Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Kembali kekota


__ADS_3

Jam 8.00 pagi, Zaid sudah berpakaian rapi. memakai celana, baju dan jas berwarna putih. peci yang dipakai Zaid juga berwarna putih.


Zaid menyiapkan pakaian akad nikahnya dari rumah. benar yang dikatakan Ali, pagi ini jantung Zaid berdetak lebih kencang, membuat tubuh Zaid terasa dingin dan khawatir. sulit fokus dan ingin segera mengakhiri ketakutan hari ini.


"Sudah siap Zaid?" tanya Harun yang juga sudah rapi siap untuk mengiringi sahabatnya menuju tempat akad akad nikah.


"Sudah, apa wajah ku terlihat tegang?"


"Tidak, hanya terlihat tampan dan gagah."


Zaid tersenyum mendengar jawaban Harun.


"Yang lain sudah siap?" tanya Zaid


"Ali sudah siap, kalau mak cik aku tidak tahu pintu kamarnya masih tertutup."


"Ayo kita tunggu mereka diruang tamu."


Zaid dan Harun keluar dari kamar, duduk diruang tamu menunggu yang lain bersiap.


Ali datang dengan kamera yang sudah digantung dilehernya.


Ali memotret dua sahabat itu yang sedang duduk bersebelahan.


"Aku ingin berfoto dengan kalian." ucap Ali dan menyetel kameranya.


Mereka berfoto sambil duduk di kursi. Mak cik dan suami keluar dari kamar, mereka ikut berfoto bersama.


Beberapa orang tetangga Mak cik datang ke rumah mak cik untuk ikut meramaikan iringan rombongan pengantin laki-laki. mereka membantu mak cik untuk membawa hantaran pernikahan yang sudah dibeli Zaid yang dikemas Mak cik dalam kotak kaca.


Semua hantaran itu dimasukkan kedalam mobil Zaid, Mereka segera berangkat dengan kendaraan masing-masing. sampai di halaman rumah Pak Ngah para tetangga Mak cik membantu membawa hantaran pernikahan kedalam rumah. mereka tampak antusias dengan pernikahan Zaid dan Zia.


Jam 9.40 petugas kantor urusan agama sudah datang untuk menyiapkan administrasi dan memberikan arahan dalam ijab qobul nantinya.


Pak ngah dan Zaid sudah duduk saling berhadapan. dua orang saksi pernikahan juga sudah berada di antara mereka.


Zia keluar dari kamar pengantinnya, memakai gaun putih tidak terlalu kembang dan memakai hijab. Zia tersenyum melihat Zaid yang tersenyum kearahnya saat keluar kamar. Zia duduk disebelah Zaid.


Acara sakral itu segera dilangsungkan. beberapa kali perbaikan dari pengucapan Pak Ngah, akhirnya Zia dan Zaid sah menjadi suami istri. mereka menandatangani surat nikah yang langsung diberikan petugas kantor urusan agama.


Selanjutnya acara salaman dan nasehat pernikahan dari ustad yang sudah di undang Pak Ngah, Zia dan Zaid mendengarkan dengan baik nasehat pernikahan yang disampaikan ustad. penjelasan ustad membuat mereka paham pentingnya saling pengertian dan ilmu agama dalam membina rumah tangga.


Setelah mendengar nasehat dari ustad mereka berfoto bersama, berfoto dengan semua keluarga dan undangan yang ingin berfoto bersama mereka.


Keluarga Zaid menyaksikan pernikahan Zaid melalui video call yang diarahkan Harun. Ibu Zaid sempat meneteskan air mata, melihat Zaid yang berhasil mengucapkan ijab qobul menandakan Zaid sudah memiliki tanggung jawab penuh terhadap istrinya.


Walaupun tidak bertemu langsung dengan Zia, Ibu Zaid percaya Zia wanita baik yang memang layak menemani anaknya. orang tua Zaid tahu Zaid tidak pernah bermain-main dalam urusan hati. mereka juga tahu Zaid pernah terluka dan sempat menjauh dari wanita, kesendirian Zaid tanpa orang tua disampingnya membuat Zaid cepat membuka hati dan menemukan Zia. gadis muda penurut dan menggemaskan.


