Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Kesepakatan Zia dan Zaid


__ADS_3

"Kenapa Zia tidak pulang?" tanya Mama saat mereka akan makan malam.


"Pak Zaid sudah kembali." jawab Keke.


"Seharusnya mereka ke rumah ini dulu, kenapa Zaid langsung membawa Zia pulang bersamanya?" tanya Mama kesal.


Mama sudah menganggap Zia sebagai anaknya sendiri. Mama merasa sedih dan kecewa dengan sikap Zia dan Zaid yang pergi begitu saja.


Keke pergi kekamar mengambil Hp dan menelpon Harun.


"Halo, pak. Zia dan pak Zaid apa mereka pulang kerumahnya?"


"Iya, Zia demam. tadi Zia juga habis kelahi dengan teman masa SMA nya."


"Ya, ampun. apa Zia terluka?"


"Tidak, dia kelelahan dan mungkin karena itu dia demam."


"Apa Dodi tidak menjaga Zia?"


"Dodi menjadi juri saat Zia bertarung."


"Astaga, aku akan beri Dodi pelajaran. enak saja dia jadi juri dan membiarkan Zia berkelahi."


"Zaid sudah menghukumnya. mungkin besok Zia dan Zaid akan datang ke rumah mu, sampaikan permohonan maaf Zaid kepada Mama dan Papa karena tidak mengantar Zia pulang ke sana."


"Baiklah, nanti Aku sampaikan."


Keke segera kembali ke ruang makan dan menceritakan apa yang terjadi dengan Zia.


"Ayo, kita makan. setelah itu kita jenguk Zia. Mama ingin lihat Zia." ucap Mama segera menyendok nasi dan lauk untuk segera dimakan.


Papa dan Keke setuju dengan ajakan Mama, Mereka segera makan. Selesai makan Keke kembali menelpon Harun meminta alamat tempat tinggal Zia.


Bel rumah Zaid berbunyi.


Di rumah hanya ada Zaid dan Zia.


"Siapa yang datang bang?" tanya Zia


"Tidak tahu, abang akan lihat ke depan." ucap Zaid meninggalkan Zia dikamar.


Zaid membuka pintu, sedikit kaget dengan kedatangan Keke dan kedua orang tuanya.


"Kami ingin melihat Zia, apa demamnya tinggi?" tanya Mama.


"Aa,. Zia sudah tidak demam, tadi sudah minum obat. Silahkan duduk dulu biar saya panggilkan Zia." ucap Zaid.


"Jangan, biar kami yang menemui Zia. dimana Zia?" tanya Mama.


"Zia dikamar." jawab Zaid gelisah.


Zaid khawatir jika Mama Keke nekat menemui Zia dikamar, seprai dikamar belum mereka bereskan. Zia masih sedikit sulit berjalan dan belum berpakaian.


"Apa kami boleh ke kamar?" tanya Mama.


"Aa,. Boleh, tapi jangan masuk sekarang Kamar sedang berantakan." ucap Zaid gugup.


"Tidak masalah, kami hanya sebentar hanya ingin bertemu Zia." jawab Mama.


"Tunggu dulu." ucap Zaid berdiri dan setengah berlari menuju kamarnya meninggalkan Keke dan kedua orang tuanya.


"Kenapa dia menahan kita?" tanya Mama.

__ADS_1


"Itu kamar mereka, privasi mereka. wajar jika Zaid tidak ingin kita melihat kamarnya yang berantakan. berikan mereka waktu untuk merapikan kamarnya." jawab Papa.


Mama diam dan menuruti ucapan Suaminya.


"Siapa yang datang bang?" tanya Zia saat Zaid masuk kekamar.


"Keke dan orang tuanya, mereka mau masuk kekamar ini." jawab Zaid sambil mencari seprai baru di lemari nya.


"Zia bisa berdiri? abang mau ganti seprai ini."


Zia mengangguk dan berdiri dipinggir tempat tidur.


Zaid segera membuka seprai dan memasang seprai yang baru, mengambilkan pakaian untuk Zia beserta jilbab dan kembali membantu Zia duduk di kasur. piring makan mereka masih di atas meja yang menempel dengan tempat tidur di bagian kaki.


Zaid membuka pintu kamar dan memberi izin kepada Keke dan kedua orang tuanya untuk masuk.


"Sayang, kenapa tidak beritahu Mama jika kamu demam?" ucap Mama saat mereka sudah masuk ke kamar dan melihat Zia duduk di atas tempat tidur, Mama meraba kening Zia.


"Zia sudah minum obat, sudah baikan. rencananya Zia akan menelpon Ibuk sebentar lagi."


"Pak Harun bilang kamu tadi kelahi, apa ada yang terluka?" tanya Keke sambil menyentuh lengan Zia.


Zaid segera duduk disebelah Zia, Zaid memastikan Keke tidak membuka jilbab Zia karena banyak tanda yang akan terlihat jika Keke membukanya.


"Hanya lebam di lengan, tapi besok akan hilang." jawab Zaid sambil mengusap kepala Zia


"Oh, syukurlah. besok jangan mau di ajak kelahi lagi. Mana tahu Zia sedang proses kehamilan jangan sampai mereka memukul perut Zia." ucap Mama, membuat Zia dan Zaid saling menatap.


"Mama Keke betul sayang, jangan berkelahi lagi. semoga kita segera mendapat kabar gembira itu." ucap Zaid menyentuh perut Zia.


