Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Motor baru


__ADS_3

"Kak Keke tidak masuk?" tanya Zia saat mereka sampai di kantor dan tidak menemukan Keke.


"Tidak, Dia sudah cuti." jawab Zaid.


"Cepat sekali cuti nya, padahal pernikahan mereka satu bulan lagi." ucap Zia dan segera mengikuti Zaid keruangan kerjanya. Zaid duduk di kursi kerjanya.


"Hari ini Bos mau kemana?" tanya Zia


Zaid menaikkan satu alisnya, heran dengan pertanyaan Zia.


"Tolong panggilkan Harun, nanti Zia duduk di tempat Keke selama abang bicara dengan Harun."


"Oke Bos." ucap Zia keluar dari ruang kerja Zaid.


Zia menemui Harun diruang kerjanya. menyampaikan pesan yang disampaikan Zaid.


"Kenapa dia tidak menelpon?" tanya Harun.


"Tidak tahu, mungkin Bos ingin berhemat." jawab Zia


Harun tersenyum mendengar jawaban Zia. Harun segera ke ruangan Zaid, Zia mengikuti Harun dan berhenti di meja kerja Keke.


"Zia tidak ikut kedalam?" tanya Harun


"Tidak, tadi Bos menyuruh Zia menunggu diluar selama pak Harun bertemu dengannya." jawab Zia.


"Hei, bicara mu formal sekali. apa kalian sedang ada masalah?" tanya Harun.


"Tidak. cepatlah masuk." ucap Zia sambil mengibaskan tangannya mengusir Harun.


Harun tersenyum dan meninggalkan Zia diluar.


"Ada apa Bos?" tanya Harun dan duduk didepan Zaid.


"Kemaren aku bertemu Melani, dia sangat tidak tahu malu. dia berani memeluk ku ditempat umum." ucap Zaid.


"Kalian bertemu di provinsi x?" tanya Harun


"Ya."


"Baguslah, artinya dia berada jauh dari kita. selama Zia bisa mengerti kau tidak harus marah."


"Aku tidak sudi disentuh olehnya dan tidak ingin melihatnya lagi. dia sangat tidak tahu malu, dengan percaya diri dia memintaku menjadikannya istri kedua. Seharusnya dia bisa melihat perubahan sikap ku dan melihat kebencian ku kepadanya."


"Dia itu janda, bisa jadi dia sedang haus belaian." jawab Harun sambil tersenyum.


"Seharusnya dia menikah bukan mengganggu ku." jawab Zaid kesal dengan jawaban sahabatnya.


"Hahaha,. ternyata orang yang pernah membuat mu bahagia berbalik membuat mu resah dan mengganggu mu. semoga para mantan ku tidak seperti itu."


"Semoga saja. apa kau akan mengundang semua mantan mu?"


"Tidak, mereka bukan tamu penting di acara spesial ku nanti."


"Baguslah."


"Siapa yang akan menjadi sekretaris kita. selama Keke cuti?"


"Kau saja, gaji mu juga akan dobel."


"Aku akan menikah, aku butuh waktu banyak diluar perusahaan. bagaimana jika Zia jadi sekretaris?"


"Tidak, aku tidak mau. Zia hanya boleh berada di kantor ku." jawab Zaid


"Kalau begitu minta staf bagian lain mengisi jabatan sekretaris sementara."


"Baiklah, kau atur saja."


"Baiklah, ada lagi yang ingin kau bicarakan?"

__ADS_1


"Tidak, kembalilah ke ruangan mu."


"Boleh aku bawa Zia sebentar?"


"Kemana?"


"Aku ingin Zia menemaniku kebagian personalia. aku akan minta mereka merekomendasikan sekretaris untuk kita."


"Oh, baiklah. jangan lama."


Harun keluar dari ruang kerja Zaid dan melihat Zia tidak berada dimeja kerja Keke.


