Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Bertemu Paman


__ADS_3

Dua hari libur karena tidak ada Jadwal mengantar barang, Pagi ini Zia kembali bekerja.


"Telpon abang jika sudah dijalan pulang." ucap Zaid saat Zia pamit untuk bekerja.


"Kita mau kemana?" tanya Zia.


"Tidak kemana-mana, abang mau menyambut Zia pulang kerja dan nanti malam kita tidur di perusahaan. besok pagi Zia masih ada jadwal pengantaran barang kan?" ucap Zaid memastikan jadwal masuk kerja Zia.


"Iya, kenapa abang bisa mengingat jadwal kerja Zia?"


"Harus ingat, biar disayang istri." ucap Zaid sambil tersenyum mengusap pipi Zia.


Selama dua hari Zia libur kerja selama itu pula Zaid tidak datang ke kantor. pagi ini keduanya sama-sama datang kekantor dan masih berada diparkiran, Mereka datang lebih awal sehingga hanya beberapa orang karyawan yang terlihat.


"Ayok turun, temani Zia mengisi kehadiran."


"Baiklah." ucap Zaid sambil melepas tangannya dari pipi Zia yang terlihat semakin berisi.


Zaid memeluk pinggang Zia, mereka berjalan memasuki perusahaan dan menggunakan lift umum. seperti biasa Zaid akan menunggu Zia mengisi absensi. setelah selesai mereka langsung kelantai satu memanaskan mobil perusahaan yang akan dibawa Zia.


Zaid melihat kedatangan Dodi.


Dodi masih ditugaskan untuk mengikuti Zia. kali ini Dodi tidak harus mengikuti Zia dengan sepeda motornya. Zaid menugaskan Dodi untuk ikut langsung naik di mobil perusahaan. menggantikan Zia menyetir mobil jika sudah berada agak jauh dari perusahaan. Zaid takut Zia kelelahan karena olahraga ranjang mereka yang tidak mengenal waktu.


Libur Zia selama dua hari benar-benar mereka manfaatkan untuk berduaan menghabiskan waktu di rumah, memupuk cinta dan melepaskan rindu yang tertahan karena tidak bertemu seminggu lalu.


"Kami berangkat." ucap Zia pamit.


"Ya, hati-hati dan jangan berkelahi lagi, bibit abang sedang berjuang didalam sini." ucap Zaid sambil mengusap perut Zia.


Zia tersenyum.


"Iya, nanti kalau ada musuh Dodi yang akan menghajar mereka." ucap Zia.


Zaid mengecup kening Zia dan merelakan Zia untuk segera berangkat kerja.


Zia segera melaju dengan kendaraannya.


Mobil Zia berhenti di lampu merah. Seorang pengemudi sepeda motor melintas didepan mereka, ikut berhenti karena lampu merah masih menyala.


"Paman."


"Itu paman." ucap Zia.

__ADS_1


Zia turun dari mobil dan menghampiri laki-laki yang menaiki sepeda motor itu.


"Paman." ucap Zia sambil melihat wajah pengemudi itu.


"Zia. alhamdulillah kita bertemu." ucap Paman.


"Ayo kita cari tempat untuk bicara paman." ajak Zia


"Ya baiklah, ikuti paman."


Zia mengangguk dan kembali ke mobil.


"Dodi ikuti paman ku, kami mau bicara."


"Baiklah." ucap Dodi.


Lampu hijau menyala, paman segera melaju dengan sepeda motornya. Dodi mengikuti kemana paman. Mereka berhenti di warung sarapan pagi.


Paman memesan sarapan."Zia sarapan apa?" tanya paman.


"Zia sudah sarapan paman,"


Zia memesan kopi dua gelas, satu untuk Paman satu lagi untuk Dodi. Zia dan Paman duduk satu meja dan berhadapan. Dodi duduk dimeja lain.


"Paman sangat lapar."


"Kenapa tidak sarapan lebih awal?"


"Tadi paman berencana makan ditempat kerja, karena bertemu Zia makanya paman memilih tempat ini untuk sarapan."


"Tante tidak masak?"


"Tante mu sangat sibuk, satu hari lagi Rianti akan menikah. kalau bisa Zia datanglah ke rumah paman."


Sarapan pagi paman dihidangkan pemilik warung, paman memakan sarapannya. Kopi untuk Paman juga sudah terhidang.


"Paman tidak pindah?"


"Tidak."


"Dua minggu lalu Zia pulang ke rumah, Paman dan yang lain tidak di rumah. kata tetangga paman sudah dua hari meninggalkan rumah."


