Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Perbedaan hidup


__ADS_3

Bundo dan Mak cik sudah selesai mencuci piring makan malam mereka. mereka ikut duduk diruang tengah yang sudah dialas tikar. terbuat dari anyaman daun buatan tangan Bundo tidak jauh dari Pak Ngah dan Suami Mak cik.


Pak Ngah menyuruh Anak laki-laki nya memanggil Zia dan Zaid.


"Dek Zia, semuanya disuruh duduk didalam sama Bapak." ucap Yudi.


Anak laki-laki pak Ngah bernama Yudi, menemui Zia,Zaid dan Ali yang masih duduk di kursi depan rumah. mendengar pesan dari Yudi mereka segera masuk kedalam rumah.


Zia duduk di samping Bundo dan Mak cik, Zaid duduk bersama Pak Ngah dan suami Mak Cik. mereka duduk saling berhadapan. Yudi duduk bersama istrinya menemani anak mereka yang sudah tidur tidak jauh dari tempat duduk pak Ngah.


Ali mengabadikan momen kumpul mereka malam ini dengan kamera yang ada ditangannya.


"Zia dan Zaid datang ke rumah ini untuk melangsungkan pernikahan mereka, insha Allah mereka akan menikah hari jum'at depan. Zaid ingin pernikahan mereka dihadiri orang desa sini."


Pak Ngah membuka pertemuan dan menyampaikan hajat kedatangan Zia dan Zaid didepan keluarga inti dan keluarga adiknya.


"Alhamdulillah jika Zia dan Zaid berencana menikah, tapi apa tak masalah jika menikah di rumah ini?" ucap Bundo


"Kami tidak mempermasalahkan tempat Bundo." jawab Zaid.


"Dihadiri warga desa maksud nya beberapa orang saja? atau berupa undangan pesta?" tanya Mak cik.


"Kalau bisa kenalan Pak Ngah dan Mak cik menghadiri pernikahan kami." jawab Zaid


"Zaid sudah menyiapkan cincin tunangan, tadi sore kami sepakat untuk membuat acara lamaran hari minggu. untuk hari pernikahan kita buat pesta kecil saja, semua kenalan kita ajak menghadiri pernikahan mereka, kemudian setelah ijab qobul kita makan bersama dengan semua yang hadir." ucap Pak Ngah.


"Baiklah, bagus juga acaranya kita buat seperti itu. untuk urusan pernikahan biar saya dan Dik Arin yang mengatur acaranya, kami ingin acara pernikahan berkesan untuk Zia dan Zaid." ucap Bundo.


"Karena acara pernikahan sebentar lagi, sesuai peraturan daerah kita, Zaid dan Zia tidak boleh saling bertemu. mereka harus berada di rumah masing-masing. Zaid kamu sekarang adalah anak Mak cik. jadi acara bakar jagung nya kita buat di rumah Mak cik, Zia silahkan bakar jagung di rumah ini bersama Bundo."


Zia dan Zaid tampak kecewa tidak bisa menikmati makan jagung bakar bersama.


"Baiklah." jawab keduanya.


Ali tersenyum melihat wajah lesu keduanya.


Setelah pembahasan singkat itu Mak cik mengajak Suami, Zaid dan Ali pulang. mereka membawa beberapa buah jagung untuk dibakar di rumah dan Pak Ngah juga memberikan sebagian buah tangan yang dibawa Zaid dan Zia saat datang tadi.


Mereka bakar jagung ditempat masing-masing.


Zia membakar jagung bersama Bundo didepan rumah.


"Zia dah berapa lama kenal Zaid?"


"Lebih kurang satu minggu bundo."


"Sudah pernah bertemu keluarga Zaid?"


"Sudah, bang Zaid juga sudah datang ke makam ayah dan ibu. Kenapa Bundo?"

__ADS_1


"Kalau dilihat dari luar Zaid itu orangnya baik, pengertian, tapi Bundo sedikit khawatir, dia tampan. apa tak banyak yang suka dia?"


"Apa Zia jelek?"


"Zia tak jelek, Zia cantik dan imut. kalau sudah punya suami Zia harus pintar dandan apa lagi suami Zia orang kantoran. jangan sampai digoda karyawan atau wanita lain."


"Iya, Zia akan dandan, selama ni Zia tidak dandan karena Zia tidak punya uang, Zia belum kerja. ibu juga selalu belikan Zia bedak tabur beby."


