Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Kemarahan Melani


__ADS_3

Melani sudah sangat muak dengan sulitnya bertemu dan menghubungi Zaid, pagi ini Melani nekat datang kekantor lebih awal. Melani rela bangun pagi-pagi sekali dan bersiap untuk kekantor seperti biasanya. Melani sudah dua kali mendapat informasi jika Zaid dan istrinya terlihat berada diparkiran pagi-pagi sekali disaat karyawan belum banyak yang datang.


Melani tidak ingin dipermalukan oleh keadaan. teman sekantor Melani juga sudah meragukan hubungan Melani dan Zaid. membuat Melani ingin menemui Istri Zaid dan berhadapan langsung dengannya.


Jarak Kos Melani dan kantor tidak terlalu jauh, tapi Melani harus tetap naik ojek online. agar cepat sampai.


Orang tua Melani tinggal di Kota lain, masih satu Provinsi dan lumayan Jauh dari kota tempat Melani bekerja. Setelah bercerai dari suaminya Melani menafkahi dirinya sendiri dan sesekali mengirim uang untuk kedua orang tuanya, walaupun kedua orang tua Melani tidak memerlukannya karena Mereka masih memiliki harta dan usaha yang cukup untuk membiayai hidup mereka.


Orang tua Melani tahu jika Zaid adalah laki-laki yang pernah menjadi kekasih anaknya dan bekerja di kota tempat Melani tinggal saat ini. Melani meyakinkan kedua orang tuanya, jika hubungannya dan Zaid kembali dekat dan mereka bekerja ditempat yang sama, berita yang disampaikan Melani membuat kedua orang tuanya bahagia. mereka tahu Zaid laki-laki baik dan mapan.


"Abang Zia turun duluan ya." ucap Zia pamit setelah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Tunggu abang, abang mau antar Zia kebawah. kenapa selalu ingin meninggalkan abang? terus kenapa buru-buru, kita hanya perlu turun kelantai satu." ucap Zaid yang masih memasang dasinya.


"Zia malu kalau dilihat banyak karyawan, pakaian mereka sangat berbeda dari Zia, mereka berpakaian pendek, seksi. mereka cantik-cantik."


"Ya, ampun sayang. masih juga minder, Zia ini istri abang, status Zia lebih tinggi dari mereka. pakaian Zia juga menarik dan cantik. apa Zia mau berpakaian seperti mereka? mengumbar aurat untuk dilihat rekan kerja?"


"Bukan gitu. Zia hanya supir. kerjanya dijalan, panas. tidak seperti mereka duduk diruang ber-AC dan nyaman."


"Kalau gitu Zia berhenti kerja dan temani abang di kantor. Zia juga bisa tidur di kantor ini." ucap Zaid mulai meninggikan suaranya.


"Gak mau, pokok nya Zia mau cepat kebawah dan gak mau terlambat kerja."


"Abang gak izinkan Zia kerja."


ucap Zaid sambil menatap tajam istrinya.


Zia diam dan menundukkan wajahnya. Zaid mendekati Zia.


"Sekarang abang tanya, masih mau kerja atau tidak?"


"Mau."


"Jika masih ingin bekerja, jangan malu dan izinkan abang mengantar."


"Iya." ucap Zia masih dengan menundukkan kepalanya.


Zaid merasa bersalah karena telah mengeraskan suaranya. membuat Zia ketakutan dan tidak berani menatapnya.


"Maaf abang meninggikan suara, abang tidak mau Zia merasa rendah diri. abang tidak memaksa Zia untuk bekerja dan memilih profesi ini, abang tahu Zia kerja kepanasan. maafkan abang." ucap Zaid dengan nada rendah dan memeluk Zia.

__ADS_1


"Zia juga salah, tidak sabaran. tapi Zia tidak mau lebih banyak karyawan yang tahu tentang pekerjaan Zia. itu akan membuat abang malu."


"Abang tidak malu, abang menghargai keputusan dan pilihan Zia. jika Zia terpaksa dengan pekerjaan ini sebaiknya mundur saja. biarkan abang yang bekerja dan memenuhi semua keperluan Zia. abang masih sanggup."


"Benar abang tidak malu, jika semua karyawan abang tahu pekerjaan Zia?"


"Tidak, abang tidak malu."


"Baiklah, Zia tidak akan memaksa abang lagi untuk cepat-cepat mengantar Zia. Zia akan tunggu abang dan tidak akan minder lagi jika bertemu karyawan kantor."


"Abang tidak ingin Mengantar Zia kerja pagi ini."


"Kenapa? ini sudah mau jam delapan."


"abang ingin Zia, menunaikan kewajiban sebagai istri."


"Tadi malam kan sudah."


