
Zia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. ikut sarapan bersama keluarga Keke.
"Besok pagi libur lagi kan Zia?" tanya Mama
"Iya, buk."
"Besok Papa juga libur, ada rencana kemana Ma?" tanya Papa.
"Gak kemana-mana, Mama mau ke pasar lagi sama Zia, Zia enak dibawa belanja. gak kayak anak Papa yang satu ini. alergi becek." ucap Mama sambil memonyongkan mulut nya menunjuk Keke.
"Karena itu Keke membawa Zia ke rumah ini, Keke tahu Zia pasti akan cocok dengan Mama." jawab Keke
"Alah, kalau bukan permintaan Bos mu pasti kamu juga gak akan pernah bawa Zia ke rumah ini." jawab Mama.
"Ya gak mungkin la Ma Keke bawak bini orang, bisa-bisa Keke dipecat pak Zaid. Pak Zaid itu sangat memanjakan Zia Ma, Zia gak dibolehkan masak, Kemana-mana harus sama pak Zaid. tau gak Ma, Pa, jika Zia bekerja. Zia akan diikuti dan dijaga oleh orang suruhan pak Zaid."
"Benar begitu?" tanya Papa kaget.
Zia dan Mama juga kaget mendengar ucapan Keke.
"Apa Dodi yang selalu mengikuti Zia kerja?" tanya Zia memastikan.
"Iya, kamu sangat beruntung Zia, punya suami ganteng, kaya dan sangat mencintaimu. tidak seperti kakak. masih harus mengejar cinta si Bodoh."
"Siapa si bodoh?" tanya Papa.
"Keke belum bisa kasih tau Papa dan Mama, tunggu sampai Keke mendapatkan hatinya baru Keke akan cerita sama Mama dan Papa."
"Kamu ini, masa ngejar cinta si Bodoh. cari yang pintar dong, kayak Papa." ucap Papa sambil menepuk dada nya.
"Kak Keke suka sama pak..."
"Stop, Zia.... jangan menebak orang nya, jangan sampai Mama dan Papa tahu." ucap Keke menghentikan ucapan Zia.
"Zia??,. Kamu masih mau makan masakan Mama kan? jangan ada rahasia diantara kita. Mama tidak mau anak Mama satu-satunya mencintai dan mengejar laki-laki bodoh." ucap Mama.
"Dia pintar kok Buk, kak Keke kesal karena laki-laki itu tidak sadar jika kak Keke menyukainya. karena itu kak Keke memanggilnya si Bodoh."
"Oh, begitu." jawab Mama dan Papa bersamaan.
Mereka selesai sarapan, semuanya berangkat kerja meninggalkan Mama sendiri di rumah.
Keke dan Zia sudah didalam mobil.
"Zia pakai jam tangan ini. ini juga bisa untuk menelpon. hanya ada nomor pak Harun, Kakak dan Dodi didalamnya."
"Kenapa tidak ada nomor bang Zaid?"
"Ini Zia gunakan untuk menelpon kami saat Zia dalam situasi genting. Zia harus hati-hati, Melani sangat membenci mu. kami takut dia berbuat buruk saat Zia bekerja."
__ADS_1
Keke memasangkan jam tangan itu ditangan Zia dan mengajari Zia cara menggunakan telpon di jam tangan itu.
"Terimakasih kak." ucap Zia.
"Sama-sama, kau masih kecil tapi sudah punya suami." ucap Keke keceplosan.
"Kakak mau nikah juga?"
"Tentu saja, aku iri melihat mu bisa mencium pak Zaid. aku belum pernah merasakan ciuman pertama, usiaku sudah 22 tahun sebentar lagi 23 tahun."
"Doakan saja suami Zia cepat pulang."
"Apa hubungannya dengan kepulangan pak Zaid?"
"Lihat saja nanti." jawab Zia tersenyum.
"Zia akan bantu kakak mendapatkan hati dan cinta pak Harun, Zia pastikan kak Keke dan pak Harun akan menikah. kalian pasangan serasi." ucap Zia dihatinya.
Mereka segera berangkat kekantor. mereka sampai diparkiran, kembali mobil Keke dan Harun parkir bersebelahan. Mereka sama-sama keluar dari mobil.
"Zia duluan ya kak." ucap Zia pamit dan hendak berjalan pergi.
"Eh, tunggu. gak lihat abang keluar dari mobil?" ucap Harun membuat Keke dan Zia terdiam penuh tanya.
