
Setelah sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan, pagi ini perjalan mereka hanya memerlukan waktu tiga jam untuk sampai di rumah masing-masing.
"Ali nanti langsung ke rumah mu saja." ucap Zaid
"Baik pak. apa saya bisa terima gaji sebelum sampai di rumah?"
"Nanti saya berikan saat kita sampai di rumah mu." jawab Zaid
"Tapi, saya ingin gaji dari bapak tidak diketahui istri saya." jawab Ali
"Ali sudah punya istri?" tanya Zia.
"Iya, mereka sudah dua tahun menikah." jawab Zaid.
"Apa salah jika istri melihat gaji suaminya?" tanya Zia melihat Zaid.
"Ali bilang istrinya kurang baik." jawab Zaid
"Dia tidak seperti mu Zia, jika dia mengetahui uangku dia akan mengambil semuanya dan tidak memberikannya kepada ku. aku ingin memberikan sedikit gaji ku untuk orang tua ku." ucap Ali
Zia melihat Zaid, seolah tidak mempercayai ucapan Ali yang menyudutkan istrinya.
Zaid memberi kode agar Zia diam dan dengarkan saja.
"Aku pihak ketiga dan aku tidak ingin memihak siapa pun, aku ingin mencari kebenaran ucapan mu. izinkan kami berkunjung dan melihat istri mu." ucap Zaid.
"Baiklah, jika bapak ingin membuktikan ucapan ku. silahkan berikan gaji ku didepan istri ku." jawab Ali.
"Bagaimana jika ucapan Ali benar, apa kau akan memberikan gaji lagi untuk Ali?" tanya Harun
"Lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan." jawab Zaid.
Ali menghentikan mobilnya didepan rumah kontrakannya. istri Ali keluar dari rumah dan melihat kedatangan Ali. ekspresinya begitu datar tidak ada senyum diwajahnya.
Ali keluar dari mobil, Zaid menyiapkan uang gaji Ali yang ia masukkan kedalam amplop coklat.
"Ayo semuanya keluar, kita mampir sebentar." ucap Zaid mengajak Zia dan Harun keluar mobil.
Istri Ali tersenyum melihat Zaid yang keluar dari mobil disusul Harun, Zia turun belakangan.
"Mari masuk pak." ucap Ali
Mereka masuk rumah Ali, terlihat rumah kontrakan Ali dipenuhi dengan perabotan mahal. istri Ali pergi mengambil minuman untuk tamunya.
"Silahkan minum." ucap istri Ali sambil menyodorkan minuman kemasan dingin
Zia mengambil minuman itu dan meminumnya sampai habis.
"Ali ini gaji mu, terimakasih sudah membawa kami kembali ke kota ini dengan selamat." ucap Zaid sambil meletakkan amplop yang ia pegang di atas meja.
Istri Ali mengambil amplop itu dan tersenyum melihat Ali.
__ADS_1
"Baiklah kami pulang dulu." ucap Zaid pamit mewakili semuanya
"Baiklah, terimakasih pak. mari saya antar." ucap Ali.
Ali mengantar mereka sampai ke mobil.
"Besok datang ke kantor ku, ambil sisa gaji mu." ucap Zaid.
Ali tersenyum mendengar ucapan Zaid. Zaid membawa mobil dan menyuruh Harun duduk dibelakang sendirian. Zia duduk disebelah Zaid. mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Harun.
Zaid dan Zia tidak berkunjung ke rumah Harun mereka memilih melanjutkan perjalanan untuk pulang.
"Rumah pak Harun bagus ya bang, apa pak Harun tinggal bersama keluarganya?"
"Iya, dirumahnya ramai. kita tidak bisa berkunjung sebentar jika ke rumah Harun."
"Oh, sekarang kita mau kemana?"
"Kita ke rumah orang tua abang, malam ini kita menginap di rumah itu dulu ya, besok pagi baru kita ke rumah Zia."
"Baiklah."
Mereka segera berangkat menuju rumah orang tua Zaid, yang tidak jauh dari rumah orang tua Harun. Zaid membuka pintu pagar dan masuk ke area rumah orang tuanya dengan halaman yang luas. Zaid membuka pintu rumah dan terlihat perabotan di rumah itu ditutupi dengan kain putih.