"Zia tidak di sini." ucap Harun sambil menoleh kebelakang melihat Zaid.


"Tadi aku menyuruhnya duduk di sana." jawab Zaid sambil mengambil Hp nya menghubungi nomor ponsel Zia.


"Ya, ampun. Dia meninggalkan Hp nya di atas meja ku." ucap Zaid.


Zaid segera keluar dari ruangannya dan meminta Harun ikut mencari Zia.


"Dari pada keliling lebih baik langsung lihat kamera pengawas. ayo langsung ke ruang keamanan." ajak Harun


Mereka segera bergegas menuju ke ruang keamanan mencari keberadaan Zia.


Zia terlihat menggunakan lift umum turun kelantai 20.


"Bukankah itu pak Suryo?" tanya Harun melihat Zia sedang berbicara dengan seorang laki-laki gendut.


"Ada urusan apa Zia menemuinya?" ucap Zaid heran dengan kepergian Zia yang tidak minta izin kepadanya.


Zaid keluar dari ruang keamanan segera kelantai 20 menemui Zia yang masih berada di sana.


"Zia?" ucap Zaid saat masuk keruangan yang berada di lantai 20. Zia yang dikelilingi para pegawai dan pak Suryo langsung bubar saat mendengar dan melihat Zaid berjalan mendekati Zia.


"Ada apa?" tanya Zia saat Zaid sudah dekat.


Zaid tidak menjawab pertanyaan Zia, Zaid langsung meraih tangan Zia dan membawanya keluar dari ruang itu.


"Zia teringat Om Suryo, tadi Zia hanya berniat pergi sebentar." jawab Zia.


"Teringat laki-laki dan langsung menemuinya?" tanya Zaid menatap Zia dengan jengkel.


"Om Suryo itu tetangga kita, Zia sudah lama tidak bertemu dengannya. apa salah nya menyapanya saat di kantor." jawab Zia


"Sampai lupa untuk membawa Hp?" ucap Zaid


"Iya maaf, tadi niatnya hanya pergi sebentar. lagian tadi abang juga melarang Zia masuk selama pak Harun berada di ruangan abang."


ucap Zia merasa bersalah tapi tidak mau disalahkan sepenuhnya.


Mereka sampai dilantai 26, Harun sudah menunggu di sana. Harun tersenyum melihat Zia.


"Hei pendek, kenapa tidak memberi kabar jika ingin pergi? lihat wajah suami mu sampai pucat karana mengkhawatirkan mu." ucap Harun sambil menyentil kening Zia.


Zia tidak menjawab ucapan Harun, Zia mengusap keningnya dan kesal mendengar Harun memanggilnya dengan sebutan Pendek.


Zaid segera membawa Zia ke ruangan nya, menyuruh Zia duduk diruang santai.


"Katakan, mau bicara apa dengan pak Suryo?" tanya Zaid menatap Zia yang terlihat cemberut.


"Zia dengar Om Suryo sudah lama tidak pulang ke rumah, Zia hanya ingin tahu dia kemana."


Zaid mengusap wajahnya, Zaid tidak menyangka Zia akan berbuat seperti ibu-ibu komplek yang suka kumpul dan mencari informasi tentang masalah rumah tangga orang lain.


"Sudah dapat jawabannya?" tanya Zaid


"Belum, Zia belum sempat bertanya. mereka malah menanyai Zia, trus abang datang."


"Sesama karyawan dilarang saling mengunjungi saat jam kerja, apa lagi hanya untuk bergosip." ucap Zaid memberikan penekanan agar Zia tidak mengulang perbuatannya.

__ADS_1


"Baiklah, besok Zia tidak akan ketempat mereka lagi." jawab Zia masih dengan wajah kesalnya.


"Kenapa wajahnya seperti itu? tidak merasa bersalah sudah pergi tanpa izin dan tidak membawa Hp?" tanya Zaid.


