Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Tunangan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Zaid terus tersenyum. Zaid merasakan dunia yang dipenuhi cinta. Zaid terbayang bibir lembut Zia dan ekspresi Zia yang menikmati ciumannya.


"Aku akan segera melamar mu Zia." Zaid bicara sendiri.


Zaid sampai di perusahaan dan segera ke kamarnya. Zaid mengirim pesan.


"Sayang aku sudah sampai di rumah."


Zia yang sudah di atas kasur mendengar pesan masuk dan segera membacanya. Zia tersenyum membaca pesan dari Om Zaid.


"Om pulang kerumah yang jauh?"


"Tidak, aku hanya akan pulang kerumah jauh bersama mu. kamu mau kan jika aku segera menghalalkan mu?"


Zia tersenyum dan sangat senang membaca balasan pesan dari Om Zaid.


"Zia mau Om."


Zaid hampir saja menjatuhkan Hp nya, Zaid sampai gemetar memegang Hp nya. tangan Zaid juga terasa dingin. Zia tidak menolak nya dan menyetujui untuk segera dinikahi.


Zaid merasa tidak puas dan segera menelpon Zia.


"Ya Om, ada apa?" Zia mengangkat telpon dari Om Zaid.


"Jangan panggil Om lagi, aku merasa tua dan mesum dengan panggilan itu."


Zia tertawa


"Trus panggil apa?"


"Panggil abang, sayang, cinta, terserah."


"Oke abang sayang."


Mereka sama-sama tertawa.


"Besok abang kerumah, kita mengunjungi makam kedua orang tua mu. jam berapa abang bisa kerumah?"


"Jam delapan saja, supaya kita tidak kepanasan."


"Baiklah sekarang Zia tidur dan ingat untuk mengunci pintu. abang menyayangi dan mencintai mu."


"Zia juga bang."


Zaid menutup panggilan telponnya, Zaid melihat jam. saat ini menunjukkan jam 22.00 Zaid masih bisa menelpon kedua orang tuanya yang berada di Qatar. karena perbedaan waktu indonesia empat jam lebih dulu dari Qatar.


Zaid menggunakan video call.


"Assalamualaikum cantik. dimana ibu dan Abi?"


"waalaikummussalam, Ada didepan. abang mau bicara sama Ibu?"


"Iya, tolong berikan Hp ini kepada Ibu."


"Baiklah."


Amirah segera berlari menemui Ibu dan Abi yang sedang duduk diruang keluarga. Amirah merupakan gadis kecil yang cantik dan juga periang, usianya masih 6 tahun.


"Ibu, abang telpon."


Ibu tersenyum dan mengambil Hp dari tangan Amirah.


"Assalamualaikum putra ku, apa kabar mu?"


"Alhamdulillah sehat Bu, bagaimana kabar semua yang di sana?"


"Kami juga sehat, ada perlu apa menelpon?"


"Zaid ingin minta restu Ibu dan Abi, Zaid akan segera menikah Bu."


"Wah, alhamdulillah. Ibu merestui mu nak."


"Abi juga merestui mu, bagaimana pun Abi lebih unggul dari dirimu, Abi menikah saat usia 26 tahun. kenapa kamu lama sekali menemukan wanita untuk dijadikan istri?"


"Hahaha, Zaid baru bertemu dan mengenalnya dua hari ini Abi."


"Wah, kamu lebih hebat dari Abi. dia seorang muslim?"

__ADS_1


"Iya, Abi."


"Syukurlah, berapa usianya?"


"20 tahun, Abi."


"Wah, muda sekali. kapan acara lamarannya?"


"Nanti akan Zaid kabarkan, besok pagi Zaid akan mengunjungi makam kedua orang tuanya, setelah itu baru menemui keluarga nya yang lain."


"Dia yatim piatu? kapan kami bisa melihatnya?"


"Iya, besok pagi Zaid akan kembali menelpon Ibu dan Abi."


"Baiklah, kami akan menunggu telpon dari mu."


"Terimakasih sudah memberi restu untuk kami Ibu, Abi."


