Simpanan

Simpanan
-Andri tidak akan menyerah-


__ADS_3

“Cita-cita ku sejak dahulu ialah, ingin membangun rumah tangga dengan pria yang selalu mencintai aku apa adanya hingga ke Jannah-Nya. Kini aku mendapatkan cita-cita itu, semoga kekal abadi hingga maut memisahkan dan bertemu lagi dengannya di surga nanti.”


-Keisha


Vania:


Terdengar helaan nafas panjang nan berat itu, aku menoleh dan melihat Kania yang sedang memejamkan matanya. Aku rasa dia sedang mengalami masalah yang sangat berat, sehingga helaan nafas itu terdengar jelas di telinga ku. Fisik dan hati nya pun ikut lelah seiring masalah yang ia hadapi. Baru saja ia menyelesaikan pekerjaannya lalu ia pergi ke ruangan pacarnya, entah apa yang sedang ia lakukan aku pun tidak tau.


Sampai kini aku menunggu nya ia bercerita, tetapi sampai ini ia belum mengeluarkan suara juga. Padahal aku sangat ingin tau apa yang sudah terjadi kepada nya hingga ia seperti ini.


Aku pun mendekati nya “Kan, makan dulu yuk. Lo belum makan dari tadi pagi,” Kania membuka kedua mata nya, ia menatap ku dengan tatapan sendu. Astaga, sebenarnya apa yang sudah terjadi ini? Tatapan Kania menyorotkan seperti tatapan orang yang sedang terluka.


Aku yang melihat nya saja merasakan sesak yang luar biasa. Atau memang hanya perasaan ku saja karena masih ada rasa bersalah kepadanya.


Aku meraih tangannya “Kan, ayo makan. Kalau lo gak makan, nanti lo sakit. Yuk, gue bayarin deh, gimana?” tawar ku.


Kania merenung, ia pun berdiri dari duduk nya “Gue gak laper, gue hanya pengen minum kopi.” Kania pun beranjak keluar dari kamar rias.


“Mau kemana?” tanya ku sambil berjalan menyusul nya. Dia tidak menjawab, aku pun mulai geram dengan sikap nya. Langsung saja aku menarik tangannya agar berhenti berjalan.


“Kan, sebenarnya ada masalah apa sih? Lo mendadak aneh begini tau gak sikap nya!"

__ADS_1


Oke, aku mulai kesal dengan nya, setidaknya ia cerita apa yang terjadi agar aku mengetahui permasalahannya. Ini saja dia tidak bicara sedikit pun, itu pun hanya seperlu nya saja.


“Kania, bi—“ kalimat ku terpotong oleh Kania


“Ke kafe!” jawab Kania tanpa menoleh sama sekali, aku hanya diam dan menghela nafas panjang. Lalu aku hanya bisa mengikutinya dari belakang tanpa bertanya-tanya apa lagi.


Mungkin mood nya sangat buruk hari ini, ya sudahlah. Kali ini aku akan menuruti nya.


Andri:


Braaaakkk!!


Suara barang jatuh memekakkan telinga ku, aku tidak perduli, aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Aku hanya bisa menghancurkan semua barang yang berada di atas meja. Emosi ku tidak terkendali, fikiran ku melantur kemana-mana.


Aku hanya bisa mengacak rambut ku frustasi, dada ku bergemuruh sekaligus menggebu-gebu ingin meluapkan semua kekesalan ku, aku menghela nafas kasar beberapa kali. Aku berdiri di tengah barang ku yang hancur berantakan. Lalu aku pun terduduk menatapi apa yang sudah ku lakukan.


Frustasi? Bukan lagi, bahkan aku sudah gila detik ini juga. Bisa di bayangkan, wanita yang aku cintai menyatakan putus kepada ku. Itu berarti dia akan meninggalkan ku selamanya dan tidak akan kembali kepada ku, harus kah berakhir secepat ini? Haruskah berakhir seperti ini? Jujur, aku tidak menginginkan perpisahan ini. Ini sangat menyakitkan.


