
“Hiduplah bersamaku, Insya Allah surga kita akan dapatkan bersama.”
-Keisha
Kania:
Aku melingkarkan tanganku ke pinggang Andri dengan renggang, aku mengerucutkan bibirku hanya beberapa senti saja.
Perasaanku gunda gulana, antara bahagia dan kesal. Andri mengirim pesan kepadaku, bahwa ia ingin bertemu denganku diruangannya. Aku kira dia ingin membicarakan sesuatu kepadaku, nyatanya ia berkata bahwa ia akan makan siang bersama Keisha dan ibunya.
Sebenarnya aku tidak masalah, tetapi entah kenapa dilubuk hatiku ada rasa kecewa. Ya, walaupun itu tidak mendalam tetapi rasanya seperti ada yang menyesakkan. Aku dan dia akan makan siang bersama, tetapi takdir malah memutar semua rencana kita. Dia harus makan siang bersama istri dan ibunya, kalau sudah seperti ini aku bisa apa?
“Mas, gak bisa ya dibatalin gitu? Aku kan pengen makan sama kamu, aku udah nyewa tempat nya loh. Jadi nanti ditempat makan hanya ada kita berdua aja, gak ada orang lain lagi,” pintaku dengan sedikit manja, berharap ia makan siang bersama ku. Karena sedari tadi saat pemotretan, aku terus mengkhayal makan berdua bersamanya sambil suap-suapan dan menggenggam tangan satu sama lain, tetapi masa harus batal?
Andri menyelip kan helain rambutku ke belakang telinga, aku hanya bisa mendengus padahal aku kesal padanya tetapi kenapa sikap manis nya kepada ku membuat aku tidak jadi kesal dengannya. Ah, ini sungguh tidak adil bagiku.
“Maaf ya sayang, aku juga gak tau kalau bakal seperti ini jadinya. Tadi aja, Keisha ngasi tau ke aku mendadak banget. Ibu ku juga pengen makan siang bersamaku, soalnya aku udah jarang makan bersama. Jadi, maaf ya sayang. Kamu gak papa kan?” tanya nya sedikit sendu.
Aku menghela nafas lebih keras, entah kenapa rasanya kesal banget. Aku menguraikan pelukan nya. “Yaudah kalau emang kamu gak bisa, aku makan siang sendiri aja. Aku gak enak sama manajer restoran sana, udah nyewa masa gak jadi juga!”
Kesal? Jangan ditanya, aku sangat kesal. Hal yang paling aku tidak sukai ya ini, ketika apa yang sudah kita rencanakan malah harus gagal dan bertolak belakang dengan ekspetasi yang sudah kita bayangkan sebelumnya.
Aku pun mengambil tas ku lalu hendak pergi, tetapi Andri menahan tangan ku. Aku pun menatapnya dengan sabar, sebenarnya aku tidak marah tetapi ya aku hanya kesal saja.
“Jangan marah dong Kan, Mas kan gak tau kalau begini jadi nya. Please, jangan marah, ya sayang ya,” ucapnya memelas kepadaku.
“Aku loh gak marah Mas, ya, aku hanya sedikit kesal aja. Pengen makan sama kamu sampe harus nyewa restoran, eh tau-tau nya gak jadi, ya aku kecewa dong,”
Andri menghela nafas, ia meraih badan ku lalu memegang kedua pundak ku “Oke, gini aja, nanti Mas makan sama Keisha dan ibu. Lalu Mas makan sama kamu, gimana?”
Seketika kedua mataku langsung berbinar, benarkah? Tapi, bagaimana caranya?
__ADS_1
Andri yang paham dengan kerutan dikeningku, ia mengelus keningku agar kerutan nya hilang “Nanti Mas cari caranya ya sayang, kamu tunggu aja di sana. Mas pasti bakal datang kok,”
Aku hanya bisa tersenyum, senang? Astaga, jangan ditanya lagi. Aku rasanya ingin melayang diatas awan dan tidak ingin kembali lagi.
“Janji?” aku menawarkan kelingking kanan ku kepadanya, ia tersenyum lalu menautkan kelingking nya ke kelingking ku. “Janji kok Kan,”
“Oke, makasih.” aku tersenyum, lalu mencium pipi kanannya dan kabur dari ruangannya. Hahaha, aku tidak tau ekpresi Andri saat aku mencium nya, pasti ia sangat terkejut.
Andri:
Aku mengendarai mobil ku dengan kecepatan penuh menuju ke lokasi, Keisha sudah mengirimkan lokasi nya kepada ku jadi aku langsung kesana tanpa harus mengulur waktu lagi. Agar nanti aku bisa berbagi waktu makan siang bersama Kania. Ahh, wanita itu membuat senyuman ku tanpa henti. Ia masih sempat mencium ku tadi, dia bisa saja membuat aku sebahagia ini.
Tidak perlu waktu yang lama, aku pun menemukan lokasi yang Keisha kirimkan. Aku pun memarkirkan mobil ku, lalu aku keluar dan aku lihat Keisha dan ibu sedang duduk sambil tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyuman itu, tidak lupa juga aku mencium punggung tangan ibuku, lalu aku beralih mencium kening istri ku tercinta.
Sebagai tanda dari ku untuk ibu dan istri ku, setidaknya ini lah pengabdian ku kepada kedua wanita yang sudah berjasa yang selalu bersama ku disaat suka maupun duka.
“Maaf ya telat, tadi ada urusan sebentar yang harus Andri selesaikan.” iya, urusan ku bersama Kania bukan urusan tentang kantor. Setidaknya ada deh alasan untuk ibu dan Keisha.
