
“Yang dibutuhkan seorang wanita kepada pasangannya itu bukan harta dan ketampanan melainkan kesetiaan. Semua orang bisa saja memiliki fisik yang bagus, tetapi setia? Tidak semua orang memiliki nya. Karena setia hanya bisa dimiliki orang yang berkelas.”
-Haikal-
Andika:
“Jadi, suami yang kamu maksud kemarin itu abangku?” tanyaku kepada Kania dengan tatapan yang tidak percaya. Ibu langsung melihatku tidak mengerti.
“Apa yang kamu katakan, De? Suami? Suami siapa?” tanya ibu.
Aku pun hanya bisa melihat ibu. Tampak sudah kedua sorot mata yang terlihat kecewa, marah, dan bercampur menjadi satu.
Aku tidak menyangka jika orang yang ada di hadapanku ini. Orang yang baru ku kenal. Orang yang kunilai baik, gampang tersenyum dan ingin mengenaliku seorang pemimpin perusahaan. Ternyata orang itu adalah istri abang ku, Andri. Istri kedua setelah Keisha.
Jadi bisa di bilang Andri melakukan poligami kepada Keisha dibelakang nya. Berarti kesibukan ia selama ini hanya berunsur kebohongan belaka. Bagaimana ini bisa terjadi?
“De, katakan sama ibu! Suami? Suami siapa De?!” teriak ibu dengan suara nya yang bergetar menahan amarah sambil mengguncang tubuh ku. Aku tidak tahan dengan itu, air mata ku sudah mengenang di pelupuk kedua mata ku. Aku rasa ini lah hidup, suatu saat hal yang seperti ini akan terjadi juga pada setiap kehidupan seseorang.
Aku hanya bisa menunduk, “Maafkan Ade bu, maafkan Ade,” cengkraman erat ditubuh ibu mengendur di tubuh ku. Aku melihat ibu menghela nafas kasar sambil mengusap wajah nya yang sudah basah oleh air mata. Ia kini beralih ke Andri.
“Andri, ibu tanya baik-baik saja kamu. Apa benar, kamu—“ ibu menggantung perkataannya. Aku tau ibu tidak sanggup melanjutkan perkataannya ini. Sedangkan Andri dan Kania hanya bisa menunduk tanpa melihat ibu sama sekali. Aku tau pasti kalau mereka saat ini sangat takut kepada ibu.
Berarti dugaanku selama ini tidak salah. Pria yang ku lihat tempo hari di restoran hotel itu bukanlah orang lain, melainkan Andri sendiri.
Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi. Bagaimana nasib kakak ipar ku nanti? Bagaimana jadi nya jika ia tau bahwa suaminya memiliki istri baru. Tentu nya pasti hati nya akan sangat hancur mengetahui ini semua. Bahkan keluarga Bagaskara saja akan malu menghadapi Keisha yang martabatnya istri dikeluarga Bagaskara.
“Apa benar kamu menikahi Kania? Kamu menikah lagi Ndri? Kamu melakukan poligami?” tanya ibu pelan. Suara isakan tangis kecil nya mulai terdengar oleh ku. Hari ini, kebahagiaan yang kuberi kepada ibu terasa sia-sia dikarenakan saudaraku yang tidak tau diri.
“Andri? Jawab ibu nak, kalau memang kamu tidak menikah dengan Kania, ibu akan sujud syukur kepada mu. Karena ibu hanya menginginkan Keisha menjadi menantu ibu bukan yang lain,” masih tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Andri.
Saat ibu bilang hanya menginginkan Keisha menjadi menantu ibu, terlihat Kania langsung mendongak melihat ibu. Terlihat jelas, bahwa saat ini Kania benar-benar telah menjadi istri Andri. Istri yang kedua. Dimana kah naluri hati Kania? Ia ingin memperkenalkan aku dengan seorang pengusaha yang ternyata abang ku sendiri.
