Simpanan

Simpanan
-Terkuak satu persatu-


__ADS_3

“Cinta itu hanya bisa didapatkan oleh orang yang tulus dan suci didalamnya. Dan cinta akan hancur ketika kedua orang itu berkhianat didalamnya. Sengaja atau tidaknya seperti itulah hukum alamnya.”


-Keisha-


Andri:


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Sudah beberapa kali aku menekan bel apartemen Kania, namun tidak kunjung dibuka. Menghubunginya lewat ponsel pun tidak kunjung diangkat. Kutekan bel sekali lagi, siapa tau ia sedang tidur didalam sana.


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Ya ampun, aku sudah sangat kesal menunggu Kania yang pintunya tidak kunjung dibuka olehnya. Membuat kekhawatiranku kepadanya semakin bertambah.


Langsung saja aku menekan password yang berada digagang pintu apartemennya itu. Sebenarnya aku bisa saja masuk sedari tadi. Namun, walaupun begitu aku harus menjaga etika kesopanan terhadap Kania.


Jika Kania tidak kunjung membuka pintunya, mau tidak mau aku lah yang menerobos ke apartemennya itu.


Benar saja.


Saat aku masuk kedalam apartemennya, terlihat sangat gelap. Tidak ada satu pun lampu yang menerangi ruangannya itu, hingga aku tersandung beberapa kali karena mencari saklar lampunya yang tidak kunjung ketemu.


Ketika aku menekan saklar lampu tersebut, terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan bagiku. Botol bermacam-macam merk arak berserakan dilantai. Aku semakin termangu melihatnya ketika melihat Kania sedang tidur diantara botol yang banyak itu.


Koper semalam sehabis dari Paris kemarin, masih saja berada diruangan itu. Berarti dari kemarin ia hanya berdiam diri diruang tamu ini dan tidak masuk kekamarnya. Dan lebih parahnya lagi ia sedang minum-minum?


Langsung saja aku menghampiri Kania membangunkan Kania yang matanya masih sangat tertutup rapat. Wajahnya yang bengkak seperti habis menangis membuat aku semakin paham kenapa ia seperti ini. Seharusnya disaat keadaan seperti ini aku harus menemaninya tetapi aku malah membiarkan ia seorang diri saja.


Astaga Andri, laki-laki apa kau ini yang membiarkan istrimu terluka sendiri karena ulahmu sendiri. Sungguh bejatnya dirimu ini.


“Kania, bangun, Kan.”


Aku menepuk pipi Kania beberapa kali, namun wanita itu tetap saja tidak bangun. Aku mengguncang tubuhnya. “Kania, bangunlaah!” aku kembali menepuk kedua pipinya itu secara bergantian.


“Bangunlah Kan, ini aku, Andri, Mas mu datang. Apa yang sudah terjadi denganmu?”


Perlahan tapi pasti, Kania membuka matanya yang berat itu. Ketika kedua matanya membuka dengan sangat sempurna. Aku melihat kedua matanya sangat merah. Aku tetap mencengkram kedua bahunya agar ia leluasa melihatku maupun aku yang lebih leluasa melihatnya.


“Kan, kamu minum-minum?”


Kania melihatku dengan tatapannya yang sangat sayu, “Mas,” panggilnya dengan suaranya yang serak.


Aku langsung memalingkan wajahku, bau alkohol dari mulutnya itu menyeruak kedalam hidungku. Sangat kuat, membuat kepalaku menusuk ketika menciumnya. Entah sudah berapa botol minuman yang ia minum hingga membuat ia seperti ini.


“Kamu kenapa minum-minum Kan? Kamu itu wanita, gak baik minum-minum seperti ini! tau kamu?”ucapku merasa kesal melihat sikapnya yang sudah kekanak-kanakkan seperti ini.


“Apa urusannya dengan kamu Mas!” bentak Kania tiba-tiba lalu mendorong tubuhku walaupun tenaga yang dimilikinya terbilang masih lemah.


Kania menyibakkan rambutnya kebelakang sambil tertawa sinis melihatku. Tatapan yang ia berikan kepadaku terasa sangat menusuk dan menakutkan bagiku. Tatapan terluka, benci, marah, kesal dan sedih. Semuanya bercampur aduk didalamnya. Membuat aku yang melihatnya terasa kena dihati ini.


“Hahaha, apa urusan dengan mu jika aku minum Mas? memangnya ada yang melarang jika wanita tidak boleh minum? Apa wanita tidak boleh melepaskan beban dihatinya ini melalui minuman? Apa wanita tidak boleh melampiaskan masalahnya ini hanya dengan minuman? Dan apa itu semua ada urusannya dengan mu Mas?” tanya Kania berderet hingga aku tidak bisa menjawab pertanyaannya itu.


