Simpanan

Simpanan
-Kebahagiaan Keisha dan Penderitaan Kania-


__ADS_3

“Kesetiaan pria akan diuji ketika ia memiliki segala-galanya. Mungkin itu bukan hanya sekedar kata-kata saja tetapi itu memang benar-benar terjadi adanya.”


-Andri-


Keisha:


Aku tersentak dari tidurku ketika mendengar suara alarm diponselku beberapa kali. Langsung saja aku mematikannya dan mengusap lembut wajahku untuk menyadarkan aku kembali ke dunia nyata.


Rasanya aku masih sangat mengantuk, namun karena hari ini aku akan menyambut kedatangan suamiku. Jadilah rasa kantuk ini menghilang walaupun hanya sebentar.


Kurenggang kan seluruh tubuh lalu duduk. Tidak lupa aku mengkuncir rambutku yang terasa sangat berantakan sehabis tidur. Saat aku fokus dengan rambutku, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat menuju kekamar. Aku pun menoleh dan melihat seseorang yang saat ini sangat ingin kulihat.


Seseorang yang sangat kurindukan beberapa minggu ini. Seseorang yang selalu kudoakan setiap harinya agar ia baik-baik saja disaat ia sedang tidak berada disisiku.


Kini, ia berada dihadapanku dengan wajah yang sangat lesu. Bajunya yang tidak rapi, rambut yang terlihat acak-acakan namun tidak mengurangi ketampanan yang ia miliki di wajahnya. Ditangan kanannya ia memegang sebuah koper yang lumayan besar.


Saat aku melihatnya jantungku berdetak sangat cepat hingga aku bisa mendengarnya dari luar. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Ingin sekali rasanya aku langsung memeluknya, namun apalah daya jika aku hanya bisa memanggil nama indahnya itu.


“Mas Andri,” panggilku dengan suara yang hampir tidak didengar oleh siapapun. Rasanya bibirku kelu untuk mengeluarkan kata sepatah pun.


Andri hanya bisa tersenyum melihatku, aku membalas senyumannya. Kedua mataku terasa sangat panas menahan air mata yang ingin tumpah dengan begitu derasnya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata rindu yang begitu dalam. Rindu dengan kekasih yang lumayan lama pergi dan tidak memberi kabar sama sekali hingga membuat aku khawatir setengah mati dengannya.


Andri membiarkan kopernya tergeletak begitu saja lalu menghampiriku. Aku hanya bisa diam ditempatku. Kakiku tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, terasa sangat berat disaat aku mengangkatnya. Jadi, aku hanya bisa diam ditempat menunggu ia yang sedang menghampiriku.


Tanpa aba-aba Andri langsung memelukku begitu sangat eratnya, aku pun membalas pelukannya juga. Air mata yang kutahan sedari tadi pun akhirnya tumpah juga. Sangat deras hingga aku tidak bisa mengendalikan air mataku sendiri.


Suara isakanku pun memimpin suara hening dikamar ini. Andri mengelus punggungku berusaha menenangkan aku yang sama sekali tidak bisa tenang. Aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukan suamiku ini. Suami yang kutunggu beberapa hari terakhir.


“Sudahlah, jangan menangis Kei. Mas sudah ada disini,” ucapnya sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap kedua bola mataku penuh dalam. Sangat sendu. Tatapan itulah yang kurindukan selama ini. Tatapan yang ingin selalu kulihat setiap saatnya.


“Aku tidak suka melihat kamu menangis seperti ini,” ia mengusap pipiku yang berjatuhan oleh air mata. Aku hanya bisa tersenyum namun air mata ini tetap mengalir dengan sendirinya. Bahkan aku sendiri tidak bisa menghentikan air mataku sendiri.


“Kei sangat rindu kamu Mas,” ucapku disela-sela isak tangisku.


Andri tersenyum lalu ia merangkulku, mengelus bahuku dengan pelan. “Mas juga kangen kamu sayang. Maafkan Mas ya, Mas tidak mengabarimu sewaktu disana. Mas sudah membuat kamu khawatir dan Mas sudah membuat kamu menunggu.” Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataannya.