Doa terbaik juga dipanjatkan Abi dan Ibu Zaid, mereka menadahkan tangan setelah mengakhiri panggilan video call bersama Zaid dan Zia.


Mak cik dan Pak ngah mempersilahkan Semua tamu undangan makan hidangan yang sudah disiapkan.


Ali mengajak Zia dan Zaid untuk melakukan pemotretan didalam kamar. memberikan kesempatan untuk kedua pengantin tampil mesra berfoto berdua.


Keduanya tampak tidak canggung bahkan terlihat sangat menantikan pertemuan itu. Ali yang memotret mereka tidak kuat melihat kemesraan keduanya.


"Cukup ambil gambarnya, sekarang kamu boleh makan." ucap Zaid kepada Ali.


"Baiklah, aku juga tidak sanggup berada diantara kalian lebih lama lagi." jawab Ali

__ADS_1


Ali segera keluar dari kamar itu.


Zaid mengunci pintu dan langsung mencium bibir Zia. mengarahkan tubuh Zia untuk berbaring di kasur membuat Zaid semakin leluasa melepaskan rasa rindunya selama ini.


"Abang jangan sekarang." ucap Zia saat Zaid menghentikan aksinya.


"Abang hanya ingin melepas rindu. abang tidak ingin melakukannya disini. kita juga akan kembali melakukan perjalanan jauh."


Zaid mencium semua wajah Zia dan berakhir kecupan singkat dibibir Zia.


"Ayo kita ikut makan bersama yang lain, setelah semua tamu pulang baru kita ganti pakaian."


"Baiklah, bantu Zia duduk."


Zaid tersenyum dan mengangkat tubuh Zia, membawa Zia dalam gendongannya menuju pintu kamar.


"Turunkan Zia bang, malu kalau dilihat orang."


Zaid tersenyum dan menurunkan Zia dari gendongannya.


Mereka keluar kamar dan ikut berbaur bersama tamu dan keluarga Zia, makan bersama menikmati hidangan yang masih panas karena baru selesai dimasak pagi ini.


Semua tampak bergembira dengan acara pernikahan sederhana Zia dan Zaid, menu hidangan juga lezat membuat semua yang hadir menikmati makan menjelang siang.


Para tamu mulai meninggalkan rumah pak Ngah, Zaid meminta Ali membawa koper mereka yang berada di rumah Mak cik. Ali dan Harun berangkat ke rumah Mak cik untuk mengambil barang mereka bertiga.


Zia sudah mengganti gaun pernikahannya dengan baju gamis, menghapus makeup dan tampil seperti biasa hanya dipoles lipstik tipis.


Ali datang membawa barang mereka dari rumah Mak cik, Zaid mengganti pakaiannya. Mereka sholat zuhur dahulu baru kemudian izin pamit kepada semua keluarga Zia.


Zaid dan Zia sudah menyimpan nomor Hp seluruh keluarga Zia, tidak ada tangis dalam perpisahan itu, tapi wajah mereka tetap terlihat sedih.


Keduanya mengangguk dan melanjutkan bersalaman dengan Bundo.


"Sering kabari kami, semoga kalian bahagia." ucap Bundo


"Kabari kami jika sudah sampai di rumah Zia, titip salam dari kami untuk Paman dan Tante mu." ucap Mak cik.


"Insyaallah akan Zia sampaikan."


Setelah berpamitan dengan semua keluarga mereka masuk ke mobil. Ali sebagai supir dan Harun duduk di sampingnya. Zia dan Zaid duduk dibelakang mereka.


"Ali nanti saat bertemu jalan yang tidak di aspal jangan laju, aku tidak ingin Zia muntah lagi." ucap Zaid mengingatkan Ali.


"Baik pak."


"Aku akan bantu mengobati Zia jika dia muntah." ucap Harun.