Tidak kah ia mengetahui jika Andri sudah mempunyai istri? Jika pun ia tau kenapa masih saja melakukan pernikahannya dengan Andri. Pantas saja disaat berada di salon, aku merasakan aneh terhadap nya. Ia mengatakan akan menikah tetapi ia tidak berbasa-basi mengundang ku kepernikahannya. Ternyata ia melakukan pernikahan siri di belakang nya. Astaga, kenapa firasat buruk itu benar-benar terjadi.
“Andri! Jawab ibu!!!” teriak ibu histeris sambil menarik kedua kerah kemeja Andri dengan kuat.
Suara lengkingan ibu membuat aku dan Kania langsung mendongak. Andri pun ikut mendongak. Kedua mata nya sangat merah, air mata ingin merembes keluar namun kurasa ia masih bisa menahannya.
“Kania istri Andri bu,” jawab Andri.
Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku merasa kecewa dengan tindakan ia yang ceroboh ini. Orang yang selama ini aku jadikan panutan bisa-bisa nya melakukan tindakan yang menurutku sangat menjijikkan.
Apakah ia tidak cukup dengan satu wanita dan malah menambah satu wanita lain? Bahkan satu wanita saja ia tidak mampu mengurusnya dengan baik.
Cengkraman tangan ibu dikerah kemeja Andri mengendur juga. Ia menatap anak sulung nya itu dengan sangat tidak percaya. Air matanya mengalir deras di pipi nya. Ini bukan air mata bahagia melainkan ini air mata terluka dari seorang ibu. Berhati-hati lah jika seorang anak membuat ibunya menangis seperti ini apalagi sampai membuat hati nya terluka.
Tidak akan ada surga untuk nya melainkan ada neraka yang terbuka lebar untuk nya.
Aku melihat ibu yang terhuyung beberapa langkah kebelakang. Aku dan Andri pun sigap menangkap tubuh ibu dan keduluan aku. “Ibu, ibu gak papa?” ibu hanya menggeleng pelan.
Aku rasa ia sangat syok dengan kejadian ini.
“Yaudah, kita pulang saja yuk bu, nanti ibu malah pingsan disini,” ibu langsung berdiri dengan tegap. Ia mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia berjalan menghampiri Kania, kurasa ibu akan mengatakan sesuatu kepada nya.
“Kania, saya tidak menyangka jika kamu seperti ini. Dimana perasaan mu Kania? Dimana? Dengan tega-tega nya kamu merebut suami dari teman mu sendiri?”
Degh...
Teman sendiri? Maksud ibu?
“Keisha, teman mu Kania. Bisa-bisa nya kamu merebut suami nya menjadikan suami mu? Dimana letak kesadaran mu Kan?!”
Ya Allah, ternyata Kania ini teman nya kakak ipar ku? Itu berarti Kania menusuk Keisha dari belakang? Aku tidak menyangka jika hal seperti ini benar-benar terjadi. Dan ini terjadi langsung ada di hadapan ku. Sungguh, aku seperti ini sangat malu terhadap kakak ipar ku sendiri saat bertemu dengan ia nanti.
Betapa bejat nya Andri memiliki istri lain yang ternyata istri lainnya itu ialah temannya sendiri. Bukankah ini hal yang memalukan atau ini hal yang lumrah yang memang sering terjadi di dunia ini?
Kania mengambil kedua tangan ibu dengan kedua pipi yang sudah basah oleh air mata, riasannya yang tadi sempat ku lihat di lift luntur seketika. Aku rasa pertemuan mereka berdua di Menara Effiel ini hancur belaka karena kejadian seperti ini.
“Bu,”
“JANGAN PANGGIL SAYA IBU!!!” bentak ibu sambil menepis pegangan dari tangan Kania.
Tentu saja membuat Kania dan aku terkejut. Tangisan Kania semakin menjadi. Andri berusaha menenangkan ibu, tetapi ibu malah mendorong Andri hingga beberapa langkah ke belakang.
Saat ini kami sudah menjadi tontonan oleh beberapa orang yang mungkin terlihat penasaran karena ada adegan menangis di dalam nya. Untung saja kami ada di Paris, jika ada di Indonesia entah seviral apa kami karena direkam oleh beberapa orang yang menyaksikan saat ini.
