
“Akan ada dimana manusia akan diberi ujian oleh Sang Pencipta. Bukan karena tidak sayang, melainkan karena ingin menguji sampai dimana batas kesabaran nya dalam menghadapi hidup.”
-Keisha
Keisha:
“Kamu sudah beritahu Andri Kei kalau ibu nanti ke Paris?”
Aku hanya bisa menggeleng pelan “Enggak bu. Sebenarnya, Kei mau kasi tau Mas Andri, cuman Mas Andri gak bisa nyempatin waktu bentar untuk ngobrol,” aku sambil melipat pakaian punya ibu mertua ku.
Hari ini aku sedang menyempatkan mampir ke rumah ibu, kebetulan rumah sakit yang sedang ku kunjungi tidak jauh dari rumah ibu mertua ku. Jadi, sebelum aku pergi ke rumah sakit, aku mampir dulu. Kebetulan juga, ibu sedang memilih pakaiannya untuk ibu saat berangkat ke Paris nanti.
Terdengar helaan nafas keluar dari bibir ibu, “Ya sudah, kamu gak perlu kasi tau Andri. Biar nanti ibu pas ada di Paris baru ngasi tau dia.”
Aku sudah menebak kalau ibu sedang kecewa dengan Andri. Mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini ia sibuk nya luar biasa. Pulang kerja pun bisa di katakan jam enam malam, sesampai di rumah bukannya ada waktu untuk ngobrol berdua tetapi langsung istirahat. Bangun-bangunnya pun ia langsung berangkat kerja, bukankah seperti itu dia sangat sibuk?
Aku tidak mengeluh untuk dia, hanya saja saat ini aku benar-benar butuh Andri. Aku sangat membutuhkannya “Tetapi kan bu, Mas Andri harus tau ibu kemana. Apalagi nanti ibu berangkat ke Paris, itu kan sangat jauh bu. Apa kita gak nunggu saja pendapat dia kayak gimana?”
“Tidak apa Kei, nanti juga Andri ngerti kok. Lagian disana Ade udah mempersiapkan semuanya, Ade juga udah mempersiapkan kedatangan ibu. Jadi, sudah lah, kamu jangan kasi tau Andri. Biarkan dia fokus dengan pekerjaannya. Untuk wisuda Ade, gak papa kok kalau ibu yang pergi. Ibu juga udah kangen sama Ade, udah lama ibu gak jumpa sama Ade,” ucap ibu panjang lebar sambil memasukkan baju nya ke koper yang berukuran sangat sedang.
Aku tau ibu kecewa untuk ini, tetapi dari suara ibu kalau ibu berusaha mengikhlaskan semuanya. Sifat ibu sangat sama dengan Ade, tidak terlalu sakit hati apabila yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataannya.
“Hem iya deh, jadi ibu berangkat besok dong?” ibu mengangguk pelan.
__ADS_1
“Iya, Ade udah pesan tiket untuk ibu. Jadi besok sekitaran jam 6 malam udah harus ada di Bandara, kamu bisa kan nemenin ibu ke Bandara?”
Aku tersenyum “Insya Allah ibu, Kei akan temenin ibu ke bandara kok. Ini baju nya cuman segini aja kan bu? Udah gak ada yang lain lagi?”
“Gak ada Kei, cuman itu aja. Udah, kamu pergi gih sana. Nanti malah telat lagi yang mau jumpa dokter nya,” aku melihat jam di dinding, 20 menit lagi aku akan bertemu dengan dokter yang ingin ku ajak konsultasi.
Ibu memang tau jika aku sedang melakukan terapi untuk mandul ku ini, siapa tau dengan usaha ini aku bisa mempunyai anak dari Andri? Didunia ini bukan kah tidak mungkin kan? Semuanya bisa terjadi jika kehendak atas Sang Pencipta.
Aku pun berdiri lalu meraih tangan ibu dan mencium punggung tangannya “Yaudah, Kei pamit dulu ya bu. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati dijalan ya Kei,”
“Iya bu.” aku pun keluar dari rumah ibu menuju ke mobil ku.
