yang sedang berdiri memasukkan kedua tangan ke saku celananya persis dengan apa yang kulakukan sekarang. Ia seperti bayanganku yang lain. Aku tetap berdiri tidak bergeming ditempat. Tidak maju maupun tidak mundur. Kami berdua hanya menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan satu kata pun.


Lift pun kembali tertutup, saat itulah tangan Andika menghalanginya dan lift itu kembali terbuka lebar. Matanya tidak pernah lepas menatapku. Ia keluar dari lift dengan sangat santainya dan berdiri dihadapanku yang menyisakan jarak hanya beberapa senti saja.


Kini, dilorong hotel ini hanya ada kami berdua. Aku menatapnya diam dan dia menatapku dengan sangat sengitnya. Hari ini juga aku pun benar-benar sudah tidak dianggap kakak olehnya hingga ia menatapku dengan begitu bencinya.


“Disini?” Andika bersuara setelah beberapa menit diam dan hanya melihatku.


“Apa?”


“Ternyata disini, tempat kau tinggal dengan istrimu yang lain?” aku terdiam. “Ditempat yang sama, aku dan ibu tinggal ditempat yang sama dengan saudaraku bersama istrinya yang baru? Melaksanakan pernikahan disini?”


Aku langsung mengalihkan pandanganku yang lain. Entah kenapa aku jadi tidak bisa menatapnya seperti ini. Apa karena aku takut? Benci? Marah? Atau karena aku malu telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak aku lakukan selama ini.


Andika tertawa. Tertawa sangat keras hingga membuat aku kembali melihatnya. Entah kenapa ia tertawa seperti itu. Apa ada hal yang lucu atau ia sedang mentertawakan diriku? Memang, aku memang pantas ditertawakan olehnya.


“Wuah, gila! Sumpah demi apa? Aku gak nyangka bisa satu tempat dengan orang yang sudah melukai hati ibu. Dia bisa-bisanya melakukan pernikahan ini ditempat dimana aku dan ibu tidur dengan nyenyak. Kenapa Allah tidak pertemukan saja aku dengan kau? Kenapa harus dengan Kania? Jika Allah pertemukan dengan mu, mungkin yang namanya pernikahan ini tidak akan terjadi bukan?”


“Ini semua sudah takdir, De. Pernikahan yang terjadi ini sudah takdir,”


“Takdir? Pernikahan ini takdir? Aku rasa bukan. Ya, mungkin ini takdir. Tapi sebenarnya ini adalah cobaan,”


Aku terdiam, tidak mengerti maksudnya. “Pernikahan yang kau jalani dengan wanita lain bukanlah takdir. Melainkan cobaan. Cobaan siapa? Cobaan untuk kakak ipar,”


Keisha? yang dia maksudkan Keisha?


“Cobaan untuk kakak ipar dalam menjalani hidup. Dan ini juga bukan takdir, melainkan Allah ingin menunjukkan kepada kakak ipar. Bahwa suaminya yang ia banggakan, suaminya yang ia sayangi dan cintai sepenuh hati. Nyatanya, ia berkhianat dibelakangnya. Nyatanya cinta dan sayangnya palsu kepada kakak ipar sendiri. Allah akan menunjukkan sendiri, betapa bejatnya Andri dimatanya.”


“Jaga mulutmu Andika!!” bentakku emosi.


“Kenapa? Bukankah benar?” tanya nya menantang.


Kedua tanganku pun mengepal dengan sangat kuat, menahan emosi yang menggebu dihati. “Aku sangat yakin bahwa dihatinya penuh dengan kau Andri. Dengan adanya ini, pernikahan yang terjadi ini. Allah ingin menunjukkan bahwa selama ini dihati suaminya sendiri bukan ada Keisha semata, melainkan ada wanita lain juga lah yang mengisi hati suaminya sendiri. Dan semua ini akan menjadi disaat ia tau bahwa dirinya tidak bisa hamil. Bukankah kau sudah menghancurkan hatinya berkali-kali lipat tapi dengan santainya kau menyebut pernikahan ini dengan takdir? Wuaah, aku tidak tau seperti apa jalan fikiran diotak mu sekarang. Berarti dosa yang sudah kau lakukan terhadap ibu ini, itu artinya takdir juga?”


