
“Hidup ku, aku lah yang mengatur, aku pula lah yang menjalankannya. Orang lain? Hanya sok tau tentang hidup ku dan hanya bisa mencampuri urusan hidup ku.”
-Kania
Keisha:
Rumah sakit, hanya bernuansa warna putih, bau obat-obatan yang menyeruak di hidung ku membuat kepala ku menjadi pusing. Mungkin nanti aku akan terbiasa dengan aroma ini karena aku akan sering pergi ke rumah sakit demi konsultasi ku. Andaikan konsultasi ku bukan di rumah sakit melainkan di luar. Tentu saja aku akan senang dan tidak akan mencium aroma ini lagi.
Saat ini aku sedang duduk di kursi, menunggu pasien yang sedang berkonsultasi masih berada di dalam ruangan Haikal. Sesekali aku menghela nafas pelan mengingat dimana tadi Andri tiba-tiba pergi ke Paris tanpa pemberitahuan kepadaku sebelumnya.
Sungguh, ini baru pertama kali nya Andri begini kepada ku. Aku tidak tau kenapa Andri seperti ini ke aku. Biasanya semepet apapun itu, ia akan memberi tahu ku walaupun sehari sebelumnya ia akan pergi.
Tetapi seperti nya hari ini ia tampak berbeda, aku melihat kedua sorot mata nya, tatapan itu kalau ia seperti tidak perduli dengan ini semua. Tatapan itu seperti menyiratkan bahwa seperti ada sesuatu.
Astaugfirullah...
Ada apa dengan diri ini? Kenapa aku selalu cepat berburuk sangka kepada suami ku sendiri? Aku mengusap wajah ku perlahan sambil mengusap dada ku. Ya Allah, tolong lah hamba mu ini, jauhkan dari prasangka yang tidak-tidak.
“Maaf, lama ya nunggu nya?” suara itu membuat aku langsung mendongak.
Setelan jas berwarna putih, senyuman tipis nya dan tidak lupa dengan jambul rambut nya dinaikkan keatas membuat kharisma Haikal mendadak naik berkali-kali lipat. Aku langsung mengalihkan pandangan ku ini tidak membiarkan lama-lama melihat pemandangan yang seharusnya aku tidak lihat.
Bagaimana pun juga aku harus menjaga pandangan ini, melihat sesuatu yang bukan mahram nya itu sudah di larang agama, apalagi diri ini yang masih berstatus istri orang.
Aku pun berdiri “Ah tidak apa-apa kok Dok, enggak lama juga. Saya juga baru datang.” Aku tersenyum.
__ADS_1
Ia menghela nafas lalu memasukkan kedua tangan ke saku baju jas dokter nya “Tidak perlu formal kepada ku Kei, aku jadi merasa tidak enak jika kamu terlalu formal begini,”
Aku terdiam, formal? Seperti nya aku biasa-biasa saja untuk itu.
“Hem, bagaimana hari ini konsultasi nya di luar saja? Kebetulan sehari ini aku mengatasi pasien begitu banyak, hingga membuat aku sumpek di dalam ruangan. Apa kamu tidak keberatan untuk itu Kei?”
Astaga, apa baru saja Allah mengabulkan doa ku? Tadi aku meminta agar tidak berkonsultasi di dalam rumah sakit, dikarenakan aku juga tidak menyukai aroma rumah sakit yang begitu menyeruak. Kini Haikal sendiri lah yang ingin mengajak ku berkonsultasi diluar. Maksud nya, sekalian nyantai?
Melihat aku yang terdiam begitu lama, Haikal pun mendesah pelan “Kalau kamu gak mau, yaudah kita konsultasi disini saja Kei. Ayo kita ke ruangan ku,” Haikal hendak berbalik menuju ke ruangan nya lagi.
“Diluar saja.” Ucap ku dengan cepat.
Haikal langsung berbalik lagi melihat ku dengan senyuman nya. Ya ampun! Ada apa ini? Kenapa aku malah setuju berkonsultasi di luar? Aku pun hanya bisa meringis, merutuki ucapan yang sudah ku lontarkan baru saja.
Agghh! Sungguh menyebalkan.