“Jangan pernah-pernah kamu panggil saya ibu! Saya tidak sudi mendengar kata ibu yang keluar dari mulut kamu Kania!!”
“Bu, tenang lah” aku berusaha menenangkan ibu sambil mengelus bahu nya. Tetapi ibu malah menepis tanganku dengan kedua tatapan yang sangat menyedihkan. Aku benar-benar tidak sanggup melihat ia seperti ini.
“Bagaimana ibu bisa tenang De? Lihat lah abang mu! Lihat dia! Dia menikah lagi dengan teman istri nya sendiri. Betapa memalukannya dia. Dia tidak tau bagaimana khawatirnya Keisha disana karena tidak ada kabar sama sekali. Dan tau-tau nya ia disini bersama istri nya yang lain, ia segera berangkat ke Paris tidak mengabari ke ibu maupun ke istri nya. Rupa-rupanya ia menyelenggarakan pernikahannya di Paris. Sungguh menjijikkan, cih!!” ibu berludah di hadapan Andri dan Kania membuat mereka tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dan aku pun hanya bisa diam mendengarkan perkataan ibu.
“Kania, dengarkan saya.” Kania mendongak memberanikan menatap ibu walau saat ini wajah nya sembab karena air mata. Entah kenapa ia malah menangis seperti itu padahal yang tersakiti bukan ia melainkan keluarga kami terkecuali Andri.
“ Walaupun saat ini kamu telah berstatus menjadi istri Andri. Saya tidak akan sudi menganggap kamu menjadi menantu saya. Saya tidak sudi memberi nama Bagaskara di belakang nama kamu! Tau kah kamu. Kamu sangat menjijikkan karena sudah merebut suami yang sudah beristri. Apakah mata hati mu tidak terbuka heuh? Kamu tidak melihat bahwa Andri adalah suami teman mu, kenapa kamu masih bisa merebut nya? Kamu tidak sadar Kan? Apa orang tua mu tidak mengajari kamu tentang ingin memiliki sesuatu?” ucap ibu yang menurutku sangat pedas dan menusuk.
“Ibu boleh berkata seperti itu kepada saya bu. Tetapi tolong jangan bawa orang tua saya dalam hal ini, orang tua saya tidak bersalah dalam hal ini.”
__ADS_1
“Kalau bukan orang tua mu, siapa yang akan disalahkan Kan?!” tanya ibu dengan suara meninggi nya.
“Ibu, sudah lah bu. Ini bukan salah Kania ini salah Andri bu. Andri yang memulai semua masalah ini, tolong jangan salah kan Kania,” bela Andri.
Ibu melihat Andri sambil menghapus air mata nya. Ibu memberikan senyuman miring kepada Andri. “Masih bisa-bisa nya kamu bela wanita yang tidak tau diuntung ini!” tunjuk ibu kepada Kania.
“Dengar Kania!! Kalau bukan Keisha, kamu tidak akan menjadi model yang sangat terkenal. Kamu tidak akan memiliki pekerjaan yang digaji sangat tinggi. Sebenarnya saya tidak ingin kamu bekerja diperusahaan Andri. Tetapi karena Keisha memohon-mohon kepada saya karena kamu temannya. Mau tidak mau saya mengizinkannya. Dan lihat, apa balasan dari temannya ini. Temannya malah merebut suami nya, inikah yang namanya dikasi hati minta otak??!”
“Ibu, sudahlah.” Aku menarik ibu untuk jauh dari hadapan Kania. Kalau tidak bisa-bisa ibu akan berkata di luar kesadarannya. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Bagaimana pun juga perkataan seorang ibu akan terjadi saat itu juga. Aku tidak ingin ibu menyesali perkataannya. Apalagi saat ini Kania sudah sah menjadi istri Andri. Dan itu berarti Kania sudah menjadi menantu Bagaskara walau ibu tidak menyetujui nya. Hanya saja ini semua dari Andri sendiri. Kalau pun dia menahan nafsu nya dari wanita lain mungkin saja ini tidak akan terjadi.