Bahkan ia tidak ingin menyelesaikannya masalah itu baik-baik, dia malah ingin putus dari ku dan itu hanya sepihak. Benar saja aku tidak setuju, aku tidak terima. Aku di putuskan disaat cinta ku semakin besar kepadanya.


Iya, memang benar, jika semua ini adalah salahku. Ini salahku karena aku tidak memberikan kepastian kepada nya, tetapi tidak bisa kah ia bersabar untuk itu? Aku hanya membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, hanya untuk siapa? Hanya untuk dia dan aku.

__ADS_1


Aku tau kalau Keisha tidak akan membagikan cinta ku dengan wanita lain, itu terlihat jelas saat ia cemburu dan selalu menanyakan hal yang membuat aku gelagapan sendiri. Dan ini benar-benar situasi yang sangat sulit, aku bingung dan aku tidak tau harus bagaimana jika dalam situasi seperti ini.


Aku tidak tau harus apa lagi, aku hanya bisa menunduk menatap lantai marmer. Haruskah begini? Haruskah sekarang? Haruskah aku kehilangan Kania? Kehilangan wanita yang sangat aku cintai dan ku sayangi. Bahkan wanita itu yang sudah mengisi hari-hari ku setiap hari nya, selalu ada disaat suka dan duka ku dan selalu membuat aku tersenyum tanpa henti dimanapun dan kapan pun.


Aku mengepalkan kedua tangan ku “Akhhh...” aku meringis, merasa sakit di tangan kanan ku. Aku pun mengangkat tangan ku yang sudah ada luka cukup besar dan darah yang mengucur dengan deras nya hingga membuat lantai mendapatkan tetesan darah ku.


Bahkan tangan ku saja ikut terluka seperti hati ku saat ini. Langsung saja aku membuka baju jas ku dan mengikat nya ke telapak tangan yang luka agar darah nya tidak banyak keluar.


“Kan, seandainya kamu tau bahkan aku rela terluka karena berpisah dari mu. Tapi apa kamu tidak sadar dengan itu? Aku harus bagaimana Kan. Aku harus bagaimana?” aku menunduk.


Saat ini otak dan hati ku sangat tidak sinkron, mereka menyuruh ku untuk mengejar Kania dan meminta nya kembali pada ku. Tetapi ada sedikit keraguan di balik hati ku, apa Kania mau? Apa Kania mau dengan orang yang seperti ku yang tidak bisa memberi ia kepastian dengannya.


Mungkin ini benar kesalahan ku, seharusnya aku tidak menggantung ia cukup lama. Apalagi hampir 3 tahun ini, kalau aku diposisi Kania mungkin aku akan bersikap yang sama seperti Kania. Siapapun itu, pasti akan seperti Kania.


Ternyata Kania selalu sabar menghadapi aku, dan Kania selalu sabar menunggu aku hingga selama ini. Hanya ya, hanya aku saja yang tidak bisa menghargai nya.


Aku pun berdiri dengan sangat lesu, rambut ku sangat acak-acakan, kedua mata ku sudah sangat merah. Aku membuka jas ku yang ku ikatkan ke tangan ku, seperti nya darah nya sudah berhenti keluar. Aku langsung membuang jas ku itu ke dalam tong sampah, lalu aku berjalan keluar dari ruangan dengan memantapkan hati.


Ya, seharusnya ini yang aku lakukan. Yaitu, mengejar Kania dan meyakinkan Kania bahwa dia pantas untuk menjadi pendamping ku. Aku harus membawa ia kembali kepadaku, menjadi kekasih hati ku hingga akhir hayat hidupku.


Walau aku tau, dia akan menjadi yang kedua tidak masalah asal dia senang dan mendapatkan hak nya. Selama ini dia menghargai posisi ku, kali ini aku akan menghargai ia layak nya ratu.

__ADS_1


__ADS_2