Simpanan

Simpanan
-Keisha Meminjam ponsel Andri-


__ADS_3

“Cinta terkadang bisa membuat seseorang bahagia, terkadang pula bisa membuat orang terluka. Aku? Jangan tanya cintaku seperti apa! Semuanya bercampur menjadi satu. Terkadang cinta ku bahagia, karena aku selalu dimanja dan selalu dicinta dan terkadang juga cinta ku membuat orang terluka karena cinta ku bukan sepenuh nya milik ku saja.”


-Kania


Kania:


Braaagghh!!


Aku menutup pintu apartemen dengan kasar, aku bersandar di pintu sambil menengadah kan kepala ku berusaha agar air mata tidak jatuh membasahi pipi ku. Aku meletakkan barang belanjaan ku asal-asalan, semua tenaga ku terkuras habis karena melihat pemandangan yang menyayat hati ku.


Aku berjalan lemah menuju ke sofa yang berada di tamu dengan pandangan kosong. Fikiran ku belum sepenuh nya pulih, luka ku bertambah lagi, entah apa yang kurasakan saat ini hanya sakit yang aku rasakan.


Ketika aku mendaratkan tubuh ku di sofa, aku masih belum percaya bahwa aku. Aku? Seorang Kania, untuk pertama kalinya cemburu kepada Keisha dan Andri atas kebersamaannya, ralat! Bukan kebersamaannya, melainkan kemesraannya.


Jika di belakang ku tidak mengapa, tapi mereka melakukannya di depan ku, ketika kedua mata ku melihat dengan jarak yang sangat dekat. Entah, apa Andri tidak merasa bahwa aku cemburu? Apa ia tidak merasa bahwa aku terluka karena melihat kemesraan ia dengan istri nya?


Aku hanya bisa menghela nafas kasar, lalu aku menunduk. Ingin sekali aku menangis, ingin sekali aku berteriak. Tapi apa semuanya bakal baik-baik saja? Kurasa tidak! karena sampai kapan pun aku tidak akan seperti Keisha. Ya, aku tidak akan seperti Keisha, tidak bisa bermesraan didepan umum dengan mesra dan semua orang tidak akan tau bahwa aku sudah ada yang punya.


Karena apa, karena sampai kapan pun aku tetap bakal menjadi seorang simpanan. Simpanan yang tidak akan di ketahui orang banyak. Toh, lagian juga percuma aku menangis sekeras mungkin karena air mata ku sudah terkuras habis semalam, sudah tidak ada stok lagi untuk mengeluarkannya.


Kini, yang hanya bisa kulakukan ialah bersandar di sofa dengan kedua mata terpejam. Berusaha menetralkan emosi ku yang naik turun, berusaha agar aku tidak kemakan emosi. Kurasa, cintaku dengan Andri semakin besar. Terbukti bahwa aku cemburu kepadanya disaat bersama Keisha. Aku cemburu tidak bisa menjadi dirinya.


Bisa kah aku menuntut itu lagi ke Andri? Bisa kah aku seperti Keisha? Aku ingin semua orang tau bahwa aku layak di cintai dan disayangi di muka umum. Ya, kurasa aku bisa menuntut itu semua. Karena aku juga wanita, yang perlu ditanyai kejelasan status nya.


Kling!


Notifikasi pesan masuk ke ponsel ku, aku pun dengan malas mengeluarkan ponsel ku di saku coat. Ternyata itu pesan yang dikirim oleh Andri, aku pun langsung membuka nya.


Andri:


Kania, kamu udah nyampe apartemen?


Aku hanya membaca pesan itu, aku tidak berniat untuk membalasnya. Kurasa, aku benar-benar sakit hati karena nya. Biarlah aku mengacuhkan nya, agar ia merasakan rasa sakit ini.


Kling!


Satu pesan masuk lagi, dari orang yang sama.

__ADS_1


Andri:


Kania, balas lah. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan.


Kling!


Andri:


Kania! Jangan cuman baca pesan Mas. Balas lah, aku mengkhawatirkan kamu.


Kling!


Andri:


Kamu marah kepada ku? Tolong katakan, apa kesalahan ku Kan, jangan cuekin aku begini.


Kling!


Andri:


Kania, balas!


Andri:


Ada apa dengan Kania?


Aku menatap ponsel ku dengan semua pesan yang ku kirim padanya. Astaga, dia benar-benar marah kepada ku. Aku pun lansung memutuskan menghubungi nya.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif


Aku langsung memutuskan telpon mendengar operator yang menjawab, dia sampai mematikan ponsel nya. Aku tidak tau bagaimana untuk membujuk nya, karena untuk pertama kali nya lah Kania marah kepadaku selain itu dia selalu sabar menghadapi aku.