Emosiku pun semakin memuncak, langsung saja kucengkram kerah kemeja Andika. Kutatap sengit juga dirinya. Tetapi ia hanya bisa tertawa melihatku.


“Emosi? Kau emosi kepadaku? Emosi dengan perbuatan yang menjijikkan itu? Ckckck, aku rasa kau memang sudah dijalan yang salah. Keserakahanmu terhadap wanita membuat kau gila seperti ini!!”


“Tutup mulut mu Andika, atau aku akan—“


“Akan apa? Kau mau apa? Lakukan! Aku tidak takut dengan akan mu itu.” Andika melepaskan cengkraman tanganku dikerah bajunya. Lalu ia merapikannya dan kembali menatapku lebih tajam. Jarak kami hanya bermodalkan tatapan mata yang begitu dekat.


“Aku hanya tinggal menunggu saja Andri. Aku tinggal menunggu apakah kakak ipar memilih bersama atau memilih berpisah denganmu. Karena aku tau kau juga sangat mencintainya makanya kau tidak bisa menceraikannya bukan?”


Benar, aku sangat mencintai Keisha sehingga aku tidak bisa menceraikannya. Benar kata Andika. Keserakahanku terhadap wanita membuat aku seperti ini. Aku tidak menyadari diriku sendiri, sungguh bodohnya diriku.


“Kau mau tau apa harapanku Ndri? Aku hanya berharap semoga kakak ipar memilih bercerai denganmu. Agar ia bisa mendapatkan pria yang lebih baik ketimbang dirimu!” ucap Andika sangat pedas membuat hatiku menohok untuk kesekian kalinya.


Saat itulah bertepatan lift terbuka dan Andika masuk kedalamnya. Aku langsung menghampiri lift yang hampir tertutup itu dan memukul pintu lift itu.


“Keisha tidak akan menceraikan aku! Kau harus tau itu Andika. Keisha sangat mencintai aku, dia tidak mungkin menceraikan aku!! Kau dengar itu? ANDIKAA!!!” teriakku.


Entah kenapa mendengar Keisha memilih bercerai membuat aku frustasi seperti ini. Aku mengacak rambutku frustasi.


“Agggghhhhh!!! Fck!”


“Ya, aku yakin. Sangat yakin, kalo Keisha tidak akan menceraikan aku. Aku sangat yakin itu. Karena hanya akulah pria yang Keisha cintai. Hanya aku,” aku mengangguk beberapa kali dan langsung berbalik. Dari arah berlawanan, aku melihat Kania yang sedang berdiri melihatku dengan tatapan yang tidak kumengerti. Jadi, semenjak tadi ia berada disana? Mendengarkan percakapanku dengan Andika? Tidak mungkin!


“Kania,” panggilku.


Kania hanya melihat dan masuk kedalam kamar. Aku hanya bisa mengacak-acak rambutku lagi, dia mendengar semuanya.


Agghh! Kenapa jadi seperti ini?


...


...


...


...


Bandara Charles De Gaulle. Kami berdua saat ini sudah berada di bandara sambil menunggu jadwal keberangkatan kami berdua. Sesekali aku melirik Kania yang terlihat diam tak bersuara. Semenjak kami berada dihotel ia tidak mengatakan apapun kepadaku. Aku sudah mengajak ia bicara tetapi ia hanya tersenyum kepadaku.


Aku merasa ada yang beda dengannya. Apa karena percakapan diriku dengan Andika dan ia mendengar semuanya lalu membuat ia seperti ini? Aku rasa iya.


Kutarik tangan ia dan menggenggamnya sangat erat. Ia hanya melihatku tanpa membalas genggaman tangan ini juga. Ya, aku sangat yakin itu bahwa mood ia sedang buruk karena percakapan antara aku dengan Andika. Apalagi sekarang Kania sudah mencap sebagai istri sahku. Tentu ia akan sakit hati terhadap apa yang sudah ia dengarnya.


