
Pagi hari saat Zia mandi, Zaid menyiapkan pakaian Zia dan miliknya yang disimpan dalam satu koper. pagi ini mereka akan ke kota X. setelah dari kota X Zaid berencana membawa Zia ke provinsi X untuk melihat laut.
"Abang, berapa jam untuk sampai di kota X?" tanya Zia yang sedang memasang jilbab.
"Sekitar tiga jam." jawab Zaid yang sedang memakai baju selesai mandi.
"Siapa saja yang ikut?"
"Harun dan Ali, tapi mereka naik mobil sendiri."
"Oh, kita berangkat beriringan?"
"Iya."
"Kenapa kak Keke tidak ikut?"
"Lebih baik Keke tinggal, Harun tidak akan fokus kerja jika Keke ikut."
"Kalau Zia ikut, apa tidak akan mengganggu kerja abang?"
"Tidak, justru abang akan semangat jika Zia ikut." ucap Zaid sambil tersenyum.
"Ayo berangkat. Ali sudah dibawah." ucap Zaid meraih tangan Zia.
Mereka segera keluar dari kantor, Zaid tidak melihat Keke di kursi kerjanya. Zaid melihat pintu ruang kerja Harun yang tidak tertutup rapat.
"Zia, tunggu disini." ucap Zaid meninggalkan koper dan Zia didepan meja kerja Keke.
Zaid masuk keruangan Harun. Harun tidak terlihat di kursi kerjanya. Zaid melihat kamar tidur Harun dan membukanya.
"Astaga, kalian sering melakukan ini?" tanya Zaid kaget melihat Harun berada di atas tubuh Keke yang sedang asik mengasah bibir.
Harun kaget dan cepat-cepat menyelimuti seluruh tubuh mereka.
"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu." tanya Harun dari balik selimut dan mengusap bibir Keke yang basah.
"Aku pikir kau masih tidur, mana aku tahu kau membawa calon istrimu kekamar sepagi ini." jawab Zaid.
"Kau seperti tidak pernah berbuat begini saja dengan Zia." jawab Harun.
"Seingat ku, aku tidak pernah menindih tubuh Zia sebelum kami menikah. apa kalian sudah buka segel?"
"Kami tidak berbuat sejauh itu." jawab Harun.
"Cepatlah keluar dari selimut, itu akan memancing kalian berbuat lebih jauh." ucap Zaid yang masih berdiri didepan pintu kamar Harun.
Harun segera keluar dari selimut dan membantu Keke untuk duduk, mereka sama-sama berdiri dihadapan Zaid.
"Keke sebaiknya kau cuti kerja sampai kalian menikah. aku tidak mau kalian berbuat seperti itu lagi di kantor ini." ucap Zaid menatap Keke dengan rambut masih berantakan.
"Pernikahan kami masih lama, kami janji tidak akan melakukan ini lagi." jawab Keke.
"Aku tidak bisa percaya janji kalian, lebih baik kau menjaga dirimu di rumah. kau setiap hari kekantor dengan pakaian kurang bahan dan ketat membuat Harun tidak fokus kerja. Kau boleh pulang pagi ini." ucap Zaid serius dengan ucapannya.
"Baiklah." jawab Keke.
__ADS_1
Keke keluar dari kamar dan merapikan rambutnya. Keke pergi keruang kerjanya.
"Kak Keke sudah datang?" tanya Zia.
"Iya, Kau mau pergi?" tanya Keke.
"Iya, Zia ikut bang Zaid."
"Hati-hati dijalan dan tolong awasi bang Harun."
"Kakak tenang saja, pak Harun tidak akan macam-macam."
Zaid dan Harun keluar dari ruang kerja Harun.
"Ayo kita berangkat." ucap Zaid memeluk pinggang Zia dan menyeret kopernya, Keduanya berjalan menuju lift.
"Pak Harun tidak ikut naik lift?" tanya Zia melihat Harun masih berdiri didepan meja kerja Keke.
"Dia akan menyusul." jawab Zaid,
pintu lift tertutup.
"Maaf Keke, aku tidak bisa membela mu. Zaid tetap ingin kau cuti." ucap Harun.
"Baiklah, mungkin ini memang yang terbaik. hampir setiap hari kita berbuat dosa, walaupun kita tidak melakukan hubungan suami istri. bisa jadi ini teguran. maaf ya bang, semua ini terjadi karena Keke yang selalu memulainya."
"Semua terjadi karena keinginan kita berdua. ayo kita turun." ucap Harun.
Keke mengangguk dan keduanya masuk kedalam lift.
saat pintu lift tertutup Keke langsung memeluk Harun dan mencium bibir Harun, keduanya saling berbalas sampai pintu lift terbuka.
