Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Melihat perempuan seperti Tante


__ADS_3

Setelah mengerjakan laporan untuk persentasi Zaid tidur.


Jam 9 pagi waktu Qatar Zaid bangun dan mandi. Setalah berpakaian Zaid menelpon Zia, istri yang sangat ia cintai dan rindukan. menggunakan video call


"Assalamualaikum sayang."


"Waalaikumussalam, abang."


"Apa abang mengganggu tidur siang mu?"


"Tidak, Zia baru akan tidur. abang rapi sekali mau kemana?"


"Sebentar lagi akan bertemu calon investor bersama Abi, Abi masih dalam perjalanan."


"Abang tidak berada rumah Kakek?"


"Tidak, abang di hotel. bertemu calon investor dulu setelah itu baru ke rumah Kakek."


"Oh, semoga pertemuan abang sukses."


"Terimakasih doanya."


"Abang, boleh Zia izin ke pasar bersama Mama kak Keke? tidak lama, Mama kak Keke setiap pagi ke pasar, Zia bosan di rumah seharian. Zia ingin membantu Mama kak Keke untuk belanja."


Zaid diam dan memikirkan ucapan Zia.


"Baiklah abang izinkan, tapi hanya ke pasar. Zia tidak boleh pergi kemanapun selain ke pasar dan pergi hanya bersama Mama Keke."


Zia tersenyum senang mendapatkan Izin dari suaminya.


"Iya, Zia hanya akan ke pasar bersama Mama kak Keke. terimakasih."


"Ya, tunggu abang kembali baru kita pergi kemana pun dan membeli peralatan rumah."


"Ternyata abang juga punya niat untuk membeli peralatan rumah, syukurlah." ucap Zia tersenyum.


"Tentu saja, abang juga punya kejutan untuk Zia. karena itu abang tidak ingin Zia pergi kemana pun tanpa izin dari abang."


"Wah,. kejutan apa?"


"Belum bisa abang sebutkan, yang jelas Zia jangan kemana-mana dulu."


"Baiklah, Zia hanya akan di rumah, pergi kerja dan Ke pasar."


"Jangan tidur dijalan lagi. jika lelah hubungi Harun."


Zia tersenyum, ternyata Harun sudah memberi tahu Zaid tentang kejadian sore kemaren.


"Iya, abang cepat kembali, Zia rindu."


"Tentu, abang juga sangat merindukan Zia, doakan urusan abang lancar dan cepat selesai. abang akan segera kembali."


"Baiklah."

__ADS_1


"Sudah dulu ya, sebentar lagi Abi akan sampai."


"Ya."


Mereka mengakhiri percakapan singkat siang ini.


Pagi tadi setelah sarapan Mama Keke pergi ke pasar tanpa membawa Zia bersamanya, Zia sendirian di rumah dan sangat bosan, tidak ada teman untuk dihubungi, pekerjaan rumah juga sudah selesai mereka lakukan.


Dua jam ke pasar Mama Keke kembali, Zia ikut membereskan barang belanjaan Mama.


Setelah menelpon dan mendapat izin dari suaminya Zia menemui Mama Keke yang sedang membuat kue pesanan pelanggan.


"Buk, besok pagi Zia mau ikut ibuk ke pasar. boleh?"


"Boleh. asal suami Zia sudah memberi izin."


"Barusan suami Zia telpon, Zia sudah mendapat izin untuk ke pasar bersama ibuk."


"Oh, baguslah. Mama sebenarnya juga bosan kalau seharian berada di rumah, karena itu Mama tiap pagi pergi ke pasar. besok kita ke pasar hanya pakai motor, kamu tidak keberatan?"


"Zia tidak keberatan Buk, Zia juga biasanya kemana-mana naik motor."


"Baiklah besok pagi kita ke pasar." ucap Mama tersenyum dan melanjutkan menghias kuenya.


****


Pagi hari seperti pagi kemaren Keke dan Papa berangkat kerja, Setelah membereskan piring sarapan Zia dan Mama bersiap-siap untuk ke pasar. Zia membonceng Mama menggunakan sepeda motor metik yang biasa digunakan Mama, tidak lupa mereka membawa keranjang belanja yang di selipkan Zia di bagian depan diantara kaki nya.


15 menit perjalanan mereka sampai di pasar. Zia merasa kembali ke masa saat hidup bersama Ibu nya. Zia akan selalu membonceng ibu dan membawa keranjang belanja selama berada di pasar. ada kebahagian sendiri bagi Zia jika sudah berada di pasar, selain bisa bertemu penjual langganan Zia juga bisa menemukan aneka sayur, lalap dan buah-buah musiman yang dijual dengan harga murah.


