Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Mengunci langkah Melani


__ADS_3

Setelah istirahat makan siang, Harun menemui Zaid dikantornya.


"Ada perlu apa?" tanya Zaid.


"Tadi pagi Melani ingin menemui mu lagi."


"Ada perlu apa lagi dia mencari ku?"


"Dia memberitahu Keke, agar kau mengangkat telpon dan membalas pesannya, Melani juga meminta mu untuk menikahinya dengan begitu dia tidak akan mengganggu Zia."


"Ha..ha..ha.. dia lucu sekali, apa dia pikir aku masih ingin menemuinya dan menginginkannya?"


"Begitulah, dia tidak mempercayai pernikahan mu, dia menyebut Zia sebagai istri bayaran mu."


"Katakan aku harus bagaimana?"


"Temui dia."


"Aku muak dan tidak ingin melihatnya. kau saja yang mengurus Melani."


"Dia akan mengincar Zia."


"Zia akan terus bersama ku dan dalam pengawasan ku. jangan khawatir."


"Aku boson melihat dia terus datang kelantai 26 dan berbicara tidak sopan dengan Keke."


"Suruh atasan bagian perencanaan membuat peraturan, bawahannya dilarang naik kelantai 26, jika terjadi. maka buat surat peringatan untuk yang tetap naik kelantai 26."


"Kenapa tidak dari awal buat peraturan seperti ini?" ucap Harun merasa ide Zaid sangat membantunya untuk mengunci langkah Melani.


"Dari dulu tidak ada yang berani naik kelantai 26 selain sekretaris. aku baru tahu jika Melani sering naik kelantai 26." jawab Zaid


"Baiklah, aku sudah bingung untuk menghadapi Melani, Dia seperti orang kurang waras."


"Mungkin memang seperti ini sifat aslinya. suka memaksakan kehendaknya sendiri, wajar saja jika dia dicampakkan."


"Kau juga, jangan mengurung Zia bersama mu seharian di kantor."


"Bagaimana kau tahu?"


"Dasar, apa tidak cukup malam hari untuk berduaan?"


Zaid tersenyum.


"Cepatlah menikah, maka kau akan tahu rasanya."


"Sudahlah percuma berdebat dengan mu. aku akan panggil kepala bagian perencanaan, semoga saja langkah ini akan buat Melani menyadari siapa dirinya."


Harun berdiri dan meninggalkan Zaid yang tersenyum melihatnya.


Zaid melihat jam ditangannya saat ini sudah hampir jam dua siang, Zaid berencana pulang siang ini. Zaid tahu Zia tidak mungkin betah seharian berada di kantor tanpa melakukan kegiatan apapun.


Zaid menemui Zia dikamar yang sedang duduk di atas tempat tidur menonton tv.


"Sayang, mau pulang sekarang?"

__ADS_1


"Iya, ayok." Zia terlihat senang tawaran pulang dari suaminya.


"Tidak betah tinggal seharian di kantor abang?" tanya Zaid naik keatas tempat tidur memeluk Zia.


"Zia bosan, enakan di rumah. bisa mengerjakan pekerjaan rumah."


"Walaupun ada abang tetap bosan?"


"Sedikit." jawab Zia tersenyum.


"Bang Harun sudah keluar?" tanya Zia


"Sudah."


"Membahas apa bersama bang Harun?"


"Melani. tadi pagi Melani naik kelantai 26, memberitahu Keke agar abang mengangkat telpon dan membalas pesan darinya."


"Oh, penuhi saja permintaannya."


"Dia juga meminta abang menikahinya."


Zia terdiam dan menatap Zaid.


"Kenapa tidak merespon?" tanya Zaid. menatap Zia.


"Abang mau nikah lagi?" tanya Zia.


"Tidak, abang sudah punya istri." jawab Zaid


"Terus permintaan Melani bagaimana?"


"Zia gak mau abang dekati dia, apalagi sampai menikahi dia. Zia gak izin dan gak rela berbagi suami."


"Pintar, ini baru istri abang. Melani tidak akan bisa naik kelantai 26 lagi. Harun sudah mengunci langkahnya. Jika Zia bekerja, selalu hati-hati dan menjauh dari Melani. Abang tidak ingin Zia menemui Melani apalagi sampai berurusan dengannya."


"Baiklah, jika Zia dalam bahaya boleh Zia menyerang?"


"Berkelahi tidak menyelesaikan masalah, tapi jika itu bisa membuat musuh kapok dan Zia tidak terluka, abang izinkan Zia untuk menyerang."


"Baiklah. kapan kita pulang?" tanya Zia


"Sekarang saja, Zia ganti baju dulu. abang mau mengabari Harun." ucap Zaid mengecup kening Zia dan turun dari kasur menelpon Harun, memberi kabar mereka pulang siang ini.