"Iya, jaga calon istri mu. jangan mencicipinya sebelum halal."


Zaid tersenyum mendengar ucapan Abi.


"Baiklah Abi."


Mereka mengakhiri panggilan video. Zaid bersyukur memiliki kedua orang tua yang selalu mendukung keputusannya.


Malam ini terasa panjang bagi Zia dan Zaid. mereka sama-sama kesulitan tidur. tidak sabar untuk bertemu dan membicarakan kelanjutan hubungan mereka.


Jam 7.00 pagi Zaid sudah rapi dan segera keluar ruangan. belum ada karyawan yang datang. hanya satpam yang selalu berjaga 24 jam di perusahaan.


"Wah, rapi sekali Bos mau kemana pagi ini?"


"Ketemu calon mertua."


"Wah, pantas saja cepat kembali. jangan lupa undangannya Bos."


"Oke, doakan, semoga lancar."


"Tentu Bos. hati-hati dijalan Bos, jangan ngebut. rumah calon Bos gak akan pindah."


"Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Baiklah saya keluar dulu."


Pagi ini Zaid masih menggunakan mobil Harun.


Zaid segera berangkat kerumah Zia.


Zia sudah siap dengan baju gamis dan jilbab polos yang melilit ke leher nya. Zia hanya menggunakan baju gamis jika ada acara dan saat perayaan hari besar islam. untuk pakaian sehari-hari Zia lebih banyak menggunakan celana selutut dan baju kaos pendek lengan yang tidak ketat.


Zaid sampai di rumah Zia.


"Bu. lihat mobil yang tadi malam datang lagi." Rianti bersama Ibunya melihat kedatangan mobil Zaid.


"Ayo kita lihat, bagaimana wajah laki-laki yang mendekati Zia."


Rianti dan Ibu nya segera pergi kerumah Zia yang hanya berjarak lima rumah dan berseberangan jalan.


Langkah kaki Rianti dan Ibunya terhenti melihat pria arab yang ganteng, tinggi dan gagah. Keluar dari mobil dan menenteng keranjang buah.


"Ibu dari mana Zia mendapatkan pria seperti itu?"


"Mana Ibu tahu. ayo kita segera kerumah Zia."


Zaid mengetok pintu rumah Zia. Zia sudah siap dengan pakaian berbalut hijabnya. Zia membuka pintu dan tersenyum melihat Zaid.


"Assalamualaikum calon istri ku."


"Waalaikummussalam calon suami ku."


Mereka sama-sama tertawa.


"Kamu tampak cantik dan dewasa, ini abang bawakan buah, taruh dimeja tamu saja. kita segera berangkat menemui orang tua mu."


"Baiklah, terimakasih abang" Zia tersenyum


Zaid juga tersenyum.


"Wah kamu pandai sekali merubah penampilan, biasanya hanya memakai pakaian pendek. suka keluyuran dan..."

__ADS_1


"Abang perkenalkan dia adalah Rianti sepupu ku dan yang disebelahnya adalah istri dari pamanku. mereka tinggal tidak jauh dari rumah ini."


Zia sengaja memotong ucapan Rianti yang lagi-lagi menyerangnya didepan orang. Rianti memang suka mencari masalah dan memancing kemarahan Zia.


"Oh, ternyata kamu memiliki keluarga dekat dan tinggal berdekatan. Bibi nanti kami akan berkunjung kerumah Bibi. pagi ini kami mau mengunjungi makam kedua orang tua Zia."


"Oh, iya baiklah. kami akan menunggu kedatangan kalian. ternyata kamu bisa bahasa indonesia dengan lancar."


"Iya, ayah saya orang Arab dan menikah dengan ibu saya orang indonesia, saya dilahirkan di indonesia. saya lebih lancar bahasa indonesia."


"Pantas saja Zia memakai pakaian tertutup, biasanya dia tidak berpenampilan seperti ini." Rianti kembali menjelekkan Zia.


"Mohon maaf kami harus segera pergi. ayo sayang."


