
“Apa yang anda pilih itulah yang harus anda lakukan. Apa yang anda mau itulah yang harus anda jalankan. Lakukan apa yang sudah anda tetapkan, jangan pernah mengelak dari itu semua.”
-Andri
Andri:
Di sebuah restoran yang terbilang sangat sepi oleh pengunjung. Bukan karena restoran ini tidak layak dikunjungi, tetapi karena restoran ini sepenuhnya sudah aku sewa hanya agar aku bisa berduaan dengan Kania tanpa harus ketahuan oleh orang lain.
Kania dan aku baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sangat padat, bisa dibilang kami berdua sangat lelah. Ngantuk terus mendera di antara kami, terlihat dari wajah Kania yang sedari tadi menguap terus-menerus.
Aku tau dia sangat lelah tapi mau bagaimana lagi, kami harus melakukannya karena besok kita akan berangkat ke Paris untuk mengurus pernikahan kami yang sudah kita rencanakan bersama.
Jadi pekerjaan harus diselesaikan terlebih dahulu agar tidak membebani kami di kemudian hari. Mungkin hari ini aku pun akan lembur dan pulang larut malam, tidak apa selagi semuanya selesai dengan secepat nya.
Aku melihat Kania yang menguap lagi, aku hanya bisa tersenyum lalu mengelus kepala nya. Kedua mata Kania menatap ku dengan sayu, hahah, aku merasa kasihan melihat nya, ia pasti sangat menahan kantuk nya itu. Memang nya semalam dia tidur jam berapa hingga menguap terus.
“Ngantuk banget ya?” tanya ku pelan sambil menunggu makanan yang belum kunjung datang.
Kania mengangguk pelan “Masih lama ya Mas makanannya datang? Aku pengen makan biar kantuk nya ilang.”
“Justru kalau kamu makan malah nambah ngantuk bukan malah ilang. Dasar kamu!” aku menoel hidung nya, ia pun hanya menyengir.
Aku mengeluarkan tiket dan memberikannya ke Kania, ia mengambil nya dan melihat nya “ini tiket kita untuk besok ke Paris Mas?” aku mengangguk.
“Iya, besok jam 10 kita udah harus ada di bandara. Jadi, kamu pegang dulu tiket nya. Besok aku ke bandara pake taxi, kamu nyusul aja disana,”
Kedua mata Kania langsung berbinar sambil melihat tiket itu di tangannya, ia melihat ku lalu mengangguk dengan cepat.
Aku mengacak rambut nya pelan “Sesenang itu ya kamu,”
“Hehe, senang dong. Aku gak nyangka kita bakal menikah Mas, aku mengira kita gak bakal jadi pasangan lainnya. Ternyata semuanya kini menjadi kenyataan, makasih ya Mas.”
__ADS_1
“Kania,” aku meraih tangannya lalu menggenggam nya.
“Iya?”
“Aku begini karena aku sadar, bahwa aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Disaat kamu mengatakan putus kepada ku, disitu lah aku merasakan bahwa aku tidak bisa jauh dari mu. Aku tidak bisa berpisah dengan mu, dan disitu lah aku juga sadar bahwa aku segera mengikat mu menjadi istri ku agar kamu bisa menjadi milik ku sepenuh nya, walaupun aku harus menjadikan mu yang kedua dan aku harus mengkhianati Keisha.”
Kania tersenyum lalu membalas genggaman tangan ku “Aku juga sangat berterima kasih dengan perjuangan mu, aku sangat berterima kasih dengan apa yang kamu lakukan. Maaf jika kamu harus mengkhianati Keisha sekaligus sahabat ku, sebenarnya aku tidak ingin ini terjadi tapi mau bagaimana lagi Mas, kalau aku sangat mencintaimu, aku juga tidak bisa jauh dari mu.”
“Mas melakukan ini karena Mas tidak ingin mengecewakanmu Kan, sudah 3 tahun kita bersama tetapi aku belum memberikan kepastian yang jelas dan malah membuat kamu sakit hati. Makanya Mas putuskan untuk menikahi mu dengan segera, Mas ingin menghalalkan mu secepat mungkin. Apa kamu tidak masalah jika kita melakukan pernikahan itu walau hanya dengan yang namanya pernikahan siri,”
Kania seketika terdiam tanpa ekspresi yang jelas, aku pun ikut terdiam sekaligus terbesit rasa takut di hati ku karena melihat ekspresi nya yang tidak ku mengerti.
