
Malam hari saat Zia dan Zaid menonton film aksi. Zia teringat ucapan Rianti yang menyuruhnya kuliah agar sepadan dengan suaminya yang lulusan sarjana.
"Abang, boleh Zia kuliah?" tanya Zia sambil menyandarkan kepalanya di lengan Zaid.
"Kuliah itu memerlukan waktu lama. abang ingin kita segera punya anak."
"Jadi Zia tidak boleh kuliah?"
"Untuk apa Zia kuliah?"
"Zia mau dapat ijazah dan bekerja."
"Abang tidak izinkan Zia bekerja, Zia tidak ingin kita segera punya anak?"
"Ingin, tapi Zia ingin kuliah."
"Bagaimana jika Zia kursus keahlian saja, nanti Zia bisa buka usaha sendiri. Zia juga bisa fokus mengurus rumah."
"Kursus apa?"
"Terserah Zia, silahkan dipikirkan dulu Zia mau menjalankan usaha apa. setelah punya rencana yang matang kasih tahu abang."
"Abang, gak malu punya istri yang hanya lulusan SMA?"
"Kenapa harus malu? Kenapa Zia bisa berpikir seperti ini? apa karyawan perusahaan abang yang membuat Zia berpikir seperti ini?"
"Tidak, tadi sore Zia bertemu Rianti. dia mengejek Zia dan menertawakan pekerjaan Zia."
"Jangan dengarkan dia, apa Rianti lulusan perguruan tinggi?"
"Tidak."
"Abaikan saja ucapannya, Jika kuliah Zia mau ambil jurusan apa?"
"Jurusan? Zia belum tahu."
"Sebaiknya rencanakan sesuatu dengan baik, jangan hanya karena ucapan Rianti Zia bertindak gegabah. dewasalah dalam menyikapi ucapan seseorang."
Zia mengangguk dan memeluk lengan Zaid.
"Zia sudah lama tidak ke rumah kak Keke. Besok abang mau kemana?"
"Zia ingin ke rumah Keke? Jika ingin ke sana, besok abang antar."
"Sebenarnya Zia masih jadi karyawan atau tidak? kenapa abang tidak mengizinkan Zia menyetir dan mengantar abang?"
Zaid tersenyum mendengar pertanyaan Zia.
"Cukup temani abang kemana pun, gaji Zia akan tetap dibayarkan perusahaan." ucap Zaid sambil tersenyum dan memeluk Zia.
***
Mama Keke sibuk mengurus persiapan pernikahan anak sematawayangnya. pagi ini Mama ingin mengunjungi rumah ketering yang berada di kota itu. Mama ingin memakai jasa mereka untuk acara pernikahan dan pesta Keke.
"Jangan pagi ini Ma, Papa harus membimbing mahasiswa tampil untuk persentasi tugas kelompok mereka. acara Keke juga masih lama." ucap Papa yang sudah rapi untuk berangkat ke kampus.
"Rumah ketering yang mau Mama kunjungi ini bukan abal-abal Pa, kita harus boking jauh hari sebelum acara dimulai." jawab Mama tidak mau mengalah.
"Ajak Keke saja, Keke kan tidak bekerja."
"Mama malas pergi bersama Keke. Dia itu tidak sabaran, selalu maksa Mama untuk cepat-cepat padahal urusan Mama belum selesai."
"Ah iya, kita masih punya anak satu lagi. Zia,. biar Papa telpon Zia, Zia pasti mau menemani Mama."
"Zia pasti mau, tapi suaminya terlalu protektif selalu menempel di samping Zia. Zia diperlakukan seperti anak kecil yang selalu di awasi."
"Papa dulu juga begitu, itu namanya suami cinta istri dan bersikap siaga, susah lo Ma cari laki-laki seperti Papa dan Zaid." ucap Papa sambil tersenyum menggoda istrinya.
__ADS_1
"Ibu,." ucap Zia yang sudah memasuki rumah mereka.
"Zia, tumben pagi-pagi sudah ke rumah Mama, apa Zaid dinas luar?" ucap Mama sambil mendekati Zia dan memeluknya.
"Bang Zaid ada diluar sedang menelpon, Zia tidak mengantar barang lagi."
"Kamu dipecat atau lagi hamil?" tanya Mama sambil melepas pelukan rindunya.
