
“Aku hanya lah sebatas manusia yang masih menginginkan apa yang ku inginkan. Dan aku masih membutuhkan apa yang ku butuhkan. Tidak salah bukan jika aku menginginkan sesuatu yang berlebihan? Atau memang ada yang tidak mengizinkan?”
-Andri
Andri:
Sorot mata itu, suara itu, dia marah, dia kesal, dan dia benci pada ku. Seharusnya aku menghindar saja dari pertemuan kemarin, seharusnya aku memberikan beribu alasan agar tidak seperti ini jadi nya. Aku tidak bisa, aku tidak sanggup.
Aku tidak bisa jika bertengkar dengan Kania, rindu ku terlalu besar untuk itu dan aku tidak bisa egois dengan nya. Aku mengacak rambut ku dengan sangat frustasi, hari ini pekerjaan ku terlihat berantakan. Seperti hati ku yang sedang tidak tentu arah kemana dia pergi.
Tadi pagi aku melihat nya, bertemu dengan Kania berusaha ingin menyelesaikan masalah yang ada. Tetapi Kania terlihat menghindari aku, dia tidak ingin bicara pada ku. Padahal aku sangat merindukan ia, kenapa dia tidak mengerti dengan apa yang ku inginkan? Apa hanya aku saja yang merindukan ia sedangkan ia tidak?
Aku menghela nafas berat, lalu mendongakkan kepala ku dan menghempaskan punggung ku ke badan kursi. Aku memutar kursi yang mengarah ke jendela yang sangat besar, aku melihat pemandangan gedung yang menjulang tinggi dari dalam sini. Menurut ku ini membuat ku sedikit tenang dan tidak stres.
Orang mengira, bahwa hidup ku ini bahagia nyatanya tidak. Aku selalu terlibat masalah yang orang tidak ketahui. Orang tidak akan mengira bahwa aku mempunyai rahasia yang sangat besar yang semua orang tidak wajib untuk tau jika pun orang tau, semua orang akan tidak percaya dengan rahasia ini.
Sungguh memalukan.
Tok..tok..tok..
“Masuk!”perintah ku, aku tidak tau siapa yang masuk, aku tetap melihat pemandangan di luar sana.
__ADS_1
Tidak ada suara, hanya terdengar orang menghempaskan badan ke sofa. Kening ku berkerut, siapa yang masuk lalu duduk dengan segitunya? Sungguh tidak sopan.
Aku langsung memutari kursi ku dan betapa terkejut nya aku siapa yang duduk di sofa itu.
Aku pun langsung berdiri “K-Kania?” aku menghampiri nya lalu duduk di hadapannya. Melihat nya tidak percaya bahwa ia menghampiri ku, aku mengira jika ia masih marah kepada ku terlalu lama. Ternyata tidak, ia menghampiri ku.
Tetapi wajah nya terlihat sangat lesu, sorot mata nya yang rapuh dan tidak ada senyuman cerah yang biasa aku lihat sebelum nya. Sebenarnya ini hanya perasaan aku saja atau memang ini karena efek Kania yang sedang kelelahan habis pemotretan? Ahh sudah lah, aku tidak ingin memikirkan itu. Aku hanya senang kalau Kania datang kesini menemui aku. Aku yakin bahwa dia juga merindukan aku seperti ia merindukanku, aku sangat yakin untuk itu.
Kania:
Memang sudah niatan ku sehabis pemotretan akan langsung pergi ke ruangan nya. Ya, keruangan siapa lagi kalau bukan keruangan pria yang aku cintai yang sudah mempunyai istri. Fikiran ku terus terganggu oleh nya sewaktu tadi pagi, sejujurnya saja aku tidak tega tetapi mengingat kejadian kemarin yang selalu membuat hati ku terluka.
Tanpa membuang waktu ku yang lama, aku langsung menutup tirai ruangan nya lalu aku kunci pintu nya agar tidak ada yang langsung masuk ke ruangan nya sewaktu aku masih ada di dalam nya. Jujur, itu sangat membuang waktu ku walaupun itu hanya beberapa detik.
Aku melihat Andri yang sedang kebingungan biarkan dia, saat ini aku tidak perduli, toh dia juga tidak memperdulikan perasaan ku. Lalu aku kembali duduk disofa yang dihadapan ku ada dia, aku menghela nafas pelan tetapi sangat panjang.
