Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Belajar masak


__ADS_3

Hari sabtu siang Harun telah sampai di Bandara provinsi tempat Zaid akan melangsungkan pernikahannya. Harun akan menyaksikan proses lamaran dan pernikahan sahabat yang sudah di anggap keluarga.


Ali sudah datang lebih dulu dari Harun. Zaid berpesan agar mereka tidak kemana-mana dan langsung pulang ke rumah. mengingat besok pagi acara lamaran.


Setelah Harun dan barang bawahnya masuk ke mobil, mereka segera berangkat.


"Bisakah kita menemui calon istri Zaid?"


"Saya rasa tidak bisa, Zia tidak bisa dikunjungi oleh keluarga pihak laki-laki."


"Aku sangat penasaran dengan calon istri Zaid. apakah calonnya terlihat dewasa?"


"Tidak, dia menggemaskan. dia ramah dan baik."


"Kamu memiliki fotonya?"


"Tidak."


"Berapa lama perjalanan kita menuju rumah?"


"Dua jam perjalanan. jalanan juga sedikit bergelombang karena belum di aspal."


"Oh, baiklah. Aku tidur dulu, kamu menyetir dengan hati-hati."


"Baik, silahkan istirahat."


Ali memutar musik agar dirinya tetap terhibur dan Harun tidur dengan nyenyak. jalan yang sedikit berguncang tidak membangunkan Harun. Harun tetap tidur dengan nyenyak.


Mereka sampai di rumah Mak cik. Ali membangunkan Harun. Zaid keluar dari rumah menyambut kedatangan Harun.


mereka bersalaman dan berpelukan.


"Kau terlihat semakin gagah." ucap Harun.


"Terimakasih, mandi lah agar lebih segar."


"Ya."


Mereka berjalan kedalam rumah mak cik.


"Ali, Harun tidur bersama mu." ucap Zaid.


"Baiklah." Ali membawa barang Harun masuk ke kamar nya.


Mak cik tidak berada di rumah, Mak cik sibuk memasak kue di rumah abangnya untuk acara lamaran besok pagi.


untuk makan siang dan makan malam mak cik membawa dari rumah abangnya, mereka masak di rumah pak Ngah dalam porsi banyak dan setelah selesai masak Mak cik akan membawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama Zaid, Ali dan suaminya.


Zaid masuk ke kamar nya, menelpon Zia.


"Sayang lagi apa?"


"Tidak ada, Zia suntuk dari tadi pagi tidak diperbolehkan bekerja dan keluar rumah."


"Mau abang temani dikamar?"


"Jangan, malu kalau ada yang tahu abang datang."


"Mereka tidak akan tahu jika abang menyamar."

__ADS_1


"Jangan, Zia takut ketahuan. abang sabar dulu besok pagi kita akan bertemu."


"Abang sangat merindukan mu, tidak sabar ingin cepat-cepat menikah."


"Hanya menunggu lima hari lagi. Zia akan selamanya bersama abang."


Zaid tersenyum mendengar ucapan Zia.


pintu kamar Zaid diketok.


"Sayang ada yang datang, abang tutup telpon dulu."


"Mm, baiklah."


Zaid membuka pintu kamarnya. melihat Harun dan Ali berdiri didepan kamar.


"Ada apa?" tanya Zaid.


"Tempat tidur dikamar kami lebih kecil dari tempat tidur pak Zaid. kita tukaran." ucap Ali.


"Kalian berencana tidur sore ini?"


"Tidak." jawab Ali dan Harun kompak.


"Nanti malam baru bahas tempat tidur. kamu sudah makan Harun?"


"Belum, aku merasa lapar. adakah yang bisa aku makan?"


"Makan siang yang dibawa mak cik sudah habis, Ali kamu bisa masak?" tanya Zaid


"Aku hanya bisa masak Mie rebus."


"Baguslah setidaknya masih bisa masak. ayo kita ke dapur."


"Tidak ada bahan sama sekali." ucap Ali.


"Pergilah ke warung, beli semua bahan yang dibutuhkan." ucap Zaid


"Aku tidak pernah ke warung, biasanya istriku selalu ada stok mie, telur dan bahan lainnya di dapur."


"Trus?" tanya Harun


"Tidak boleh gengsi belanja di warung, ayo kita semua pergi belanja." ucap Zaid.