Aku hanya bisa diam dan melihat Kania yang masih menyunggingkan senyuman miring dibibirnya.


“Jawab aku Mas! kenapa kamu hanya diam saja ha! Jawab semua pertanyaanku itu!” teriak Kania sambil mendorong tubuhku berkali-kali namun aku masih tetap dengan posisi dudukku itu.


Aku tetap diam tidak menjawab pertanyaannya itu. lalu Kania pun memutuskan berdiri seketika ia terhuyung, dengan cepat aku menangkap tubuhnya namun ia menepis tanganku.


“Kania, kenapa kamu jadi seperti ini ke aku?” tanyaku sedikit kesal sambil berdiri menyetarakan ia.


“Emang kenapa Mas? apa masalahnya dengan kamu?” tanyanya balik dengan suaranya yang judes itu.


“Tentu saja masalah buatku, kamu adalah istriku Kan! Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawabku!”


Kania tersenyum sinis, “Tanggung jawab? Buat apa kamu tanggung jawab dengan pernikahan yang salah ini Mas? buat apa? seharusnya kamu bertanggung jawab dengan pernikahan mu yang benar itu. Sedangkan kita apa? kita pernikahan yang salah, bukankah begitu?” aku terdiam mendengar setiap perkataannya yang ia lontarkan kepadaku.


Ternyata ia masih mengingat perkataanku yang kukatakan kepadanya sewaktu ditaxi itu. Apakah sebab itu ia seperti ini kepadaku? Tentu saja perkataanku itu salah. Tidak seharusnya aku mengatakan seperti itu kepadanya.


Aku berbicara kepadanya tanpa berfikir yang kedua kali kepadanya.


“Maaf Kan, maafkan Mas karena sudah bilang seperti itu kepadamu. Bukan maksud Mas bilang seperti itu ke kamu. Mas hanya—“ perkataanku langsung terpotong oleh Kania.


“Ahh, sudahlah Mas. untuk apa kamu minta maaf kepadaku dengan perkataan yang sudah kamu ucapkan ke aku. Tidak akan kamu bisa ambil kembali Mas, tidak akan bisa diputar lagi. Semuanya sudah ada disini dan membekas disini,” ia sambil menunjuk dadanya.

__ADS_1


Ucapanku sudah berada dihatinya. Sudah menempel didalam sana. Ucapanku itu cukup membuat hubungan kita menjadi seperti ini. Hanya pertengkaran yang terjadi untuk saat ini. Sudah tidak ada gunanya lagi. Semua itu karena perkataanku. Yang mengatasnamakan pernikahanku dengan Kania adalah pernikahan dijalan yang salah. Wajar saja ia sangat marah kepadaku.


Perkataan yang dilontarkan Andri dan ibu masih belum hilang sepenuhnya ditambah lagi oleh perkataanku ini. aku benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi oleh Kania.


“Sekarang kamu pulang Mas, untuk apa kamu ada disini. aku capek, mau tidur! Sekarang kamu pergi sana!” Kania mendorong tubuhku menjauh darinya, lalu ia hendak berjalan meninggalkanku menuju kekamarnya. Namun dengan cepat aku menarik tangannya itu tetapi ia menepisnya dengan begitu sangat kasar.


“Pergi!” bentaknya lalu dengan cepat ia masuk kedalam kamar menutup pintu dengan begitu kasarnya.


Aku hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengusap wajahku. Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana kepadanya. Rasanya semua terasa buntu begitu saja. kurasa apa yang kukatakan kepadanya terasa percuma.


Perkataanku bagaikan angin olehnya.


Kalau sudah seperti ini, percuma saja aku disini. Ia tidak memaafkanku dan malah mengusirku keluar dari apartemennya. Kurasa dengan aku pergi dan membiarkan ia sendiri membuat ia senang. Tidak apa, yang penting aku membiarkan ia menenangkan emosinya yang sedang meledak-ledak. Biarlah saat ini aku mengalah demi keselamatan hubungan ini.


Kania:


“Hiks...” suara isak tangisanku terdengar dan menggema dikedua telingaku.


Aku menutup mulut dengan kedua tanganku agar isakan ini tidak keluar. Namun tidak bisa, ia malah keluar begitu saja beserta air mata yang sangat deras membasahi kedua pipiku.


“Kamu jahat Mas, tega kamu bilang seperti itu kepadaku.”


