
“Cinta tidak tau kapan di mulai dan tidak tau kapan akhirnya. Karena cinta tidak pernah ada kata habisnya untuk dua insan. Namun, bagaimana jika ada tiga insan yang berada di dalamnya?”
-Andri-
Keisha:
Awan menampilkan warna kekuningan yang lumayan pekat. Helaan nafas keluar dari bibirku, mengeluarkan sesak di dada yang tidak berujung. Secangkir teh di atas meja menemani kesendirian ku disini. Iya, di kafe ini. Walaupun saat ini kafe terbilang lumayan ramai. Tetapi hanya aku lah yang terlihat sepi dan sendiri. Pilu rasanya untuk itu.
Arloji yang melingkar di lenganku sesekaliku lihat. Sudah jam 5 lewat 16 menit, orang yang ku tunggu belum datang juga. Haikal, dia mengajak ku bertemu dadakan di kafe ini. Padahal pagi tadi kami sudah bertemu dan kenapa ia mengajak ku bertemu lagi.
Tidak tau pasti itu, aku pun meng-iyakan ajakan nya. Sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengannya bukan karena hal penting. Namun ketika mendengar suara nya yang terdengar sangat serius membuat aku yakin bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Kuraih cangkir dan menyesap tehku dengan perlahan. Saat itu lah pintu kafe terbuka menampilkan Haikal dengan jalannya yang tergesa-gesa dan penampilannya yang terlihat berantakan. Buku dan laptop berada di tangannya, sangat penuh. Aku yang melihat nya saja sudah merasakan pusing, apa lagi ia yang membawa nya.
“Maaf ya Kei, aku telat,” ujar nya sambil meletakkan barang nya di atas meja.
Peluh di dahi nya mengalir lumayan banyak. Sorot mata nya yang lelah dan wajah nya yang terlihat pucat. Kurasa ia kelelahan karena pekerjaannya hari ini. Aku hanya bisa meringis karena sudah perhatian dengan lelah nya pria lain. Ini tidak boleh, sungguh tidak boleh.
Aku mengulas senyuman tipis, “Gak papa kok Kal, emang habis dari mana?”pertanyaan apaan itu? Tentu saja ia habis dari rumah sakit. Duh, konyol banget diriku ini.
Haikal menghela nafas lalu menghempaskan badannya ke kursi. “Tadi masih ke perpustakaan yang ada di rumah sakit itu. Lagi cari beberapa hal yang bisa mengatasi kemandulan mu itu,” aku manggut-manggut mendengarnya. Jadi ini masalah denganku toh.
“Sebenarnya kan yang tau masalah mu ini Dokter Rima. Aku hanya bisa melanjutkan yang ia lakukan sama kamu. Dan pula hanya beliau yang tau kalau kamu itu di vonis mandul oleh nya.” Aku mengangguk mendengar setiap perkataannya.
“Jadi, aku tidak ingin membuang waktu lama lagi agar kamu bisa mempunyai anak. Sedangkan saat ini saja Andri sudah sering ada di luar dibandingkan ada di rumah. Bukankah seperti ini Kei?”
Aku mengangguk lagi, “Iya, kamu bener Kal. Jadi, maksud kamu ingin bertemu denganku hari ini, ingin mengatasi kemandulan ku dengan secepat mungkin?”
Haikal menjentikkan jari nya tanda bahwa perkataan ku benar adanya, “Kenapa?” tanya ku. Ia pun mendongak saat kedua mata nya fokus pada laptop nya yang ia barusan saja ia buka. Kening nya mengerut tanda tidak mengerti dengan pertanyaanku.
“Kenapa harus terburu-buru Kal? Kenapa tidak lakukan perlahan-lahan saja sesuai jadwal? Bukankah ini malah merepotkan mu?” Haikal menghela nafas dan mempertegak duduknya.
“Saat ini aku sedang berperan sebagai teman sekaligus dokter Kei. Aku ingin melepaskan kata mandul itu dalam dirimu. Saat pemeriksaan tadi pagi aku melihat bahwa kamu masih ada sedikit kemungkinan untuk bisa hamil,”
Kedua mata ku langsung berbinar mendengar bahwa aku bisa hamil, benarkah itu?