"Baiklah." ucap Ali dan Harun.


Mereka pergi ke warung terdekat menggunakan mobil. mereka sampai di warung yang tidak jauh dari rumah Mak cik. ketiganya memasuki warung yang dijaga oleh wanita seumuran Zaid.


"Mau beli apa?" tanya wanita itu tersenyum ramah


"Kami cari mie rebus." jawab Ali.


"Tiga kardus yang berdekatan itu mie rebus, silahkan pilih mau merek apa. harganya juga berbeda."


Mereka melihat kardus mie yang masih penuh dengan isinya. Zaid mengambil satu kardus meletakkannya di atas meja wanita itu.


"Apa lagi yang dibutuhkan untuk membuat mie rebus?" tanya Zaid pada Ali.


"Telur." jawab Ali

__ADS_1


Zaid melihat telur yang tersusun tiga papan. Zaid mengambil semua telur. pemilik warung sedikit heran dengan cara mereka belanja.


"Kalian tinggal dimana?" tanya pemilik warung.


"Di rumah mak cik Arin." jawab Ali.


"Oh, kalian keluarga laki-laki yang akan menikah dengan keponakannya?"


"Ya." jawab Harun.


Ali mencari bahan lainnya, seperti cabe, bawang dan bawang pray.


Zaid membayar belanjanya, Harun dan Ali membawa barang yang dibeli Zaid kedalam mobil.


Mereka segera pulang ke rumah mak cik, Ali memulai kemahirannya memasak mie rebus. Zaid memperhatikan cara Ali memasak. Zaid menanyakan nama setiap bahan yang dipotong Ali. Zaid ingin pandai memasak, setidaknya masak yang simpel untuk di makan bersama Zia nantinya.


Zaid ingin menjadi suami yang bisa urusan dapur dan belanja, seperti Abi nya yang bisa urusan dapur dan berbelanja. Zaid merasa beruntung memiliki seorang Abi yang memberikan contoh baik untuk anak-anaknya.


"Apa yang kalian masak?" tanya Mak cik yang sudah pulang dari rumah pak Ngah, membawa beberapa rantang.


"Teman pak Zaid lapar mak Cik, jadi kami membuat mie rebus." jawab Ali.


"Oh, kenapa banyak sekali mie dan telur yang dibeli?"


"Kalau rasanya tidak enak nanti dimasak lagi." jawab Zaid.


"Oh, stok banyak untuk belajar masak." ucap Mak cik tersenyum.


Mie rebus yang dimasak Ali sudah siap dihidangkan. Ali membaginya dalam empat mangkuk.


"Bagi tiga saja, mak cik sudah kenyang. Mak cik mau istirahat, kalau mau makan di rantang ini ada lauk, sayur dan bubur kacang hijau silahkan kalian makan."


"Terimakasih mak cik." jawab mereka.


"Ini seperti ditempat kos, kita masak sendiri." ucap Ali.


"Kami juga pernah kos, tapi tidak pernah masak." jawab Harun.


"Tentu saja, lihat jari tangan kalian panjang dan lembek hanya bisa memegang pena. tidak seperti jariku yang pendek dan kuat." jawab Ali.


"Kami lebih tua dari mu." jawab Zaid.


"Lebih tua, tapi orang lain melihat kita seumuran. tolong beri aku pekerjaan agar aku bisa merawat tubuh ku, dicintai istri ku kembali." ucap Ali berharap.


"Memangnya berapa usia mu?" tanya Harun.


"25 tahun."


"Sialan, umur 25 tahun sudah punya istri. bukannya pekerjaan mu sudah ada kenapa mencari pekerjaan lagi?" tanya Harun.


"Aku bosan jadi supir."


"Kami tidak mempekerjakan karyawan pembosan." jawab Zaid.


"Tolonglah, beri aku pekerjaan?" ucap Ali memohon.


"Makan dulu, habis kan mie mu." ucap Harun.


Mie buatan Ali terasa enak, apa lagi Zaid dan Harun sangat jarang memakan mie. mereka menghabiskan mie rebus yang dibuat Ali.

__ADS_1


Mereka tidak makan isi rantang yang dibawa Mak cik, mereka tahu Mak cik dan Suaminya belum makan. mereka berencana untuk makan malam bersama mak cik dan Suaminya.


...----------------...


__ADS_2