"Bukan, Zia kesal tadi bang Harun bilang Zia pendek." jawab Zia menatap Zaid.


"Nanti abang tegur Harun agar tidak berkata begitu lagi. sini.." ucap Zaid sambil melebarkan kedua tangan nya agar Zia mendekat dan memeluknya.


Zia mendekat dan memeluk Zaid.


"Jangan buat abang khawatir lagi, abang tidak melarang Zia untuk bergaul dengan siapa pun. tapi ingat jangan temui orang lain tanpa sepengetahuan abang dan jangan jauh dari abang." ucap Zaid saat Zia memeluknya.


"Iya, maaf. Zia sudah buat abang khawatir."


****


"Ini motor untuk Zia?" tanya Zia saat mereka sudah sampai di rumah dan melihat motor metik terparkir didalam garasi mereka.


"Iya, Zia suka?" tanya Zaid.


"Iya, Zia suka motor metik ini, cocok untuk ukuran Zia."


"Ingat pesan abang, jangan pergi tanpa sepengetahuan abang dan jangan ngebut."


"Oke, abang. Boleh Zia coba motor nya?"


"Boleh, hanya 10 menit. habis itu Zia harus mandi."


"Sip. makasih abang." ucap Zia sambil mencium pipi Zaid dan segera mencoba motor barunya.


Semenjak menikah Zia tidak pernah lagi memakai motor, Zia sedikit grogi saat membawa motor dan tidak berani untuk melajukan motornya.


Zia berpas-pasan dengan Rianti saat keluar dari gapura perumahan. Rianti bersama Ibunya datang menggunakan motor Zia yang dulu mereka ambil.


"Bu, Zia sepertinya punya motor baru."


"Iya, ibu juga lihat. Sudahlah, jangan pedulikan dia. cepat antar Ibu."


"Beruntung sekali Zia, bisa membeli motor baru. sementara aku hanya memakai motor bekas nya." batin Rianti.


Rianti mengantar Ibunya sampai didepan rumah dan terus memperhatikan jalan melihat kedatangan Zia.


"Bu, aku bertemu Zia dulu sekalian pulang." ucap Rianti pamit pada Ibunya tanpa berniat masuk kedalam rumah untuk menemui ayahnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Ibunya Rianti segera meluncur dengan motor metiknya.


Rianti melihat Zia yang baru memasuki gapura perumahan. Rianti memanggil Zia dan meminta Zia berhenti sebentar.


"Ada apa?" tanya Zia saat Rianti menghentikannya.


"Kau membeli motor baru?" tanya Rianti.


"Ya, motor ku yang lama sudah diambil orang. jadi suami ku membelikan ku motor baru." jawab Zia.


"Apa pekerjaan suami mu? bisakah dia membawa ku bekerja ditempatnya?"


"Semua yang bekerja ditempat Suami ku lulusan Sarjana. lebih baik kau mencari pekerjaan ditempat lain." jawab Zia.


"Bukankah kau juga lulusan SMA? kalian bekerja ditempat yang sama kan?"


"Ya, tapi aku hanya bagian pengantar barang." jawab Zia.


"Hahaha,. Aku sudah tahu kau hanya supir. suami mu berdasi dan kau berpenampilan dekil, sebaiknya kau merubah gaya mu dan Kuliah la. agar kau bisa sepadan dengan suami mu." ucap Rianti memancing emosi Zia.


"Baiklah aku akan kuliah, kau juga terlihat sepadan dengan suami mu. sama-sama dekil dan kotor." jawab Zia membalas Rianti.


"Kau." Rianti terlihat marah dan ingin turun dari motornya untuk membalas Zia.


Zia segera meluncur dan meninggalkan Rianti, Zia ingat Zaid tidak memberinya waktu lama diluar dan melarangnya untuk kelahi.

__ADS_1


"Awas kau Zia." ucap Rianti dengan marah sambil melihat kepergian Zia.


...----------------...


__ADS_2