
“Pengkhianatan yang terjadi dalam suatu hubungan sangat lah menyakitkan bagi setiap yang sudah berpasangan. Jika kau tidak ingin menyesal di kemudian hari, kumohon jangan lakukan atau kau akan menyesali nya.”
-Andri
Andri:
Hembusan nafas pelan berkali-kali keluar dari mulut ku. Sambil melihat Menara Eiffel dari dalam kamar ini membuat aku fikiran ku sedikit tenang. Lampu nya mulai memancarkan pesona yang sangat indah di setiap tiang nya, aku pun kagum melihat nya.
Suasana di kota Paris malam itu terbilang cukup ramai, bunyi transportasi saling bersahutan satu sama lain membuat kota itu terbilang tidak pernah sepi setiap hari nya.
Malam ini juga, malam yang menjadi panjang bagi ku. Aku memutuskan akan menikahi Kania, menjadikan ia sebagai istri ku yang kedua. Tidak ada restu dari istri ku, Keisha.
Tidak ada pula restu dari ibu ku, semuanya ku atur sendiri dan ku jalankan sendiri. Yang terpenting semuanya berjalan sesuai rencana dan terbilang sempurna.
Sedari tadi aku hanya menggenggam ponsel ku tanpa hendak berniat mengaktifkannya sama sekali, memang sengaja ku lakukan itu. Aku tidak ingin Keisha menghubungi ku di sana hingga dapat menggagalkan rencana pernikahan yang sudah ku buat jauh-jauh hari, biarlah seperti ini ada nya.
Semenjak aku menginjak kaki di Paris, aku belum memberi kabar nya sama sekali. Entah apakah aku yang terkesan tidak perduli atau memang aku nya yang tidak ingin mengambil pusing dengan semua ini. Aku pun tidak mengerti. Yang terpenting, apa yang ku rencanakan semuanya dapat terlaksana.
Dikamar ini, sudah ada beberapa saksi dan penghulu yang sudah hadir untuk pernikahan ku. Aku pun sudah siap dengan setelan jas formal ku. Lalu aku duduk dikursi yang memang sudah disediakan oleh pihak hotel, kini tinggal menunggu Kania yang sedang dirias sederhana mungkin.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Kania pun masuk ke kamar ku dengan diiringi dua pelayan hotel itu. Ia terlihat sangat cantik dan bersinar melebihi sinar Menara Eiffel malam ini. Rambut nya yang di sanggul sangat sederhana, riasan yang tidak terlalu tebal dan baju kebaya berwarna putih yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari sangat lah cocok dengan warna kulit nya yang juga putih.
Aku pun sangat terpana melihat nya, ia pun duduk di samping ku dengan kepala yang menunduk. Mungkin ia malu karena aku menatap ia terlalu lama. Tapi memang aku berkata jujur adanya. Kalau ia sangat cantik di malam ini.
“Mas, ngapain lihat Kania gitu, penampilan Kania jelek ya?” tanya nya pelan sambil memperbaiki kebaya nya.
Aku pun mendekati nya lalu berbisik di telinga nya, “Kamu cantik.” Kania langsung menoleh dan melihat ku dengan kedua mata cantik nya itu. Ia terdiam karena aku mungkin mendadak memuji kecantikannya. Padahal biasanya aku selalu memujinya.
Kami pun tersadar karena deheman dari penghulu, “Baik Pak Andri, sebaiknya kita tidak perlu menunda-nunda waktu lagi. Jadi, kita langsung saja ya, ijab qobul nya,”
Aku pun mengangguk, Kania terlihat menghela nafas pelan. Aku mendengar helaan nafas nya, mungkin dia gugup dengan pernikahan ini. Jangan kan dia, aku pun lebih gugup dibandingkan ia. Walaupun aku sudah pernah mengucapkan ijab qobul disaat menikah dengan Keisha, tetapi tetap saja aku lebih gugup dibandingkan pernikahan pertama.
Entah kenapa itu, aku pun tidak tau.
Pak penghulu pun mulai mengucapkan kata demi kata, aku pun mendengar nya dengan sangat khidmat. Sambil berusaha berkonsentrasi, aku berusaha fokus agar tidak salah mengucapkan ijab qobul ini. Saat penghulu menggerakkan tangan ku pelan, aku pun tersentak lalu dengan suara getar nan lantang pun mengucapkan, “Saya terima nikah dan kawinnya Kania Aletha Qirani Binti Fadli Arsyad dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai.” Hanya sekali tarikan nafas akhirnya kata itu pun terlontarkan begitu saja di bibirku.
Penghulu bicara ke para saksi yang ada di kiri kanan meja. Mereka mengangguk lalu mengatakan, “Sah,” aku pun menghela nafas lega, begitu juga dengan Kania.
Ia menoleh ke arah ku dengan senyuman di bibir nya, kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Penghulu pun membaca kan doa, kami berdua pun ikut berdoa atas pernikahan ini.
__ADS_1
Setelah selesai berdoa, Kania meraih tangan ku dan mencium punggung tangan ku. Aku meraih kepalanya lalu mencium kening nya sangat lama. Kami berdua lalu disuruh menandatangani buku nikah yang sudah disediakan dan beberapa dokumen lainnya.
Lalu aku pun mengeluarkan cincin yang berada di kotak kecil, kami berdua pun saling memasang cincin satu sama lain.
Hanya kalimat singkat yang aku ucapkan tadi dengan satu tarikan nafas, aku telah mengubah segalanya. Sekarang aku bukan hanya bertanggung jawab untuk diri sendiri dan Keisha. Melainkan ada istri yang lain yang harus aku jaga setelah ini.
Bukan satu istri saja yang harus aku penuhi tanggung jawab nafkah batin maupun nafkah lahir nya, tetapi aku harus tanggung jawab dengan dua istri sekaligus. Kini, aku harus adil dan bertanggung jawab sepenuhnya untuk mereka berdua.
Bagaimana pun juga aku sudah mengambil tindakan sejauh ini, jadi biarkan aku melakukannya dengan sedemikian rupa.
Kania meraih tangan ku dan menggenggam tangan ku, “Terima kasih Mas, terima kasih untuk semuanya.” Ujar nya dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca.
Aku mengelus pipinya dengan lembut, “Tidak perlu berterima kasih sama aku Kan, Mas melakukan ini karena Mas mencintai mu dan tidak ingin kehilangan mu. Dan ini lah penantian mu selama 3 tahun lamanya, semuanya sudah terjadi didepan mata.”
“Bagaimana dengan Keisha, Mas? bagaimana Mas memberi tahu nya nanti kalau kita sudah menikah dibelakang nya?” tanya nya dengan raut wajah khawatir.
Aku mengelus tangan nya bermaksud untuk menenangkan dirinya, “Tidak perlu khawatir istri ku, lambat laun aku akan memberi tahu Keisha. Tapi tidak sekarang ya, mungkin nanti. Jadi, sekarang kita hanya fikirkan dulu tentang kita berdua baru lah kita memikirkan itu belakangan.”
Jahat memang, tapi mau bagaimana lagi. Ini lah aku, pria yang sudah berani mengkhianati kekasih lama yang selalu menanti di masa suka dan duka ku.
__ADS_1
Kania pun memeluk ku, “Terima kasih Mas, aku memang tidak salah menjadikan mu sebagai suami ku,” aku tersenyum mendengar nya sambil mengelus punggung nya itu.
“Sama-sama sayang.”