Dan jalan raya disana terbilang sangat padat. Justru itu lah yang membuat ia melarang ku menyetir sendiri, selain itu ia takut aku kenapa-kenapa sewaktu dijalan. Bukan kata ku loh, tapi kata Mas ku sendiri. Hehehhehe.
Jadi, aku menggunakan mobil hanya untuk area terdekat saja. Selain menghemat ongkos dan bisa berhenti kemanapun yang aku suka. Seperti saat ini, aku bisa berhenti ke tempat ibu tanpa harus bayar dulu.
Sesampai nya diarea parkiran rumah sakit, aku pun keluar dari mobil. Berjalan masuk ke dalam rumah sakit lalu berjalan ke arah koridor. Aku paham betul jalan menuju ke ruangan dokter spesialis kandungan. Karena setelah ini aku akan rutin konsultasi ke dokter, agar aku bisa mempunyai anak secepatnya. Semoga itu cepat terjadi, amin.
Saat aku sudah sampai didepan ruangan dokter kandungan, seorang perawat datang menghampiri ku “Permisi bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya nya dengan sopan.
“Ahh saya ada jadwal konsultasi dengan Dokter Rima. Apa dokternya sudah ada didalam?”
__ADS_1
“Dokter Rima ya? Seperti nya di website masih atas nama Dokter Rima ya bu?”
Keningku mengkerut tidak mengerti maksudnya “Begini bu, untuk saat ini Dokter Rima ada jadwal padat dirumah sakit lain. Jadi, untuk dokter kandungan disini digantikan sama dokter lain,” ucap perawat itu menjelaskan. Ia paham dengan ekspresi ku tadi tanda tidak mengerti maksudnya tadi.
“Ohh begitu, jadi ini bagaimana ya? Masalahnya saya udah melakukan jadwal untuk ketemu sama dokter hari ini,” terbesit rasa kecewa sih dihati ku. Aku sudah menantikan hari ini tiba, masa harus batal juga karena dokter nya tidak ada. Aku harus menunggu kapan lagi?
“Ibu tunggu saja di dalam, soalnya sudah ada dokter pengganti kok. Silahkan ibu masuk saja dulu, biar saya panggil dokter nya kalau hari ini ada jadwal temu,” ucap nya ramah.
Seketika aku menghela nafas lega mendengar apa yang dikatakannya “Jadi saya tunggu didalam ya?”
“Iya bu.” perawat itu tersenyum.
“Oke sus, terima kasih ya,”
“Iya.”
Aku pun pamit lalu masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi sambil menunggu dokter yang akan ku temui hari ini. Dokter siapa yang akan kutemui hari ini, biasanya lebih enak dengan Dokter Rima karena dia lah yang tau dari awal kalau aku tidak akan bisa punya anak. Kalau sama dokter baru lagi, mungkin aku akan cerita lagi. Ahhh bikin hati ku teriris saja jika menceritakannya.
Beberapa menit menunggu, aku sambil mengetuk jari ku ke atas meja berusaha melawan rasa bosan ku saat didalam ruangan itu. Saat itulah aku mendengar suara pintu terbuka, langsung saja aku berbalik melihat dokter yang akan menggantikan Dokter Rima.
Kedua mata ku terperangah melihat dokter dihadapan ku, dokter itu pun sama terkejut melihat ku. Aku hanya bisa menunjuk dirinya tanpa mengatakan apapun, bibir ku kelu karena tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.
“Haikal?!” kata itu lah yang langsung keluar dari mulut ku.
__ADS_1
Iya, dihadapan ku ini adalah Haikal Fathan Ghazawan, teman masa kecilku dan setelah itu tidak pernah berjumpa dikarenakan ia harus pindah ke Yogyakarta akibat bisnis ayahnya lalu kami bertemu lagi di majelis sewaktu di kampus. Kini, ia akan menjadi Dokter konsultasi ku? Dokter kandungan? Seriously?