“Makanya, aku akan terus gencar mencari informasi lain agar kamu bisa memiliki anak dengan Andri. Bukankah 10 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menunggu yang namanya buah hati?”
Aku tersenyum haru sambil mengangguk, “Benarkah Kal, kalau aku bisa hamil?”
“Iya Keisha, makanya sekarang aku ingin bertemu dengan mu. Karena ada hal lain juga yang harus ku beritahu kan ke kamu,”
“Hal? Hal apa itu?”
Haikal membuka sebuah buku yang berisikan coretan tangannya, aku tidak mengerti dengan tulisannya itu. Semuanya hanya coret-coret biasa saja mungkin hanya dia yang dapat mengerti dengan tulisannya itu.
“Aku mengambil beberapa langkah untuk mengatasi kemandulan mu itu. Dengan cara obat-obatan dan dengan terapi. Obat-obatan ini bernama analog Gn-Rh, ini biasanya di suntikkan kepada penderita mandul. Dan ini sering digunakan untuk wanita yang tidak rutin mensturasi setiap bulan. Jadi, apakah menstruasi kamu lancar Kei?”
Aku melihat ke atap langit sambil berfikir, “Kurasa lancar Kal, malah sangat deras.”
“Hem, kalau itu berarti kamu gak perlu pakai cara obat-obatan. Bagaimana dengan herbal?”
“Sejauh ini aku belum melakukannya,”
__ADS_1
“Seperti yoga?” tanya nya.
Aku hanya bisa menggeleng, “Yoga kamu perlu coba. Aku ada teman, dia instruktur Yoga. Nanti aku kenalin kamu sama dia,”
“Tapi, aku kan—“ aku sambil memegang jilbabku.
Haikal tersenyum melihat itu, “Jangan khawatir, instruktur nya perempuan kok. Walaupun kamu memakai jilbab, masih bisa melakukan yoga seperti orang lainnya. Bagaimana? Kamu mau? Kalau kamu mau aku akan menghubungi mu nanti malam,”
Aku pun berfikir, apakah aku menerima atau menolak tawaran dari Haikal. Sejujurnya ini membuat ku sedikit ragu. “Ini demi kebaikan mu Kei, untuk mempercepat agar kamu bisa mempunyai anak,” ujar Haikal meyakinkan dan menghilangkan keraguan ku.
“Hem, baiklah Kal. Aku mau,”
Haikal tersenyum, “Nah, begitu dong,” ia kembali melanjutkan melihat buku nya. Aku pun hanya bisa melihat ia yang terlihat sedang serius.
“Nah, selanjutnya dengan cara induksi ovulasi. Yaitu, suntik hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur sehingga proses ovulasi berjalan dengan lancar. Bila cara ini sukses memicu ovulasi kamu, maka pembuahan akan terjadi secara alami,”
Alisku naik sebelah, “Suntik ovulasi?” Haikal hanya mengangguk.
“Gini aja, kamu lakukan dulu yoga. Lalu aku akan melihat perkembangan mu sejauh ini, apakah kamu bisa lepas dari kata mandul ini atau hanya hasil nya begini saja. Jika tidak ada perkembangan, baru akan dilakukan dengan namanya suntik hormon. Tentu saja, sebelum itu kamu harus melakukan dulu dengan Andri agar aku bisa melihat hasil nya sejauh ini,” jelasnya panjang lebar.
“Cuman itu Kal?”
“Iya, dan selama masa pengobatan. Kamu tidak boleh stres yang berlebihan. Ini bisa menyebabkan terganggunya hormon perangsang folikel atau biasa disebut dengan ESH dan hormon luteinizing bisa disebut juga dengan LH.”
Aku menggaruk kepala ku yang tidak mengerti dengan bahasa kedokteran yang sudah dikeluarkan oleh Haikal. Melihat wajah bingungku membuat Haikal tertawa kecil.