Air mataku pun turun. Aku sambil memukul pelan dadaku yang terasa sangat menyesakkan bagiku. Rasanya didalam sana sangat sakit, perih dan terluka sangat hebat. Aku ingin mengeluarkan rasa itu, akan tetapi tidak bisa dan aku tidak tau bagaimana caranya.


Ditambah Andri datang ke apartemenku membuat rasa itu kembali menyesakkan dihati ini. Kejadian demi kejadian di Paris berputar begitu saja diotakku. Perkataan demi perkataan terngiang-ngiang ditelingaku membuat aku menutup rapat-rapat telingaku ini agar aku tidak mengingatnya.


Emosi yang sudah kukendalikan agar tidak pecah begitu saja kini kembali meledak-ledak dengan begitu hebatnya. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi itu sendiri. Sudah benar-benar tidak bisa.


“Aggghhh! Kamu jahat Mas!!!” teriakku sambil mengambil barang yang berada dikamar dan menghamburkannya ke segala arah.


Suara barang pecah dilantai benar-benar tidak kuhiraukan. Aku melampiaskannya agar rasa ini tidak terlalu menyakitkan untukku.


Aku menarik rambutku sendiri. Frustasi rasanya. Dan sangat menyakitkan.


Selimut kutarik kebawah dan kulempar entah kemana, bantal kuhamburkan juga. Aku merusak semua barang-barang yang berada didalam kamarku. Tidak perduli mereka semahal apa harganya, yang terpenting aku bisa meluapkan semua emosiku ini.


Emosi yang tidak dapat kujelaskan dan emosi yang tidak dapat kulontarkan.


Hanya aku.


Hanya aku yang bisa merasakannya.


Saat ini aku ingin sekali lenyap didunia ini, agar aku tidak merasakan luka dan masalah yang bertubi-tubi. Rasanya aku sudah tidak mampu untuk menjalaninya. Aku sudah tidak kuat untuk menghadapinya.


Karena apa?


Karena aku hanyalah seorang diri tanpa orang lain disampingku. Tanpa orang yang menemaniku. Menemani masa-masa terburukku.


Untuk apa aku hidup, jika ujung-ujungnya aku tetap sendiri. menghadapi kerasnya hidup hanya seorang diri.


Dan apakah seperti ini resiko menjadi istri kedua?


Tidak ada kebahagiaan yang didapatkannya dan hanya kebahagiaan sesaat yang dimilikinya.


Dan seperti inikah masalah yang kudapatkan dari hubungan ku ini?


Masalah dimana aku merebut pasangan orang lain.


Apakah ini semacam karma atau semacam ujian untukku?


Haikal:


“Baiklahh. Saya akan segera kesana, aturlah kembali jadwal pertemuan saya dengan pasien.”


“Iya..iya. yasudah, saya tutup telponnya.”


“Iya.”


Aku mematikan ponselku lalu memasukkan kedalam saku celanaku.


“Huuufftt..” Aku menghela nafas. Rasanya begitu melelahkan namun juga terasa sangat nikmat.


Beberapa akhir jadwalku sebagai dokter sangatlah padat hingga aku sendiri kewalahan mengatur jadwal dengan pasien. Tapi tidak apa-apa, memang seperti itulah tugasnya sebagai dokter.


Dan untung saja, hari ini aku sudah menyelesaikan semua tugasku walaupun terbilang tidak sesuai dengan waktu yang sudah kutargetkan. Aku benar-benar kewalahan dengan semua ini.


Ini saja aku baru menyelesaikan rapat dengan teman seprofesiku di apartemennya. Dan kini aku berjalan menuju ke lift.


Saat aku berjalan menuju ke lift, aku melihat seorang pria yang saat aku kenal. Postur tubuhnya sangat kukenal, aku beberapa kali mengernyitkan dahiku ingin mengetahui pria yang ada dihadapanku ini. Karena sedari tadi ia berjalan sambil menunduk.

__ADS_1


Ketika ia mendongakkan kepalanya, baru lah terlihat jelas wajahnya itu. Tebakanku sangat benar. Aku mengenali orang yang ada dihadapanku ini. Ia pun menghentikkan jalannya, kurasa ia mengenaliku walaupun hanya sekali lihat.


“Andri,”


“Haikal.” Ucap kami serempak.


Aku pun menghampirinya dan tersenyum ke arahnya. Ia pun membalas senyumanku. Kami berdua saling berjabat tangan. Walaupun ia menikahi mantan wanita yang pernah aku ajak ta’aruf, tapi tidak ada sedikitpun rasa dendam yang kumiliki dihati ini. Aku benar-benar mengikhlaskannya walaupun aku selalu mengingatnya hingga kini aku tidak bisa membuka hatiku untuk wanita manapun.