Kania berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. “Ayo, sebentar lagi pesawatnya sudah mendarat.” Kania menarik kopernya dan meninggalkanku yang masih duduk. Aku hanya bisa menghela nafas pelan melihat ia seperti ini.


Saat ia beranjak meninggalkannya dan aku pun berjalan menyusulnya, tiba-tiba ponselku bergetar dan kulihat ternyata Keisha lah yang sedang menelponku.


“Halo, Kei.” Aku sambil melihat Kania yang berhenti jalan tanpa berbalik sedikit pun.


“Halo, Mas, kamu sudah ada dimana?”


“Ini aku lagi ada dibandara.”


“Ohh, kira-kira kamu kapan nyampe nya ya?”

__ADS_1


“Sekitaran tengah malam Kei,”


“Ohh, baiklah. Hati-hati dijalan ya Mas, semoga sampai ditujuan. Aku sayang kamu Mas,”


“Iya,” aku pun lekas mematikan ponselku dan melihat Kania yang masih berdiri ditempatnya.


Kania:


Kenapa?


Kenapa perasaan aku menjadi begini?


Apakah salah jika Andri menghubungi istrinya yang lain?


Apakah tidak boleh jika istrinya itu menghubungi suamiku sendiri?


Kenapa?


Kenapa aku merasakan panas yang mengembara di hatiku?


Apakah ini yang dinamakan dengan cemburu?


Aku cemburu?


Seorang Kania, model di Bagaskara Group?


Cemburu dengan suamiku karena istri sahnya menelpon suamiku sendiri.


Ada apa ini?


Kenapa tiba-tiba aku menjadi egois begini?


Kenapa aku menjadi egois bahwa suamiku hanya milikku saja walaupun aku tau bahwa ia memiliki istri yang lain. Sedangkan aku hanya istri mudanya.


Kenapa?


Aku tersentak dari fikiranku yang terbang entah kemana. Aku melihat tanganku yang sudah digenggam lumayan erat oleh Andri.


Aku melihat wajahnya dan ia tersenyum kepadaku. Mau tidak mau aku pun membalas senyumannya walaupun hanya tipis. Hatiku masih terbakar oleh panasnya api cemburu.


Memang, sedari tadi pagi aku tidak bicara apapun kepadanya. Jujur saja, sebenarnya aku tidak ingin mengakui ini kepadanya takut aku lancang. Bahwa aku istri mudanya yang baru beberapa hari dinikahi olehnya sudah cemburu dengan istri tuanya itu yang lebih lama dengannya ketimbang denganku.


Seharusnya aku siap dengan resiko ini. Aku setuju dengan menjadi istri keduanya karena aku siap apabila suamiku sendiri bersama istri lainnya dan membagi kasih sayang bersama yang tua. Walaupun umurku dengan umur Keisha tidaklah terpaut jauh tetapi jika berdasarkan silsilah dalam hubungan tentu saja Keisha lah yang lebih tua.


“Ayo jalan, kenapa malah diam aja disini?” tanya Andri.


“Heuh?” aku pun mengangguk lalu berjalan mengikuti arah tarikannya itu.


Kini, perjalanan kami di Paris sudah selesai. Tetapi bukan selesai begitu saja, kami akan kembali lagi dengan mengukir cerita yang tidak kalah indah seperti saat ini. Memang sekarang cerita kami berakhir luka. Tetapi aku sangat yakin jika kami kembali kesini cerita kami akan berakhir dengan tawa bahagia.


Bukan aku berdua saja melainkan ada buah hati yang ikut bersama kami.


Buah hati?


Aku menginginkan buah hati?


Dari seorang Andri?


Aku menginginkan anak dari pernikahan dengan Andri?


Apa mungkin iya bisa?


Apa aku boleh menjadi ibu dari anak Andri?


Bukankah itu ekspetasi yang sangat tinggi?


Sedangkan keluarganya saja tidak menerimaku sedikit pun. Aku tidak mendapatkan restu dari seorang ibu. Bahkan pernikahan ini malah membuat hati seorang ibu terluka. Bukankah ini malah menjadi hal yang sangat hina di mata Tuhan?


