Simpanan

Simpanan
-Kebimbangan Andri-


__ADS_3

“Orang berkata benar, bahwa cinta itu dikenal sangat buta. Cinta tidak dikenal siapa, bagaimana, kapan, apa dan kenapa. Semuanya mengalir begitu saja, karena pada dasarnya semua orang hanya menjalankan cinta yang datang tanpa permisi lalu pergi tanpa pamit."


-Kania


Keisha:


Aku terus menelpon Andri berkali-kali, namun sayang telpon ku tidak diangkat sama sekali oleh nya. Fikiran ku tidak tenang sedari tadi, aku terus memikirkan Andri, apa yang sebenarnya terjadi dan apakah dia baik-baik saja? Lalu ada dimana dia sekarang?


Saat ini aku hanya bisa meremas kedua tangan ku sambil mondar-mandir di teras berharap Andri pulang ke rumah. Melihat ruangan Andri berantakan begitu, membuat aku yakin telah terjadi sesuatu pada nya tetapi aku tidak tau itu apa. Selama bertahun-tahun aku tinggal dengannya baru kali ini lah Andri seperti ini, itu sesuatu yang sangat membuat aku terkejut setengah mati.


Andri di kenal sabar, tidak gampang marah, dan bisa mengatur emosi nya tidak mungkin hari ini ia menunjukkan sisi yang berbeda membuat aku tidak tau jika kini ia mempunyai sifat yang suka marah. Apa iya dia begitu sekarang?


Aku sudah tidak sabar lagi, aku langsung menelpon Andri lagi walaupun ia tidak mengangkat nya. Aku tidak perduli yang terpenting aku bisa mendengar kabar nya bahwa dia sedang baik-baik saja.


Cukup menunggu lama Andri mengangkat telpon nya, aku sambil menggigit kuku tangan ku karena gregetan. Aku pun sambil mondar-mandir berharap ia mengangkat telponku. Mungkin saat itulah Allah mendengar doa ku, disebrang sana aku mendengar suara berat Andri. Hati ku pun mencelos begitu saja, kekhawatiran ku yang berlebih langsung hilang seketika.


“Halo,”


“Mas Andri, Mas Andri dimana? Kamu baik-baik saja kan? Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang? Kenapa lama banget sih kamu ngangkat telpon aku? Aku khawatir tau Mas! Mas sekarang dimana ha? Biar aku samperin Mas. Kei pengen ketemu sama Mas sekarang juga!”


Terdengar suara tertawa kecil dari sebrang sana ya ampun, suami ku itu masih sempat tertawa di dalam situasi seperti ini. Padahal aku sudah khawatir setengah mati karena nya.


“Mas jangan ketawa ih!” ucap ku lagi dengan kesal.


“Hehe iya maaf istriku. Habisnya istri Mas saat ini lagi khawatir banget ya? Maaf ya, oke deh Mas pulang dulu, gimana? Biar khawatir mu hilang,”


“Bener, kamu pulang?”


“Iya sayang.”


“Emang Mas sekarang lagi ada dimana?”

__ADS_1


“Dihati mu sama difikiran mu,” jawab nya gombal dan langsung membuat kedua pipi ku merona.


“Mas! jangan gombal ih!” ucap ku pura-pura marah, padahal aku sedang menahan senyuman yang ingin meledak saat ini juga.


“Mas gak gombal kok, emang iya kan Mas sekarang lagi ada dihati mu sama ada difikiran mu?”


“Eh? Iya sih.” jawab ku pelan, memang apa yang dikatakan dia benar ada nya. Ahh, suami ku itu tau banget caranya agar istri nya ini selalu tersenyum.


“Udah ah, Mas cepat pulang yaa. Kei tunggu Mas di rumah!”


“Iya sayang,”


“Yaudah, hati-hati di jalan ya Mas.Jangan ngebut!”


“Iyaa,” jawab nya singkat.


“Yaudah, Kei tutup telpon nya,” aku pun hendak memutuskan telpon, namun Andri memanggil ku lagi.


“Kei.”


“Kamu mau tau sesuatu?” tanya nya yang membuat aku sedikit penasaran.


“Mau, apa?” tanya ku cepat.


“Aku mencintai mu, istri ku.”


Langsung saja jantung ku berhenti berdetak begitu saja, kedua pipi ku merona, kedua sudut bibir ku tersenyum mendengar nya.


“Kei juga,” jawab ku cepat lalu ku tutup telpon nya. Aku melempar ponsel ku begitu saja di sofa, aku tidak perduli bagaimana dengan kabar ponsel ku itu. Karena aku sudah sibuk dengan jantung ku yang sudah senam poco-poco. Aku memegang dada ku, benar saja, detak nya tidak karuan. Lalu aku memegang kedua pipi ku yang terasa panas.