"Zia gak dipecat Bu, Zia juga belum hamil. bang Zaid hanya ingin Zia menemaninya kemanapun."
"Dasar suami protektif." ucap Mama
"Zia datang diwaktu yang tepat. Zia temani Mama ya,.Papa mau ke kampus dulu. Papa duluan ya Ma." ucap Papa pamit sambil membawa tas nya berjalan mendekati Mama dan mencium pipi istrinya.
Mama tidak menahan Papa lagi dan mengikhlaskan kepergian suaminya.
"Mama mau ke rumah ketering. Mama mau boking ketering untuk acara pernikahan Keke. Zia mau temani Mama?"
"Zia tanya bang Zaid dulu ya Bu."
"Perginya pakai apa?" tanya Zaid yang mendengar ucapan Mama dan Zia.
"Pakai mobil Keke, boleh Mama bawa Zia?"
"Ya, Baiklah. Zia abang mau kekantor dulu." ucap Zaid melihat Zia
Zia mendekati Zaid, mengantar Zaid sampai ke mobil.
"Abang kebiasaan deh, selalu ganas jika Zia gak ikut kekantor." ucap Zia sambil mengusap bibirnya yang basah.
Zaid tersenyum dan mengusap kepala Zia.
"Nanti sore abang jemput, jangan jauh-jauh dari Mama Keke dan jangan melewati jalan sepi." ucap Zaid.
"Iya, abang juga hati-hati dijalan, jangan ngebut."
"Iya sayang." ucap Zaid kembali mengecup bibir Zia.
Zia masuk kedalam rumah menemui Mama, Mama berkemas sebentar dan menghampiri Keke yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. setelah memberi tahu Keke Mereka segera berangkat menuju rumah ketering.
Tiga puluh menit berkendaraan Zia dan Mama sampai ditempat ketering. mereka menemui pemilik ketering, memesan hidangan untuk acara nikah dan pesta. hari pernikahan Keke berbeda dengan hari pestanya. kedua acara itu dilaksanakan di rumah Keke. pihak laki-laki tinggal mendatangi rumah Keke untuk acara tersebut semua persiapan dihandle Mama dan Papa Keke.
Keluarga Harun tidak mempermasalahkan semua itu, Mereka hanya perlu mempersiapkan dana untuk terselenggaranya acara tersebut. untuk baju pengantin dan baju seragam keluarga Keke dan Harun yang langsung turun tangan.
Setelah menyepakati harga dan jumlah pesanan, Mama memberikan uang muka kepada pemilik ketering tanda mereka sudah terikat perjanjian.
Selesai urusan ketering Mama mengajak Zia menemui manajer tim nasyid yang sudah Mama kenal. Mama ingin saat pesta pernikahan nanti mereka dan para tamu undangan dihibur dengan lagu islami.
Sebelum bertemu manajer tim Nasyid Mama mengajak Zia mampir di rumah makan untuk mengisi perut. Rumah makan yang mereka masuki tidak jauh dari tempat pertemuan Mama dan manajer Nasyid.
"Suami mu aneh, sudah tahu Zia pergi sama Mama masih juga mengingatkan untuk makan." ucap Mama saat Zia mengakhiri pembicaraannya bersama Zaid ditelpon.
"Saat berjauhan Kami memang selalu mengingatkan untuk makan siang Bu."
"Oh, siapa yang paling sering menelpon?"
"Bang Zaid."
"Sudah Mama duga, pasti Zaid yang sering menelpon. semoga kalian secepatnya diberikan keturunan. Mama dukung keputusan Zaid yang menugaskan Zia hanya menemaninya di kantor. Zia jangan terbuai dengan sikap manis Zaid, selalu perhatikan sikap Zaid. jangan sampai Zia tidak peka jika dia melirik wanita lain. banyak kasus laki-laki terlihat romantis bersama istrinya tapi diam-diam punya simpanan."
"Iya Buk, Zia juga tidak ingin memiliki rumah tangga yang berantakan."
Mama tersenyum mendengar jawaban Zia.
"Ayok makan, mumpung nasinya masih hangat." ucap Mama yang sudah mengisi piringnya duluan.