Ibu mengangguk “Iya Ndri, ayo duduk. Ibu juga udah pesankan makanannya,”
“Iya bu.” aku pun duduk lalu menoleh ke Keisha yang sedang tersenyum ke arahku.
“Kenapa?” tanya ku heran.
Keisha hanya menggeleng pelan sambil tersenyum yang masih terukir di bibir nya. “Gak papa kok Mas, hehehe,”
Aku hanya mengusap lembut hijabnya. Lalu tak lama kemudian pelayan pun datang membawa makanan yang sudah ibu ku pesan, tidak mewah dan tidak banyak. Hanya ayam goreng yang dimasak asam pedas, cumi yang digoreng dengan tepung, lalu ayam berbalut tepung dengan kriuk-kriuk disamping nya, tidak lupa nasi dan es teh.
Menurut orang lain ini biasa-biasa saja, tetapi menurutku ini sangat luar biasa.
Tanpa obrolan yang panjang lagi, aku, Keisha dan ibu langsung makan dengan lahap. Sambil memikirkan cara bagaimana agar langsung kabur dari sini, aku tau pasti Kania sedang menunggu ku disana. Seketika ada fikiran yang melintas di otak ku, ahh aku rasa aku melakukannya sekarang.
__ADS_1
Keisha:
Disela-sela makan, aku terus melihat Andri yang melahap makanannya dengan banyak. Hahaha, sangat menggemaskan, mungkin dia sangat lapar karena seharian bekerja.
Niatnya tadi aku ingin membawakan bekal untuk nya ke kantor, akan tetapi ibu mertua menghubungiku kalau dia ingin makan bersama dengan ku dan Andri. Saat ini ialah kami, kita makan dengan sangat manis nya dan lahap. Aku pun ikut memakan semua makanan ku, aku pun ikut lapar, hehehe.
Saat pertengahan makan, ponsel Andri berdering sedari tadi membuat aku dan ibu cukup risih mendengar nya. Siapa sih yang menelpon Andri disaat jam istirahat seperti ini.
“Angkat Ndri telponnya, jangan dibiarkan gitu. Siapa tau penting,” perintah ibu ke Andri. Andri pun mengangguk, lalu ia mengangkat telponnya. Aku pun hanya bisa mendengarkan Andri berbicara dengan seseorang di telpon, seperti nya obrolannya sangat serius.
Setelah Andri selesai menelpon, Andri bangkit dari duduk nya membuat aku dan ibu memandang nya dengan heran “Ada apa Mas?” tanya ku, padahal makanan diatas meja belum sepenuh nya habis, masa dia harus pergi.
“Bu, Kei, maaf ya. Aku harus pergi dulu, mendadak ditelpon dari kantor karena ada urusan yang harus di selesaikan dengan cepat. Maaf ya, Andri pergi dulu, maaf ya Kei, Andri pamit,” Andri meraih tangan ibu lalu mencium punggung tangannya, lalu dia meraih kepala ku dan mencium keningku seperti tadi.
Ia pun pergi dari hadapan kami, aku hanya bisa menatap punggung nya yang keluar dari tempat makan. “Hati-hati di jalan Mas,” ucap ku dengan lirih.
Aku menatap ibu yang sedang menghela nafas dengan ekpresi wajah yang sedikit kecewa, aku tau ekspresi itu. Aku meraih tangan ibu dan menggenggam tangannya.
“Maafkan Mas Andri ya bu, Mas Andri akhir-akhir ini sibuk, jadi dia gak bisa sepenuhnya bersama kita. Untungnya Keisha bersyukur, sesibuk apapun Mas Andri, dia masih menyempatkan kita kesini walau hanya sebentar,” aku memberikan pengertian kepada ibu, agar kekecewaan ibu pudar saat ini.
Ibu mertua ku mengulas senyuman tipis, ia menimpa tangannya ke atas tangan ku “Ini bukan salah kamu kok nak, toh, ibu memaklumi kesibukannya Andri. Ibu hanya kecewa karena Andri tidak bersama dengan kita seperti dulu lagi. Tapi ya mau gimana lagi, Andri semakin sukses semakin sedikit juga waktunya dengan kita. Padahal ibu mau ngomong sesuatu yang penting sama Andri.”
Aku menaikkan alis sebelah “Sesuatu yang penting? Apa itu bu?”
“Tanggal 15 nanti si Ade wisuda, Ade mau Andri yang mewakilkan Ade pas wisuda nanti. Tetapi lihat kesibukan nya Andri sepertinya harus ibu yang pergi kesana,”
Ah ya, aku lupa, Ade, adik kedua Andri yang berjenis kelamin laki-laki. Ade itu hanya nama panggilannya saja, nama aslinya yaitu Andika Fortunio Bagaskara. Aku baru ingat, jika Ade masih kuliah dan belum menyelesaikan kuliah nya. Hingga akhirnya Ade pun menyelesaikan kuliah untuk kedua kalinya.
“Jadi nanti ibu pergi ke Paris dong?”
Ibu hanya mengangguk, yahh, saat ini Ade kuliah di Paris. Berarti untuk sementara ini aku tidak akan bertemu dengan ibu karena ibu harus berangkat ke Paris, kalau sudah berpegian jauh begini aku harus memberi tahu Andri. Bagaimanapun juga dia harus tau jika adiknya akan wisuda, sesuatu yang membanggakan menurutku.
__ADS_1