"Jangan membuka penutup perabot, kita langsung ke kamar abang saja." ucap Zaid meraih tangan Zia membawa Zia ke kamar nya.
Rumah orang tua Zaid hanya satu lantai, memiliki ruang tamu yang luas dan dilengkapi dengan tiga kamar tidur.
"Wah luas sekali kamar abang, kenapa bisa rapi dan bersih? siapa yang membersihkan?"
"Sebelum pulang abang sudah meminta petugas kebersihan rumah untuk membersihkan kamar ini."
"Dia tinggal disini?"
"Tidak, dia datang jika diminta saja."
"Zia mau cuci pakaian yang kotor, bisa antarkan Zia ketempat cucian?"
"Zia tidak capek?"
"Tidak."
"Baiklah, ayo ikut abang." Zaid membawa Zia ke ruangan belakang, ternyata tempat cucian keluarga Zaid berada diluar rumah, tempatnya hanya diberi atap dan dinding separoh. tidak jauh dari tempat jemuran kain.
"Zia mau cuci pakaian sekarang?" tanya Zaid.
"Iya."
"Ayo kita jemput kain kotor." ucap Zaid, mengajak Zia ke mobil untuk mengambil koper mereka dan Zaid membawa kedua koper itu ke kamar nya. Zia mengambil kain kotor yang sudah ia kemas didalam plastik agar tidak tercampur dengan kainnya yang masih bersih.
"Kain kotor abang mana? biar sekalian Zia cuci."
__ADS_1
Zaid membuka kopernya mengambil kain kotor yang ia tempatkan didalam koper, sama seperti Zia. Zaid memisahkan pakaian kotor dan kain bersihnya. Zaid mengambil keranjang dorong yang berada di kamar nya, memasukkan kain kotor miliknya dan milik Zia kedalam keranjang itu. Zaid mendorong keranjang itu sampai ketempat pencucian.
"Abang mau lihat cara menggunakan mesin cuci ini." ucap Zaid
"Emangnya abang mau menyuci?"
"Iya, biar kita bisa sama-sama mengurus rumah."
Zia tersenyum mendengar ucapan Zaid. Zia mulai menggunakan mesin cuci, Zaid terus memperhatikan cara Zia menggunakan mesin cuci itu.
"Zia lebih suka bilas diluar, ketimbang bilas dengan mesin cuci. nanti kita kita tinggal mengeringkan kain yang sudah dibilas dengan mesin cuci." ucap Zia
Zaid mengangguk dan memperhatikan Zia bekerja. setelah kain dikeringkan. Zia menjemur pakaian, Zaid ikut membantu menjemur pakaian mereka.
Bel rumah Zaid berbunyi.
"Siapa yang datang bang?" tanya Zia
"Pesanan makan siang kita. tadi abang pesan. ayo kita ke depan."
Zaid mengandeng tangan Zia mengajak Zia ikut mengambil pesanan makan siang mereka.
"Siang pak, ini makan siang bapak." ucap petugas itu
"Terimakasih ya." ucap Zaid.
"Siapa perempuan ini?"
"Oh, dia istri saya, kami menikah hari jum'at kemaren."
"Wah selamat ya pak, ditunggu undangan dan pesanan makanannya." ucap petugas itu.
"Untuk pesta mungkin masih lama, orang tua ku masih diluar negeri." jawab Zaid
"Ya tidak masalah, yang penting nikah dulu. kalau tahu bapak sudah menikah restoran kami pasti memberikan bonus. maaf ya untuk hari ini bonusnya belum ada."
"Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup."
Zaid mengambil kotak makan pesanannya dan membayar pesanannya kepada petugas itu. petugas itu segera pergi.
"Kenapa pengantar makanan itu bisa kenal abang?" tanya Zia
"Dia bekerja di restoran langganan keluarga abang, jadi kami sudah kenal."
"Oh, kita makan di teras belakang ya bang. udara dibelakang sangat segar."
"Baiklah, ayo."
Mereka segera kebelakang, menikmati makan siang dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Zia makan dengan lahap karena masakan restoran langganan Zaid sangat sesuai dengan selera nya.
...----------------...
__ADS_1