Aku pun langsung menghentikan langkahku. Andri berbalik dan melihatku. Ia heran kenapa tiba-tiba aku berhenti seperti ini.


“Mas,” panggilku yang akhirnya bersuara setelah cukup lama hanya diam saja.


“Ada apa Kan?” tanyanya lembut.


“Sesampai di Indonesia, sembunyikan hal ini dari Keisha sampai kamu sendiri siap untuk memberi tau semuanya kepada Keisha.”


Andri menghela nafas pelan lalu menggenggam erat kedua tanganku.


“Kenapa kamu bahas ini sih sayang? Kan aku sudah bilang, kita fikirkan ini nanti baru kita baru kasi tau dia. Aku akan fikirkan bagaimana caranya untuk memberi tau Keisha,” aku mengangguk pelan tanda aku mengerti perkataannya.


“Maaf Mas, aku hanya kefikiran saja dengan yang sudah terjadi. Aku bingung harus bagaimana lagi.”


Andri meraih tubuhku lalu memelukku dengan sangat erat, “Tidak apa-apa sayang, sudahlah jangan difikirkan nanti kamu bisa sakit. Maafkan aku juga, karena aku, kamu menanggung semua ini. Karena bagaimana pun juga ini salahku yang sudah membuat kamu seperti ini,” tak terasa air mataku pun menetes begitu saja.


Riasan yang sempat kugunakan malah luntur seketika dikemeja Andri. Rasanya air mata ini keluar dengan mudahnya. Bahkan rasa sakit pun turut ikut begitu saja. Mungkin karena rasa sakit ini membuat air mataku pun keluar dengan sendirinya.


Mungkin pelukan membuat aku sedikit tenang dibandingkan dengan perkataan yang tidak ada gunanya. Pelukan dapat membuat sakit hati seseorang dapat keluar walaupun tidak sepenuhnya.


Andri:


Aku melepaskan pelukanku dan melihat Kania yang sudah basah oleh air mata. Bahkan aku pun merasakan bajuku basah oleh air matanya. Aku kembali memeluknya lebih erat lagi, “Kania, Please jangan menangis. Kita pasti bisa melalui semuanya kok sayang. Kamu yang kuat ya, tolong lah jangan menangis,” Kania melepaskan pelukannya.


“Mas, kenapa hubungan kita malah menjadi seperti ini? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan sedikitpun denganmu? Kenapa Mas? Kenapa?”


“Kania, hubungan kita seperti ini karena kita diuji sayang. Sampai mana kita bertahan, sampai mana kita bisa melewatinya bersama-sama. Itu karena Tuhan ingin melihat batas kesabaran kita, batas kesetiaan kita. Kamu jangan menangis ya, semangat dong. Karena kalau kamu menangis Mas jadi tidak semangat. Mas jadi gak tau lagi harus bagaimana,”


Perlahan Kania pun menghentikan isak tangisnya. “Nah, gitu dong. Udah ya jangan nangis,” Kania menatapku dengan tatapan yang membuat ku tidak tega melihatnya.


“Mas,”


“Kenapa sayang?”


“Janji jangan ninggalin aku?”


“Janji Kan,”


“Yang bener?”


“Iya sayang, bener. Mas janji gak akan meninggalkan kamu. Kita akan bersama-sama sampai akhir hayat.”


Sedikit tapi pasti ia menampilkan senyumannya terhadapku. Aku yang melihatnya pun sedikit menjadi tenang.


“Nah, gitu. Senyum, yaudah ayo kita kesana.”


“Iya Mas.”


Aku meraih tangannya lagi dan menggenggamnya. Kali ini lebih erat dibandingkan yang tadi. Lalu kami pun berjalan. Selesai sudah perjalanan kami di Paris. Kami akan melanjutkan perjalanan ini di Indonesia. Dan aku siap menghadapi masalah yang akan terjadi nanti. Hubungan ini sudah terbongkar dihadapan ibuku. Selanjutnya hubungan ini akan kuberi tau kepada Keisha.