Zaid dan Harun memilih makan siang diluar kantor. mereka makan ditempat biasa yang sudah jadi langganan mereka semenjak bekerja di perusahaan.
__ADS_1
"Bagaimana persiapan pernikahan mu?" tanya Zaid.
"Kami bagi tugas, untuk pelaminan dan baju pengantin aku dan Keke yang menghandle. Ketering dan hiburan Mama dan Papa Keke yang menghandle. oh iya, kami juga buat baju seragam keluarga. apa kau dan Zia mau ikut memakai pakaian seragam?"
"Aku tidak terlalu suka berlama-lama ditempat pesta. kami jadi tamu undangan saja."
"Kau ini, kau juga akan pesta apa kau tidak memerlukan aku nantinya?"
"Aku sudah membuat rencana untuk pesta kami. kami tidak akan menghabiskan waktu satu hari untuk menanti tamu undangan."
"Wah, sepertinya planning mu sangat matang. apa kalian akan buat acara pesta dipinggir pantai?"
"Itu masih rahasia. aku berharap kakek cepat sembuh dan kedua orang tua ku cepat kembali, agar kami bisa merayakan pernikahan kami."
"Aamiin. aku lihat Zia semakin cantik dan bulat kau beruntung memiliki Zia, dia semakin menggemaskan."
"Jangan memuji istri ku, dada ku panas mendengar ucapan mu. apa lagi Zia saat ini tidak bersamaku."
"Maaf, kemana Zia?"
"Dia pergi bersama Mama Keke, mengurus persiapan pernikahan kalian."
"Wah ternyata adik angkat ku ikut terlibat. besok aku akan memberinya kado sebagai ucapan terimakasih."
"Jangan berikan Zia apapun, aku sudah memenuhi kebutuhannya."
"Kau cemburuan sekali. aku hanya menganggap Zia sebagai adik ku."
"Aku tahu, tapi aku harus tetap waspada. aku tidak ingin kau terlalu dekat dengan Zia ku."
"Baiklah. cepatlah makan." ucap Harun yang dari tadi sudah menyantap makan siangnya, sementara Zaid masih belum menyentuh makan siangnya.
Zaid mengirim pesan dan meminta Zia menemuinya siang ini. Zaid beralasan tidak selera makan dan ingin Zia menemaninya.
Beruntung tempat makan Zia dan Zaid tidak terlalu jauh. Zia mengantar Mama bertemu manajer tim Nasyid setelah itu bergegas menemui Zaid.
"Zia?" ucap Harun kaget tiba-tiba Zia datang dan duduk di samping Zaid.
"Abang sakit?" tanya Zia yang langsung mengusap kening Zaid.
"Selera makan abang tiba-tiba hilang, temani abang makan." jawab Zaid sambil memegang tangan Zia dan menciumnya.
"Oh, baiklah. mau Zia suapi?"
"Ya." ucap Zaid tersenyum.
Harun merasa kesal dengan sikap Zaid yang berlebihan mencari perhatian Zia.
"Begini jadinya kalau laki-laki tidak pernah pacaran lagi setelah putus cinta. manja banget sama istri, untung Zia baik." batin Harun. sambil melihat Zaid dengan tatapan kesal.
Harun sudah menghabiskan makan siangnya. sementara Zaid masih menghabiskan setengah makan siangnya yang terus disuapi Zia.
"Zia, dimana Mama? biar abang jemput Mama dan mengantarnya pulang." ucap Harun.
"Tadi Mama ada di rumah manajer tim Nasyid, dijalan x, warna rumahnya orange pagarnya tinggi warna hitam. nanti abang telpon Mama saja."
"Oh Ya, jangan lupa berikan vitamin yang banyak untuk suami mu agar fisiknya kuat." ucap Harun sambil mengambil kunci mobil Keke yang berada di atas meja dan pergi meninggalkan Zia dan Zaid.
"Vitamin abang habis?" tanya Zia melihat Zaid
"Iya, nanti ikut abang kekantor ya."
"Ya, kita beli Vitamin dulu baru kekantor." ucap Zia.
Zaid tersenyum mendengar ucapan Zia.
"Vitamin nya kamu sayang." ucap Zaid sambil mencubit pelan pipi Zia.
__ADS_1
Zia tersenyum malu dan mengerti maksud ucapan suaminya.
...----------------...