“Ade, tolong katakan ini mimpi nak. Katakan kepada ibu ini mimpi, ibu tidak sanggup De. Ibu tidak sanggup,” ibu menangis terisak-isak kepada ku.
Aku mengusap air mata ku yang ikut mengalir, langsung saja ku rengkuh tubuh ibu dengan erat nya memberikan ketenangan walau pun tidak sepenuhnya. “Ibu, tolong jangan menangis bu. Jangan menangis. Ada Ade disini kok, ada Ade.” Aku sambil melihat Andri yang masih saja menunduk. Bahkan ia sama tidak berani nya menatap adik nya sendiri.
Saat itu juga, aku melihat nafas ibu tersengal-sengal sambil memegang dada kirinya dengan erat. “Ibu!!!” panggil ku panik.
“Ibuuu!!!” teriak juga Andri.
Ibu pun langsung melemas begitu saja di bawah. Aku dan Andri saling merengkuh ibu. namun langsung ku dorong Andri begitu saja.
“Jangan sentuh ibu Mas, biar Ade saja yang sentuh ibu. Karena Mas, ibu begini.”
“De,” panggil nya pelan.
“Ibu, sadarlah. Buu, sadar lahh” aku menepuk kedua pipi ibu panik. Aku tidak menyangka jika ibu seperti ini. Fikiran ku pun mulai kemana-mana, aku tidak tau apa yang harus ku lakukan sekarang. Semuanya kosong begitu saja.
Ya Allah, kumohon jangan ambil nyawa ibu ku secepat ini. Aku tidak ingin kehilangan ibu, aku belum sempat membahagiakannya. Biarkan ibu bertahan sebentar lagi demi aku. Jangan ambil ibu ku. Kalau pun ibu diambil, sampai ujung nyawa ku aku tidak akan memaafkan pembuat masalah ini. Biarpun dia abang ku sendiri. Aku tidak perduli.
“Ibu, sadarlah ibuu. Kumohoon,” aku mengguncang tubuh ibu. Kurasa aku benar-benar tidak bisa menahan air mata ku untuk tidak keluar. Air mata ku keluar begitu saja melihat wajah pucat ibu, kedua tangan nya sangat dingin. Astaga ibu, bertahun-tahun tidak bertemu ibu. Saat bertemu malah harus melihat ibu seperti ini.
Aku mendongak melihat Andri sedang menelpon seseorang. Aku rasa dia menelpon ambulance. Saat ini, aku tidak perduli dengan dia. Benar-benar tidak perduli.
Kami pun sudah dikelilingi banyak orang, saling menelpon. Aku hanya bisa memeluk ibu merasakan detak jantung nya yang masih berdetak. Aku tidak ingin fikiran buruk ku ini menjadi nyata.
“De, bentar lagi ambulance akan datang. Tolong tenang lah demi ibu De,”
Aku mendongak menatap Andri nyalang. Entah kenapa sekarang aku malah membenci nya. Saat ini aku melihat ia bukan sebagai saudara ku melainkan sebagai musuh ku. Musuh untuk pertama kali nya aku bertemu dan aku langsung membenci nya begitu saja. Sangat membenci nya.
“Puas Mas? Puas udah buat ibu seperti ini?! Puas hah?!”
“Turunkan intonasi nada mu De, Mas ini abang mu!”
Aku tersenyum sinis, “Abang? Ade gak punya abang yang memiliki sifat brengsek seperti ini!!”
“Jaga bicara mu De!!” bentak nya dan menurut ku tidak takut kepada nya.
Kedua tangan ku mengepal ku sangat kuat menahan amarah agar tidak keluar begitu saja. “Mulai sekarang, jangan pernah anggap kita saudara! Dan aku, sebagai Andika berkata tidak mempunyai abang yang bernama Andri. Karena dia sudah mati. Di hati ku maupun dihati ibu!” ucapku membuat Andri mungkin terkejut dengan perkataan ku. Aku tidak perduli, inilah rasa benci ku. Karena dia, ibu seperti ini. Bagiku, siapapun yang sudah membuat ibu seperti ini akan menjadi musuh nya. Percaya lah itu.
