Simpanan

Simpanan
-Keresahan Hati-


__ADS_3

“Semua manusia pasti pernah melakukan tindakan yang diluar batas kesadarannya dan itu juga berakibat fatal. Jika seperti itu siapa yang dapat bakal mengubahnya? Bukan orang lain, melainkan kita sendiri. Kita yang mempunyai kesadaran itu kita juga lah yang harus membangunkan alam kesadaran itu sendiri atau tidak semuanya akan hancur tidak tersisa.”


-Andri-


Andri:


Setelah semuanya sudah selesai kulakukan. Kini aku pun sedang santai diteras rumah dengan beberapa cemilan dan segelas susu cokelat panas. Kebetulan saja menunya hari ini karena cuaca sedang tidak mendukung sama sekali.


Awan gelap sedari tadi menghiasi pemandangan dipagi hari ini namun tidak turut turun hujan juga. Mungkin dunia sedang berduka, entahlah aku pun tidak tau itu. Aku hanya bisa merileksasikan diri setelah beberapa hari yang lalu terjadi masalah yang membuat aku hanya bisa pasrah.


Setelah ini aku tidak tau apa yang akan terjadi. Fikiranku meracau entah kemana. Aku takut jika ibuku memberitahukan perbuatan jijikku kepada Keisha. Disatu sisi pula aku takut jika Keisha meninggalkan ku. Hingga aku harus mencari cara dengan segera apabila ketahuan Keisha tidak berfikir ingin meninggalkanku.


Karena sekarang aku benar-benar serakah dengan namanya cinta dan perempuan. Sebenarnya semua ini tidak pantas kusebut dengan cinta. Semua ini hanya berbalut nafsu saja dan kuatas namakan dengan cinta.


Cinta itu tidak salah. Cinta itu suci, bersih, dan tulus. Hanya saja orang jahat lah yang mengataskan nama cinta disetiap hubungan yang ia lakukan itu. Dan orang itu ialah aku.


Aku mengakui itu, aku sangat mengakui dengan kesalahanku. Aku mengakui semua perbuatanku. Pernikahan yang sangat sakral, cinta yang sangat kulontar dengan setulus hati. Dalam sekejap mata aku menodai itu semua. Aku berdosa hanya karena perbuatanku yang seharusnya tidak kulakukan ini.


Namun apa boleh buat? Aku sudah melakukannya. Bagaimanapun juga nasi sudah menjadi bubur tidak akan kembali menjadi nasi juga. Kutelan lah semua bubur itu walaupun ujung-ujungnya tidak mengenyangkan untukku.


Kulihat kearah dalam, suara gemercik air terdengar olehku.


Yap, Keisha sedang mandi. sedari tadi aku mencari kesempatan ini untuk menghubungi istriku yang kedua. Apakah disana ia baik-baik saja atau tidak. Bagaimanapun juga aku sudah menikahi dia. Sekarang dia sudah menjadi tanggung jawabku dan aku harus bersikap adil sebagai seorang suami walaupun aku belum mengakui ia sebagai istri kepada dunia.


Aku merogoh ponsel disaku celanaku. Sesekali kulihat kedalam takut Keisha tiba-tiba keluar dan menangkap basah sikapku yang mencurigakan ini. Aku tidak ingin menambah masalah lagi. Cukuplah sewaktu di Paris jangan disini lagi. Tunggu hingga aku menemukan cara untuk mengeluarkan masalah ini. Agar semuanya tidak terlihat runyam.


Kucari nama panggilan yang tersedia di kontak ponselku. Langsung saja tanpa membuang waktu lagi, aku menghubungi Kania. Terdengar nada sambung disebrang sana, namun tidak ada tanda-tanda Kania akan mengangkat ponselnya.


Kumatikan lalu kuhubungi lagi, sesekali aku melihat kedalam rumah. Keringat dingin sudah membasahi telapak tanganku. Apakah ia baik-baik saja disana? Kenapa ia tidak kunjung mengangkat ponselnya? Membuat aku semakin khawatir saja disaat kondisi seperti ni.


Keisha:


“Ahhh, segarnya.” Ucapku lega setelah keluar dari kamar mandi.