Ini kah rasanya cinta walau aku bertahun-tahun selalu bersama nya? Ahh, aku hanya bisa menutup wajah ku dengan bantal sofa. Aku jadi semalu ini, untung saja tidak ada Andri bisa-bisa dia mengejek ku karena malu. Ahh, suami ku itu kenapa selalu bisa membuat aku berbunga-bunga seperti ini? Tidak bisa di bayangkan, bahwa aku juga mencintai nya bahkan sangat mencintai nya. cinta dunia dan akhirat hanya untuk suami ku semata.

__ADS_1


Andri:


“Haaaaaaaaaahh!” aku menghela nafas panjang nan berat, kini aku sudah sampai didepan rumah ku. Jantung ku berdetak tidak karuan, bukan karena aku akan bertemu dengan istri ku melainkan aku takut dengan apa yang akan ku katakan pada nya nanti.


Tadi sewaktu aku diperjalanan pulang, sekretaris ku menelpon bahwa Keisha datang ke kantor dan melihat semuanya. Bukan melihat aku bersama Kania melainkan melihat ruangan ku yang berantakan. Akan aku jelaskan apa ke dia nanti? Karena sebelum nya aku tidak pernah menghancurkan barang. Seemosi apapun aku, aku masih meredam nya tetapi yang tadi masalah nya itu berbeda.


Dengan perasaan yang mantap, aku menjejakkan kaki ku ke dalam rumah. Di otak ku sudah banyak beribu alasan yang akan ku jelaskan kepada Keisha, tentu saja alasan bohong yang tidak berunsurkan fakta sama sekali.


“Mas,” Keisha beranjak dari sofa yang terletak di ruang tamu. Ia melihat ku lalu menghampiri ku dengan wajah khawatir nya.


Aku pun hanya bisa tersenyum tipis “Ayo Mas, kita duduk dulu!” ia menuntun ku lalu aku duduk bersama nya.


Ia meraih tangan kanan ku yang sudah diperban oleh Kania, ia juga tau kalau tangan ku juga sedang luka.


“Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa tangan Mas bisa begini? Lalu, kenapa ruangan Mas tadi berantakan seperti tadi?” lihat lah, dia sudah merecoki ku dengan pertanyaan yang belum aku jawab satu persatu. Aku pun hanya bisa diam tidak menjawab pertanyaannya.


“Mas, Mas begini apa karena karyawan Mas yang sudah mengkhianati Mas?” tanya nya lagi.


Hem, seperti nya pertanyaan Keisha masuk akal juga. Tanpa basa-basi aku pun langsung mengangguk “Mas tadi emosi banget Kei, Mas bingung mau gimana lagi. Karena selama ini dia kepercayaan Mas tapi dia juga lah yang mengkhianati Mas,” jawab ku akhirnya dengan suara lirih. Wahai kaum adam, aku mohon yang ini jangan patut di contoh. Bukan maksud ku ingin berbohong kepada istri ku melainkan aku hanya menyelamatkan perasaannya.


Keisha menatap ku sendu, ia mengelus punggung ku perlahan. Seperti nya ia sudah tertipu dengan kebohongan ku.


“Mas harus sabar, ini cobaan dari Allah untuk Mas agar Mas bisa mampu melewati nya. Selama ini Mas jaya-jaya saja, Mas diberikan semua apa yang Mas inginkan. Dan ini lah tiba saat nya dimana Mas, harus diberikan cobaan sampai mana Mas mampu menjalani nya. Sabar aja mas, gak perlu emosi. Istigfar kalau perlu, karena Allah don’t slepp, Allah tidak akan membiarkan umat nya susah. Kita akan mendapatkan jalan, walaupun itu nanti.”


Saat ia memberikan saran yang berunsur rohani, membuat aku jadi merasa bersalah dengan Keisha. Seketika aku bimbang dan ragu dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini. Apa aku salah? Apa yang ku lakukan selama ini benar? Aku pun tidak paham untuk semuanya.


“Iya Kei,” jawab ku dengan pelan.


“Hem, yaudah kalau gitu Mas istirahat dulu ya. Mas capek kan?” tanya nya.


Aku hanya bisa mengangguk, kini aku tidak dapat menatap kedua mata istri ku karena rasa bersalah ku saat ini yang sangat besar. Mungkin sekarang aku merasa bersalah, tetapi nanti aku akan melakukannya lagi.

__ADS_1


“Yaudah, ayo kita ke kamar!” aku mengangguk. Lalu Keisha pun menuntun ku menuju ke kamar. Sepanjang jalan menuju ke kamar aku hanya bisa melihat wajah Keisha.


Istriku yang percaya dengan kebohongan ku, istriku yang selalu mencintai ku walau aku sudah mempunyai simpanan, istriku yang selalu sabar menghadapi aku dan istriku yang tidak pernah curiga kepadaku walaupun sikap ku yang terlihat mencurigakan buat orang lain. Apa aku harus melakukan perbuatan dosa sejauh ini? Dan apa aku harus menyakiti hati nya? Apa aku harus?


__ADS_2