
“Kebahagiaan diukur bukan dari pandangan orang lain, tapi diukur dari orang yang menikmatinya itu sendiri.”
-Andri
Kania:
Sesekali aku melihat arloji dipergelangan tangan ku, lalu berkali-kali aku melihat ke arah luar menunggu seseorang yang ku tunggu sejak tadi. Aku mendengus beberapa kali berusaha menghilangkan rasa kesal ku yang menggebu-gebu didalam hati.
Sudah kalian tebak siapa yang aku tunggu, ya, Andri. Aku menunggu nya sedari tadi tapi dia tidak muncul-muncul juga, bahkan makanan yang sudah ku pesan dari panas hingga menjadi dingin Andri pun belum muncul di hadapanku.
Selera makan ku seketika hilang begitu saja, kesabaran ku sudah diambang kehabisan. Aku pun beranjak dari kursi ku sambil membawa tas ku hendak meninggalkan restoran yang kusewa ini. Namun, langkah ku langsung terhenti ketika melihat orang yang ku kenali berlari masuk kedalam restoran dengan keringat yang bercucuran di dahi nya.
Seketika hati ku tersenyum, namun aku langsung memasamkan wajahku. Sengaja, aku ingin melihat seperti apa dia membujuk ku nanti. Aku melipat kedua tanganku didepan dada, sambil melihat ke arah depan dimana Andri berlari ke arah ku.
Saat Andri berada dihadapanku, dia berhenti dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Ingin sekali aku tertawa, tetapi aku menahannya karena saat ini aku sedang berada di mode ngambek.
“Ka—niaa,” panggilnya dengan nafas terengah-engah, sebenarnya aku kasihan melihat nya. Tetapi aku membiarkan nya seperti ini memberi ia hukuman agar ia jera, supaya ia datang tepat waktu dan tidak membiarkan aku lama menunggu nya.
Menunggu? Aku sudah puas dengan kata menunggu, jadi kali ini tidak ada kata menunggu lagi di kamus ku. Kali ini aku menginginkan hidupku yang maju, sudah bosan dengan yang namanya menunggu apalagi tidak ada kepastian sama sekali.
“Mas dari mana aja ha? Aku udah nunggu setengah jam tapi Mas baru muncul sekarang?” tanyaku dengan nada sedikit ketus, agar ia tau bahwa saat ini aku sedang kesal. Nyatanya, aku tidak kesal apapun kepadanya.
__ADS_1
Andri meraih tangan ku lalu menggenggam nya. “Ma—maafkan Mas Kan, ta—di, di jalan ma—cet.” astaga, aku sangat tidak tega melihatnya. Dia berbicara sampai terengah-engah begini, aku pun langsung menarik tangannya agar ia duduk di kursi.
Ia menuruti arahku, lalu aku memberikan nya segelas air, ia pun meminumnya hingga tandas. Benar-benar haus, fikirku. Aku pun mengambil tisu dan mengelap ke wajah nya yang penuh dengan keringat “Capek banget ya Mas? Keringat nya sampe keluar banyak begini,” tanya ku dengan lirih.
Andri meraih tangan ku yang sedang mengelap keningnya “Maaf kan Mas ya, Mas telat. Soalnya tadi di jalan macet banget. Dan tadi Mas harus makan dulu disana sama Kei dan ibu, menghargai mereka berdua yang udah ngajak Mas makan siang bareng,” ia menatapku sendu, dia mengira aku benar-benar marah kepadanya. Haduh, aku jadi merasa bersalah kepada Andri.
Aku pun hanya bisa memegang kedua pipi nya dan tersenyum setulus mungkin “Mas jangan bilang minta maaf, Mas gak salah kok. Lagian Kania senang, karena Mas udah nyempatin datang ke sini dan mau makan bareng aku. Aku sangat berterima kasih untuk itu,” ucapku setulus hati, ya, itu ucapan dari hati ku yang paling dalam untuk nya.
Andri tersenyum “Makasih juga sayang,”
Oh God! Seperti nya sebentar lagi aku akan pingsan ketika dia bilang sayang kepada ku.