Sensasi dingin dan segar disekujur tubuhku membuat rasa semangat didiri ini akhirnya bangkit juga. Tidak lupa juga aku keramas, menghilangkan segala fikiran dan keresahan yang baru saja terjadi. Aku tidak ingin kegelisahan ini membuat fikiranku berada dimana-mana.


Aku tidak ingin ada keributan yang terjadi pada Andri dan padaku. Ia baru saja kembali dari Paris dan aku mencari masalah yang tidak ada sebab dan akibatnya. Yang ada, aku hanya berdosa kepada suamiku itu.


Ckckck, aku tidak akan termakan oleh rayuan setan yang semakin hari membuat kecurigaan kepada suamiku semakin membesar. Aku tidak ingin setan itu semakin senang dalam melancarkan aksinya itu.


Kulihat diatas ranjang, pakaian kotornya bertebaran dimana-mana. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.


“Kelakuan,” gumamku.


Aku mengambil pakaian kotornya lalu memasukkan dikeranjang khusus pakaian kotor yang sudah tersedia disudut kamar. Saat aku memasukkan kemeja Andri kekeranjang, aku melihat noda hitam tepat dibelakang bahunya.


Langsung saja aku lihat dengan sangat teliti noda hitam itu, aku usap dengan jari tanganku tetap saja noda itu tidak hilang.


“Noda hitam apa ini? Apa oli? Tidak mungkin oli sampai ke bahu Mas Andri, lalu kenapa Andri membawa noda hitam seperti ini?” tanya kepada diriku sendiri dengan ribuan pertanyaan dikepalaku.


Aku pun mencium noda hitam itu, menyipitkan kedua mataku berusaha menebak apa ini. tidak biasanya kemeja kantor Andri kotor seperti ini. Ia bukanlah pria yang ceroboh terhadap dengan bajunya. Kenapa baru sekarang ia seceroboh ini?


Saat aku fokus mencium aroma noda hitam itu, kedua mataku terbuka dengan sangat lebar. Entah apakah tebakanku ini benar atau salah. Ini seperti aroma mascara yang pernah kupakai sebelumnya. Namun tidak pernah kupakai lagi karena aku hanya berada dirumah kecuali jika aku sedang berpegian saja.


Tetapi kenapa mascara ini menempel dikemeja Andri? Tidak mungkin aku yang melakukannya, karena aku saja baru bertemu dengan ia hari ini. Ya Allah, sebenarnya apa yang saat ini terjadi? Kenapa teka-teki ini semakin menjadi dihidupku.


Apa benar jika suamiku itu, dia...dia?


Aku menggeleng kepala dengan sangat cepat, “Tidak, tidak Keisha. Jangan berfikiran yang macam-macam. Andri tidak mungkin melakukan itu, aku sangat percaya dia bakal setia kepadaku. Aku percaya padanya dan aku sangat percaya. Siapa tau aroma noda hitam ini, aroma yang lainnya dan hanya kebetulan saja sama dengan mascara yang pernah aku gunakan. Ya, siapa tau. Jangan suudzon Kei, jangan suudzon dengan suami sendiri. ya, jangan!” aku meyakinkan diri ini dengan sangat yakin. Walau sebenarnya ada keresahan yang semakin menjadi didalam diri ini.


“Sayang...Sayang.” Teriak Andri membuat aku langsung memasukkan bajunya kekeranjang.

__ADS_1


“Ha, iya apa?”


“Aku izin keluar dulu ya,”


“Kamu mau kemana?” tanyaku dengan wajah bingung.


“Ada sesuatu yang harus kuurus,”


“Apakah harus sekarang? Tidak bisa besok saja kah?” tanyaku sepertinya aku tidak rela ia pergi meninggalkanku seorang diri.


Wajar saja, beberapa hari ditinggalkan masa sekarang ditinggalkan lagi? Aku sangat merindukan ia. Hanya saja aku malu untuk mengatakannya.


“Gak bisa sayang, maafkan aku ya. Aku harus pergi sekarang, aku akan segera kembali lagi kok. Jaga dirimu baik-baik ya dirumah.” Ucapnya sambil mengelus pipiku lalu bergegas mengambil kunci mobil dan jaketnya.


“Mas,” panggilku pelan.


“Assalamualaikum,” ucapnya sambil tersenyum.