"Zia, salam sama abang dulu, begitu juga dengan kak Keke. jadi adik harus nurut dan hormat sama yang tua." ucap Harun membuat Keke dan Zia tertawa.
Zia mendekat dan menyalami tangan Harun bahkan mencium tangan Harun.
"Adik pintar." ucap Harun saat tangan mereka sudah terlepas.
"Salam sama Kak Keke juga." ucap Harun memberi perintah lagi.
Zia menurut dan mencium tangan Keke, Keke memeluk Zia dan mencium pipi Zia.
"Kamu lucu sekali Zia, sangat penurut." ucap Keke sambil tersenyum.
"Nah, karena adik kita sudah berbuat baik. sekarang abang mau kasih adik kecil kita ini uang jajan, Nih." ucap Harun sambil meletakkan uang lima ratus ribu ditangan Zia.
Zia tersenyum. walaupun pagi ini dijahili Harun. tapi Zia merasa bahagia dan tidak merasa direndahkan.
"Bekerja yang rajin ya dek, ingat untuk menelpon kami." ucap Harun mengingatkan Zia
"Iya, terimakasih uang jajannya." ucap Zia
"Uang itu dari suami mu, dia merasa bersalah karena tidak meninggalkan Zia uang." ucap Harun
Zia mengangguk. Zia merindukan Zaid yang selalu mengantarnya pergi kerja, mendapat ciuman dan pelukan hangat setiap pagi nya. sudah tiga hari Zaid pergi. Zia tidak berani menelpon karena pesan yang dikirim Zia belum dibaca Zaid. menandakan Zaid sangat sibuk dan tidak bisa diganggu.
"Kapan bang Zaid kembali?" tanya Zia.
__ADS_1
"Tidak tahu, calon Investor yang ditemui Zaid banyak permintaan, jadi Zaid harus mengikuti permintaan mereka."
"Jangan sedih Zia, Kakak dan abang Harun akan menjaga Zia, doakan semoga pak Zaid bisa segera menyelesaikan urusannya." ucap Keke menghibur Zia yang terlihat sedih.
"Ya." ucap Zia kembali tersenyum
Zia melihat Dodi datang. Zia mengingat ucapan Keke tadi pagi.
"Ternyata benar, Dodi bekerja untuk mengikuti ku. kasian sekali Dodi mendapat pekerjaan sulit karena keputusan ku untuk bekerja." Batin Zia.
"Kak, bang, Zia kerja dulu." ucap Zia pamit kepada keduanya.
"Iya. hati-hati." ucap keduanya serentak.
Zia segera pergi meninggalkan Keke dan Harun.
"Mau langsung keatas?" tanya Harun
"Ya." jawab Keke.
Harun meraih tangan Keke, membawa Keke pergi bersamanya untuk naik lift khusus.
Jantung Keke berdebar, baru kali ini ada laki-laki yang menyentuh tangan Keke, dan pelaku utamanya adalah orang yang disukai Keke. Keke tersenyum sepanjang jalan menuju lift.
Zia selesai isi absensi dan kembali ke parkiran mobil perusahaan. Zia berangkat. Zia melihat Dodi mengikutinya.
Tidak jauh dari perusahaan Zia menghentikan mobilnya dan turun. Dodi menghampiri.
"Ada masalah Nona?" tanya Dodi terlihat khawatir.
"Aku mengkhawatirkan mu, Kenapa tidak menolak pekerjaan ini?" tanya Zia.
"Maaf Nona, saya bersyukur mendapat pekerjaan seperti ini. dengan bekerja seperti ini saya bisa memberikan nafkah untuk keluarga dan kedua orang tua saya." jawab Dodi.
"Memangnya berapa gaji yang kau dapatkan?" tanya Zia penasaran.
"Di atas sepuluh juta, tergantung lama saya mengikuti Nona." jawab Dodi
Zia kaget dengan jawaban Dodi, ternyata suaminya tidak main-main untuk memberikan Zia keamanan bahkan sanggup menggaji Dodi dengan bayaran tinggi.
"Silahkan lanjutkan pekerjaan mu." ucap Zia kembali masuk kedalam mobilnya.
"Baik. jangan sungkan untuk menelpon saya." ucap Dodi saat Zia akan menutup pintu mobilnya.
"Baik." jawab Zia.
Mereka segera berangkat menuju lokasi gudang.
...----------------...
__ADS_1