Kata itu terdengar romantis, manis, halus, dan indah saat didengar. Apalagi jika Andri langsung yang mengatakannya dengan tatapan yang penuh cinta itu.
“Iya Kan.” aku mengelus pipi nya lalu duduk dikursi ku dan kami pun langsung memulai makan yang sempat tertunda. Sebelum itu kami mengganti makanan yang panas, karena makanan tadi sudah dingin dan tidak enak untuk dimakan.
Andri:
Suara dentingan sendok memandu keheningan diantara kami berdua. Bukan kami saling diam, tapi kami hanya saling melirik satu sama lain. Entah kenapa rasa canggung ini menyelimuti diantara kami berdua.
Padahal kami sudah hampir 3 tahun, tetapi kenapa rasanya kami baru bertemu saja. Ahh, aku tau, seperti ini rasanya kalau orang sedang dilanda jatuh cinta yang sedang berbunga-bunga. Aku merasakan dimana aku baru mencintai nya dalam pandangan pertama.
__ADS_1
“Ekhem!” aku berdehem, menetralkan suasana yang sangat hening sekaligus diiringi musik melow di restoran tersebut. Kania mendongak melihat aku yang sedang meraih gelas, sebelum itu aku minum dulu sebelum berbicara pada nya. Kurasa, ini adalah waktu yang tepat untuk bicara luwes kepada Kania.
“Gini, masalah anniversary kita di Paris,” aku memulai pembicaraan, mendengar kata Paris membuat kedua mata Kania berbinar. Hahah, aku melihat nya dengan jelas.
“Aku udah pilih tempat untuk nanti kita selama di Paris,” lanjut ku.
“Oh ya? Mas tau tempat untuk kita? Dimana?” ucap nya dengan cepat dan semangat. Haha, melihat nya seperti ini membuat aku juga ikut bahagia karenanya.
Aku mengeluarkan ponsel ku lalu menunjukkan kepada nya, ia melihat nya lalu melihat ku dengan tidak percaya, aku hanya tersenyum “Nanti kita nginap di salah satu hotel dekat Menara Effiel, aku mau kisah cinta kita memuat kisah yang sangat romantis dan abadi daripada kisah cinta lainnya. Dan aku juga ingin kalau kisah cinta ini dapat kamu kenang selamanya, termasuk aku,”
“Mas,” dia memanggil ku dengan tidak percaya.
Pasti ia tidak menyangka jika aku melakukan sejauh ini, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan dia lagi cukup sudah satu hari kemarin dia membuat aku menderita karenanya. Kali ini sudah, jangan lagi, cukup kemarin saja.
“Kebetulan disana aku ada kenalan yang akan mengurus pernikahan kita, dari buku nikah, penghulu, saksi, cincin, ruangan, dan pakaian yang akan kita kenakan nanti pas pernikahan kita. Aku harap kamu tidak kecewa ya, karena pernikahan ini tidak dirayakan dengan mewah dan tidak ada para tamu undangan,”
Kania langsung meraih tangan ku dan menggenggam nya dengan erat, ia menangis terharu. Aku yang melihat nya pun dengan cepat menghapus air matanya, aku tidak suka dengan yang namanya air mata. Aku benci akan hal itu.
“Aku tidak pernah kecewa dengan apa yang dilakukan Mas, aku malah senang dan bersyukur. Aku sangat berterima kasih karena Mas mau melakukan semuanya. Aku sangat bahagia Mas, karena Mas sudah membuktikan semuanya ke aku. Makasih Mas, dan ini lah hasil perjuangan cinta kita selama 3 tahun ini,”
Aku mengelus tangannya lembut “Mas begini karena Mas takut kehilanganmu Kan dan Mas juga mencintaimu,”
__ADS_1
Kania tersenyum “Aku juga mencintaimu Mas.” Aku menarik kedua tangannya lalu mencium punggung tangannya dengan mesra. Inilah aku, aku mencintai wanita di hadapanku ini setelah Keisha. Sangat mencintai nya.
Bagaimanapun juga sebentar lagi dia akan menjadi milikku seutuhnya.