Andri:
Saat ini kami berdua berada di salah satu rumah sakit di Paris. Kami berdua berada di luar, sedangkan Andika berada di dalam. Kaki ku berkali-kali bergerak karena tidak sabar apakah ibu baik-baik saja.
Hancur sudah.
Selesai sudah.
Tamat sudah.
Semuanya terbongkar begitu saja terbongkar dengan sendirinya. Aku tidak menyangka jika rahasia yang kututup selama 3 tahun ini ketahuan dengan begitu cepat nya. Hal yang paling membuat aku bingung ialah, kenapa ibuku bisa ada disini dan itu bersama Ade.
Bukannya ibu seharusnya berada di Indonesia bersama Keisha? Apa ibu mengikutiku dari Indonesia hingga ke Paris? Tetapi itu tidak mungkin, karena ada Andika disebelah nya. Sedangkan Andika saja mungkin tidak tau permasalahannya dari awal. Bisa jadi.
Aku sudah tidak tau lagi dengan yang terjadi saat ini. Fikiranku kosong begitu saja. Entah fikiran ku ini melantur kemana-mana. Aku sudah tidak dapat berfikir dengan jernih lagi. Yang terpenting untuk saat ini, aku ingin bertemu ibu. Ingin berbicara berdua saja dengannya. Tetapi Andika belum keluar sama sekali dari kamar ibu. Aku tau ia sekarang sangat membenci ku, hingga aku tidak diizinkan untuk bertemu dengan ibu.
Lamunan ku tersentak saat Kania menggenggam tangan ku, aku pun menoleh melihat ia dengan wajah cemas nya. Ku paksa senyuman ku ini keatas walau sebenarnya tidak ikhlas. Hanya saja memberikan ia ketenangan walau sebenarnya aku tidak tenang.
“Mas, kamu gak papa kan?” tanya nya.
“Gak papa Kan, jangan khawatirin Mas ya.”
Ia menghela nafas pelan, “Bagaimana ini Mas? ibu dan adik mu sudah tau. Bagaimana jika ibu mu memberi tau masalah ini kepada Keisha? Apa yang akan kita lakukan Mas?” tanya nya berderet. Aku pun membalas genggaman tangannya berusaha untuk saling tenang.
“Kita lihat nanti ya Kan, kita selesain dulu masalah ini dengan ibu. Baru kita fikirkan masalahnya dengan Keisha.”
“Mas,”
“Hem?”
“Mas gak cerain aku kan?” aku terdiam mendengar pertanyaannya.
“Mas gak cerain aku kan? Mas gak akan tinggalin aku kan Mas?” tanyanya lagi berderet.
Kedua matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis saat ini juga. Menjadi aku tidak tega melihatnya. Aku pun tidak mengerti kenapa ia malah bicara seperti itu.
“Kamu bicara apa sih? Kenapa Mas harus cerain kamu? Kenapa Mas harus tinggalin kamu? Kita sudah menikah Kan. Kita sudah memilih jalan ini, dan kenapa kita harus mengakhiri semua ini begitu saja?”
“Kirain saja Mas. Karena hubungan kita sudah ketahuan oleh ibu dan adik mu. Kamu malah ingin menyelesaikan ini semua,”
__ADS_1
Aku mengelus kepala Kania, “Kamu kira aku laki-laki apa Kan? Aku tidak mungkin lari dari semua ini hanya karena ketahuan. Kita hadapi sama-sama masalah ini. Kita genggam erat tangan satu sama lain. Saling menguatkan dan saling berada di sisi masing-masing,” air mata Kania pun keluar begitu saja. Aku pun langsung mengusap air mata nya itu.
Aku tau, ia sangat rapuh apalagi dengan yang sudah terjadi di Menara Effiel tadi begitu pun dengan aku. “Makasih, Mas,” ucap nya sambil sesenggukan.
“Iya, Kan. Sudahlah jangan menangis. Mas akan selalu ada disini, disamping mu. Hem?” ia mengangguk kecil dan menghela nafas pelan berusaha agar menghilangkan tangisnya itu.