Sebelum itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu dulu agar ia bisa menerima Kania menjadi istri keduaku. Aku harus memikirkannya itu dari sekarang juga.


Andika:


“Semuanya sudah bereskan De?” tanya ibu disebelahku.


“Sudah kok bu, semuanya sudah beres. Tidak ada yang tertinggal,”


“Baguslah,” ucapnya sambil tersenyum.


“Ibu tidak mau mampir dulu ketoko? Mau beli oleh-oleh apa gitu untuk kakak ipar?”


“Hem, boleh.”


“Oke, nanti kita mampir dulu ya bu. Tapi ibu tunggu di mobil aja ya, biar Ade aja yang belanjanya.”


“Iya, ibu serahkan ke kamu ya nak ya,”


Aku tersenyum, “Iya bu.” Aku meraih tangan ibu sambil menggenggamnya dengan erat.


“Yang kuat ya bu, sebentar lagi kita akan bertemu dengan kakak ipar kok. Jangan fikirkan perbuatan Andri tapi fikirkan bagaimana nanti saat bertemu dengan kakak ipar.” Ibu mengangguk mengerti.


“Iya De. Ibu fikirkan itu juga. Ibu tidak tau bagaimana nanti harus bersikap didepan Keisha. Sedangkan ibu saja malu untuk bertatap muka dengannya,”


“Bersikaplah seperti biasa bu, jangan buat kakak ipar juga berfikir kalau terjadi sesuatu sewaktu di Paris. Buatlah kalau kita ini bahagia dengan wisuda Ade. Kasihan kakak ipar nanti bisa stres apalagi saat ini dia sedang menjalankan program agar sembuh dari mandulnya kan?” ibu mengangguk.


“Nah, jangan buat dia stres karena ini. Kasihan dia, programnya jadi sia-sia karena kefikiran masalah ini. Setidaknya kita juga sembunyikan dulu sampai ada perkembangan kalau dia bisa hamil. Toh, Ade yakin kalau nanti Andri tidak akan memberi tau langsung ke kakak ipar kalau dia sudah punya istri baru. Jadi, kita berusaha baik-baik saja walaupun kita sendiri sangat terbebani menyembunyikan ini semua. Ade yakin ibu pasti bisa,” lanjutku lagi panjang lebar.


Ibu mengangguk dan tersenyum. Wajahnya masih pucat tetapi ia masih bisa memberikan senyuman terhadapku. “Terima kasih ya De. Kamu masih bisa bersama ibu, kamu selalu ada disamping ibu walaupun ibu seperti ini. Ibu sangat bersyukur karena ibu punya anak yang masih memikirkan perasaan ibunya. Terima kasih ya De, ibu sangat berterima kasih kepadamu.” Kedua mataku terasa sangat panas mendengarnya. Rasanya kedua mataku ingin mengeluarkan air mata. Langsung saja aku mengalihkan pandanganku agar ibu tidak melihat perubahan ekspresiku ini.


“Ahhh, ibu. Kenapa ibu malah berterima kasih kepada Ade. Ade tidak melakukan apapun. Malah seharusnya Ade yang berterima kasih kepada ibu karena ibu sudah mendidik Ade menjadi pribadi yang lebih baik.” Aku merasakan elusan dikepala ku. Ibu mengelus kepalaku walau aku tidak melihatnya. Karena pipiku sudah mengeluarkan air mata yang cepat-cepat kuusap agar tidak ada yang melihatnya.


Walaupun aku jiwa pria tetapi aku memiliki hati yang gampang rapuh apabila menyangkut hal ibu. Karena ibu adalah segalanya bagiku. Dan karena doa ibu aku bisa sukses seperti sekarang ini. Ibu adalah malaikat tak bersayap yang Allah kirimkan kepadaku.


Keisha:


“Fiuhh,” aku mengusap dahiku yang penuh dengan peluh keringat. Sehabis yoga tadi aku langsung memutuskan berangkat menuju ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan kubuat nanti dan kusiapkan untuk Andri.