Karena bagaimana pun juga, aku sedari awal sudah memaklumi kesibukannya itu. Sudah resiko ia sebagai pemimpin perusahaan, sibuknya akan merajalela dan aku tidak akan menuntut ia agar ia tidak sibuk.


“Tidak apa-apa Mas, tapi memang benar ya kata orang.” Aku mendongak melihat wajahnya dan keningnya terlihat berkerut tidak mengerti maksudku.


“Apa?”


“Kalau rindu itu berat, contohnya saja aku gak mampu menahan rindu sama kamu.”


Andri tertawa kecil mendengar lelucon ringan yang kuberikan kepadanya. Sudah lama aku tidak melihat ia tertawa dan sudah lama juga aku tidak mendengar suara tawanya. Hal yang paling kusuka daripada yang lainnya.


Andri menoel pelan hidungku membuat jantungku kembali bertambah berdegup sangat cepat. “Sudah pintar gombal ya istriku sekarang. Belajar dari siapa hem?” tanya nya. Aku hanya bisa terkekeh lalu memeluk pinggangnya dengan sangat manja.


“Gak belajar dari siapa-siapa kok Mas. Memang benar kok kalau rindu itu berat, contohnya aku sekarang sampai nangisin kamu kan.”


“Hahaha, iya deh iya. Mas percaya kok,” Andri tersenyum.


“Ah yaudah, kamu mandi dulu gih Mas. Habis itu istirahat pasti kamu capek. Biar aku yang beresin baju didalam koper kamu,”


“Beresin besok aja ya sayang. Mas mau langsung tidur aja, udah ngantuk banget ini. Dan juga Mas rindu udah lama gak tidur dengan istri kesayanganku yang satu ini,” Andri mengelus pipi ku pelan.


“Hahaha, kasihan. Suruh siapa gak ngajak-ngajak aku ke Paris. Biar tidurnya gak sendirian kan jadi enak ada aku yang nemenin kamu tidur,” Andri hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tersenyum kearahku.


“Yaudah, kita tidur aja ya. Pasti capek banget kan?”


“Hehe iya,”

__ADS_1


“Yaudah, ayo.” Aku menarik tangan Andri lalu membawanya kekasur.


Sebelum itu aku mematikan lampu kamar dan menyalakan dengan lampu tidur. Aku menarik selimut sedangkan Andri menarik dan memelukku kedekapannya. Bibirku tidak henti-hentinya terangkat. Rasanya kebahagiaan ini ingin kubagi-bagi pada siapapun juga. Bahwa hari ini suamiku memelukku dengan begitu erat dan penuh cinta.


Sedangkan aku? Aku sangat bahagia. Aroma Andri yang sudah lama tidak kucium selama ini, akhirnya aku menciumnya. Aroma yang mampu membuat mood ku menjadi bahagia setiap harinya. Kini, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Andri kepada ku. Sebelum dia kembali sibuk dan memperhatikan pekerjaannya dibandingkan aku.


Aku harus menggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin. Kulingkarkan tangan ku kepinggangnya, kulihat kedua matanya yang sudah terpejam. Rasanya perjalanan ia dari Paris kesini membuat ia selelah ini. Tidak masalah, toh lelah ia menjadi berkah untukku dikemudian hari. Lelah karena ia sudah bekerja dengan melakukan perjalanan menuju ke Paris.


Semoga lelah mu ini menjadi pahala untuk mu ya Mas. Demi aku, kamu merelakan semua waktu mu hanya untuk membahagia kan aku. Kamu sudah melakukan kewajiban kamu sebagai seorang suami dengan bekerja dan meluangkan waktu mu untukku. Allah tidak akan pernah tidur Mas. Allah akan selalu menemani mu, mendampingimu, dan selalu memberimu kesehatan dimana kamu berada. Karena salah satu semangat aku hidup ialah kamu Mas. Tidak ada orang lain lagi selain kamu.


Kamu lah yang selalu ada disisiku selama ini disaat aku sudah tidak mempunyai keluarga satu pun. Semoga kita selalu seperti ini ya Mas hingga Allah menjemput ajal kita berdua. Aku mencintaimu suami dunia akhirat ku.


Kania:


Brak...


