
“Hati yang pernah digenggam oleh orang lain, kini aku telah menggenggam nya juga. Prinsip ku, aku tidak akan melepaskan hati itu dari genggaman ku. sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan nya lepas.”
-Kania
Keisha:
Eung...
Aku menggeliat dan mengucek kedua mata ku. Berusaha membuka kedua mata ku yang terasa sangat berat. Rupa-rupa nya aku ketiduran, ponsel masih berada di genggaman ku. Niat untuk menunggu kabar Andri pun tidak terselesaikan. Sejak tadi aku terus memegang ponsel ku tanpa berniat melepaskannya.
Aku mencoba menghubungi ia tetapi tidak ada nada sambung dari sebrang sana. Hanya dari pusat saja yang memberi tau bahwa nomor dia sedang tidak aktif.
Aku tidak tau kenapa ia tidak bisa dihubungi begini, memang sih baru 2 hari ia berada di Paris. Tetapi ia tidak mengabari ku sama sekali membuat aku menjadi khawatir. Mencoba menghubungi ibu takut mengganggu waktu nya disana, jadi aku hanya menghubungi Ade saja.
Ternyata dia pun sama sibuk nya karena dia ke salon sedang perawatan diri, hahaha, ada-ada saja adik ipar ku itu. Setidaknya itu sedikit menghibur hati ku yang sedang gundah-gulana tidak menentu.
Mendadak aku merasakan haus, air di gelas yang ku sediakan di kamar pun sudah habis. Aku pun beranjak dari kasur dengan langkah gontai. Padahal hari ini aktivitas ku tidak lah terlalu berat, hanya di pagi hari pergi melakukan konsultasi seperti biasa. Lalu setelah pulang dari konsultasi aku pun melakukan kesibukan sendiri di dalam rumah seperti membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiram tanaman dan lain-lain.
__ADS_1
Sebenarnya semua sudah ku kerjakan, hanya saja aku menyibukkan diri karena fikiran ku terus terngiang-ngiang dengan Andri. Karena bagaimana juga jika aku berdiam diri dan terus berfikir yang tidak tentu arah membuat aku juga lelah walau tanpa harus bekerja fisik.
Dan ini lah aku, aku pun sudah merasakan lemas yang luar biasa pada sekujur tubuh ku. Aku pun kembali ke kamar dengan gelas yang sudah terisi dengan air, lalu aku meletakkan di nakas yang ada bingkai foto pernikahan ku dengan Andri.
Entah disengaja atau tidak nya, tiba-tiba tangan ku itu tersenggol ke bingkai foto itu dan terjatuh ke bawah hingga kaca pun nya pun langsung pecah.
Aku pun terlonjak kaget, “Ya Allah!” pekik ku sambil memegang dada ku yang tiba-tiba terasa sangat sesak.
Ada apa ini? Kenapa firasat ku tiba-tiba tidak enak seperti ini? Apa yang sudah terjadi?
Dengan sigap, aku langsung membersihkan serpihan kaca di atas foto pernikahan ku. Namun, malah tangan ku yang tergores oleh kaca bingkai itu.
“Aw... shh...” aku mengerang, keluar lah darah di jari telunjuk ku. Tidak lah banyak, namun kenapa rasa nya menyakitkan seperti ini.
“Ya Allah, ada apa ini? Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak seperti ini? Kenapa dada ku sesak, ada apa sebenarnya?” aku terus mengelus dada ku yang semakin menyesakkan tiap detik nya.
Langsung aku mengambil foto pernikahan ku dan ku letakkan di atas paha sambil mengusap foto itu, “Ya Allah, tolong jaga suami ku disana. Aku tidak bisa menjaga nya seperti menjaga ia disini, hanya Engkau lah yang dapat menjaga ia walau ia jauh dari ku. Ku mohon, lindungi lah ia dari mara bahaya apapun,”
__ADS_1
Aku berharap semoga Sang-Khaliq mendengarkan doa ku. Bagaimana pun juga, perasaan wanita lebih kuat dibandingkan perasaan manapun. Memang sudah dari kemarin aku tidak mendengar kabar nya ditambah pula dengan hari ini. Jadi, aku takut ia kenapa-kenapa disana.
Semoga ia tidak terjadi apa-apa disana, ia selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Dan semoga ia cepat pulang, karena aku sangat merindukan ia. Merindukan kasih sayang nya yang tiada tara.
Aku kembali membaringkan tubuh ku sambil melihat foto pernikahan ku dengan Andri yang sedang tersenyum sangat puas menghadap kamera. Aku yang bersandar pada bahu nya dan dia merangkul ku dengan erat nya.
Aku hanya bisa tersenyum mengenang masa-masa itu , masa dimana kami sedang dilanda oleh cinta. Dan masa dimana kita pacaran setelah menikah. Sungguh, masa-masa yang membahagiakan buat kami berdua.
Ku elus wajah Andri di foto itu, “Aku mencintai mu Mas, sangat mencintai mu. Aku ingin curhat boleh gak? Saat ini aku sedang melakukan terapi agar aku bisa memiliki anak Mas. Bisa atau tidak nya aku tidak tau, itu masih menjadi rahasia Allah yang tidak aku ketahui. Aku sebagai manusia hanya bisa berusaha, berdoa dan berikhtiar dengan semua yang sudah ku usahakan diri. Biarlah nanti Allah yang memberikan jawaban di segala penantian yang Allah berikan kepada ku,” aku menghela nafas, entah kenapa rasa nya menyesakkan saat berbicara seperti ini.
“Kamu mau tau Mas? Dokter yang sdang menangani terapi ku ialah Haikal. Teman masa kecil ku sekaligus pria yang pernah menjalankan masa ta’aruf dengan ku. Awalnya aku sangat kaget karena ia menjadi dokter konsultasi ku. Tetapi mau bagaimana lagi, dia lah yang akan sering bertemu dengan ku. Kamu wajib banget tau ini Mas, aku rela memutuskan ta’aruf dengan Haikal walaupun waktu ta’aruf ku dengan Haikal belum selesai. Tetapi aku memutuskannya karena waktu itu kamu datang melamar ku,”
Aku menatap langit-langit kamar ku, sambil meletakkan foto itu di dada ku. “Waktu itu aku menerima lamaran mu dan memutuskan ta’arud dengan Haikal. Aku tidak tau bagaimana perasaan Haikal waktu itu karena aku memutuskan nya dengan sepihak. Padahal waktu yang sudah ditentukan ta’aruf dengannya itu selama 3 bulan, tetapi aku memutuskan nya pada saat jalan 2 bulan. Kamu mau tau kenapa aku memutuskan ta’aruf itu Mas? Itu karena aku sudah memilih mu, aku merayu pada Sang Pencipta di sepertiga malam ku untuk menjadikan kamu sebagai milikku,” aku memejamkan mata, menyerap semua ingatan ku beberapa tahun yang lalu.
“Dan kini, semuanya menjadi kenyataan. Kamu menjadi milikku dan menjadi suami ku. Kamu juga memantapkan hati dengan memilih ku untuk menjadikan aku istri mu. Hanya berawal dari saling mengagumi satu sama lain tanpa bisa diajak ngobrol langsung. Kini bisa aku miliki sepenuh nya. Terima kasih ya Mas, aku sangat bahagia. Aku lebih merasa sempurna oleh cinta yang diberikan oleh mu. Terima kasih,”
Entah kepada siapa curhatan ini, tetapi curhatan ini sudah ku tujukan kepada suami ku tercinta. Semoga Allah mengirimkan curhatan ini kepada ia disana yang sedang jauh di mata. Amin.
__ADS_1