Zia tersentuh dengan ucapan Zaid, Zia lupa akan kehamilan. Zia melihat wajah Zaid yang bahagia saat Mama mengungkit kehamilan. Zaid sudah pasti sangat menantikan kabar gembira itu.


"Jika sudah baikan besok main ke rumah Mama, kita buat acara makan sate lagi." ucap Mama tersenyum melihat Zia.


"Iya Buk." jawab Zia


Zia meraih tangan Mama dan mencium tangan itu.


"Hati-hati, dan terimakasih kunjungannya." ucap Zia


Mama mengangguk, Keke dan Papa juga menyalami Zia. semenjak Harun menjahili Zia, semenjak itu pula saat bersalaman dengan Keke, Zia akan mencium tangannya.


"Ini buah untuk kalian makan, jangan lupa untuk dihabiskan." ucap Papa, sambil meletakkan buah dimeja sebelah piring kotor mereka.


Zaid terharu melihat kedekatan Zia dan keluarga Keke. Mereka sangat perhatian dan menyayangi Zia. Zaid mengantar mereka sampai di pintu depan, melihat kepergian keluarga Keke dan kembali masuk kedalam rumah.


Zaid mengajak Zia mandi, karena waktu sholat isya sudah masuk. Mereka mandi bersama setelah itu menunaikan sholat isya berjamaah.


"Abang pengen cepat punya anak?" tanya Zia saat mereka sudah di atas tempat tidur.


"Ya, tapi semuanya tergantung istri abang. kalau Zia bagaimana?"


"Zia juga mau. biar rumah ini ramai."


Zaid tersenyum dan membawa Zia dalam pelukannya.


"Jika Zia hamil, abang tidak izinkan Zia bekerja lagi. bagaimana pendapat Zia?"


"Baiklah, Zia akan berhenti kerja."


"Terimakasih sayang."


Zaid semakin erat memeluk Zia. Zaid sangat bahagia dengan jawaban Zia yang siap dengan konsekuensi yang ditetapkan Zaid jika dirinya hamil.

__ADS_1


"Abang, boleh Zia menemui paman?"


"Zai tahu dimana paman?"


"Tidak, tapi jika Zia melihat paman saat diperjalanan boleh Zia menemuinya?"


"Tentu saja, selagi masih di kota ini abang tidak akan melarang Zia."


"Terimakasih, kapan kita belanja peralatan rumah? Zia rindu masakan sendiri."


"Zia tidak masak selama di rumah Keke?"


"Zia hanya bantu, membersihkan dan potong-potong bahan yang akan dimasak. Mama kak Keke tidak izinkan Zia masak."


"Zia sabar dulu ya, mungkin akhir bulan depan kita baru bisa lihat rumah Zia."


"Kenapa bisa selama itu?"


"Boleh dikatakan itulah kejutan yang ingin abang berikan?"


"Abang menghias rumah Zia?"


"Ya, abang minta, Zia tahan diri dulu untuk tidak datang ke rumah itu."


"Waaah,..Zia jadi penasaran."


"Janji. kita hanya pergi ke sana sama-sama."


"Iya, Zia janji."


Zia memeluk erat Zaid, Mereka segera tidur untuk melepas lelah.


***


Rianti tidak berani keluar dari kamarnya, takut dimarahi Ibu apa lagi melihat wajahnya lebam.


"Sial sekali, kenapa Zia masih bisa kuat. gerakannya juga masih lincah, apa Zia tidak hamil karena itu dia berani mengeluarkan tenaganya.. aduh,.wajah ku,. semoga saja bisa cantik lagi sebelum hari pernikahan ku." Rianti berbicara sendiri di kamar nya.


"Rianti buka pintu, Ibu ingin bicara." Ibu Rianti mengetuk pintu kamar yang dikunci Rianti.


"Besok pagi saja buk, aku lelah."


"Memangnya apa kerja mu? enak saja bilang lelah."


"Besok saja buk, tolong lah."


"Dasar kau ini, selalu bertindak semau mu."


"Buk, apa Zia pernah melihat renovasi rumahnya?" tanya Paman mendekati istrinya yang masih didepan kamar Rianti.


"Tidak, Ibu sibuk seharian mengundang dan belanja keperluan pesta. lagian mana mungkin Zia sanggup merenovasi rumahnya."


"Zia sudah punya suami, bisa jadi suaminya yang buatkan rumah."


"Sudahlah, dia kan tahu rumah kita disini. jika dia menganggap kita keluarga Zia pasti datang dan mengunjungi kita." ucap Tante.


"Bapak hanya ingin memastikan Zia sudah kembali ke kota ini atau belum, dia sudah sangat lama pergi ketempat Pak Ngah nya."


"Zia sudah punya suami, jangan dikhawatirkan lagi."


Paman sangat kecewa dengan jawaban istrinya, bagaimana pun Paman ingin mengucapkan terimakasih karena Zia telah memberikan semua peralatan yang ada di rumah nya untuk Rianti.


Paman sangat beruntung Zia memiliki Suami kaya, pemberian dari Zia juga sangat membantu Rianti. Rianti hanya perlu membayar sewa rumah tanpa membeli perabotan dan alat-alat lainnya lagi.

__ADS_1


Paman pergi meninggalkan istrinya dan masuk kekamar untuk tidur.


...----------------...


__ADS_2