“Kania? Kamu kenapa? Kamu masih marah sama aku?” tanya nya berderet, lihat lah saja dia, kenapa akhir-akhir ini dia tidak peka sih? Ini membuat aku seperti tidak dihargai oleh sang kekasih. Tentu saja aku masih marah dengannya, bahkan kini kemarahan ku kembali menggebu-gebu kepada nya.
Aku memberanikan menatap kedua matanya, tatapannya yang masih sama, tetapi itu justru membuat aku semakin terluka “Aku sakit Mas, aku sakit berhubungan seperti ini. Kapan kamu akan menikahi ku? Kapan Mas?” aku mencoba menahan air mata ku yang siap keluar kapan saja. Tetapi aku berusaha menahannya, kali ini aku mencoba untuk tegar aku sudah berlatih agar tidak menangis bahkan Vania pun turut membantu ku untuk itu.
Andri terdiam, terdiam sangat lama. Yah, aku tau, ini sikap yang selalu ia tunjukkan kepada ku kalau aku menanyakan itu kepadanya.
__ADS_1
“Mas?” panggil ku lagi, dia mendongak menatap ku yang sedang menunggu jawabannya.
“Kan, bukannya ini kita sudah bicarakan? Tunggu lah sebentar, Mas perlu waktu untuk ini,” entah kenapa jawaban itu pun terlihat sama dengan 2 tahun yang lalu. Aku sudah bosan dan muak mendengar nya.
“Perlu waktu apa lagi sih Mas, sudah hampir 3 tahun loh aku memberimu waktu untuk berfikir! Tetapi kamu masih perlu waktu terus. Apa kamu hanya ingin bermain-main kepadaku? Apa kamu tidak ada keseriusan dalam hubungan kita ini?” suara ku bergetar saat mengatakan semuanya, aku sudah jenuh menunggu sesuatu yang tidak ada kepastiannya. Semua ini selalu menyiksa ku dan selalu menghantui ku.
Andri meraih tangan ku lalu menggenggam nya “Kania, dengarkan Mas ya. Bukan Mas tidak serius sama kamu. Mas serius kok, bahkan Mas juga berniat ingin membangun bahtera rumah tangga bersama kamu. Tetapi Mas perlu waktu lagi Kania, Mas perlu izin dari Keisha.”
Aku menghela nafas kasar, Keisha lagi. Kenapa harus Keisha? Kenapa semuanya harus minta izin Keisha? Tidak bisakah ia langsung menikahi ku tanpa harus menunggu izin dari istri nya itu.
Aku langsung melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan ku, kali ini aku harus bersikap tegas walau menyakitkan bagi ku. Aku pun berdiri begitu juga dengan Andri, aku sudah marah, fikiran ku kali ini sudah melantur kemana-mana. Tidak perlu dengan apa yang ku katakan sekarang, semoga aku tidak menyesali nya.
“Cukup Mas, Kania sudah muak dengan apa yang Mas katakan yang terus berulang-ulang Kania dengar. Ini sudah cukup membuktikan, bahwa Mas—“ aku menggantung kan kalimat ku, Andri terlihat menunggu.
“Bahwa Mas hanya mempermainkan aku dan tidak benar-benar mencintai ku. Mas hanya mencintai istri Mas dan Mas tidak pernah mempedulikan hak ku. Baiklah, sekarang itu terserah Mas semua. Tapi aku tidak bisa, karena aku ingin putus dari Mas. Kita putus mas!”
Ya, ini lah pilihan yang sedang ku ambil, yaitu putus. Langsung saja aku beranjak hendak meninggalkan nya, Andri menarik tangan ku dan aku hanya bisa menepis tangannya.
“Tolong Kan, Mas tidak ingin putus denganmu. Kita bicarakan baik-baik ya?”
Sudah tidak ada kata baik-baik lagi, semuanya sudah selesai dan kisah ini telah berakhir seperti ini. Aku menghiraukan perkatannya dan pergi meninggalkannya, tanpa aku sadari air mata yang sudah berkumpul akhirnya turun juga dengan derasnya. Sangat deras, dan sangat menyakitkan.
__ADS_1