Simpanan

Simpanan
-Adik Ipar-


__ADS_3

“Bahagia itu bukan karena mempunyai segalanya, tetapi bahagia itu karena apa yang diinginkan telah tercapai dengan sendirinya.”


-Kania


Keisha:


Aku membuka hijabku lalu kuletakkan diatas meja, ku hempaskan badan ku kesofa yang sangat empuk. Rasanya badan ku terasa sangat lelah, padahal hari ini aku tidak mengerjakan aktivitas yang menurutku berat.


Tadi sewaktu makan siang saja, aku tidak merasakan lelah seperti ini. Aku merasakan semangat yang sangat luar biasa saat Andri ada disampingku, tetapi semangatku hilang begitu saja saat Andri tidak ada disampingku.


Sebenarnya sewaktu di tempat makan tadi ada yang ingin aku bicarakan kepada Andri, makanya Andri terlihat heran karena aku tersenyum terus kepadanya karena ada sesuatu yang ingin ku katakan kepadanya, tetapi tidak jadi karena kesibukan Andri. Ah sudah lah, tidak apa, kapan-kapan aku bisa memberi tahu kepada nya.


Tidak terlalu penting, tapi itu bisa membuat Andri semangat dan semakin lengket kepadaku. Mulai besok aku sudah mengatur jadwal ke dokter kandungan, bukan karena aku sekarang hamil, bukan itu. Melainkan aku ingin terapi agar bisa mempunyai anak, siapa tau Allah memberikan anak untukku dan Andri.


Biarpun aku divonis mandul oleh dokter, tetapi jika aku berusaha, berjuang dan berdoa, aku yakin Allah akan memberikan keturunan untukku. Mungkin bukan sekarang, melainkan nanti. Aku percaya bahwa dibalik cobaan ini ada hikmah yang mengajarkan arti kesabaran dan kesetiaan untuk ku kepada Andri.


Sebenarnya aku ingin mengatakan hal itu kepada Andri, tetapi seperti nya tidak perlu. Aku ingin memberinya kejutan apabila aku memang benar bisa hamil, semuanya hanya menunggu waktu yang tepat. Jadi saat ini, aku sudah berkutat pada ponsel ku untuk mengatur jadwal ku untuk bertemu dengan dokter.


Setelah selesai, aku meletakkan ponsel ku sambil tersenyum. Semoga aku tetap bisa istiqomah dengan semua ini, semoga perjuangan ku tidak berakhir dengan kekecewaan yang begitu mendalam, dan semoga saja usahaku tidak berujung dengan sia-sia.


Saat aku terlalu fokus dengan lamunanku, tiba-tiba ponselku berdering. Aku terlonjak kaget lalu mengubah posisiku menjadi duduk, aku melihat layar diponselku. Aku mengira jika Andri menelponku, ternyata bukan. Aku hanya tersenyum melihat nama yang tertera di layarku, baru saja tadi di bicarakan sama ibu, eh sekarang orang nya sudah nongol saja.


Aku pun langsung mengangkat telponnya agar ia tidak menunggu terlalu lama.

__ADS_1


“Assalamualaikum, halo?” suara dari sebrang sana membuat aku mengingat sebelum aku menikah dengan Andri. Dimana, suara ini memiliki kesopanan dan keramahan yang sangat luar biasa. Bisa dibilang Ade sangat mirip dengan abang nya yaitu Andri, mungkin keluarga Bagaskara memang memiliki sifat seperti itu. Aku patut bersyukur untuk hal itu.


“Waa’alaikumsalam, halo De,” jawab ku.


“Mbak Kei? Ini mbak Kei kan?” tanya nya. Ahh, sudah lama aku tidak mendengar suara ini.


Semenjak dia sibuk dengan kuliah S2 nya membuat dia jarang pulang ke Indonesia dan fokus pada kuliah nya disana. Jika ingin memberi kabar pun hanya kepada ibu.


“Heheh iya De, ini mbak Kei. Ada apa De? Tumben kamu nelpon mbak?”


Terdengar suara tawa Ade dari sebrang sana, jika Andri dan Ade tertawa sangat lah mirip, bisa di bilang mereka itu kembar tetapi hanya umur yang terpaut lumayan jauh.