“Waalaikumsalam.” Ia pun pergi keluar dari kamar meninggalkanku yang sangat berat hati.


Semakin kesini waktuku dengannya semakin tidak ada. Jika sudah seperti ini aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Aku tidak menginginkan harta atau apapun itu. Aku hanya menginginkan ia selalu berada disampingku. Menemani hari-hariku yang selalu sendiri ini dan menyemangatiku yang sedang berjuang melawan penyakit mandulku ini agar hilang.


Tapi apa? Semuanya hanya harapan dan keinginan yang tidak akan ia lakukan. Semuanya seketika berubah ketika ia menjadi pemimpin diperusahannya. Haruskah hidupku seperti ini? haruskah hubunganku hanya seperti ini saja?


Aku juga menginginkan lebih seperti yang lainnya.


Baru saja tadi pagi aku merasakan bahagia yang amat luar biasa. Kini, kebahagiaan itu dengan cepat luruh dengan gampangnya. Rasa semangat yang baru saja mendera kini redup dengan sendirinya. Semuanya itu karena ia yang selalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan diriku. Mungkin sudah nasib hidupku, tidak apalah. Aku akan terima.


Andri:


Oke...


Kuakui, jika hari ini aku berbohong lagi kepada Keisha. Berbohong untuk kesekian kalinya terhadapnya.


Kenapa aku seperti merasa bahwa saat ini aku sudah tidak bersikap adil kepada Keisha. Seharusnya hari ini aku bersamanya, akan tetapi aku malah lagi dan lagi memilih Kania ketimbang ia.


Mungkin rasa cintaku saat ini lebih besar kepada Kania dibandingkan Keisha. Mungkinkah rasa cintaku kepada Keisha semakin memudar seiring hadirnya Kania dihidupku. Ditambah ia sekarang sudah menjadi istriku.


Kenapa aku tidak merasakan itu? Merasakan bahwa cintaku kepada Keisha sudah semakin hilang. Tetapi walaupun begitu, kenapa aku memiliki rasa takut yang luar biasa akan kehilangannya. Apakah saat ini aku sudah dilanda dengan keegoisan yang beada didalam diriku?


Sudahlah, aku tidak perlu memikirkannya lagi. Aku tidak ingin membuat masalah ini selalu menghantui fikiranku. Aku ingin bahagia, aku tidak perlu memikirkan hal yang belum terjadi.


Apapun yang terjadi untuk selanjutnya, aku siap untuk menghadapinya. Aku yakin itu dan aku sangat yakin.


Keisha:


Fikiranku melayang entah kemana.


Tatapanku kosong.


Aku melamun.


Memikirkan yang seharusnya tidak aku fikirkan.


Tanganku masih menggenggam kemeja Andri.


Aroma noda hitam dikemejanya ini sudah sangat menggangguku. Membuat diriku berfikir sangat keras, apakah aroma noda hitam ini benar-benar mascara yang pernah aku gunakan.


Aku sambil membayangkan bagaimana bisa noda hitam ini bisa menempel dibahu kemejanya. Aku menganalisa nya sedari tadi.


Ini seperti, ada yang memeluk Andri hingga noda hitam itu menempel dibahu kemejanya. Seperti itulah fikiranku saat ini.

__ADS_1


Entah, ini apakah benar atau hanya fikiranku saja.


“Tidak Kei, kenapa semakin hari kau semakin berimajinasi jika Mas Andri memiliki wanita lain dibelakang mu? Apa yang kau fikirkan ini sudah salah Kei. Tidak boleh! Kau harus membuang fikiran yang jauh ini. Ini bukan seperti apa yang kamu fikirkan. Kau tau itu? ya, sudahi saja semua ini. Aku sangat yakin dengan Mas Andri jika ia tidak akan mengkhianatiku. Siapa tau aroma noda hitam ini memang kebetulan saja sama? tentu saja. Memangnya aroma ini hanya ada satu didunia ini? hahah, iya Kei, tentu saja. Kau sangat konyol sudah berfikiran yang sangat jelek kepadanya.” Aku bicara dengan diriku sendiri berusaha meyakinkan bahwa semua ini tidak seperti apa yang sudah aku bayangkan. Bisa jadi bukan?