"Zia lihat dulu, buk."


"Oh, kamu suka berkeliling pasar juga ternyata. kalau Keke dia paling malas ke pasar. apalagi jika sudah hujan. dia hanya akan menemani Mama sampai diparkiran."


Zia tersenyum mendengar ucapan Mama.


Mama mengajak Zia membeli daging, Mama berencana membuat sate daging sore ini.


Zia melihat meja penjual yang menjual udang sungai disebelah tempat penjual daging. Zia teringat saat dirinya makan udang dan menyuapi suaminya.


"Buk Zia mau beli udang disebelah."


"Ayok."


Mama ikut dan menanyakan harga udang yang dilihat Zia. Mama membeli udang yang hanya tersisa setengah kilo gram.


"Buk pakai uang Zia aja."


"Jangan." Mama menolak uang yang diberikan Zia.


"Kamu sudah Mama anggap anak sendiri. ayok, Zia mau beli apa lagi?"


Zia tersenyum. Zia beruntung bertemu keluarga Keke. mereka baik dan menyayangi nya.

__ADS_1


Seorang perempuan berkaca mata hitam, memakai masker dan mengenakan selendang penutup kepala tersenyum mendengar pembicaraan Zia dan Mama. saat perempuan itu pergi Zia melihat punggungnya dan merasa tidak asing dengan sosok wanita yang baru saja melewati mereka.


"Tante." ucap Zia dengan suara pelan.


Zia ragu untuk mengejar, karena Tante tidak pernah memakai penutup kepala. wanita itu juga terlihat lebih kurus dari Tantenya.


"Kamu lihat siapa Zia?" tanya Mama.


"Zia seperti mengenal wanita yang berjalan itu Buk." ucap Zia sambil menunjuk wanita yang sudah jauh dari mereka.


"Kenapa tidak dikejar?"


"Zia ragu, Zia takut salah orang."


"Oh,. ya sudah, ayok, kita cari jajanan favorit Mama, Setelah itu kita pulang."


"Ya."


Zia dan Mama pergi mencari jajanan pasar setelah itu mereka pulang.


*****


"Kenapa Ibu bisa berpenampilan seperti ini?" tanya Rianti melihat ibunya memakai penutup kepala dan masker.


"Ibu hampir saja ketahuan, tadi di pasar ibu melihat Zia bersama perempuan lebih tua dari ibu. ibu terpaksa membeli selendang dan kaca mata hitam agar Zia tidak mengenali ibu."


"Zia ke pasar bersama mertuanya?"


"Bukan, tadi ibu dengar perempuan itu bilang, "Zia sudah Mama anggap anak sendiri."


"Wah, apa Zia ditinggal si Arab karena Zia miskin? dan Zia hidup dari balas kasihan orang lain?" ucap Rianti.


"Mana ibu tahu. Kasian juga Zia, dia tidak bisa tinggal dirumahnya sendiri, ditinggal suami dan hidup menumpang."


"Itu hukuman untuk Zia buk, coba kalau dia mau mengizinkan aku tinggal bersamanya setelah aku menikah, pasti hidupnya tidak akan sengsara. dia sengaja menikah lebih dulu dari Ku untuk menggagalkan rencana kita. sekarang dia kena batunya, tersingkir dari rumah sendiri, dibuang suami dan hidup menumpang."


Rianti dan Ibunya tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya Zia tidak akan kembali kerumahnya, siang ini kita pulang ke perumahan untuk membereskan rumah. apalagi acara pernikahan mu tinggal 10 hari."


"Baiklah, untuk apa juga kita bersembunyi dari Zia. aku yakin buk, saat pernikahan ku nanti Zia akan datang dan mengemis makanan kepada kita. ha..ha..ha..."


"Hus,. kamu tidak boleh bicara seperti itu, kita masih keluarga, ibu yakin ayah mu akan terus mencari keberadaan Zia. dia pasti mengharapkan kehadiran Zia saat pernikahan mu."


"Santai saja Buk, Ayah tidak akan pernah bertemu Zia, apalagi menghubungi Zia."


"Benar juga, kadang ibu merasa bersalah saat melihat ayah mu pusing tidak bisa menghubungi siapapun karena Hp nya kita jual."


"Nanti aku akan belikan Ayah Hp baru, tapi setelah pernikahan ku."


Tante tersenyum mendengar ucapan Rianti, itu akan menjadi hadiah pertama dari Rianti untuk mereka sebagai orang tuanya.


...----------------...

__ADS_1


ingat klik jempol setelah dibaca ya,. 👍🏼


__ADS_2