“Gak papa mbak, hanya pengen dengar suara mbak aja. Udah lama Ade gak nelpon mbak gara-gara sibuk kuliah, maaf ya mbak baru hari ini Ade nelpon mbak,"


Aku tersenyum mendengar suara melas nya, ini lah yang membuat aku suka dengan Ade, dia gampang minta maaf walaupun bukan kesalahannya padahal aku biasa-biasa saja. Ahh, aku membayangkan wanita mana yang beruntung mendapatkan Ade, wanita itu perlu sujud syukur untuk itu.


“Iya mbak, makasih. Ah ya mbak, bang Andri mana? Soalnya Ade nelpon dia gak di angkat, padahal Ade kangen sama abang, udah lama Ade gak dengar suara abang,”


“Abang mu sibuk terus De, akhir-akhir ini perusahannya lancar jaya, jadi waktu nya terbagi sama kerjaannya itu. Kalau pun dia angkat telponmu itu udah alhamdulillah, tetapi sekarang udah gak sesering dulu angkat nya. Sibuk nya ngalahin pejabat De,”


“Hahaha mbak...mbak, ada-ada aja. Seharusnya mbak bilang alhamdulillah, karena perusahaan bang Andri lancar dengan pesat. Toh, ini kan juga keinginan abang sedari dulu ingin memiliki perusahaan yang terkenal dan memiliki karyawan yang tak terbilang jumlah nya. Dan kini, keinginan abang terkabul. Ya, walaupun waktu nya terbagi, mbak harus sabar dan selalu mendoakan abang. Karena berkat mbak juga, abang bisa sesukses ini,”


Astaugfirullah, aku langsung mengusap wajahku karena sudah mengeluh dengan adik iparku. Untung saja Ade mengingatku, kalau tidak bisa-bisa aku terus mengeluh lalu menuntut Andri agar waktu nya selalu bersama ku dan meninggalkan pekerjaan nya. Huuh, dasar aku yang selalu begitu.

__ADS_1


Aku hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal, merasa malu pada adik ipar ku ini. “Hehehe, iya De. Alhamdulillah, maaf De mbak khilaf karena udah ngeluh sama waktu nya Mas Andri. Hehehe.”


“Tidak apa kok mbak, Ade ngerti kok. Toh, dulu Ade juga begitu ke ayah waktu ayah sibuk kelola perusahaannya. Santai aja mbak, dijalanin aja,”


“Iya De, udah dijalanin kok. Ah ya, katanya kamu bentar lagi wisuda, benar begitu De?”


“Alhamdulillah iya mbak, niat nya pengen mbak dan abang yang hadiri wisuda Ade. Tapi tadi Ade nelpon ibu, katanya abang sibuk ya? Yah, jadi gak bisa deh. Jadi nya ibu yang kesini, tapi gak papa deh kalau ibu yang hadir. Sekalian Ade bawa jalan-jalan ibu keliling Paris,”


“Tolong dimaklumin ya De, Mas Andri gak bisa dibagi banget jadwalnya. Mbak juga gak bisa pergi kesana, soalnya ada jadwal yang harus mbak jalankan. Mbak hanya bisa mengucapkan, selamat ya atas kelulusan mu. Semoga ilmu nya berkah untukmu dan untuk orang lain,”


“Aamiin mbak, makasih untuk doa nya. Mbak ngucapin selamat saja, Ade dah senang mbak”


“Iya De, mbak juga senang karena kamu udah menjalankan tugas mu dengan baik,”


"Hehe, iya mbak. Eh mbak, udah dulu ya, Ade mau gladi resik dulu. Nanti kalau Ade kembali ke Indonesia, Ade belikan oleh-oleh untuk mbak, gimana?”


“Ahh De, jangan ngerepotin. Cukup kamu sampai disini, mbak udah senang,”


"Hahah enggak merasa ngerepotin kok mbak,”


“Iya deh terserah aja kamu De,”


“Yaudah dulu ya mbak, Ade tutup dulu telponnya. Assalamualaikum mbak,”

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam.”


Seketika panggilan pun terputus, aku tersenyum melihat layar ponsel ku sambil menghela nafas lega. Ternyata ngobrol dengan Ade membuat kesepian ku berkurang terhadap kesibukan Andri, dia memang adik ipar yang dapat diandalkan dari sekian banyak orang.


__ADS_2