Zia segera mengunci pintu dan mengajak Zaid segera berjalan menuju mobil yang sudah terparkir didepan rumah Zia. Zaid membukakan pintu mobil untuk Zia. keduanya sudah didalam mobil.


"Jangan cemberut sayang, aku tidak terpengaruh dengan ucapan sepupu mu, aku sudah mengetahui kehidupan dan kepribadian mu. apa kamu lupa kita sudah pernah tidur satu rumah?"


"Om?"


"Apa kamu mau aku cium sekarang? Kenapa masih memanggilku dengan panggilan itu?"


"Maaf aku lupa. ayo kita segera berangkat."


Zaid tersenyum melihat wajah Zia yang juga sudah terlihat ceria. mereka segera berangkat meninggalkan tante dan Rianti yang masih setia berdiri didepan pintu rumah Zia.


"Bang, biasanya Zia memanggil istri paman dengan sebutan Tante bukan bibi. sedangkan anak mereka Zia terbiasa memanggil nama. kami sering bertengkar."


"Kelihatannya anak Tante mu lebih tua dari mu."


"Dia memang lebih tua 2 tahun dari ku. tapi dia tidak seperti seorang kakak. dia tidak pernah memperlakukan aku sebagai adik, dia sangat usil dan suka membuat masalah."


"Nanti panggil dia kakak, kalian sudah besar, jangan selalu mengingat keburukannya."


Zia terdiam mendengarkan ucapan calon suaminya.


"Saat ini Paman Zia tidak di rumah, paman ada di rumah jam lima sore."


"Baiklah nanti sore kita baru kerumah paman mu."


Mereka singgah di pasar tradisional membeli bunga dan segera ke makam kedua orang tua Zia.


Makam ayah dan ibu Zia berdekatan karena mereka juga meninggal dalam waktu yang berdekatan.


Zia menceritakan bagaimana ayah dan ibunya meninggal empat bulan lalu, Zaid dapat membayangkan bagaimana kehidupan Zia setelah kepergian kedua orang tuanya. Mereka hanya meninggalkan rumah untuk Zia, Zia bertahan hidup dengan uang pesangon dan uang sumbangan dari tempat ibunya bekerja.


Suatu keberuntungan bagi Zia malam itu mendapatkan jas Zaid yang dibuang Harun.


Zaid membacakan doa kubur untuk kedua orang tua Zia, kemudian mereka menabur bunga.


Zaid meminta Izin kepada kedua orang tua Zia untuk menikahi Zia. Zia merasa terharu dan menangis.


"Jangan menangis lagi, abang akan menjaga dan menyayangi mu."


Zaid memeluk Zia yang masih duduk diantara kedua makam orang tuanya. Zaid mengajak Zia berdiri. Zaid mengambil cincin dari saku celana yang sudah ia siapkan dari kemaren sore.


Tadi malam Zaid berencana melamar Zia tapi Zia menolak dirinya. Zaid sengaja mencium bibir Zia untuk memastikan ucapan Zia. Zaid bersyukur tubuh Zia menunjukkan jawaban yang berbeda. Zaid terus memburu Zia hingga Zia menyatakan mau menjadi istrinya.


"Ayah, Ibu semoga kalian bisa melihat aku yang melamar putri cantik kalian ini. aku akan menjaga dan menyayanginya."


Zaid meraih tangan Zia dan memasang kan cincin dijari manis Zia. ukuran dan bentuk cincin sangat pas dijari Zia. air mata Zia masih mengalir karena mendapat begitu banyak surprise dari Zaid.


Zaid mencium kening Zia dan membawa Zia dalam pelukannya.


Zaid melepaskan pelukannya saat Zia tidak lagi menangis dan sudah tenang.


"Ayo, sekarang ikut abang."


"Kita mau kemana?"


"Kita kekantor."


"Tapi Zia jelek, Zia gak pakai riasan."


"kamu tetap cantik di mata ku. bukankah awal pertemuan kita kamu juga tidak pakai riasan wajah?"


Zia tertawa mendengar ucapan Zaid.

__ADS_1


Mereka segera berangkat menuju kantor Zaid.


...----------------...


__ADS_2