
“Aku ingin selalu hidup bersamamu, menua dengan mu dan mati bersama mu. Tapi apakah itu dapat terjadi jika aku menyimpan rasa curiga yang begitu besar kepada mu?”
-Keisha-
Keisha:
Saat ini kami sedang berada di ruang makan. Aku menyiapkan makanan untuk ibu dan Andika. Bibirku tersenyum ketika melihat Andika sedang makan. Ia sangat lahap namun tenang seperti Andri. Ia benar-benar mirip dengan saudaranya itu.
Tapi senyumanku itu mengendur ketika melihat ibu hanya mengaduk makanan saja. Ia sama sekali belum menyentuh makanannya itu. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu dibuatnya.
Entah kenapa ia tidak selera makan seperti ini. Ia sedang merindukanku atau ada masalah yang sedang difikirkan ibu. Aku pun tidak mengerti. Karena sedari tadi aku bertanya pasti jawaban ibu hanya “rindu kepadaku” selebihnya tidak ada.
Hingga aku mengalah kepada ibu dan memilih menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Karena kata Andika, mereka baru saja nyampai di Indonesia lalu menyimpan koper dirumah dan memutuskan kesini atas paksaan ibu.
Aku merasa ada yang aneh pada ibu, entah itu apa aku hanya bisa menatap ia dengan wajahku yang terlihat bingung.
Aku meraih tangan ibu dan memegangnya, “Bu.” Ibu mendongak melihat wajahku. Lalu ia tersenyum kepadaku.
Lihatlah, aku merasakan ini bukan senyuman tulusnya melainkan senyuman paksa yang ia berikan kepadaku agar aku tidak khawatir padanya dan seakan-akan ibu berkata melalui senyumannya bahwa ia baik-baik saja. Aku tau pasti ada yang digelisahkan olehnya. Tapi itu apa? Karena aku mengetahui itu walau hanya sekali lihat saja.
“Ibu mikirin apa? itu dimakan makanannya, tadi pagi Mas Andri yang buat semua makanannya itu.”
“Uhuukk..” Andika seketika terbatuk-batuk.
Aku pun segera menuangkan air ke gelas lalu memberikannya ke ia. Ia pun meminumnya hingga tandas. Andika mengelap mulutnya. “Hem, maafkan Ade mbak.” Aku pun tersenyum.
“Gak papa De. Mbak tau, kalo kamu lapar banget sampe kesedak gitu. Heheheh,” Andika hanya mengulas senyuman tipis.
“Hem, kalau begitu makasih untuk makanannya mbak. Ade mau kedepan dulu,” Andika beranjak dari tempat duduknya.
“Loh, makanannya belum kamu habisin De.”
“Ade udah kenyang mbak.” Lalu Andika pun pergi keluar. Kenapa dengan anak itu? Tiba-tiba ia tidak menghabiskan makanannya seperti ini. Ia bukan Andika seperti biasanya yang selalu makan dengan bersih tanpa sisa sedikitpun. Hari ini untuk pertama kalinya ia menyisakan makanannya itu, apalagi dibuat dari Andri langsung.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti dengannya. Lalu aku melihat ibu yang terlihat mendorong piringnya ke arahku.
“Bu,”
Ibu beranjak dari tempat duduknya dan hendak berlalu dari hadapanku. Aku pun langsung berdiri dan menahan tangan ibu.
“Ibu, ibu kenapa? Makanannya belum ibu makan loh. Ibu duduk dulu ya habis tuh makan, oke?” bujukku ke ibu.
Ibu tersenyum tipis lalu melepaskan tanganku dilengannya perlahan, “Ibu gak lapar Kei. Ibu capek, pengen pulang.”
“Tapi bu-“ tanpa mendengarkan perkataanku dulu. Ibu sudah berlalu dari hadapanku. Aku hanya bisa menatap punggungnya dengan sangat tidak mengerti.
Kenapa ibu, Andika dan Andri sehabis dari Paris membuat fikiranku melantur kemana-mana. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kejadian apa yang membuat aku tidak tau.
Jujur saja, ini semua membuat aku benar-benar bingung dan membuat aku harus berfikir keras dengan semua ini. Ya Allah, semoga saja tidak ada hal yang terjadi yang membuat aku tidak dapat menerimanya dengan hati yang lapang.