Aku menutup pintu apartemen dengan sangat kuat. Tidak perduli lagi apakah pintu ini baik-baik saja atau rusak. Aku benar-benar tidak perduli. Biarlah pintu ini rusak seperti hatiku saat ini. Baru saja lusa kemarin aku berbahagia atas pernikahanku namun kemarin juga lah hatiku hancur karena pernikahanku sendiri.


Kering sudah air mata yang telah membasahi pipiku. Aku sungguh tidak perduli dengan riasan yang telah berantakan entah kemana. Yang kuperdulikan sekarang ialah dimana badanku sudah lelah dan tidak sanggup untuk berdiri lagi.


Kutekan saklar lampu dan menyala lah lampu diruang tamu dengan sangat terang membuat aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali. Koper yang kupegang sedari tadi, kulempar entah kemana. Lalu berjalan menuju ke sofa dan kuhempaskan tubuhku.


Rasanya begitu melelahkan. Ingin rasanya aku mengistirahatkan diri ini untuk selama-lamanya. Namun, apalah daya. Tuhan masih memberiku umur yang panjang untuk mengalami semua ini. Tetapi aku sudah tidak mampu menjalani kehidupan yang selalu menyiksaku secara perlahan.


Aku tidak sanggup lagi. Entah, sudah berapa air mata yang kukeluarkan hanya untuk masalah yang selalu membunuhku ini. Aku hanya ingin bahagia. Dari kecil aku sudah menderita kini disaat aku sudah dewasa apa aku harus mengalami penderitaan yang tidak ada kata habisnya? Ini sungguh membuatku menderita tanpa henti.


Kupejam kedua mataku dan kuhempas nafasku ini dengan begitu kasarnya. Walaupun kedua mata ini terpejam dengan sangat erat. Kenapa bayangan masalah sewaktu di Paris malah menjadi di ingatanku sekarang. Dimana hubunganku dengan Andri terbongkar dengan sempurna. Pernikahan yang hancur. Penghinaan yang kudapatkan dari keluarga suamiku.


Semua bayangan ini malah membuat aku menjadi tidak bisa tidur. Ini malah menjadi sebuah mimpi buruk nyata yang pernah kudapatkan selama hidupku.


Hatiku kembali teriris ketika bayangan itu muncul. Kuputuskan untuk membuka kedua mata kembali. Rasanya kedua mata ini sangat panas, hati ini terasa sangat sesak memikirkanya saja membuatku sudah tidak karuan.


Dia tidak tau pernikahanku dengan Andri sudah terjadi. Walaupun dia temanku tetapi aku tidak berniat untuk memberitahunya. Karena dia sudah memutuskan untuk tidak mengetahui seperti apa hubunganku dengan Andri. Dilain sisi dia juga menjadi teman Keisha dan itu membuat ia merasa bersalah walaupun dia tidak melakukannya.


Sungguh, teman apa aku ini membuat teman lainnya menderita.


Langsung saja aku mengangkat ponselku dan menempelkannya ditelingaku. “Halo Kan,” suara wanita itu mulai terdengar disebrang sana. Aku tersenyum mendengarnya, sudah lama aku tidak mendengar suara temanku ini. Aku sangat merindukan ia.


“Van,”


“Hei, suara lo kenapa? Kok lemah banget?”


“Hehehe, tidak apa-apa kok. Gue hanya lelah saja karena baru sampai di apartemen.”


“Baru sampai diapartemen? Jangan-jangan lo udah pulang dari Paris ya?’


“Ya begitulah,”


“Ahh, syukurlaahh. Gue senang akhirnya lo kembali lagi dengan selamat. Ngomong-ngomong gue merindukan lo. Udah lama gue gak dengar suara lo ini,”


Aku tersenyum mendengar perkataannya, ternyata ia juga merindukanku. Walaupun kami berdua memutuskan untuk tidak dekat seperti dulu namun komunikasi tetaplah menjadi nomor satu.


“Gue juga merindukan lo Van.”


“Syukur deh kalo udah sampai. Sebaiknya lo istirahat saja sana, pasti lo capek.”


“Hem, tapi kenapa lo nelpon gue?”