Aku melihat belanjaanku yang penuh diatas meja. Kutersenyum senang melihatnya. Akhirnya sudah beberapa hari aku tidak memasak untuknya. Dan saat ia kembali nanti aku akan membuat makanan kesukaannya. Mungkin ia akan senang.


Lalu aku memutuskan duduk disofa menyandarkan punggungku yang terasa remuk karena untuk pertama kalinya dalam hidup aku mengikuti yoga. Tentu saja badanku terasa kaku saat mengikutinya.


Tidak heran jika sekarang badanku terasa sangat sakit. Mungkin nanti aku akan terbiasa dengan ini semua. Bagaimana pun juga aku harus semangat demi masa depanku dan Andri untuk yang namanya memiliki anak. Ya, aku harus semangat.


“Hem, gimana kabar ibu ya? Semenjak hari itu aku menelpon, aku tidak tau kabar ibu.” aku mengambil tasku dan merogoh isi dalamnya. Saat ponsel sudah berada ditanganku, aku pun lekas menghubungi ibu.


Cukup lama aku menunggu, yang terdengar hanya lah nada tersambung saja disebrang sana tetapi tidak ada tanda-tanda yang mengangkat telponku. Kumatikan lalu kuhubungi lagi.


“Aisshh, ck!” desisku kesal.


Baik dari ibu maupun Andika sama sekali tidak mengangkatnya. Padahal nomor mereka bisa dihubungi. Aku hanya ingin mendengarkan kabarnya tetapi sama sekali tidak ada yang mengangkatnya. Sudahlah tidak apa, sebaiknya dari sekarang aku harus menyiapkan sup daging sapi untuk Andri.


Lumayan membutuhkan waktu yang lama untuk memasaknya. Kurasa sekarang aku sudah boleh memulainya. Lagian tanganku pun sudah gatal untuk memasak.


Aku pun beranjak dari sofa menuju kedapur dengan hati yang gembira. Kuambil celemek dan kugunakan menutup pakaianku agar tidak kotor.


Lalu aku memulai semuanya dengan dimulai dengan mengupas bawang merah lalu mengirisnya tipis-tipis. Disaat itulah semuanya terjadi. Entah apa karena aku yang terlalu senang atau aku sendiri yang tidak hati-hati dalam bekerja hingga jari telunjukku pun ikut teriris.


“Aw!!” jeritku.


Aku langsung menghentikan langkahku dan melihat darah dijari telunjuk sudah keluar. Langsung saja aku berjalan ke wastafel untuk membersihkan darah itu. Kurasa itu cukup perih apalagi aku mengirisnya lumayan dalam.


Tiba-tiba hatiku merasakan tidak enak yang sangat luar biasa. Entah apa itu, aku pun tidak mengerti. Air dikeran kubiarkan mengalir dan fikiranku melayang entah kemana. Apa yang kufikirkan sekarang pun tidak kuketahui. Aku memikirkan perasaanku yang tidak jelas pastinya.


Kesenangan yang baru saja aku rasakan tiba-tiba berubah menjadi kebingungan dan keraguan yang muncul dihatiku. Aku ingin menghindari fikiran itu tetapi tetap saja itu terus menghantuiku.


Kenapa semenjak Andri tidak ada firasatku semakin jelek saja. Dari foto pernikahanku yang pecah dengan sendirinya hingga sekarang tanganku yang teriris. Aku rasa itu semua karena ketidaksengajaan. Bisa jadi.


Sudahlah Keisha. Jangan berfikiran yang macam-macam lagi. Aku tidak ingin berfikir ngelantur lagi seperti apa yang kulakukan terhadap Haikal. Tentu saja ini pasti akan membuat aku malu dengan sendirinya.


Sadarlah, kau harus berfikir dengan jernih.


Jangan sampai kau berfikir jelek hanya karena suatu hal. Itu sangatlah tidak baik.


Ingatlah, tidak akan terjadi apa-apa. Ini semua hanyalah kebetulan tidak ada yang benar-benar akan terjadi. Jangan berasumsi yang tidak ada gunanya. Ya, aku yakin itu dan sangat yakin sekali.

__ADS_1


__ADS_2