Saat itulah aku mendengar suara pintu terbuka, aku dan Kania pun langsung berdiri dan ingin menghampiri Andika yang sedang keluar sambil memegang kertas. Namun aku mencegah Kania untuk tetap duduk saja, biarlah untuk saat ini aku yang akan menghadapi masakah ini sendirian. Aku tidak ingin membebani Kania.
“De,” panggil ku.
Ade pun berbalik dan melihat ku lalu memalingkan pandangan nya ke arah lain, aku tau ia sangat tidak ingin melihat ku. Memang seharusnya aku malu karena masih berani nekat ingin bertemu dengan keluarga ku sendiri. Tetapi bagaimana pun juga aku harus menghadapi masalah ini daripada membiarkan masalah ini berlarut-larut.
“De, Mas ingin bertemu sama ibu,”
Ia menoleh dan menatap ku. Tatapan itu terasa sangat tajam dan dingin, “Kebetulan sekali. Nyonya besar Bagaskara ingin berbicara dengan anda,” Andika sambil tersenyum sinis kepada ku. aku hanya bisa mengerutkan kening ku tidak mengerti maksud nya. Kenapa ibuku ia sebut dengan ‘nyonya Bagaskara?’
“Maksud kamu De?”
“Bukan kah benar jika ibu ku itu Nyonya Bagaskara?”
Aku hanya bisa terdiam menatapnya, kurasa ia benar-benar sudah tidak menganggap aku sebagai saudara kandung nya. Ingin rasanya aku marah, akan tetapi aku juga berfikir kalau bukan karena hubungan terlarang ini tidak mungkin semuanya akan terjadi seperti ini dan ini memang salah ku. Aku tidak pantas untuk marah.
“Silahkan anda berbicara dengan ibuku. Saya akan mengurus administrasi Nyonya Bagaskara terlebih dahulu. Nanti apabila aku sudah kembali, anda harap sudah berada di luar kamar ini. Karena saya, sebagai anaknya akan mengurus Nyonya Bagaskara dengan baik,” ujar Andika sangat menusuk dihati ku. Ia pun menekankan kata anak di perkataannya.
Tenanglah Andri, kau harus kuat menjalani setiap perkataan yang akan dilontarkan setiap dari perkataan keluarga mu. Kau harus menerimanya. Karena perbuatan mu lah kau harus menanggung nya sendiri.
Setelah Andika mengatakan itu, ia pergi dari hadapan ku. Aku menghela nafas kasar lalu melihat ke ambang pintu yang tertutup. Ku putar knop pintu perlahan, terlihat jelas lah ibu sedang baring dengan infus di tangan kanan nya. Ia menoleh melihat aku masuk kedalam kamar nya lalu melihat ke arah lain. Sama dengan yang dilakukan Andika tadi terhadap ku. Sebegitu bencinya kah mereka terhadap ku hingga mereka tidak ingin melihat ku?
Perlahan dengan pasti aku menghampiri ranjang ibu lalu duduk di samping nya. Ia tetap tidak bergeming dan tetap melihat ke arah lain.
Aku meraih tangan ibu ingin menggenggam nya namun ia menepisnya dengan sangat cepat. Aku melihat tangan ku yang sepertinya sudah tidak berarti apa-apa bagi ibu. Dulu tangan ini yang selalu diinginkan oleh ibu dan ingin selalu digenggam oleh ibu. Tetapi sekarang, tangan ini sudah tidak diinginkan oleh siapapun. Bahkan ibu tidak ingin menyentuhnya walau hanya sedetik saja.
“Bu,” panggil ku karena ia tidak sama sekali berbicara.
“Sudah berapa lama kamu menjalani hubungan dengan Kania, Ndri?”
Aku terdiam. Berusaha ingin mencari alasan lagi untuk menjawab pertanyaannya. Kurasa aku tidak perlu memberikan alasan yang berdasarkan bohong belaka. Karena pada akhirnya semuanya pun sudah terbongkar dengan begitu lebarnya.