“Kan?” panggil ku untuk memastikannya.
“Mas, mau seperti apapun pernikahan kita. Aku tidak masalah, yang terpenting kamu jadi milik ku dan aku menjadi milik mu. Bukan untuk sementara, melainkan untuk selamanya. Aku begini juga karena aku sangat yakin bahwa disetiap penantian ada kebahagiaan yang sedang berada di depan mata menunggu kita berdua.”
Aku menghela nafas mendengar perkataan nya lalu aku tersenyum kepada nya “Makasih ya Kan, maaf kita harus ada disituasi seperti ini. Seharusnya kita seperti pasangan lain, akan tetapi semuanya malah menjadi seperti ini.”
Inilah yang membuat aku tidak bisa jauh dengan Kania dan aku semakin tertarik kepada nya setiap saat.
“Kan, Mas sudah bilang, Mas melakukan ini semua demi kamu Kan. Demi kamu.” Kania tersenyum.
“Makasih ya Mas,”
“Sama-sama sayang.”
Kami berdua pun saling bertatapan satu sama lain, namun itu tidak berselang lama ketika pelayan membawakan makanan yang kami pesan tadi. Kami pun melepaskan tangan yang saling menggenggam, mempersilahkan pelayan meletakkan makanan diatas meja.
Sangat menggiurkan, setelah pelayan pergi tanpa aba-aba lagi Kania langsung menerobos dan memakan semua makanan dengan lahap. Melihat ia seperti itu pun langsung terkekeh, kenapa ia menjadi seimut ini sih. Sangat menggemaskan.
Melihat ia makan belepotan langsung saja aku menarik tisu lalu mengusap ke sudut bibir nya yang terkena bekas makanan, sontak saja membuat ia terdiam. Haha, aku rasa dia terkejut, padahal biasa nya juga aku bersikap begini kepada nya. Kenapa reaksi nya seperti aku baru pertama kali melakukan dengannya.
__ADS_1
“Kelihatan banget ya kalau kamu lagi laper, sambil belepotan begini.”
Kania pun sadar dengan apa yang kukatakan, ia pun mengelap sudut bibir nya sendiri.
“Hehehe, maaf Mas. Soalnya dari tadi di kantor perut ku bunyi mulu,”
“Haha gak papa, yaudah lanjutin aja makannya,”
“Mas gak makan?”
“Makan kok.” ia mengangguk mengerti lalu melanjutkan makan dengan sangat kalem, tidak seperti tadi yang terlihat gerasak-gerusuk.
“Jadi, besok jam 10 pagi ya Mas?”
“Iya.” jawab ku sambil memasukkan sesendok nasi ke mulut ku.
“Bagaimana dengan persiapan untuk pernikahan kita disana Mas? Apa semua sudah siap?”
“Kamu tenang saja, semuanya sudah disiapkan oleh orang kepercayaan ku disana. Jadi, sesampai disana kita langsung mempersiapkan tanggal untuk kita nikah nanti,”
Kania tersenyum malu mendengar saat aku mengatakan itu, tidak perlu di bilang bahwa ia sedang malu namun itu terlihat jelas saat aku melihat semburat wajah nya yang seketika menjadi merah.
“Ah ya, jadi nanti Mas bilang apa dong ke Keisha kalau besok mas mau ke Paris? Apa Mas ada cara untuk itu?”
Aku menghela nafas pelan lalu tersenyum.
“Tenang saja, Mas ada cara untuk itu.”
“Hem, bagus deh kalau gitu. Jadi besok kita pergi ke Paris dengan tenang deh,”
“Iyaa.” aku tersenyum lalu melanjutkan makan.
__ADS_1
Tidak perlu memikirkan apa yang terjadi hari besok, yang terpenting hari ini sudah di lakukan dengan baik. Untuk besok, biarlah aku melakukannya dengan terbaik. Aku punya cara agar aku bisa ke Paris dengan mudah tanpa harus dicurigai oleh Keisha. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari dan besok lah hari kebohongan ku tiba untuk waktu nya.