“Hahaha, apa kabar Kal?” tanya Andri dengan wajahnya sumringah.


“Alhamdulillah, aku baik Ndri. Bagaimana juga dengan kabar mu? Apakah baik-baik saja?”


“Seperti yang kamu lihat, aku sehat.”


“Alhamdulillah kalau begitu,”


“Oh ya, ngomong-ngomong kamu ngapain disini?” tanya nya sambil melihat tas laptop yang sedang kujinjing.


“Ahh ini, aku habis rapat di apartemen temanku. Kebetulan apartemennya disini. Kalau kamu bagaimana? Apa kamu punya apartemen disini?”


“Ha? Ohh, tidak. Aku gak punya apartemen. Aku juga pergi ketempat teman,”


Aku mengangguk mengerti dengan perkataannya. “Jadi, sekarang kamu sudah kerja dimana Kal?” tanya Andri.


“Aku bekerja disalah satu rumah sakit Harapan Bunda, Ndri.”


“Oh, begitu. Kapan-kapan mampirlah ke kantorku. Kantorku tidak jauh dari apartemen ini,”


“Insya Allah aku bakal mampir kesana, jika aku ada waktu senggang aku bakal kesana. Hanya saja untuk akhir-akhir ini aku tidak sempat untuk kemana-mana. Jadwalku terbilang sangat padat.”


“Hahah, sudah tidak heran lagi. Namanya juga dokter, profesi yang sangat sibuk dan tidak bisa meninggalkan satu pun pasien.”


“Hahahah itu kamu tau.”


Saat lift terbuka, barulah kami berdua masuk kedalam lift.


“Lagian, istrimu termasuk salah satu pasienku kok.”


“Hah?” ucap Andri terkejut dengan setengah mulut terbuka.


Ia melihatku dengan tidak percaya. Aku tidak mengerti dengan tatapan mu itu. Apakah ia tidak tau jika selama ini istrinya berkonsultasi kepadaku tentang kemandulannya itu.


“Kamu tidak tau tentang ini, Ndri?” tanyaku berusaha meyakinkan.


Ia menggeleng pelan. Oke, kenapa Keisha tidak memberi tau suaminya tentang hal sepenting ini. Padahal ini sangat penting dan harus butuh kerja sama baik dokter, pasien dan pasangan pasien. Entah kenapa wanita itu tidak memberi tau suaminya, apa dia sengaja atau kah lupa? Mungkin saja dia lupa, bisa jadi begitu.


“Untuk apa Keisha menjadi pasien mu, memangnya istriku sakit apa? Dan kenapa ia tidak memberi tau kepadaku?” tanya Andri berderet, terlihat wajahnya sedang kecewa dan kebingungan.


“Keisha sedang melakukan konsultasi kepadaku untuk menghilangkan kemandulannya itu agar ia bisa memiliki anak.” Mendengar penjelasan singkatku ini, Andri langsung terdiam. “Ya ini sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, hanya saja kami melakukan konsultasi terkadang 2 hari sekali atau setiap hari. Semua itu tergantung dari pertemuanku dengan pasien lainnya. Selama ini perkembangannya masih terbilang sedikit dari yang aku targetkan itu, tetapi kemungkinan saja penyakit mandul istrimu itu bisa dihilangkan.”


Andri terdiam lalu menoleh kepadaku, “Apa Keisha sangat ingjn memiliki anak?” aku menggangguk.


“Tentu saja, dia sangat memiliki anak. Hingga dia mengikuti aktivitas yoga untuk kesuburan tubuhnya,”


“Tapi aku tidak berkeinginan memiliki anak,” ucap Andri yang membuat aku seketika terkejut.


...


...


...


Assalamualaikum semuanya.


Apa kabar 😁


Semoga semuanya baik-baik saja ya, hehehe. Maaf udah hampir setahun, author gak up. Lebih tepatnya hiatus sementara, wkwkwk.


Bukan bermaksud ingin meninggalkan cerita ini begitu saja. Memang waktu itu ada sedikit kendala sama cerita ini. Dan pula author ada kesibukan dikehidupan nyata. Jadi, mohon maaf buat para readers yang sudah menunggu dengan sangat setia nya hingga sekarang.


Dan terima kasih sudah menunggu dan tetap setia di cerita ini. Saya sangat berterima kasih 😁.


Insya Allah tetap up cuman tidak rutin ya.


Apalagi saat ini tengah hamil jadi tergantung kondisi dan suasana saja.


Terimaa kasih ❤


Selamat membaca semuanya.

__ADS_1


Love you 😍


__ADS_2