Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Bertemu Melani


__ADS_3

Zia dan Zaid sedang menikmati sarapan paginya.


"Abang, Zia hari ini libur. boleh Zia di rumah?"


"Jangan, abang tidak bisa meninggalkan Zia di rumah sendirian."


"Zia harus kemana?"


"Ikut abang kekantor."


"Zia suntuk hanya menonton tv dikamar perusahaan, jika di rumah Zia bisa masak, cuci baju dan menunggu abang pulang kerja." ucap Zia berharap Zaid mau mendengarnya.


"Jika ingin masak dan cuci baju, kerjakan saja pagi ini, jika sudah selesai baru kita kekantor." jawab Zaid tetap dengan pendiriannya.


Zia tidak lagi memaksa dan memilih diam mengikuti ucapan suaminya.


Selesai sarapan Zia dan Zaid melanjutkan aktivitas di dapur, keduanya sibuk meramu beberapa bahan untuk diolah menjadi menu makan siang mereka. Selesai masak Zia menempatkan semua masakannya kedalam wadah yang tertutup rapat. siap untuk dibawa kekantor.


Selesai urusan di dapur Zia melanjutkan pekerjaan rumah lainnya, mencuci pakaian dan menjemurnya bersama Zaid.


Mereka mandi bersama dan bersiap untuk berangkat kekantor. ponsel Zia berbunyi.


"Assalamualaikum buk."


"Waalaikummussalam. Zia kapan ke rumah Mama?" Mama Keke menelpon Zia pagi itu.


"Zia tanya bang Zaid dulu buk."


Zia menekan tombol speaker di Hp nya.


"Mama harap kalian bisa datang ke rumah hari ini. kalian sudah hampir satu minggu tidak mengunjungi Mama."


"Baiklah, nanti malam kami ke rumah ibuk." jawab Zaid yang mendengar ucapan Mama Keke di ponsel Zia.


"Terimakasih Zaid, Mama tunggu kedatangan kalian. Mama mau belanja dulu untuk menyiapkan makan malam kita."


"Jangan repot-repot Buk, kita pesan saja." ucap Zaid.


"Lebih enak masakan Mama, kalian jangan beli apapun. jangan sampai yang Mama masak tidak termakan karena bawaan kalian."


"Baiklah. kami juga mau kekantor." ucap Zaid.


"Hati-hati dijalan, Keke hari ini libur, dia baru kembali dari kantor tadi subuh." jawab Mama.


Zaid dan Zia mendengar ucapan Mama, telpon dari Mama Keke sudah dimatikan olehnya, membuat Zaid tidak bisa bertanya lagi.


"Ada kerja apa di kantor sampai subuh bang?" tanya Zia.


"Abang tidak tahu, Harun tidak memberi kabar. ayo kita segera kekantor." ucap Zaid


Keduanya berangkat, tidak lupa membawa bontot yang sudah disiapkan Zia.


Mereka datang ke kantor saat semua karyawan berada diruang kerja masing-masing, tidak ada karyawan yang terlihat diparkiran. Mereka turun dari mobil, masuk Lift dan langsung ke ruang kerja Zaid.


Zaid menelpon Harun, meminta Harun mendatanginya di kantor. Harun datang dan duduk didepan Zaid.


"Sayang, masuk kekamar dulu." ucap Zaid menyuruh Zia masuk kekamar agar tidak mendengar pembicaraannya bersama Harun.


Zia yang duduk diruang santai mendengar ucapan Zaid, Zia mengangguk dan masuk ke kamar tanpa bertanya.


"Apa yang kalian kerjakan di kantor hingga Keke pulang subuh?" tanya Zaid.

__ADS_1


"Tidak ada pekerjaan, Keke tertidur dikamar ku setelah makan malam." jawab Harun.


"Kau bisa membangunkannya, kenapa membiarkannya tidur di kantor sampai subuh? kau mengambil keuntungan darinya?"


"Aku tidak mengambil keuntungan, aku tidak berbuat macam-macam." ucap Harun dengan nada suara sedikit gemetar.


"Aku mengenal mu Harun. kenapa leher mu?" ucap Zaid menjahili Harun


"Aa.,.aku tidak tahu." jawab Harun.


