Simpanan

Simpanan
-Kemarahan seorang ibu-


__ADS_3

“Memang benar kata Dilan, jika rindu itu berat. Aku pun merasakannya, menanggung rindu yang tiada tara nya. Hal yang paling ku syukuri ialah, untung saja rindu itu tidak membunuh ku secara perlahan. Atau aku akan mati di dalamnya.”


-Keisha


Andri:


“Astaga, bagaimana ini Kan? Aku harus bilang apa sama ibu?” kepanikan ku sekarang membuat aku tidak dapat berfikiran dengan jernih. Aku tidak tau kenapa aku bisa panik begini, yang aku tau rasa panik ku ini bercampur menjadi satu yaitu takut. Kania berusaha menenangkan ku tetapi aku sendiri yang tidak dapat tenang.


“Yaudah, Mas, angkat aja telponnya. Siapa tau di sana terjadi sesuatu kan?”


Aku pun mengangguk, benar juga apa yang dikatakan Kania. Sedari kemarin juga aku tidak mengabari Keisha, mungkin dia sekarang berada di rumah ibu dan menyuruh ibu menghubungi ku. Bjsa jadi bukan?


“Mas, ayo lah, angkat,” Kania menyadarkan aku dari lamunan ku.


“Hem, tapi masalahnya Mas tidak memberi tau ibu kalau Mas ke Paris.”


Kening Kania mengkerut, “Lalu, masalahnya?”


Aku hanya bisa mengusap wajah ku dengan kasar, ponsel ku sedari tadi berdering belum ku angkat sama sekali. Saat ini aku bingung mau berkata apa dengan ibu. “Masalahnya jika Mas ke luar negeri, Mas pasti bilang ke ibu,”


“Berarti pas Mas ke Paris ini gak kasi tau ibu Mas?” aku menggeleng lemah.


Ia hanya bisa menepuk jidat nya, “Ya ampun Mas, kenapa Mas gak kasi tau ibu Mas sih. Kalau begini gimana dong?” kini, ia pun ikut panik sama seperti ku.

__ADS_1


Saat kami berdua sama-sama panik, deringan di ponsel ku pun seketika mati. Langsung saja Kania merebut ponsel ku dan menonaktifkan. Kami berdua langsung menghela nafas lega. Aku terduduk di kasur karena rasa lemas pada kedua kaki ku. Sedangkan Kania berkacak pinggang dan menatap ku dengan tatapan tajam nya.


“Ada apa?” tanya ku tidak mengerti dengan tatapannya itu.


“Sekarang Mas harus berfikir bagaimana menjelaskan ke ibu Mas sesampai di sana. Mas sudah buat masalah dengan ini,” perintah Kania.


“Iya..iyaa,” ucapku lemas.


Baru saja dimulai, masa harus berantakan seperti ini sih. Aku pun kenapa bisa seteledor ini. Kenapa juga aku bisa lupa memberi tau ibu? Karena bagaimana pun juga aku sangat takut kepada ibu. Apabila aku berbohong, ibu pasti akan tau segalanya.


Kebohongan yang ku pendam pasti akan terbongkar saat itu juga. Itu lah yang membuat aku takut sendiri saat ibu menelpon ku. Hah! Kini aku harus mencari alasan yang logis untuk saat ini. Semoga ibu tidak mengetahui jika aku sedang berbohong.


Andika:


Ibu yang baru saja solat ia melipat sajadah nya dan mukena nya, ia memasang wajah kesal nya. Aku yang melihat nya sangat heran, semenjak kapan ibu mempunyai ekspresi seperti ini? Padahal ibu dikenal tidak gampang kesal dengan keadaan apapun.


“Sekarang kita sama-sama di Paris, kenapa susah untuk di hubungi sih? Padahal ibu cuman mau ngasi tau kalau besok, kamu wisuda. Siapa tau dia bisa menghadiri wisuda kamu, adik nya yang bertahun-tahun tidak pernah pulang ke Indonesia. Apa dia tidak merindukan adik nya?” gerutu ibu sambil duduk di sebelah ku.