“Ckk! Agh!” aku hanya bisa mengacak rambut ku dengan gusar.


Gelisah? Ya, itu memang yang sedang kurasakan sekarang. Bukan gelisah lagi, tapi hampir di bikin frustasi oleh Kania. Aku tau kalau ini akan terjadi, karena aku sudah merasakan beda dari tatapan Kania tadi sewaktu di kafe dan pada akhirnya aku memutuskan menghubungi nya. Benar adanya, dia marah kepada ku, ini pasti gara-gara aku bersama Keisha.


Aku hanya bisa meremas rambut ku, aku tidak tau harus bagaimana “Mas,” aku menoleh, Keisha tersenyum. Ya, Keisha habis saja dari kafe untuk membayar minuman kami tadi dan sengaja ku menunggu nya diluar dengan alasan menunggu, padahal aku mencari kesempatan agar bisa menghubungi Kania lebih mudah.

__ADS_1


Berbohong? Aku sudah tidak tau ini kebohongan ku yang keberapa kali, dan aku tidak tau kenapa aku bisa membohongi istri ku dengan begitu gampang nya. Dosa? Aku tidak tau apakah aku berdosa karena hal ini, tapi yang aku tau bahwa berbohong itu dosa, sangat dosa.


“Eh, Kei,” aku pun membalas senyuman nya dan kembali memasukkan ponsel ku kedalam saku kemeja.


“Lama ya nunggu nya? Maaf ya tadi masih ngantri dulu.” ucap nya dengan ekspresi yang menggemas kan.


“Hem, enggak kok. Lagian Mas juga gak pernah bosan menunggu kamu.” aku sambil mengelus pelan pucuk kepalanya.


Yang ku katakan tadi ialah, ucapan yang tidak benar ada nya. Itu ucapan tipuan ku, agar Keisha merasa bahagia mendengar nya.


Keisha tersenyum lagi “Mas tadi kenapa? Kok tadi Kei lihatin Mas seperti orang gelisah gitu, ada apa? Apa Mas lagi ada masalah?”


Aku terdiam, ternyata Keisha memperhatikan ku. Agh! Kenapa sih? Kenapa aku selalu kentara dalam emosi ku. Bisa-bisa kalau aku seperti ini terus, Keisha bisa mencurigai aku dalam sekejap.


“Eng—anu, tadi,” aku mengusap tengkuk ku yang sudah mulai berkeringat, otak ku pun sambil berfikir keras berusaha mencari alasan tepat agar masuk akal.


Tiba-tiba sebuah bohlam keluar dari atas kepala ku “Ahh itu, tadi Mas dikasi tau Vania. Kalau ada karyawan mas yang udah membocorkan rahasia perusahaan lalu dikasi tau ke perusahaan lain, agar perusahaan Mas hancur.” ucap ku. Melihat reaksi Keisha yang terkejut menandakan bahwa alasan ku membuat nya ia percaya. Benar-benar polos, fikirku.


“Benarkah? Ya Allah, tega banget ya karyawan Mas itu sampai tega berbuat seperti itu ke Mas."


Aku hanya bisa tertawa dalam hati, kali ini aku tidak boleh kentara lagi, aku pun mengubah ekspresi ku dengan seserius mungkin “Ya begitu lah Kei, Mas juga gak nyangka dia begitu. Makanya besok Mas harus bereskan karyawan itu dengan secepat mungkin agar perusahaan Mas baik-baik saja,”


Keisha menggenggam tangan ku “Semoga kamu bisa melalui nya ya Mas, jangan lupa berdoa kepada Allah. Allah akan membantu segala urusan mu,” aku hanya mengangguk pelan.


“Ah ya Mas, aku boleh pinjam ponsel mu gak?”


Aku langsung mendongak, terkejut pasti nya kenapa dia tiba-tiba meminjam ponsel ku. Apalagi barusan aku mengirim pesan kepada Kania.


“U-ntuk apa Kei? Ponsel mu kemana?”


Keisha menunjukkan sebuah dompet berwana pink jambu kearah ku. Tunggu! Bukan kah Itu dompet Kania, kenapa ada di tangan Keisha?


“Tadi pas di kafe, aku nemuin dompet Kania. Mungkin ini gara-gara dia pergi terburu-buru hingga menjatuhkan dompetnya. Makanya aku mau pinjam ponsel mu, aku mau hubungi Kania bahwa dompet nya lagi sama aku. Lagian ponsel ku juga udah kehabisan pulsa nya, jadi mana ponsel mu Mas?”


******!, fikir ku.


Bukan aku tidak ingin meminjam ponselku, soalnya pesan yang tadi aku kirim ke Kania belum aku hapus sama sekali.

__ADS_1


Oh, tidak! jangan sampai ketahuan sekarang.


__ADS_2