
“Sakit bukan jika orang yang mempunyai masalah tetapi kita yang merasa bersalah. Orang lain bahagia diatas masalahnya tetapi kita yang menderita diatas kebahagiaannya. Apakah memang seperti itu hidup yang sebenarnya?”
-Vania
Kania:
Aku membopong Vania ke dalam kamar ku. Aku langsung membaringkan tubuh nya diatas kasur, langsung saja ku beri minyak angin dibawah hidung nya. Sejujurnya aku sangat kaget, karena Vania tiba-tiba datang lalu pingsan didepan ku. Aku tidak tau kenapa dia bisa pingsan seperti ini, padahal seperti nya tadi dia baik-baik saja. Bahkan dia masih sempat makan, minum dan istirahat. Tetapi kenapa dia bisa pingsan seperti ini?
Aku terus memberi minyak angin agar dia tersadar dari pingsannya. Setau aku, Vania pingsan apabila dia stres dan terlalu banyak fikiran. Dan itu langsung membuat ia drop seketika, walau fisik nya baik-baik saja. Aku tidak tau apa yang sedang ia fikirkan sekarang, sehingga membuat ia pingsan seperti ini. Sekarang saja, aku sudah sangat panik melihat dia pingsan.
Sebenarnya aku terus bertanya, apa yang Vania fikirkan hingga dia bisa seperti ini. Apa karena masalah aku hari ini hingga membuat ia stres sendiri atau ada masalah lain? Aku pun tidak tau itu, semoga dia cepat sadar dari pingsannya. Karena aku ingin bertanya banyak kepadanya.
Vania:
Aku membuka kedua mata ku secara perlahan aku melihat sekitar, semuanya terasa berkunang-kunang. Kepala ku terasa nyeri, sakit dan sangat pedih. Perut ku seperti nya tergilas ingin mengeluarkan semua isi dalam nya, aku tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di hadapan ku ini. Tetapi yang aku ingat, bahwa tadi aku pergi ke apartemen Kania dan aku menekan bel nya beberapa kali. Aku merasakan hawa badan ku menjadi tidak enak.
Setelah itu aku tidak tau apa yang sedang terjadi, semuanya menjadi buram, gelap dan ringan. Ternyata saat ini aku pingsan karena aku terlalu banyak berfikir hingga membuat aku depresi sendiri.
__ADS_1
“Vaniaaa, Vania lo udah sadar?” suara Kania membuat aku langsung terduduk dengan pelan.
“Pelan-pelan Van!” titah nya. Aku tersenyum tipis, kepala ku masih terasa pusing mungkin ini efek habis pingsan.
“Vania, lo kenapa bisa pingsan sih? Lo kenapa? Coba cerita sama gue,”
“Kan.” panggil ku pelan, tubuh ku terasa lemah hingga suara yang kukeluarkan terasa sangat pelan, tetapi itu cukup bisa didengar oleh Kania.
“Iya, kenapa Van?” tanya nya yang sangat tidak sabaran, terlihat dari wajah nya itu bahwa dia sedang tidak sabaran.
“Gue tadi ketemu Keisha,”
“Dia ngobrol seperti biasa sama gue, tapi sejujurnya gue gak bisa Kan. Setiap gue lihat Keisha dan tatap kedua mata wanita berhijab itu membuat gue merasa bersalah dengan kondisi yang ada. Gue kefikiran Kan, gue bingung harus bagaimana. Makanya gue kesini dan tau-tau nya gue malah gak sadarkan diri,” jelas ku kepadanya.
Saat aku mengatakan itu semua, hati ku terasa sangat ringan. Beban yang tertumpuk akhirnya keluar, aahhh ini membuat oksigen leluasa masuk kedalam paru-paru ku. Baguslah, daripada aku merasakan sesak dengan masalah yang tidak aku buat.