“Ohh, masih bisa dibicarakan besok kok. Hanya soal pekerjaan saja. Setelah lo masuk kerja nanti, tugas pemotretan sedang menanti lo. Dan itu sangat membludak!”


“Hem begitu.”

__ADS_1


“Iya, yaudah deh gue tutup dulu ya telponnya,”


“Eh, Van!” seruku.


“Apa?”


“Bisakah lo kesini?”


“Kenapa?”


“Hem, ya hanya butuh teman saja.”


“Sekarang?”


“Iya.”


“Apa tidak terlalu malam Kan? Kenapa tidak besok saja?” tanyanya yang terdengar ragu.


“Gue maunya sekarang Van.”


“Apa ada masalah?”


“Hehe, ya begitulah.”


“Hem, baiklah kalau begitu, gue akan kesana.”


“Kalau lo mau kesini, tolong belikan gue bir ya.”


“Harus ya?”


“Apa?”


“Harus ya setiap ada masalah minum kayak gituan?”


Aku hanya bisa menghela nafas kasar, saat ini yang kubutuhkan ialah minuman itu. Siapa tau membuatku lega walaupun kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi. Namun aku peminum yang payah. Minum sedikit saja aku sudah mabuk.


“Hem, baiklah. Sepertinya masalah mu berat banget hingga helaan nafas mu terdengar disini. Tetapi gue hanya beli 2 saja ya. Dan yang lainnya gue beli snack aja, gimana?”


“Thank’s, Van. Entar gue ganti uang lo.”


“Okey. Yaudah, gue siap-siap dulu. Lo tunggu saja disana ya jangan berbuat apapun! Tunggu gue!”


“Iya-iyaa.” Vania pun memutuskan telponnya disebrang sana.


Aku hanya bisa melihat layar ponselku yang sudah menampilkan wallpaper dimana aku dan Andri sedang berpakaian disaat kita menikah. Aku dan dia tersenyum sangat bahagia menampilkan cincin kami berdua yang tersemat sangat indah dijari manis kami.


Saat itulah aku mengambil tas kecilku dan merogoh benda yang kulihat tadi. Sebuah kotak berwarna merah untuk menyimpan cincin ini. Kedua cincin ini berada didalamnya. Memang sengaja kami berdua tidak menggunakannya, ya karena itu bisa jadi timbul pertanyaan bagi orang-orang yang melihat cincin ini.


Aku mengambil cincinku dan memasangkannya dijari manis kananku. Kurentangkan tangan ini keatas dan kulihat dengan bibir yang terangkat keatas.


Sungguh indah, fikirku.


Rasanya saat aku menggunakan cincin yang diberikan oleh kekasih tercinta merupakan anugerah terindah yang pernah ada disepanjang hidupku. Dan ini tidak akan pernah ada selama aku hidup. Walaupun kekasih yang aku miliki ternyata milik orang lain. Tetapi itu tidak masalah bagiku, selagi aku bisa memilikinya dan ia mencintaiku untuk sepenuh hati.


Kurogoh lagi tasku dan kukeluarkan dua buku yang diimpikan oleh semua wanita. Yang diidamkan oleh semua wanita. Buku ini bukan buku sembarang yang bisa dimiliki oleh semua orang. Buku ini ialah buku perjuangan yang butuh semangat dan doa didalamnya.


Tanpa ini semua orang tidak akan tau bahwa kita memiliki status yang sesungguhnya.


Buku nikah. Ditanganku sudah ada dua buku. Punyaku dan punya Andri. Kuelus cover nya dan kutersenyum lagi tanpa henti. Bayangan sewaktu di Paris menghilang begitu saja saat aku melihat buku ini. Saat kubuka buku nikah ini terpampang lah dua foto yang saling tersenyum dan saling berdampingan. Itu fotoku dan foto Andri.


Foto inilah yang menunjukkan bahwa kami pernah bahagia pada masanya dan wajah kami berseri dengan sangat indahnya. Namun foto ini malah berbanding terbalik dari semuanya. Kami tidak bahagia dan wajah kami suram adanya. Kami menderita atas pernikahan yang baru saja terjadi. Dan itu untuk pertama kalinya dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2