
“Penggoda akan hancur bersamanya sang pengkhianat. Apa memang seperti itu? Atau hanya pepatah saja? Semoga itu tidak terjadi pada hidupku.”
-Andri
Keisha:
Ceklek...
Aku membuka pintu rumah, terlihat gelap, sunyi dan sepi. Aku hanya bisa menghela nafas lalu masuk ke dalam rumah. Tidak lupa aku menghidupkan lampu di ruang tamu, terasa sangat sepi karena tidak ada siapapun di rumah ini. Hanya ada aku seorang disini. Tanpa ada yang menemani.
Kuhempaskan badan ke sofa yang terasa sangat empuk aku menghela nafas lagi. Jika sendiri seperti ini aku merasa seperti orang kesepian, kalau pun ada Andri aku tidak akan merasa sepi begini. Seandainya Allah memberikan aku anak, pasti nya ialah yang akan menemani aku disaat Andri pergi seperti ini.
Tapi apa lah daya, semuanya belum terwujud hingga sekarang. Aku menunduk dan mengelus perut ku perlahan menatap sendu dan membayangkan perut ku yang seakan membesar. “Kamu kapan singgah ke perut mama nak? Kapan kamu akan tinggal di rahim mama selama 9 bulan? Saat ini mama berjuang agar kamu merasakan tinggal di perut mama, kemana-mana mama membawa kamu, mengelus mu tanpa henti dan selalu mengajak mu ngobrol setiap hari,” aku tersenyum sendu, berbicara sendiri kepada perut ku yang sangat datar.
Tidak terasa air mata ku sudah turun dengan sendiri nya, aku terisak “Mama selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan amanah itu untuk mama. Mama ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mual-mual, nafsu makan berkurang, ngidam di tengah malam, ditendang kamu saat di dalam kandungan, saat kamu bergerak kesana-kesini, saat mama mengaduh kesakitan ketika kamu sudah besar di dalam nya, dan saat mama menangis karena tidak sanggup menahan sakit nya hamil. Mama sangat ingin merasakan itu semua nak, kapan kamu hadir hem? Kamu kapan hadir di dalam perut mama?” aku menangis terisak-isak, sambil membayangkan itu semua yang mungkin ini tidak akan pernah terjadi kepada ku.
Sakit rasanya saat ku membayangkan itu semua, seperti ada duri yang tertancap di hati ku yang paling dalam.
__ADS_1
Lalu aku pun memeluk diriku sendiri, berusaha memberikan kekuatan pada diri ku sendiri sambil mengeluarkan rasa keinginan ku yang setiap tahunnya semakin besar ini. Aku hanya bertanya, kapan? Kapan? Dan kapan keinginan ku ini terkabul kan? Kapan semua ini akan terjadi?
Aku membaringkan tubuh ku disofa, menghapus air mata yang mengalir dengan sangat deras nya. Mungkin selama ini aku menggunakan topeng dihadapan orang lain.
Orang mengira mungkin aku selalu bahagia dengan senyuman yang selalu menghiasi di wajah ku. Nyatanya hari ini, disaat aku sendiri, aku menangis dengan hebat nya
mengeluarkan luka yang begitu besar nya, mengeluarkan rasa sakit penantian yang begitu lama hingga bertahun-tahun lamanya.
Bukannya aku tidak percaya dengan penantian selama ini yang belum kunjung datang kepada ku. Hanya saja, waktu 10 tahun bukan lah waktu yang sebentar untuk menunggu sang buah hati. Sudah beribu cara dan beribu usaha agar aku bisa memiliki seorang anak. Nyatanya hingga saat ini usaha ku ini belum membuahkan hasil.
Hingga Andri pun mungkin merasa lelah dengan usaha yang sudah kita lakukan selama 10 tahun ini. Tetapi walau begitu, ia tidak pernah menunjukkan rasa lelah nya itu dihadapan ku. Dia selalu mengatakan, “Sabar sayang, Allah pasti akan memberikan kepercayaan untuk kita. Kita hanya perlu berusaha, berjuang dan berdoa untuk mendapatkan itu semua. Jangan pernah putus asa, terus lah kuat dan semangat demi aku.”
Menangis dan terluka untuk yang keberapa kali nya. Biarlah rasa sakit ini, tangis ini hanya Allah yang tau, hanya rumah ini yang mendengar. Aku tidak ingin membuat semua orang tau, bahwa aku menyimpan pilu yang mendalam di dalam hati ku.
Merasa lelah dan merasa sudah banyak air mata yang ku keluarkan, aku memutus untuk tidur disini dengan meringkukan badan ku. Kurasa, menangis sebentar saja membuat hati ini menjadi sedikit tenang dan lega. Tidak apa-apa Keisha, kau perlu menangis sebentar saja, kau tidak perlu sok kuat dan sok tegar di hadapan orang banyak.
Karena hati mu bukan sekuat baja, hati mu bukan sekuat besi yang berdiri dengan kokohnya. Kau perlu rapuh, jatuh dan terluka. Tetapi ingat lah, kau perlu bangkit dari keterpurukan ini, tidak perlu berlama-lama untuk menikmati semua keterpurukan ini.
__ADS_1
Perlahan aku pun memejamkan mata ku, menghela nafas kasar dan panjang. Membiarkan aku masuk ke dalam buaian mimpi dan membiarkan rasa lelah ku terusir walau hanya dengan tidur. Setidaknya dengan cara ini lah semuanya bakal baik-baik saja, bukan kah begitu?
...
...
...
Mentari menyembulkan sinar nya kedalam ruang tamu, membuat aku mengerjapkan kedua mata ku berkali-kali. Aku pun bangkit dari tidur ku, kepala ku terasa sangat nyeri.
Aku memegang kepala ku dan meringis, mungkin ini karena efek menangis semalaman. Aku tidak tau sudah jam berapa ini, langsung saja aku mencari ponselku.
Aku teringat bahwa aku belum mengeluarkan ponsel di tas kecilku. Langsung saja aku mengeluarkannya dan melihat jam, ternyata sudah jam 9. Astaga, aku bangun kesiangan.
Tunggu! Kalau sudah jam 9 itu berarti Andri sudah sampai di Paris dong? Tetapi kenapa tidak ada notifikasi dari Andri. Setidaknya ia mengirim pesan kepada ku kalau tidak bisa menelpon ku, kalau dia sudah sampai di disana.
Aku tidak bisa menunggu begini, langsung saja aku mencari nomor Andri dan menghubungi nya. Terdengar nada sambung disana, aku pun menggigit jari ku tanda bahwa aku sedang menunggu dan tidak sabar ingin mendengar suaranya. Suara berat itu, suara yang mampu membuat aku selalu merindukannya disaat ia jauh dari ku.
__ADS_1
Tetapi Andri malah tidak mengangkat telpon ku. Malah ada nada dari pusat yang menjawab nya, aku menghela nafas lalu ku coba untuk menghubungi ia lagi. Tetap saja, ia tidak mengangkat nya. Hingga untuk ketiga kalinya, ia tetap tidak mengangkat telpon dari ku.
Ada apa ini? Kenapa ia tidak mengangkat telpon ku? Apa ia tidak rindu kepada ku? Apa dia tidak ingin tau keberadaan ku disini? Andri, ketahui lah, bahwa saat ini aku sedang merindukan mu. Sangat.