“Sudah 3 tahun bu,”
Ibu langsung menoleh menatap ku dengan sangat tidak percaya, “3 tahun? Sudah 3 tahun kamu menjalani hubungan dengan Kania? Selama itu kah?” aku mengangguk pelan.
“Tapi Andri baru menikahinya beberapa hari yang lalu bu,”
Terdengar tawa sinis yang keluar dari mulut ibu, “Ibu tidak menyangka jika kamu melakukan hal yang menjijikkan seperti ini Ndri. Selama 3 tahun kamu mengkhianati istri kamu dengan sangat indah dan rapi nya. Istrimu bahkan rela selalu berada di samping mu menjalani susah senang bersama mu. Tetapi apa yang kamu lakukan ha? Apa yang kamu balas dari kesetiaan ia selama ini? Apa kamu tidak sadar? Dimana akal fikiran sehat mu ini! Kemana menghilang nya?”
“Maaf kan Andri bu,”
“Mentang-mentang kamu sudah sukses. Mempunyai harta yang berlimpah, dan kamu seenaknya mencari pendamping lain. Tapi apa kamu tidak pernah berfikir Ndri? Bahwa kesuksesan yang kamu dapatkan ini karena istri kamu. Doa istri mu, dukungannya dan kesetiaannya. Tetapi kamu malah berleha-leha dengan gampang nya dan dengan muka tidak berdosa mu itu!”
Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan ibu. Kepalaku terus menunduk, rasanya saat ini aku malu menatap ibu. Sudah membuat ia kecewa dan terluka karena perbuatan ku.
“Jika kamu ingin menikah lagi Ndri, seharusnya kamu datangi ibu dan Keisha baik-baik. Minta restu dari kami berdua bukan malah menikah dibelakang seperti ini. Bukankah itu hal yang keji yang kamu lakukan terhadap cinta istri mu kepada mu? Kalau kamu menikah seperti ini, ibu sangat yakin. Kamu melakukannya bukan karena berdasarkan agama, melainkan berdasarkan nafsu belaka mu saja,” mendengar perkataan ibu aku langsung mendongak.
“Bukan ibu ingin menyumpahi mu, tetapi percaya lah. Kamu akan hancur dengan begitu mudah nya. Bukan karena doa ibu mu ini, tetapi karena rasa sakit hati istri terhadap mu,”
Jleb...
Perkataan ibu membuat hati ku langsung menohok seketika. Terasa sangat menusuk dan menyakitkan mendengarnya. Rasanya hati ku seperti tidak terima dengan perkataan ibu. Ingin membantah nya tetapi mulutku terasa kelu untuk mengeluarkan satu kata.
“Percayalah itu, lambat laun ini akan terjadi kepada mu. Bukan sekarang, tetapi nanti disaat rasa sakit hati istri mu sudah tidak dapat terbendung lagi,”
“Keisha gak mungkin sakit hati sama Andri bu, dia bahkan waktu itu sudah mengizinkan Andri untuk menikah lagi. Sekarang Andri sudah menikah, pastinya dia akan sangat setuju dengan pernikahan ini.”
“Mengizinkan kamu menikah? Tapi itu kapan? Bukan kah itu sudah beberapa tahun yang lalu? Dan saat itu kamu sendiri yang berjanji kepadanya tidak akan menikah lagi dengan wanita lain. Sekarang, kamu malah menikah dengan tidak meminta restunya, disaat Keisha tidak rela melihat kamu bersama wanita lain. Sebegitu yakin nya kah kamu Keisha tidak sakit hati mendengar ini semua? Sebegitu percaya dirinya kah anda?” mulutku pun bungkam lagi, tidak menjawab perkataan ibu.
“Ingatkah kata-kata ibu ini Andri. Keisha pasti akan mengatakan, tidak apa-apa kepada mu. Tetapi kamu tidak tau bagaimana hati nya. Karena apa? Kamu hanya mementingkan perasaan mu dibandingkan perasaannya. Kamu mementingkan kebahagiaan dan kepuasaan mu sendiri dibandingkan kebahagiannya. Karena pada dasarnya kepedulian mu terhadap perasaan Keisha sudah mati. Kamu sudah tidak perduli bagaimana dan apa yang Keisha rasakan!”