Zaid dan Zia berangkat duluan, Ali dan Harun menyusul mereka.
Tiga jam perjalanan mereka sampai di kota X, mereka berhenti di rumah makan untuk mengisi perut.
Zaid menggandeng tangan Zia memasuki rumah makan.
Ali dan Harun ikut menyusul. mereka duduk satu meja.
Seorang wanita berumur menghampiri meja mereka. wanita itu berdiri diantara Zaid dan Harun.
"Zaid, Harun." ucap wanita itu menyapa.
Zaid dan Harun menoleh.
"Tante, apa kabar?" tanya Harun.
"Dimana paman?" tanya Zaid.
Harun menggeser duduknya, menyuruh wanita itu duduk di kursi nya.
"Tante sehat, Paman ada diparkiran. apa wanita muda ini sekretaris mu?" tanya wanita itu menatap Zaid.
"Tidak, ini istri ku." jawab Zaid.
__ADS_1
"Istri? Kapan kalian menikah?" tanya wanita itu.
"Dua bulan yang lalu." jawab Zaid.
"Apa Melani tahu, jika kau sudah menikah?"
"Sudah. dan Melani tidak bekerja di kantor kami lagi." jawab Zaid.
"Mungkin Dia kecewa." jawab Wanita itu.
"Melani tidak menerima pernikahan kami, padahal dulu dia yang meninggalkan aku, dia kembali saat aku sudah bersama Zia dan aku tidak memiliki perasaan lagi untuk Melani." jawab Zaid.
Pelayan rumah makan menyajikan makan siang dimeja mereka.
"Melani memberitahu kami, jika hubungan kalian baik dan semakin dekat. bahkan Melani mengatakan dalam waktu dekat kau akan datang bersamanya menemui kami. apa mungkin Melani membohongi kami?" tanya wanita itu
Mereka kaget dengan apa yang disampaikan Ibu Melani. ternyata Melani selalu memberi kabar bahagia dan berbohong tentang hubungannya bersama Zaid.
"Kami tidak pernah dekat, apa lagi aku sudah punya istri." jawab Zaid.
"Sebaiknya Tante mengunjungi Melani, bagaimana pun hidup di kota seorang diri bagi wanita itu tidak baik." jawab Harun.
"Baiklah, kami akan mengunjungi Melani dalam waktu dekat. jujur kami sangat bahagia saat Melani menyampaikan kalian akan mengunjungi kami. bagaimana pun kita sudah lama kenal. selama kuliah kalian juga banyak membantu Melani. Tante tidak masalah jika Melani menjadi istri kedua mu Zaid." ucap ibu Melani.
Ucapan ibu Melani membuat mereka kaget dan merasa prihatin melihat Zia yang mendengar semuanya.
"Tidak, aku tidak tertarik untuk memiliki dua istri." jawab Zaid.
Zaid melihat Zia dan membawa Zia dalam pelukannya.
"Maaf sayang, jika ucapan ibu Melani menyakiti mu. abang hanya mencintai mu." ucap Zaid berbisik ditelinga Zia.
ucapan Zaid membuat Zia tersenyum.
Ibu Melani merasa malu melihat kemesraan Zaid bersama istrinya. apa lagi Zaid terlihat sangat mencintai istrinya.
"Tante pulang dulu, sepertinya pesanan kami sudah selesai dibungkus. mampir lah ke rumah." ucap Ibu Melani.
"Maaf Tante kami hanya sebentar ke kota ini. semoga Melani cepat mendapatkan jodoh." jawab Harun.
"Ya, terimakasih doanya." jawab Ibu Melani dan meninggalkan mereka.
"Tenang Zia, kami tidak akan membiarkan Zaid memiliki wanita lain. jika pak Zaid mempermainkan pernikahan kalian. aku akan pasang badan." jawab Ali.
"Aku juga, aku abang mu. aku akan carikan laki-laki lebih ganteng dan lebih kaya dari Zaid." jawab Harun.
"Enak saja, Zia tidak butuh kalian. aku akan menjaga Zia dan selalu bersamanya." jawab Zaid.
Zia tersenyum.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar." ucap Zia.
"Wah, ternyata ucapan ibu Melani tidak mempengaruhi selera makan Zia." jawab Ali.
"Bagus Zia, jangan cemburu dengan hal yang tidak jelas, apa lagi sampai tidak nafsu makan." jawab Harun
__ADS_1
Zia dan Zaid tersenyum, Zaid segera melepaskan tangannya dari bahu Zia. mereka segera menyantap makan siang yang sudah terhidang.
...----------------...