"Aku tahu itu bekas ciuman, Keke yang membuatnya?" ucap Zaid tersenyum


"Jangan tanya lagi, nanti malam aku akan menemui orang tua Keke. aku ingin melamar Keke." jawab Harun salah tingkah.


"Ha..ha..ha,., kalian melakukannya beru berencana menikah?" goda Zaid.


"Tidak, kami tidak melakukan sejauh itu. tapi aku sudah.. ah sudah la, kau pasti tahu maksud ku." jawab Harun yang tidak bisa menutupi aib nya dari Zaid.


"Ha..ha..ha,. akhirnya kau goyah. apa Keke sangat menggoda hingga kau tak bisa menolaknya?"


"Entahlah, semuanya terjadi begitu saja. Keke mengatakan dia menyukai ku, mungkin karena itu aku goyah."


"Aku yakin kau juga menyukai Keke, karena itu kalian bisa melakukan hal itu." ucap Zaid tersenyum menggoda Harun.


"Sudah lah, jangan menggoda ku terus. ini semua terjadi karena kasus mu. kau berdoa lah semoga pihak personalia tidak menemukan bukti kesalahan mu."


"Salah ku? aku tidak merasa berbuat kejahatan di perusahaan ini." ucap Zaid penasaran dengan ucapan Harun.


"Melani mengaku mengandung anak mu, kau mengajaknya melakukan itu di kantor mu." ucap Harun


"Apa dia gila. aku tidak pernah terpikir untuk menyentuhnya apa lagi mengajaknya berhubungan. aku akan menemuinya." ucap Zaid berdiri dari duduknya hendak menemui Melani.


"Kenapa hanya mendapat sanksi seperti itu? seharusnya dia dipecat." ucap Zaid dengan wajah marah.


"Personalia sedang melakukan proses itu, jika ucapan Melani tidak benar maka dia akan dipecat. aku juga tidak yakin dengan ucapan Melani. tapi aku yakin mereka akan menemukan bukti mesum mu bersama Zia." Ucap Harun tersenyum berhasil membalas Zaid.


"Aku memang mesum, tapi kami tidak separah kalian." ucap Zaid masih menyudutkan Harun.


"Apa yang harus aku siapkan untuk bertemu orang tua Melani?" tanya Harun.


"Terserah, asalkan kau tulus semua nya akan berjalan lancar." jawab Zaid.


"Baiklah, aku berencana pulang setelah bicara dengan mu. aku ingin memberitahu orang tua ku. tentang niat ku melamar Keke." ucap Harun.


"Baiklah, pulanglah." ucap Zaid yang sengaja tidak memberi tahu Harun dirinya akan ke rumah Keke malam ini.


Setelah pembicaraan mereka selesai, Harun keluar dari ruang kerja Zaid langsung menuju parkiran. Harun melihat Wanita memakai kacamata hitam, memakai topi dan masker. duduk tidak jauh dari tempat parkiran mobil Zaid.


Harun tidak mendekati wanita itu karena terlihat sedang menelpon. Harun segera masuk ke mobilnya.


Melani sengaja menunggu Zaid keluar dari kantor. Melani ingin bertemu Zia dan Zaid saat keduanya pergi makan siang.


Dua jam menunggu diparkiran Zaid tidak kunjung datang. Melani merasa bosan dan kesal karena rencananya tidak berjalan lancar.


Melani pergi keluar area parkir, untuk makan siang. Melani merasa lelah mengintai Zaid dan Zia. ia tidak ingin menyewa orang lain untuk menolongnya. Melani tahu, dirinya tidak akan diterima bekerja lagi setelah kebohongannya terungkap. Melani bersyukur memiliki waktu untuk mengintai Zia. setelah menyakiti Zia, Melani berencana pergi dari kota itu.


Melani istirahat di mushola rumah makan yang tidak jauh dari kantor.


Menjelang jam kantor selesai, Melani kembali mendatangi parkiran dan duduk di rumput area parkir, Melani memilih duduk didepan mobil Zaid yang terparkir. Melani sengaja duduk didepan mobil Zaid agar tidak terlihat rekan kerjanya yang pulang membawa sepeda motor.


Area parkir sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa sepeda motor dan mobil yang terparkir. Melani melihat Zia dan Zaid berjalan menuju mobil. Melani melihat Zia berpisah dari Zaid karena akan memasuki mobil.

