
“Maksiat dulu baru taubat, atau taubat dulu baru maksiat? Yang mana harus aku milih diantara dua pilihan itu? Tolong beri aku jawaban untuk pilihan ini!”
-Andika Fortunio Bagaskara
Andika:
Perancis, ibu kota Paris.
Disinilah aku tinggal untuk beberapa tahun terakhir, aku mengayom pendidikan di sebuah Universitas yang bernama University of Paris. Universitas ini hasil peleburan dari tiga institusi pendidikan tinggi di Paris, yakni Paris Diderot University, Paris Descartes University, dan Institut de physique du globe de Paris. Disini banyak menawarkan pengajaran dari berbagai jurusan.
Jangan tanya aku masuk bagian mana di jurusan ini, tentu saja aku masuk bagian ekonomi. Di keluarga Bagaskara kebanyakan otak bisnis, jadi untuk yang lain aku tidak terlalu tertarik.
Dari pihak orang tua ku dan abang ku sih tidak terlalu menuntut aku untuk masuk ke dunia bisnis hanya saja, dari kecil aku selalu melihat pekerjaan ayah yang menurut ku asik, jadi aku pun ikut terjun ke dunia bisnis juga.
Selain itu karena aku sudah memahami selak-beluk bisnis dan aku pun bercita-cita akan menjadi seorang pemimpin di suatu perusahaan ternama. Toh, basic yang kumiliki sejak dulu pun ialah bisnis.
Kecintaan ku kepada bisnis pun semakin besar, melihat ayah ku dan abang menjadi seorang pemimpin di perusahaan yang sangat terbilang sukses. Dan aku, menjadikan mereka berdua sebagai panutan untuk ku. Panutan dalam mengejar kesuksesan ku seperti saat ini, hingga akhirnya aku pun mendapatkannya.
Saat ini aku mengambil pascasarjana nya di Paris, sedangkan S1 nya aku mengambil di Amerika, yaitu University Hardvard. Kenapa aku tidak melanjutkan di Hardvard saja? Itu dikarenakan aku terlalu bosan pada suatu tempat hingga aku ingin merasakan tempat lainnya.
Jiwa yang ada pada di diri ini ialah jiwa petualang, aku paling suka menjelajah dan paling suka dengan yang namanya suasana baru. Dan ini lah aku sekarang, dari Amerika aku langsung pindah ke Paris. Menjalankan hidup sebagai anak rantauan.
Walaupun aku berada disini, aku tidak ingin membuang waktu ku hanya dengan yang namanya berjalan-jalan, ataupun berfoya-foya. Aku menghabiskan waktu ku dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti berbisnis kecil-kecilan namanya.
Uang yang selalu dikirim oleh Andri, tak jarang aku hanya menggunakannya sedikit saja apabila ada keperluan. Selebihnya masih ada kusimpan dalam tabungan.
__ADS_1
Saat ini aku sudah menyelesaikan pendidikan ku, sebentar lagi aku akan mendapatkan gelar master ku, alhamdulillah ku syukuri untuk itu. Hingga kini, aku masih di beri kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dapat menghirup udara segar dimanapun aku berada.
Jika wisuda ku selesai dan aku mendapatkan ijazah ku, aku langsung pulang ke Indonesia dengan ibu ku. Meneruskan binis, ralat deh, aku akan membuka perusahaan dari hasil jerih payah ku sendiri.
Kalau abang ku itu, dia hanya meneruskan bisnis dari ayah ku saja dan dia meneruskannya hingga sebesar dan sesukses sekarang. Andri patut diacungkan jempol karena dia, amanah yang diberi oleh ayah dipegang dengan baik dan dilakukan dengan baik.
Karena wisuda ku sudah berada di depan mata, sebenarnya aku ingin sekali membawa dua pasutri yang paling romantis sepanjang masa ke kota romantis ini. Tapi apalah daya, karena Andri mempunyai kesibukan luar biasa jadi aku pun mengurungkan niat itu.
Mau tidak mau, ibu pun yang harus kesini untuk menghadiri acara wisuda. Tidak terlalu kecewa, hanya ya saja, entah lah, aku tidak tau dengan perasaan aku sekarang.
Tetapi yang jelas, saat ini aku sangat bahagia karena ibu masih diberi kesehatan oleh Allah, hingga ia masih bisa melihat ku wisuda dan ia bisa hadir disini bersama para orangtua lainnya. Walaupun ayah sudah meninggal tapi setidaknya ibu masih ada di dunia melihat aku sukses di depan mata.
Sekarang aku dan ibu berada di sebuah hotel yang akan ditempati oleh ibu untuk sementara waktu, kalau aku sebentar lagi akan menyusul karena barang-barang ku masih ada di asrama belum ku kemas sama sekali.
Resepsionis memberikan kunci kamar kepada ku, aku berbalik dan melihat ibu yang sedang melihat interior hotel dengan senyuman yang merekah di wajah nya. Alhamdulillah, aku masih melihat senyuman itu. Senyuman yang bertahun-tahun tidak pernah aku lihat selama ini, semenjak aku sibuk dengan pendidikan ku.
“Bu,” aku menghampiri ibu, ia pun menoleh dan tersenyum. Sungguh cantik, kufikir.
“Hotel Matheo Villas and Suites? Nama yang bagus,” ujar nya.
Walaupun ibu sudah menginjak umur tua, tetapi dalam membaca dia masih ahlinya.
Alhamdulillah, puji syukur ku lagi.
“Ibu suka?” tanya ku.
__ADS_1
“Suka, tapi kenapa harus di hotel sini? Sepertinya disini mahal, apakah tidak membuang uang kalau begini?” tanya nya.
Aku meraih tangan ibu, menggenggam nya lalu menuntun nya menuju ke lift, saat lift terbuka kami pun langsung masuk, “Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak nya bu, dimana-mana yang nama nya penginapan di hotel itu pasti mahal. Ibu jangan fikirkan harganya, ibu nikmati saja. Ade yakin kok, ibu pasti sangat suka, selain enak ditempati dan wilayahnya juga sangat strategis,”
Ibu hanya mengangguk, kini kami berdua pun diam sambil menunggu di lift terbuka. Aku mencari nomor kamar ibu, saat aku sudah menemukan kamar nya langsung saja aku mempersilahkan ibu masuk.
Tempat nya sangat besar, ruangan di dalam pun sangat lengkap, bahkan bahan makanan sudah disediakan. Tentu saja bahan makanan itu halal semua, jadi ibu tidak perlu untuk keluaran dari hotel ini.
“Ibu, ayo kesini,” ajak ku sambil menarik ibu.
Ibu pun hanya bisa melihat ku dengan keheranan, tentu saja ada yang ingin aku perlihatkan ke ibu. Aku ingin ibu menikmati nya dengan pemandangan ini.
“Ada apa De?” tanya nya tidak sabaran.
Aku hanya bisa tersenyum, lalu aku membuka tirai yang menutup jendela besar itu. Dan terlihat lah jelas pemandangan yang sangat indah didepan mata.
Ibu terperangah melihat nya, sekaligus takjub, ia melihat ke arah ku “Menara Effeil?” tanya nya.
“Iya bu, jadi setiap detik ibu bisa melihat Menara Effeil disini, bagaimana? Ibu suka?” tanya ku balik.
“Ibu suka, suka banget, makasih De,” ibu langsung memeluk aku.
Aku pun membalas pelukannya sambil mengelus punggung nya “Sama-sama bu.”
Walaupun hanya sekecil ini, setidaknya aku sudah membuat ibu tersenyum hari ini.
__ADS_1