"Ha,.ha,. mungkin ibu beranggapan Zia masih kecil dan tidak mau Zia bersolek sebelum waktunya."


"Bisa jadi."


"Semoga Zia bahagia dengan pilihan Zia, jika ada apa-apa segera kabari kami."


"Iya Bundo."


"Kalau Ali tu siapa nya Zaid?"


"Itu supir yang dibayar untuk perjalanan ke rumah Bundo, bang Zaid belum pernah berkendaraan jauh."


"Oh, Bundo kira itu keluarga dia."


"Bang Zaid hanya punya adik perempuan."


"Oh, sedikit sekali saudara kandungnya."


"Zia dan bang Yudi hanya sendiri."


"Oh, Zia kira ibu sulit punya anak."


"Pak Ngah mu pernah mengajak ibu mu untuk membeli tanah dan berusaha disini, tapi ibu tidak mau. Ayah mu juga tidak suka hidup bertani. dia lebih suka jadi karyawan."


"Iya, padahal enak jika punya lahan luas, bisa menanam apapun."


"Sebenarnya tidak juga, kami harus bekerja ekstra untuk merawat kebun."


Jagung yang dipanggang Zia dan Bundo sudah matang, semua yang di rumah itu mendapat jatah satu seorang. mereka makan jagung bakar bersama.


Stelah menghabiskan jagung bakar, mereka bersiap untuk tidur. Zia tidur dikamar yang biasa digunakan Yudi. Yudi dan istrinya tidur ditengah rumah. karena kamar di rumah pak Ngah hanya dua.


Zaid menelpon Zia melalui video call.


"Sayang bagaimana acara bakar jagung nya seru?"


"Kurang seru, bang Zaid gak ada."


"Ha..ha,. pintar ngerayu juga ternyata."


"Gak ngerayu, memang kenyataan."

__ADS_1


"Yang, kok tidurnya di lantai?"


"Bukan dilantai, Zia tidur pakai kasur santai, agak tipis."


"Coba putar kamera, abang mau lihat sekeliling kamarnya."


Zia mengaktifkan kamera belakang, agar Zaid bisa melihat sekeliling kamar Zia.


Kamar yang digunakan Zia terlihat kosong, tidak ada lemari pakain dan tempat tidur seperti yang digunakan Zaid di rumah Mak cik. terlihat jelas perbedaan kehidupan antara Pak Ngah dan Mak cik. entah karena Pak Ngah tidak suka hidup mewah atau hasil kebun yang dimiliki Pak Ngah tidak mencukupi kebutuhan hidupnya untuk membeli perabotan rumah.


"Kainnya masih didalam koper?"


"Iya."


"Nyaman tidur di kasur itu?"


"Lumayan, syukurlah bang Zaid dan Ali bisa tinggal di rumah Mak cik, di rumah Mak cik tempat tidurnya nyaman, abang bisa tidur nyenyak."


"Kita tukaran tempat tinggal yok?"


"Kenapa?"


"Biar Zia bisa tidur nyenyak."


"Gak lah, Zia udah biasa tidur di rumah pak Ngah. masakan di rumah Pak Ngah lebih enak, Bundo lebih pintar masak dari Mak cik."


"Ooh jadi itu nilai positifnya. besok abang mau ajak Mak cik belanja. Zia mau dibelikan apa?"


"Terserah abang aja."


"Oke, apa yang abang belikan diterima dan digunakan ya."


"Iya."


"Sekarang Zia tidur, biarkan kameranya hidup, abang mau memastikan Zia tidur."


"Ya, Zia juga sudah ngantuk. abang jangan bersuara dan jangan ganggu tidur Zia."


"Iya, arahkan kameranya ke wajah Zia."


Zia menuruti permintaan Zaid. Zaid merasa khawatir Zia tidur terpisah darinya, apalagi kondisi rumah Pak Ngah yang terlihat mudah untuk dibobol maling.


Zia sudah memejamkan matanya, perjalanan mereka pagi ini cukup menguras energi Zia karena mabuk saat diperjalanan.


Hampir setengah jam Zaid melihat Zia yang sudah tidur, Zaid merasa ngantuk dan harus segera tidur karena besok pagi sudah janjian bersama Mak cik untuk pergi ke kabupaten.


...----------------...


like dan dukung terus ya 👍🏼♥️

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2