“Yang ESH dan LH abaikan aja ya Kei. Jadi, bagaimana? Kamu mau melakukan nya?”
Haikal menutup buku nya, “Oke, aku akan mengatur jadwal ulang untuk mu. Bersiap-siap Kei, besok perjuangan mu yang sesungguhnya akan dimulai.”
Benar. Besok perjuanganku akan dimulai, aku harus berjuang demi calon buah hati. Semoga saja aku bisa melakukannya dengan dukungan oleh dokter pribadiku yaitu Haikal.
Kania:
Air dari shower pun turun membasahi seluruh tubuhku yang indah ini. Rambutku pun ikut basah oleh siraman shower ini. Terasa menenangkan dan terasa menyejukkan. Aku menyukai kedamaian yang air berikan kepadaku. Aku perlu menikmati sensasi ini, sensasi yang menyenangkan hati sekaligus menyegarkan fikiranku.
Hari-hari yang sulit telah kulewati. Beragam rintangan dan cobaan telah kuhadapi dengan mudah. Semua itu bukan aku saja yang melakukannya, ada suami ku juga yang membantu semua itu.
Suami? Hahahaha. Oh, kenapa terasa menyenangkan ini menyebut ia sebagai suami ku. Aku tidak menyangka jika sebahagia ini aku menyebut Andri sebagai suamiku. Tetapi itu adalah sebuah mimpi yang telah menjadi nyata. Kekasih berubah menjadi suami sehidup sematiku, semoga saja.
Aamiin.
Setelah ritual di kamar mandi telah selesai, aku memakai jubah mandi ku lalu keluar dari kamar mandi. Kulihat kamar ini terasa sangat kosong, kemana Andri? Saat aku bangun tidur ia sudah tidak ada disampingku hingga aku selesai mandi pun ia tidak ada juga.
Kemana pria itu pergi?
Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku lalu berjalan menuju ke lemari sambil mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk.
Ting..tong..
Bel kamar berbunyi, aku pun tersenyum mungkin Andri sudah datang. Langsung saja aku berjalan dan membuka pintu. Senyuman ku beberapa saat lalu langsung hilang begitu saja, ternyata bukan dia. Melainkan pelayan hotel yang sedang tersenyum manis ke arah ku dengan tangan yang memegang paper bag, entah apa itu isinya aku pun tidak mengerti.
“Good Afternoon Mrs,” ucap nya dengan senyuman yang masih ada di wajahnya.
__ADS_1
“Eh? Too,”
“This for you,” pelayan hotel itu mengulurkan paper bag itu kearahku. Aku tidak mengerti kenapa ia memberi barang itu kearahku. Seingatku aku tidak memesan apapun kepada pihak hotel.
Alisku pun naik sebelah melihat paper bag itu yang masih ada di tanganya. “Hem, sorry. Are you not mistaken? Like i did not order anything,” pelayan hotel itu tersenyum lalu ia menarik tangan ku dan meletakkan paper bag itu ke tangan ku. Aku semakin tidak mengerti dengan tindakannya ini.
“This is from Mr. Bagaskara Mrs.” Kening ku yang mengerut langsung mengendur seketika. Ini dari Andri? Benarkah? Tetapi kemana dia? Kenapa dia tidak langsung memberi langsung kepadaku saja? Kenapa harus melewati pelayan hotel ini membuat aku semakin tidak mengerti saja kepadanya. Ada saja kejutan yang ia berikan kepadaku ini.
“Mr. Bagaskara, there are needs outside. So he left this item with me to give to you.” Ucap nya lagi.
Aku pun hanya mengangguk mendengar perkataannya, tanda mengerti dengan apa yang ia katakan. “Oke, thanks you.” Pelayan hotel itu tersenyum, “Your welcome. I’ll excuse myself first then,” aku hanya membalas senyumannya lalu ia pun pergi.
Kututup pintu sambil membawa paper bag itu di tanganku lalu kulihat apa isinya. Seketika kedua bola mata ku membesar dengan sangat indah ketika isinya membuat aku sangat takjub melihatnya. Ternyata isinya adalah sebuah dress selutut tanpa lengan dengan motif bunga yang sangat cantik. Aku pun langsung mencocokkan dress itu ketubuh ku. kulihat diriku dipantulan kaca lemari.