"Oh, dua minggu lalu kami membersihkan rumah untuk ditempati Rianti setelah menikah nanti. Oh iya, Paman lupa, sebenarnya paman sudah lama ingin mengucapkan ini. Paman ucapkan terimakasih banyak atas pemberian Zia, yang telah memberikan semua peralatan di rumah Zia. semua yang Zia berikan sangat membantu Rianti, Dia tidak perlu membeli peralatan rumah lagi. sekali lagi Paman ucapkan terimakasih."

__ADS_1


"Zia tidak merasa memberikan apa pun Paman."


"Kamu terlalu rendah hati, Tante mu mengatakan kepada paman. jika kamu menelpon Rianti dan menyuruh Rianti untuk mengambil semua barang yang ada di rumah mu dan rumah mu harus sudah kosong saat kamu kembali. itu kan percakapan mu bersama Rianti? awalnya Paman tidak percaya dengan yang disampaikan Tante mu, paman ingin menelpon mu untuk memastikan ucapan tante. tapi Hp paman tidak ditemukan. sampai sekarang paman tidak memiliki Hp."


"Oh, jadi Paman sudah dibohongi oleh Tante dan Rianti. bahkan untuk memutuskan komunikasi kita mereka menghilangkan Hp paman. Paman sangat mudah ditipu, pantas saja dari dulu Ibu ku tidak menyukai Tante dan Rianti." Batin Zia.


"Paman lihat pembangunan Rumah mu sangat cepat, Paman yakin suami mu sangat kaya dan baik hati."


"Rumah Zia dibangun?"


"Iya, apa kau tidak tahu?"


"Bang Zaid melarang Zia ke rumah, katanya ingin memberikan Zia kejutan."


"Oh, bagaimana kabar Pak Ngah dan Mak cik mu?"


"Mereka sehat, mereka juga titip salam untuk paman "Assalamualaikum."


"Waalaikummussalam."


"Paman, Zia tidak pernah menelpon Rianti dan Zia tidak pernah menyuruh Rianti untuk mengambil semua barang yang ada di rumah Zia. tapi karena barang itu berguna dan akan dipakai Rianti, Zia ikhlaskan. Zia hanya ingin tahu, Baju ayah dan ibu Zia disimpan dimana dan motor Zia dimana?"


"Apa maksud mu, Tante dan Rianti membohongi paman?"


"Ya."


"Astaga, maafkan paman." paman terlihat terpukul dan menyesal telah ikut membantu mengeluarkan barang Zia, bahkan paman yang mencarikan mobil untuk membawa barang Zia.


"Baju ayah dan ibu mu sudah mereka jual ke pasar loak. paman tidak tahu berapa uang yang mereka dapat. sedangkan motor mu, Rianti meminjam kan nya kepada calon suaminya. Kau yakin sudah mengikhlaskan semua barang mu? jika tidak, paman akan mengeluarkan semua barang itu dari rumah kontrak Rianti, hari ini juga."


"Tidak usah paman, biarlah tetap dipakai Rianti. sekarang hati Zia sudah puas, bang Zaid juga melarang Zia untuk mencari barang-barang itu. untuk pernikahan Rianti, Zia tidak bisa datang paman. Zia sudah janji akan melihat rumah Zia bersama bang Zaid dan kemungkinan kami akan ke perumahan akhir bulan depan."


"Baiklah, paman tidak memaksa. sekali lagi paman minta maaf, atas semua perbuatan buruk kami kepada mu."


"Saya sudah maafkan, Ini uang untuk Paman. sarapan dan kopi ini biar Zia yang bayarkan." ucap Zia sambil menyerahkan uang lima ratus ribu yang Zia selipkan ditangan Paman nya.


Paman mengangguk dan tidak berani menatap Zia, Paman sangat malu, Zia keponakannya yang harus ia jaga malah ia sakiti. beruntung Zia tidak menyimpan dendam dan sudah memaafkan semua kesalahannya.


Paman juga sangat memerlukan uang untuk keperluannya sendiri. Semua uang Paman dipegang Tante dengan alasan banyaknya keperluan untuk pernikahan Rianti.


Untuk sarapan pagi ini sebenarnya paman tidak sanggup untuk mentraktir Zia, karena uang ditangan paman hanya tersisa 70.000, paman sangat bersyukur disaat sulit ia bertemu Zia dan Zia memberinya uang yang banyak.


Zia tidak pernah lagi kekurangan uang, uang di rekening Zia juga bertambah, Zaid mentransfer uang dan memberikan Zia uang tunai. Zia tahu Paman hidup susah dan harus dibantu, ini juga cara Zia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2