Haikal:
Tuk...Tuk...Tuk...
Suara ketukan dimeja kamar beberapa kali aku ketukan tanda aku sedang berfikir. Pertemuan singkat dengan Andri tadi membuat aku benar-benar terkejut.
__ADS_1
Bagaimana tidak diri ini terkejut, jika Andri tidak ada keinginan untuk memiliki anak. Dilain sisi Keisha sedang berjuang memiliki anak tanpa sepengetahuan Andri.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada mereka, hingga bisa berbeda pendapat yang cukup besar. Aku tau Keisha sudah lama tidak memiliki anak dan ia sangat ingin memiliki anak dari Andri. Akan tetapi jika salah satu saja yang berkeinginan dan satunya lagi menolak, akan susah juga akibatnya. Apalagi ini dari pihak laki-laki yang bisa menghasilkan. Jika laki-lakinya tidak berkeinginan akan tidak akan terjadi.
Sebenarnya aku tidak ingin terlalu tau dengan urusan rumah tangga orang. Hanya saja ini berkaitan dengan Keisha, pasienku yang sedang berkonsultasi demi ingin memiliki anak walau dalam proses tahap penyembuhan kemandulannya.
Mereka berdua saling cinta dan saling sayang. Tetapi Andri tidak ingin memiliki anak dari sang istri bukankah itu hal yang lumayan tidak masuk akal?
Kalau pun ia tidak siap, itu tidak mungkin. Dari segi umur dia sudah matang untuk memiliki anak dan memang harus memiliki anak apalagi bertahun-tahun sudah tidak karuniai anak oleh Allah. Apalagi dari segi materi, ia sudah sangat cukup malah kelebihan.
Kalau pun soal sibuk karena jadwal kerja ia yang sangat padat, itu sangatlah tidak mungkin.
Sesibuk-sibuknya orang yang memiliki profesi pasti akan menyempatkan waktu untuk keluarga tercintanya. Jika pun tidak ada, pasti ada yang salah dengan orang itu.
Saat ini aku benar-benar sangat dilema. Ingin memberitahu hal ini tentang Keisha tapi tidak mungkin juga. Pasti akan menimbulkan salah paham dikeluarganya. Aku tidak mungkin membuat mereka jadi bertengkar karena pengaduanku ini.
Mungkin saja Andri ada alasan yang tidak kuketahui, bisa jadi begitu.
Tapi dilain sisi aku juga berfikir dengan konsultasi dan pengobatan Keisha yang sedang berlanjut ini. Jika dilakukan rasanya percuma apabila Andri tidak menginginkannya membuat semuanya terasa sia-sia saja.
Padahal saat ini aku sedang mengecek perkembangan Keisha dilaptopku. Ada perkembangan beberapa minggu terakhir. Dan aku menghubungi dokter terakhir yang memantau perkembangan Keisha dan memberi tau hasilnya.
Dan Keisha bisa dinyatakan memiliki anak, apabila ia melakukannya dengan niat lillahi ta’ala. Jika manusia berkata, ini semua tidak mungkin. Tapi jika Allah berkata kun fayakun, maka jadilah walau hanya dengan sekejap mata.
Tapi kurasa semuanya akan sia-sia jika suaminya saja tidak ada niat untuk itu semua. Yang ada jika aku memberi tau hal ini ke Keisha, akan membuat ia kefikiran dan menjadi stres. Lalu perlahan tapi pasti, kesehatannya akan menjadi menurun dan berpengaruh pada keinginannya untuk memiliki anak itu sendiri.
Dan sampai saat ini aku benar-benar ada diposisi bingung. Bingung sebagai dokternya dan bingung sebagai temannya. Jika sudah seperti ini aku harus bersikap profesional sebagai dokter aku tidak akan memberi tau hal ini kepada pasiennya demi kesehatannya itu. Ia sudah bersemangat untuk menyembuhkan penyakitnya dan aku tidak boleh mematahkan semangatnya hanya karena omongan yang belum tau pasti jelas alasannya.
Andri:
“Apa Keisha sedang ingin memiliki anak?”