Setelah Zia selesai berpakaian mereka keluar dari kantor.


"Loh, ternyata pak Zaid dan Zia ada di kantor, apa bapak lebih dulu datang dari saya?" tanya Keke.


"Ya, kami sudah berada di kantor dari tadi malam." jawab Zaid.


"Bapak membawa Zia tidur di kantor tanpa tidur ditempat yang nyaman?" tanya Keke yang tidak tahu jika ruang pak Zaid memiliki kamar tidur yang lebih luas dari kamar kerja Harun.


"Ada kamar di ruang kerja bang Zaid, kak." jawab Zia


"Benarkah? tapi Kakak tidak pernah melihat pintu kamarnya."

__ADS_1


"Jika ingin melihat ajak Harun, kalian juga bisa memakai tempat tidur kami." ucap Zaid membuat Keke dan Zia melotot kan matanya.


"Ada apa menyebut nama ku?" tanya Harun keluar dari ruang kerjanya.


"Keke tidak tahu ruangan ku memiliki kamar, dari pada membuat Keke penasaran lebih baik kau mengajaknya melihat kamar kami." ucap Zaid sambil memegang pundak kanan Harun.


"Enak saja, kenapa harus aku yang mengajak Keke melihat kamar kalian, Zia masih disini. Zia saja membawa Keke sebentar. pergilah Ke." ucap Harun menyuruh kedua wanita yang ada didepannya.


"Kenapa pintunya bisa terkunci?" tanya Zia yang tidak pernah membuka pintu ruang kerja Zaid. setiap kali datang dan pulang kantor Zaid akan selalu membukakan dan menutup pintu itu.


Harun, Zaid dan Keke tertawa.


"Hanya tangan pak Zaid dan pak Harun yang bisa membuka pintu itu Zia." ucap Keke.


"Ini rumah sekaligus kantor abang, pintunya sengaja abang buat menggunakan sidik jarik. jadi tidak ada yang bebas masuk keruangan kita." ucap Zaid memeluk Zia.


"Apa tidak ada petugas kebersihan yang membersihkan ruangan abang?" tanya Zia


"Tidak, abang bersihkan sendiri. kecuali kaca bagian luar, tempat kerja Keke dan ruang kerja Harun."


"Kak Keke tidak pernah lihat petugas kebersihan masuk ruang Pak Zaid?"


"Selama bekerja, kakak belum pernah lihat." jawab Keke yang sudah satu bulan bekerja di perusahaan itu.


Zaid membawa Zia kembali keruang kerjanya. menutup pintu dan mengajak Zia bicara empat mata diruang santai.


"Kenapa bertanya seperti itu kepada Keke? tidak mempercayai ucapan abang?" tanya Zaid.


"Ya, bagaimana jika abang membawa dan mengunci wanita di ruangan ini pasti tidak ada yang tahu dan dia juga tidak bisa ditolong."


"Apa abang terlihat seperti laki-laki buaya?"


"Tidak, tapi Zia takut abang berbuat begitu."


"Apa yang harus abang lakukan?"


"Ganti pintunya dengan pintu biasa."


"Zia ingin kantor abang dimasuki siapapun?"


"Tidak, tapi.."


Zaid melahap bibir Zia. Zaid tidak ingin mendengar ucapan dari pemikiran buruk istrinya, karena Zaid tidak pernah berbuat dan terpikir berbuat seperti apa yang dipikirkan Zia.


Tidak puas dengan ******* bibir Zia, Zaid kembali membawa Zia kekamar untuk olahraga siang.


"Apa ini hukuman karena Zia berpikir terlalu jauh?" tanya Zia saat mereka sudah selesai olahraga.


"Abang tidak ingin Zia berpikiran buruk lagi. abang tidak pernah berbuat dan terpikir berbuat begitu. jika ada tamu abang akan menemui mereka dilantai 25, itu juga bersama Harun atau Keke. hanya Harun dak keluarga abang yang bebas masuk ruangan ini. abang membawa Zia kekantor ini setelah kita memiliki hubungan, Zia masih ingat? dan tolong jangan meragukan abang, bagi abang ini tubuh yang akan selamanya abang kagumi dan membuat abang ketagihan." ucap Zaid mengusap lengan Zia yang berbaring disampingnya.


"Maaf, tadi Zia berpikiran buruk." ucap Zia mengusap pipi Zaid.


Zaid memeluk tubuh polos Zia, Zaid tahu hubungan mereka yang baru seumur jagung membuat Zia masih belum cukup mengenal kepribadiannya.


"Abang sudah memaafkan Zia. kita tidur dulu baru pulang ke rumah." ucap Zaid yang masih memeluk Zia.

__ADS_1


Zia mengangguk, Zia juga merasa lelah karena olahraga panas mereka siang ini.


...----------------...


__ADS_2