"Tidak boleh menolak."


"Nanti Zia capek."


"Jika capek tidak usah kerja hari ini."


Zaid mengendong Zia, membawa Zia kembali ketempat tidur. Zaid ingin membuat Zia kembali tersenyum dan mencairkan suasana yang sempat tegang.


Zia tahu Zaid sangat menyayangi nya, Zia juga tidak tega menolak permintaan suaminya. apalagi perdebatan mereka pagi ini dimulai oleh dirinya sendiri.


Zia memilih tidak masuk kerja hari ini demi melayani suaminya. keduanya kembali berkeringat dan tertidur karena kelelahan.


***


"Sialan, bisa-bisanya mereka tidak terlihat diparkiran saat aku menunggu mereka. kau sangat pintar menyembunyikan wanita bayaran itu Zaid. akan aku buat dia tidak berani mendekati mu lagi. hanya aku pantas menjadi istri mu Zaid." Ucap Melani setelah hampir dua jam lebih menunggu kedatangan Zia dan Zaid diparkiran.


Melani segera mengisi absensi dan pergi ke ruang kerjanya.


Samar-samar Melani mendengar rekan kerja membicarakan Zaid dan Zia.


"Mereka sangat romantis." ucap rekan kerja Melani membuat yang lainnya ikut membayangkan apa yang diceritakan teman mereka.


"Siapa yang romantis?" tanya Melani.

__ADS_1


"Pak Zaid dan istrinya, dan saya rasa gosip pernikahan buk Melani dan pak Zaid itu hanya sebuah berita bohong." ucap salah satu rekan Melani.


"Jaga ucapan mu, jika ucapan ku terbukti kalian tidak akan aku izinkan bekerja di perusahaan ini." ancam Melani.


"Nih lihat, jika perempuan ini istri bayaran pak Zaid, mana mungkin mereka bisa tampil mesra di taman kota, Saya lihat sendiri pak Zaid makan sisa cemilan dari tangan istrinya. saat keluar dari taman kota pak Zaid yang memeluk istrinya, terlihat jika pak Zaid sangat menyayangi istrinya. aku yakin perempuan ini istri sah pak Zaid." ucap rekan Melani yang sempat melihat dan mengambil gambar kemesraan Zaid dan Zia di taman kota malam tadi.


"Aku tidak peduli, aku yakin Zaid akan menikahi ku." ucap Melani masih dengan keyakinannya.


Empat orang kawan sekantornya merasa aneh dengan ucapan Melani yang masih ngotot dengan keyakinannya. Mereka bubar dan kembali duduk ditempat kerja masing-masing.


Melani keluar dari ruangannya dan naik kelantai 26 untuk menemui Zaid.


"Tolong beritahu Zaid jika aku ingin bertemu." ucap Melani memberi perintah kepada Keke.


"Maaf, tapi pak Zaid tidak masuk kerja."


"Aku tidak percaya, mana mungkin dia tidak kekantor, kau ingin membodohi ku?"


"Aku sudah duduk dimeja ini dari jam 8 pagi, aku tidak melihat pak Zaid datang." jawab Keke


"Apa Zaid sering tidak masuk kantor?"


"Ya, maklum pengantin baru." jawab Keke membuat kuping Melani panas dan dadanya sesak.


"Sampaikan pada Zaid untuk membalas pesan dan mengangkat telpon ku, itu tawaran ku jika dia ingin istri pendeknya selamat. atau suruh Zaid untuk segera menikahi ku, maka aku tidak akan mengincar istrinya lagi." ucap Melani dan pergi meninggalkan Keke yang heran dengan ucapannya.


"Dia mengancam Zia lagi?" tanya Harun yang sempat mendengar ucapan Melani.


"Ya, Sepertinya dia sangat putus asa untuk mendekati pak Zaid dan dia juga ingin bertemu Zia."


Harun tersenyum.


"Apa Zaid tidak Kekantor?"


"Sepertinya tidak, saya tidak melihat pak Zaid datang."


Harun ingat tadi pagi diparkiran ia melihat mobil yang baru dibeli Zaid saat akan menikah dengan Zia. Harun memastikan keberadaan Zaid dan masuk kekantor Zaid. Mencari Zaid diruang santai dan mengintip dikamar tidur Zaid. Harun melihat punggung Zaid dan bagian perut Kebawah masih ditutupi selimut.


Harun membuka pintu lebih lebar lagi, terlihat Zia tertidur dalam pelukan Zaid.


"Dasar pengantin baru, tapi syukurlah mereka tidak bertemu Melani." batin Harun.

__ADS_1


Harun kembali menutup pintu dan meninggalkan ruang kerja Zaid.


...----------------...


__ADS_2