Aku melihat ke arah lain. Rasanya setiap perkataan ibu membuat hati ku terasa sangat sesak. Aku tidak bisa berlama-lama lagi disini, jadi aku pun memutuskan untuk beranjak dari kamar ibu. Saat aku sudah berbalik dan berjalan menuju ke pintu. Langkah ku terhenti saat mendengar ibu berkata, “Ibu tidak akan memberi tau kejadian ini kepada Keisha, seharusnya kamu lah yang memberi tau nya. Ibu sudah memutuskan kamu lah sendirilah yang menyelesaikan masalah ini. Ibu sudah sangat yakin bahwa Keisha akan hancur dengan pengakuan mu,”
Aku tetap diam dan kembali berjalan karena ibu tidak berkata apa-apa lagi, namun ternyata ia masih melanjutkan perkataannya.
“Jika hati mu bertanya, siapa yang ibu bela. Tentu saja ibu membela Keisha. Jika kamu dan istri mu yang baru menyakiti hati Keisha, ibu lah yang akan berada di depan membela Keisha. Dan jangan harap jika ibu menerima Kania. Karena sampai ibu mati, ia tidak akan pernah ibu anggap sama sekali. Dosa kah ibu? Tentu saja tidak! bagaimana pun juga kamu sendiri lah yang berdosa dan mengambil langkah ini,”
“Dan satu lagi, mulai sekarang jangan panggil aku ibu. Karena aku tidak sudi dipanggil ibu oleh mu. Dan anak ku yang bernama Andri sudah mati karena keegoisannya. Anak ku hanya bernama Andika saja. Jika orang bertanya tentang Andri, tentu saja aku tidak mengenal nya.” perkataan ibu yang terakhir berhasil membuat hati ku berkali kali lipat menyakitkan.
Kedua tangan ku mengepal dengan sangat kuat. Kedua mata ku sangat merah menahan marah, air mata ingin sekali keluar begitu saja dari tempat nya. Rasanya oksigen sangat susah masuk kedalam paru-paru ku. Aku menarik nafas lalu membuang nya dengan sangat kasar.
Lalu aku berbalik melihat ibu yang sudah membelakangi ku. Sudah tidak sanggup berada disini aku pun keluar dari kamar. Kulihat diluar sudah tidak ada siapapun. Kania pun tidak ada di tempat. Aku tidak tau ada dimana dia. Aku tidak memikirkan keberadaan ia sekarang. Karena saat ini hati ku terasa sangat sakit oleh setiap perkataan ibu.
Kudaratkan pantat ku ke kursi. Kusandarkan punggung ku ke punggung kursi. Terasa sangat nyaman. Ku pejam kedua mata ku dan berusaha tenang dengan keadaan saat ini. Helaan nafas terus keluar dari mulut ku. Selama bertahun-tahun aku hidup bersama ibu. Baru kali ini lah ibu mengeluarkan pernyataan bahwa aku sudah tidak dianggap sebagai anak nya lagi.
Ibu menganggap ku sudah tiada. Betapa hancurnya hati ku saat ia mengatakan nya. Perkataan yang keluar dari seorang ibu bukan lah hanya sebuah perkataan saja. Ada banyak doa di dalamnya. Entah kenapa saat ibu mengatakan itu, membuat aku sangat takut.
Kini aku hanya bisa mengusap wajah ku dengan kasar. Rasanya sangat menyakitkan dan menyesakkan hingga air mata ku keluar dengan begitu deras nya. Karena perbuatan ku semuanya hancur begitu saja. Aku kehilangan keluarga yang selama ini menemani ku. Aku kehilangan kasih dan sayang yang ku dapatkan selama ini. Dan aku kehilangan kepercayaan yang ku jaga selama hidupku.
Itu semua karena perbuatan ku. Aku harus menanggungnya dan menjalankannya. Bukankah itu yang kuinginkan sejak dulu?
__ADS_1