Kutatap tubuhku yang sedang dicocokkan dengan dress ini. Sungguh membuatku tidak habis fikir, Andri memilih kan baju yang sangat indah untukku. Tetapi yang membuat aku bingung, ada apa Andri memberi ku baju sebagus ini? Apakah ini hadiah dari pernikahan kita berdua? Aku rasa bukan itu.
Saat aku terlalu asik melihat diriku di pantulan kaca, ponsel ku berdering. Langsung saja aku mengambil ponsel ku dan melihat siapa yang menelpon. Terdapat tulisan ‘suamiku’ di layar ponsel. Aku pun tersenyum dan mengangkatnya segera.
“Halo, Mas.” ucap ku cepat dengan senyuman yang merekah di bibirku.
“Pasti lagi senyum ya,” ucapnya disebrang sana. Aku hanya bisa tersenyum malu, ternyata ia tau apa yang sedang kurasakan sekarang.
“Hehehehe, Mas sih. Tumben banget beri aku baju sebagus ini, emang ada apa sih? Gak bisa apa kasi baju ke aku langsung?”
“Gak bisa sayang. Soalnya aku lagi ada diluar, ada urusan yang harus aku kerjakan sebelum pulang ke Indonesia,” aku hanya menggumam mendengarnya. “Tapi, kamu suka kan sama baju nya?”
“Suka, makasih ya Mas.”
“Sama-sama sayang,” aku tersenyum mendengar kata ‘sayang’ yang ia keluarkan untuk ku. Menurutku itu sungguh sangat romantis bagi ku. “Nanti malam kamu pakai baju itu ya, kita ketemuan di Menara Effiel. Sekitaran jam 7, nanti Mas tunggu kamu disana ya.”
Kening ku mengerut tidak mengerti kenapa ia meminta ku bertemu di Menara Effiel pada jam segitu? Andri sungguh benar-benar penuh dengan kejutan yang tidak pernah aku ketahui. “Kita rayakan anniversary yang ke 3 tahun istri ku. Karena besok kita harus pulang ke Indonesia,”
Blush....
Seketika kedua pipi ku terasa panas mendengar Andri mengucapkan istri kepadaku. Astaga, apa ini benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. Sungguh membuat aku tidak percaya.
“Kan?”panggil Andri disebrang sana.
Aku pun tersontak dari lamunan asmara ini, “Heuh? Iya Mas?” disebrang sana Andri terkekeh, ia pasti mentertawakan aku.
“Jangan melamun ah, pokoknya nanti malam Mas tunggu kamu di Menara Effiel. Jangan sampai telat ya sayang.”
Aku menggigit bibir bawah ku tanda tidak mampu dengan suara Andri yang membuat aku semakin tidak berdaya mendengarnya. “I—iya Mas,” jawab ku gugup.
“Yaudah, Mas tutup dulu ya telponnya.”
“Iya Mas,”
Panggilan pun terputus. Aku merenungi perkataan Andri barusan. Ia tidak lupa dengan anniversary yang menuju ke 3 tahun?
Dan dress ini sengaja ia beli untuk ku agar nanti malam aku tampil cantik dihadapan ia saat berada di Menara Effiel. Benarkah ini?
Aku tidak bisa menutupi rasa bahagia ku yang meledak-ledak. Seketika aku berteriak kegirangan dan melompat-lompat diatas kasur yang empuk itu. Tidak perduli apakah orang hotel ini mendengar teriakan ku. Saat ini aku benar-benar bahagia. Hidup ku seperti di negeri dongeng yang mendapatkan hati pangerannya. Aku tidak menyangka jika mimpi dan angan ku menjadi sebuah kenyataan. Kania Aletha Bagaskara, kini hidup mu benar-benar berubah. Apa yang kau inginkan berubah menjadi nyata. Kini kau tak perlu meragukan keajaiban lagi sekarang.
__ADS_1