“Tapi aku tidak berkeinginan memiliki anak,”
Percakapan singkat itu selalu beputar dikepalaku. Pertemuan singkatku dengan Haikal membuat kesannya aku memang tidak ingin memiliki anak dari Keisha. Bukan tidak ingin, hanya saja saat ini aku sangat ingin menikmati waktuku dengan Kania. Dan aku tidak ada berfikiran untuk memiliki anak dengan Keisha, sama sekali tidak ada kefikiran untuk hal itu.
Tetapi kenapa Keisha tidak memberi tau hal ini kepadaku? Kenapa ia malah sembunyikan ini semua kepadaku? Apalagi dokternya Haikal, pria yang pernah mengajaknya ta’aruf hanya saja keduluan aku yang melamarnya dan Keisha memilih diriku ketimbang Haikal. Mungkin karena Keisha telah menyukaiku lebih dulu dibandingkan Haikal.
Bukan karena aku cemburu jika Haikal menjadi dokter yang menangani Keisha, toh, aku percaya jika Keisha sangat mencintai aku dan ia tidak akan pernah berpaling dengan pria lain bedanya dengan diriku ini.
Setelah pertemuan dengan Haikal tadi, sepanjang dilift hingga diparkiran tidak ada obrolan lagi yang kami buka. Mungkin fikiran kami sudah melantur kemana-mana. Dan aku sangat yakin jika Haikal kefikiran dengan perkataan yang kulontarkan terhadapnya.
Sedangkan Keisha berjuang ingin memiliki anak tetapi aku tidak. Sudah sangat jelas diwajah Haikal jika ia sedang berfikir tentang itu. Entah apakah ia akan memberi tau hal ini kepada Keisha atau tidak. Setauku Haikal tidak akan memberi tau ini jika tidak ingin kepercayaannya sebagai teman dan pasien hilang begitu saja. Karena Keisha percaya kepadaku ketimbang dengan Haikal.
Patut disyukuri jika Keisha menaruh kepercayaan yang begitu besar kepadaku. Hanya aku saja lah yang berkhianat atas kepercayaannya itu. untuk sementara ini biarlah aku memanfaatkan kepercayaan yang Keisha berikan kepadaku.
Aku pun menambah kecepatan mobil yang sedang kukendarai ini. Aku ingin segera sampai kerumah dan menanyakan tentang perihal kenapa ia tidak memberitau ku tentang ini. Seharusnya sebagai suaminya, aku berhak tau tetapi apa alasannya ia menutupi semua ini? sebagai kepala rumah tangga harus lebih tau dibandingkan orang lain. kalau sudah seperti ini, aku sedikit kecewa dengan apa yang sudah diputuskan sendiri oleh Keisha.
Rupanya seperti ini rasanya kecewa ya padahal hanya karena masalah kecil saja. Apalagi jika Keisha tau kalau aku sudah memiliki istri yang lain, seperti apa kekecewaannya dia.
Ahh, sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan bagaimana perasaannya, karena perasaan ku saat ini lebih penting ketimbang perasaannya itu. Dia sudah menyembunyikan hal yang begitu penting dariku.
...
...
__ADS_1
...
Sesampai dirumah, aku langsung memasukkan mobilku ke garasi lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam rumah. Kulihat Keisha sedang memainkan ponselnya diruang keluarga.
Ia menoleh kearahku ketika aku berjalan menghampirinya. Ia pun mengubah posisi baringnya menjadi duduk dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
“Mas, kamu sudah pulang?” tanyanya.
“Hem,” gumamku.
Aku pun duduk disampingnya, “Urusanmu sudah selesaikan Mas?” tanyanya lagi.
Ahh, kenapa dia jadi banyak bertanya begini sih. Membuat aku tiba-tiba menjadi kesal begini. Entah kenapa untuk pertama kalinya aku bisa sekesal ini dengan Keisha yang selalu banyak bertanya. Padahal aku paling suka dengan pertanyaan yang ia selalu lontarkan kepadaku. Kini sekarang aku tidak menyukainya. Aku benar-benar berbeda dengan Andri yang dulu.
Aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepalaku. Rasanya sangat malas sekali untuk berbicara dengannya saat tau ia menyembunyikan hal ini kepadaku.