Aku pun tersenyum sambil mengelus punggung nya, “Sabar bu, siapa tau abang memang benar-benar sibuk. Kan ibu tau sendiri kalau perusahaan abang sedang berada di puncaknya, jadi wajar saja jika abang sampai gak bisa mengangkat telponnya.” Pasti saat ini ibu sedang berada masa-masa kesal nya. Bagaimana pun juga aku sebagai anak hanya bisa menenangkan dan mendinginkan suasana hati ibu.


Ibu memandangi ku, “Kamu gak dengar kata kakak ipar mu kemarin itu De? Bahkan abang mu saja tidak menghubungi kakak ipar mu hingga sekarang. Suami macam apa dia hah?!” aku rasa kekesalan ibu berubah menjadi kemarahan yang sedang meluap dan siap meledak kapan pun juga.


“Ibu, udah ya, jangan difikirin. Kita harus berfikir positif kalau abang memang benar-benar sibuk dan gak di bisa dihubungi untuk saat ini. Jangan berfikirin yang enggak-enggak bu, gak baik. Ibu juga gak boleh banyak fikiran. Nanti ibu sakit, besok hari bahagia Ade, masa ibu harus sakit sih. Kan gak asik,” aku memasang tampang wajah cemberut, bermaksud agar kekesalan ibu mereda saat ini juga.

__ADS_1


Jangan ditanya berhasil atau tidak nya. Tentu saja aku berhasil. Ia menghela nafas panjang lalu beristigfar sambil mengelus dada nya.


Lalu ia melihat ke arah ku dengan senyuman tipis di wajah nya. Ia meraih tangan ku dan menggenggam dengan erat nya. Tangan ibu yang dulunya besar kini gantian tangan ku yang besar hingga mampu menggenggam seluruh tangan ibu.


“De,”


Aku menatap ibu menembus manik-manik mata ibu yang sudah terlihat sayu, mungkin ini efek umur yang terbilang sudah tua. “Heum? Kenapa bu?” tanya ku.


“Nanti jika kamu sukses seperti abang mu. Tolong, De, jangan lupakan keluarga mu. Selalu pentingkan keluarga mu daripada pekerjaan mu. Bagaimana pun juga sebelum kamu sukses, ada keluarga yang menemani masa-masa sulit mu. Jadi, selalu pentingkan keluarga. Jangan hanya mementingkan pekerjaan yang tidak ada kata habisnya,” Ibu menjelaskan lumayan panjang lebar kepada ku.


Aku pun yang mendengar nya hanya bisa mengangguk paham akan maksudnya. “Mohon bimbingan ibu juga ya. Doakan Ade juga ya, semoga Ade tidak gila dengan yang namanya pekerjaan. Hingga Ade masih bisa membagi waktu Ade dengan keluarga Ade.”


“Ibu selalu mendoakan mu nak, selalu. Mendoakan anak-anak ibu agar dapat selalu bersama ibu hingga hari tua ibu. Tetapi ibu tidak yakin apakah anak sulung ibu itu bisa bersama ibu hingga akhir hayat ibu. Sekarang saja dia sudah tidak bisa meluangkan waktu nya dengan ibu, selalu pekerjaan yang ia kedepankan,”


“Ibu janga bicara begitu hem, kita akan bersama-sama bu sampai di surga nya Allah. Nanti kita kasi pengertian ke abang ya tentang ini. Insya Allah abang mengerti kok bu, dan dia akan instropeksi diri dengan apa yang sudah ia lakukan sekarang,”


“Hem, kamu saja yang beri tau abang mu itu. Masalahnya jika ibu yang bicara, melihat wajah nya saja ibu sudah kesal,”


Ya Allah, aku tidak tau apa yang sudah terjadi di sana selama aku diluar negeri. Kenapa ibu bisa bersikap seperti ini?


“Iya bu, nanti ade yang kasi tau. Sekarang ibu tidur ya, besok pagi kita udah harus ada di auditorium,” ibu pun mengangguk lalu naik keatas kasur. Sedangkan aku hanya bisa melihat ibu dengan fikiran yang bermacam-macam di otak ku.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Andri, hingga membuat hati seorang ibu kesal seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2