Saat ini kami berdua sedang duduk di salah satu kafe yang tidak jauh berada di rumah sakit. Kini, aku menghirup udara segar setelah berjam-jam aku berada di rumah sakit. Tidak banyak yang ku bicarakan kepada Keisha tentang konsultasi ini.
Hanya ada beberapa hal saja yang harus ku beri tau untuk nya, selain usaha, makan-makan sehat, pola hidup yang sehat, kesuburan dari suami atau dirinya dan juga disertai doa.
Tetapi bagaimana pun juga jika kita sudah mengikuti semua caranya, apabila Allah tidak menghendaki nya, semuanya tidak akan terjadi dengan sendirinya.
Aku melihat jam arloji ku yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, lumayan lama ku fikir.
“Hem, seperti nya sampai disini saja konsultasi nya Kei. Besok kamu tidak usah datang, datang lah pas lusa.”
__ADS_1
“Terima Kasih Haikal,” ucap nya.
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk “Tapi jangan lupa, kamu harus bayar untuk konsultasi ini, heheh,” aku terkekeh.
Ia pun tertawa kecil, saat melihat tawa nya hati ku seketika berdebar. Aku langsung mengalihkan pandangan ku dan berdehem berusaha menetralkan kegugupan ku ini.
“Haikal,” panggil nya.
“Heuh? Kenapa Kei?” tanya ku.
Ia terlihat menghela nafas, seperti nya ada yang ia ingin katakan, tapi apa? Membuat aku penasaran saja.
“Maaf,” ujar nya.
Loh? Kenapa ia tiba-tiba minta maaf kepada ku? Ada apa? Apa dia membuat kesalahan hingga dia minta maaf kepada ku?
“Maaf, karena dulu aku sudah memutuskan ta’aruf itu. Seharusnya aku menyelesaikannya sampai ke waktu yang sudah kita sepakatkan. Tetapi aku malah memutuskan begitu saja dan menerima lamaran pria lain. Aku tidak mikir jika waktu itu sedang menjalankan ta’aruf dengan mu. Aku terlanjur menyukai pria yang selama ini aku idamkan, dan saat ia melamar ku. Aku langsung menerima nya begitu saja, kurasa saat itu kamu tidak menyimpan benci kepada ku Kal.”
Aku tersenyum, ternyata dia minta maaf karena itu. Haaha, aku kira ada apa. Tapi mendengar penjelasannya saat ini, membuat aku sedikit tenang. Kejadian 12 tahun silam membuat aku sedikit keheranan, kenapa ia memutuskan ta’aruf ini begitu saja dengan tanpa alasan yang pasti.
Kini, aku sudah mendengar jawaban nya dari mulut Keisha langsung, “Aku tidak ingin ada kebencian di antara kita berdua Kal. Kita berteman sejak kecil namun kita harus terpisahkan karena kamu pindah kota. Dan kita bertemu lagi disaat kuliah, tetapi berbeda cerita. Yaitu, kamu ingin menjalankan ta’aruf dengan ku. Tetapi apa lah daya, Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Allah tidak membuka hati ku untuk mu tetapi Allah membuka hati ku untuk Andri.”
Masya Allah, fikiran Keisha ini benar-benar fikiran wanita yang kuidamkan. Teman masa kecil ku sekaligus wanita yang pernah menjalani ta’aruf dengan ku dan kini malah menjadi pasien konsultasi ku ia tetap seperti ini, tidak ada yang berubah dari dirinya.
Aku tersenyum lagi “Tidak apa-apa Keisha, aku tidak membenci pertemuan kita, aku tidak membenci takdir yang sudah Allah gariskan untuk ku maupun untuk mu. Aku menjalani nya dengan sepenuh hati dan aku menyerahkan semua hati ku ke Allah, agar aku tidak terlalu kecewa begitu mendalam dengan apa yang sudah terjadi.” Jelasku kepada nya berusaha meyakinkan ia bahwa aku memang baik-baik saja. Nyatanya, aku tidak baik-baik saja untuk itu.
__ADS_1
“Terima kasih Haikal,” ia sambil tersenyum.
“Sama-sama Kei.” Aku? Hanya bisa membalas senyumannya.