"Aku tidak memerlukan bantuan mu." jawab Zaid, membuat Ali dan Harun tersenyum mendengar jawabannya.


Mereka telah melewati jalan yang tidak di aspal, Zia baik-baik saja.


"Ali, nanti cari pertamina yang menyediakan swalayan ya." ucap Zia.


"Mau beli apa sayang?" tanya Zaid.


"Mau beli sesuatu."


"Oh," Zaid tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, mereka menemukan tempat pengisian minyak yang menyediakan swalayan. Zia turun dari mobil di ikuti Zaid. Ali dan Harun mengisi minyak.


"Abang Zia sendiri saja, jangan ikut."


"Kita tidak kenal wilayah ini, ayo."


Zaid meraih tangan Zia dan membawa Zia kedalam swalayan. Zia pasrah dan terpaksa menahan malu. Zia berjalan duluan mencari yang dibutuhkannya saat ini. Zia mengambil satu bungkus pembalut dan memberikannya ke kasir. Zaid melihat apa yang dibeli Zia dan tersenyum.


Setelah membayar barang yang ia beli, Zia langsung memasukkannya kedalam tas. mereka keluar dari swalayan.


"Abang, Zia mau ke toilet."


"Ayo, abang antar."


Zaid tidak melepas tangan Zia dan mengantar Zia ke toilet yang ada tempat itu.


"Masuklah, teriak saja jika ada sesuatu yang tidak beres didalam."


"Ya."


Zia masuk kedalam toilet dan melihat bercak hitam di ****** ********. Zia membuka pembalut dan menempelkannya.


"Untung cepat bertemu swalayan dan toilet." ucap Zia bicara sendiri.


Zia keluar dari toilet dan melihat Zaid yang masih menunggunya.


"Abang mau ke toilet?"


"Iya, masuk lah ke mobil. Ali dan Harun ada di sana." ucap Zaid sambil menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Zia mengangguk dan berjalan duluan meninggalkan Zaid yang melihatnya pergi sampai mendekati mobil. setelah memastikan Zia aman Zaid segera masuk kedalam toilet laki-laki.


Mereka melanjutkan perjalanan, sepuluh jam berkendaraan. mereka memutuskan untuk istirahat di penginapan. Zaid memesan dua kamar.


"Kenapa hanya dua kamar?" tanya Harun.


"Kamu tidak ingin menghabiskan malam terakhir bersama Ali?" tanya Zaid.


"Kami bukan pasangan, tambah satu kamar lagi. aku mau tidur bebas, Aku tidak mau berbagi kasur lagi."


Zaid tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya. Zaid tahu selama tidur di rumah mak Cik Harun tidak bisa tidur dengan bebas. lebih sering tidur di sofa dari pada satu ranjang dengan Zaid. Zaid sengaja membuat Harun tidak betah tidur bersamanya, menyisakan sedikit bagian untuk Harun. membuat Harun memilih tidur di sofa.


Zaid akhirnya memesan satu kamar lagi. mereka segera kekamar masing-masing.


"Abang maaf ya, Zia tidak bisa...."


"Abang tahu, yang penting kita sudah menikah dan abang tidak berdosa lagi saat bersama Zia. berapa lama biasanya?"


Zia tersenyum," biasanya delapan hari." jawabnya.


"Oh, Zia mandi duluan ya. setelah Zia mandi, langsung tidur saja. abang mau ketempat Harun sebentar."


"Baiklah. jangan lama."


"Tidak akan lama."


Zaid mengecup bibir Zia dan pergi keluar kamar menemui Harun. Zaid takut tidak bisa menahan diri melihat Zia keluar dari kamar mandi dan belum berpakaian. Zaid membuat alasan menemui Harun.


Setengah jam meninggalkan Zia, Zaid kembali kekamar dan melihat Zia yang sudah berbaring di atas kasur. Zaid tersenyum dan segera mandi. membersihkan dirinya yang sudah merasa sangat gerah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2