Aku pun memasukkan kemeja Andri kemesin cuci lalu menekan setiap tombol itu dan membiarkan ia berputar dengan sendirinya.


Tok..tok..tok...


Suara ketukan dipintu membuat aku sedikit tersentak. Apakah Andri sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Bukankah ia baru saja pergi.


Aku pun berjalan menghampiri pintu lalu memutar knop pintu melihat siapa yang datang kerumah saat ini.


Kedua mataku terbelalak melihatnya, “Ibu?” ucapku dengan sangat terkejut.


Ibu berada dihadapanku, ia menghampiriku kesini? Astaga, kapan ia sampainya? Kenapa malah ibu yang menghampiriku seperti saat ini. seharusnya aku yang menghampirinya.


“Keisha, putri ibu.” ucapnya, kedua matanya berkaca-kaca.


Keningku mengerut, kenapa wajah ibu seperti sedih seperti ini? apa ini hanya perasaanku saja?


“Ibu, ibu kenapa?”


Tanpa kusadari, ibu langsung memelukku. Aku pun terkejut dengan perlakuannya itu. Dan lebih yang membuat aku terkejut sekaligus panik ialah, ibu menangis dipelukannya ini. Aku melihat kearah luar, ada Andika juga. Aku bicara tanpa suara bertanya ada apa, ia hanya tersenyum sambil menggeleng. Aku semakin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.


“Ibu, ibu ada apa. Kenapa ibu menangis?” aku berusaha melepaskan pelukannya, namun ibu semakin mengeratkan pelukannya itu. Aku menjadi tidak berdaya olehnya.


“Yaudah, iya..iya. kita masuk dulu ya, kita bicara didalam saja bu.”


Barulah ibu melepaskan pelukannya. Aku melihat wajah ibu yang sudah sembab oleh air mata. Kuhapus air matanya yang basah dikedua pipinya. Kupersilahkan ia dan Andika masuk.


“Ibu dan Andika duduk dulu ya disini, Keisha ambil minuman dulu untuk kalian berdua.”


Aku beranjak dari tempat dudukku namun ibu malah menarik tanganku hingga membuat aku kembali duduk dihadapannya. Ia menggenggam kedua tanganku sangat erat. kedua matanya kembali berkaca-kaca.


Ya Allah, kenapa ibu seperti ini? aku tidak pernah melihat wajah ibu sesedih ini. Walaupun sedih, ia masih bisa menutupinya dengan senyuman diwajahnya itu. Tetapi kenapa sekarang, seakan-akan semua ini tidak bisa menutupinya.


“K—kei,” panggilnya terbata-bata.


“Ada apa bu? Ibu ada masalah apa? ibu kenapa menangis? Sebenarnya ada apa?”


Ibu memaksakan kedua sudut bibirnya ditarik keatas, berusaha meredamkan kepanikanku kepadanya itu.


“Ibu, cerita sama Kei. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama ibu. kenapa ibu nangis begini? Jangan buat Kei takut bu,” ucapku lagi.


Ibu menarik nafas lalu menghembuskannya dengan pelan. “Ibu hanya kangen kamu Kei, makanya ibu seperti ini.” alisku naik sebelah mendengar perkataannya itu.


Benarkah hanya karena kangen kepadaku hingga membuat ia seperti ini? kenapa didalam hatiku seketika tidak percaya dengan perkataan ibu.


Aku melihat Andika, mencari jawaban dari dia. “Benar mbak, baru saja kami sampai dirumah. Ibu malah gak sabaran mau ketemu mbak. Padahal besok juga bisa, tapi ibu tetap kekeuh mau ketemu mbak. Sudah lama gak ketemu mbak katanya.” Jawab Andika dengan cengiran khasnya membuat ia dan Andri semakin mirip saja jika kulihat.


Aku kembali melihat ibu, ia mengangguk sambil tersenyum membenarkan perkataan Andika. Aku pun membalas senyuman ibu.


Kenapa?


Kenapa?


Dan kenapa?


Sepertinya ada yang disembunyikan oleh mereka berdua.


Bukan aku tidak percaya dengan perkataan Andika dengan ibu.

__ADS_1


Hanya saja dari ekspresi dari mereka saja sudah berbeda membuat timbul rasa curiga dihatiku.


__ADS_2