__ADS_1


Melani menyiapkan diri dan langsung meninju perut Zia, menarik kepala Zia hingga jilbab Zia terlepas. Melani menutup mulut Zia dan menyeret Zia ke bagian mobil yang terparkir disebelah mobil Zaid.


Zaid masuk kedalam mobil tapi tidak melihat Zia yang akan masuk kedalam mobil. Zia juga tidak terlihat disisi mobil. Zaid panik dan mencari Zia, menemukan jilbab Zia yang tercecer di samping mobil yang terparkir. Zaid mendengar suara gaduh dan segera berlari kebagian mobil yang terparkir disebelahnya.


Zaid melihat Zia yang sedang menghajar Melani, membuat rambut Melani berantakan, terduduk dan Melani terlihat kacau tak berdaya.


Zaid menahan tubuh Zia yang terlihat masih ingin menghajar Melani walaupun Melani sudah dibuat terduduk tidak berdaya.


Zaid memeluk Zia untuk meredakan kemarahan Zia.


"Apa dia yang membuat jilbab Zia terlepas?" tanya Zaid masih memeluk Zia.


"Iya." jawab Zia dengan nada gemetar karena napasnya masih menggebu.


Zaid melonggarkan pelukannya dan memasang kembali jilbab Zia, mengikat jilbab dibawah dagu Zia agar jilbab Zia kembali menutup kepalanya walaupun tidak sempurna.


Zaid memanggil Satpam dan meminta satpam untuk membawa Melani ke pos mereka.


Tiga orang satpam yang berjaga sore itu melihat kondisi Melani yang lemah.


Zaid menelpon bagian personalia dan meminta mereka melihat kondisi Melani. Zaid juga meminta mereka melihat rekaman Cctv diparkiran. untuk memastikan bagai mana kejadian ini terjadi.


Bagian personalia yang masih mendalami kasus Zaid, langsung bergerak cepat. Mereka meminta satpam untuk menjaga Melani. kemudian mereka bersama Zaid dan Zia pergi ke ruangan rekaman Cctv untuk melihat kejadian sebenarnya.


Zaid sangat marah setelah mengetahui Zia diserang duluan oleh Melani. perut Zia ditinju, Melani juga menjambak kepala Zia membuat jilbab Zia terlepas, dia juga menyeret Zia dengan paksa.


"Segera ambil keputusan dan aku tidak ingin lagi dia memasuki area kantor ini." ucap Zaid dengan nada marah.


Bagian personalia yang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya juga tahu Melani memfitnah Zaid. mereka tidak menemukan kebenaran ucapan Melani. mereka hanya melihat Zaid bersama perempuan yang saat ini berada di samping Zaid.


"Baiklah, kami juga sudah menyelesaikan tugas kami. pak Zaid hanya korban fitnah dari Melani. kami akan segera membuat berita acara dan surat pemecatan untuk Melani." jawab atasan personalia.


"Siapa perempuan muda ini?" tanya yang lain


"Ini istri ku." jawab Zaid merangkul pundak Zia.


"Oh,. Maaf kami tidak tahu jika pak Zaid sudah menikah dan Maaf juga kami telah melihat rekaman pak Zaid bersama istri bapak." ucap tim yang memantau Cctv lift dan ruang kerja Zaid.


Zia merasa sangat malu mengetahui ruangan Zaid terpasang cctv.


"Abang, apa mereka melihat semua yang kita lakukan?" tanya Zia menarik bahu Zaid agar bisa berbisik ditelinga Zaid.


Zaid tersenyum dan membalas bisikan Zia.


"Dikamar kita tidak terpasang cctv, diruang kerja dan ruang santai baru ada cctv." jawab Zaid sambil tersenyum.


Zia tetap merasa malu, karena mereka selalu bermesraan di ruangan santai dan berakhir dikamar.


"Kita ke dokter." ucap Zaid menatap Zia


"Tidak usah, Zia tidak merasa sakit lagi." jawab Zia.


"Abang ingin memastikan keadaan Zia, abang takut perut Zia sakit."


"Besok pagi saja, sore ini kita harus ke rumah Mama kak Keke. apa kita harus mengobati Melani?"


"Tidak usah, biarkan mereka yang mengurus Melani." jawab Zaid.


Mereka pamit dan meminta semua yang tinggal mengurus Melani.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2