Aku meraih tangan Kania dan menggenggam nya dengan erat “Gue takut loh Kan, gue selalu takut berhadapan dengan Keisha. Gue selalu kefikiran dengan hubungan lo dengan Andri, gue takut kalau semua nya kebongkar lalu Keisha menyalahi gue tentang ini. Gue takut Kan, gue takut,”
__ADS_1
Kania membalas genggaman tangan ku “Maaf ya Van, maaf udah membuat lo masuk ke situasi ini. Gue gak bermaksud untuk buat lo seperti ini Van, kalau emang lo gak bisa mengatasi situasi ini. Lo bisa keluar dari lingkaran ini,”
“Gimana gue bisa keluar dari lingkaran ini Kan, lo sahabat gue. Apapun bersama gue, gue gak bisa mengacuhkan persahabatan kita. Dari awal gue udah nerima apapun masalah lo Kan,”
“Bukan begitu Van, kalau lo merasa terbebani gak papa kok. Gue bisa mengatasi nya sendiri, lagian ini juga udah kesalahan gue dengan Andri karena udah buat masalah seperti ini. Lo gak ada sangkut paut nya dengan ini, jadi lo jangan fikirin gue. Oke?” ucap Kania dengan mantap.
Astaga, bukan gue merasa terbebani. Walaupun gue udah keluar dari lingkaran yang Kania buat dengan Andri tapi tetap aja gue gak bisa mengacuhkan apa yang udah gue lihat selama ini. Hampir 3 tahun loh aku bersama Kania tidak mungkin aku melupakan semudah itu.
“Vania, gue minta maaf karena udah membuat lo masuk ke dalam situasi yang sulit ini. Gue sangat minta maaf, lo udah ngasi tau gue beberapa nasihat tapi gue gak mau mengikuti nya karena gue udah terlanjur suka ke situasi yang udah gue buat. Tetapi kalau lo emang gak sanggup, lo bisa keluar Van. Kalau emang Keisha menyalahi lo, tenang aja. Gue yang akan mengatasi itu semua Van. Gue yang akan bertanggung jawab demi lo. Agar lo gak disalahi oleh Keisha. Gue tau lo begini karena Keisha udah banyak menanggung lo dari segala pekerjaan lo, dan Keisha udah banyak menolong lo dari titik terendah lo hingga lo bisa mempunyai pekerjaan tetap yang sangat lo sukai. Gue mau lo jangan masuk lagi ke situasi ini Van, jika lo merasa bersalah dengan Keisha,”
Aku yang mendengarnya pun hanya bisa terdiam, perkataan Kania membuat aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Apa Kania tidak apa-apa kalau gue tidak membantu nya lagi? Apa dia tidak merasa keberatan kalau aku tidak ada disampingnya saat dia berada disituasi yang sulit.
Kania mempererat genggaman tangan nya, dia tersenyum ke arah ku. Sangat cantik dan tulus ku lihat membuat aku jadi iri kepada nya. Wanita yang tegar dan sangat berwibawa tak mementingkan keegoisannya “Lo tetap jadi sahabat gue kok, tapi untuk masalah ini lo jangan masuk lagi. Gue gak mau lo stres sendiri Van. Gue tau ini berat bagi lo karena lo menganggap udah mengkhianati Keisha. Tetaplah jadi sahabat gue tapi jangan masalah gue, karena gue yang udah membuat masalah ini jadi biarkan gue yang menanggung nya. Oke?”
Aku meneteskan air mata, sahabat ku yang satu ini ternyata sangat pengertian hanya aku saja yang terlalu terbebani dengan semua ini. Ahh, aku jadi terharu karenanya. Aku pun memeluk Kania dengan erat, ia membalas pelukan ku sambil mengelus punggung ku. Sedangkan aku hanya bisa menangis terisak-isak membiarkan semua beban ku keluar dengan sendirinya.
“Maafin gue Van, maafin gue udah membuat lo masuk kedalam masalah gue. Maaf.” ujar Kania dengan lirih. Aku pun hanya bisa menangis karenanya.
__ADS_1
Sedangkan suara hati ku pun berkata, gue telah memaafkan lo Kan sebelum lo meminta maaf kepada gue. Karena sejatinya lo hanya manusia yang telah terjebak dalam situasi ini.