“Kei,” aku membuka suara hendak ingin menanyakan hal itu kepadanya.
“Iya Mas, kenapa?”
“Tadi—“
“Oh ya!” seru Keisha dengan cepat, memotong perkataanku itu.
“Kenapa?”
“Tadi, ibu dan Andika kesini Mas,”
Degh!
Seketika jantungku berhenti berdetak ketika Keisha menyebut ibu dan Andika. Mereka berdua sudah kembali ke Indonesia? Jadi, jadwal kepulangan kami sama? hanya waktu kepulangan saja yang berbeda. Ya ampun.
“La-lu?” tanyaku gugup.
Keisha hanya mengangkat kedua bahu dengan wajahnya yang terlihat bingung, “Aku juga gak tau Mas. Baru saja aku buka pintu, ibu langsung peluk aku, erat banget. Ibu sampai nangis sesenggukan loh. Aku juga bingung kenapa ibu seperti itu. Pas aku tanya ibu kenapa bisa begitu, ia hanya bilang kalo kangen sama aku. Masa iya kangen sampai segitunya Mas. Kan aneh.” Keisha menatap wajahku dengan seksama.
Aku hanya bisa menelan salivaku yang tercekat begitu saja. Bingung mau menjawab apa. Apa ibu dan Andika datang kesini ingin memberitau semuanya yang sudah terjadi selama di Paris? Tapi jika mungkin iya tidak mungkin Keisha sekarang masih bisa menatapku paling tidak ia langsung membuang muka karena jijik dengan perbuatanku ini.
“Kira-kira Mas tau gak ya kenapa ibu bersikap seperti itu? Kei tanya Andika juga katanya kangen sama aku. Kayaknya ada yang mereka sembunyiin deh,”
Aku berdehem sebentar menetralkan kegugupanku kepada Keisha, rasanya sedari tadi jantung ku berdegup sangat cepat. Entah apakah Keisha mendengarnya atau tidak. Semoga saja ia tidak mendengarnya. Bisa-bisa ia bertanya lebih banyak lagi.
“Hem, apakah ibu tidak mengatakan sesuatu hal yang lain selain bilang kangen ke kamu?” tanyaku berusaha menyelidiki.
Keisha tampak sedang berfikir dan aku sedang menunggu jawabannya sambil meremas kedua tanganku yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Sesekali aku mengusap tengkuk leherku. Rasanya udara diruangan ini terasa sangat panas padahal Keisha sedang menyalakan AC.
Keisha menggeleng pelan, “Kayaknya gak ada deh Mas, ya cuman bilang kangen doang sambil nangis-nangis. Selebihnya gak ada. Emangnya Mas tau ya kenapa ibu begitu?” tanya Keisha balik membuat aku langsung menggeleng dengan cepat.
“Eng—Enggak, Mas gak tau apa-apa. mas aja bingung kenapa ibu bisa seperti itu ke kamu. Dan Mas juga baru tau kalau ibu dan Andika baru sampai di Indonesia.” Ucapku berusaha menjelaskan dengan alasan bohong belaka.
“Hem begitu ya Mas. Kira-kira ibu kenapa ya bisa sampai gitu? Apa ada masalah? Apa ada sesuatu yang terjadi? Bikin Kei penasaran tau gak Mas,”
“Ahh, kenapa kamu jadi penasaran dengan sikap ibu yang seperti itu!” ucapku sedikit kesal dengan Keisha yang berusaha ingin tau lebih jauh dengan sikap ibu yang seperti itu.
Keisha terdiam ketika aku menggertaknya walau hanya dengan pelan, “Mas.” panggilnya pelan.
__ADS_1
“Sudahlah, kamu jangan cari tau kenapa ibu bisa seperti itu. Kalau ibu bilang kangen ya kangen,” ucapku lagi lalu berlalu dari hadapan Keisha masuk kedalam kamar.
Kekesalanku memuncak ketika Keisha ingin tau. Karena aku tidak ingin ia tau lebih cepat dengan rahasiaku ini. Aku masih ingin menikmati awal pernikahanku dengan Kania bukan malah harus terbongkar dengan begitu saja.