Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Bertemu keluarga Zaid


__ADS_3

Zia dan Zaid dalam perjalanan menuju kantor.


"Abang kerja dilantai berapa?"


"Lantai 26."


"Wah, itu tinggi sekali, Om Suryo kerja dilantai 20. Om Suryo..." Zia menghentikan ucapannya.


"Kenapa berhenti? ada apa dengan Pak Suryo?"


"Om Suryo kerja dilantai 20, dia memiliki istri dua. abang kerja dilantai 26 bagaimana..?"


Zia tidak melanjutkan ucapannya.


Zaid tertawa mendengar ucapan Zia.


"Kamu pikir semakin tinggi tempat bekerja maka akan semakin banyak istri?"


"Iya."


"Ha..ha..ha.. kenapa bisa berpikir seperti itu?"


"Karena ada contohnya."


"Contohnya Om Suryo kamu itu?"


"Iya."


"Zia, Zia,. tidak semua laki-laki seperti itu, abang punya Abi yang pekerjaannya pemegang jabatan tinggi, sampai sekarang alhamdulillah masih setia bahkan makin mesra bersama Ibu, abang."


"Oh, syukurlah ternyata ada contoh yang baik. Zia pikir hanya orang yang hidup pas-pasan yang bisa setia dengan pasangannya seperti Almarhum ayah dan Ibu, Paman dan Tante."


"Kita harus belajar dari mereka yang berhasil membangun keluarga bahagia. harus saling peduli, jujur dan hindari berdebat yang tidak penting."


"Iya, orang tua Zia juga jarang berdebat, selalu berbagi cerita, mereka saling terbuka dan saling mendukung."


"Zia Sudah siap untuk hidup bersama abang?"


"Insyaallah siap." Zia tersenyum cantik


"Terimakasih, jangan meragukan abang. inshaallah abang akan selalu ada untuk Zia."


Mereka sampai diparkiran kantor. Zaid menggandeng tangan Zia menuju Lift khusus yang hanya bisa digunakan oleh Zaid, Harun dan keluarga Zaid.


mereka langsung kelantai 26.


"Kenapa tidak ada nomor selain 26?"


"Ini lift khusus. kita langsung ke ruangan abang."


"Ada berapa orang di ruangan abang?"


"Ada 3 orang."


"Syukurlah tidak ramai."


"Kenapa? kamu masih malu karena tidak memakai riasan wajah?"


"Iya, mantan abang cantik."


"Dia cantik karena makeup yang sangat tebal, abang lebih suka wajah yang natural seperti ini."


Zaid mencium pipi Zia, membuat wajah Zia merona menahan malu.


"Jangan dicium abaaaang, belum halal."


"Ha..ha..ha... jadi gak sabar pengen cepat-cepat kekantor KUA."


Zia tersenyum mendengar jawaban Zaid.


Think.


pintu lift terbuka. terlihat seorang wanita duduk diantara dua ruangan. Mereka keluar dari lift dan Zaid masih menggandeng tangan Zia.


"Pagi Pak." wanita itu tersenyum ramah.

__ADS_1


"Pagi juga Keke, perkenalkan ini Zia. dia calon istri ku."


"Wah selamat pak. akhirnya akan ada pesta besar di kantor ini."


"Aamiin,"


" Zia, ini sekretaris abang dan Rungan yang sebelah kiri ini tempat Asisten abang namanya Harun, yang sebelah kanan ini ruangan kita. Pintu lift ada dua, jika ada perlu dan Zia sendirian gunakan Lift Umum."


"Lift yang tadi?"


"Itu Lift khusus, harus rekam sidik jari dulu baru bisa menggunakan Lift itu."


"Ooh."


Zaid merangkul Zia, membawa Zia memasuki ruang kerjanya.


"Wah, ini seperti rumah. luas sekali, ada ruang santai nya juga."


"Ini memang rumah, sekaligus kantor abang"


"Kenapa tidak ada kamar nya? apa abang tidur diruang santai?"


Zia tidak melihat pintu kamar yang didesain menyerupai dinding.


"Kenapa cepat sekali menanyakan kamar? Mau tidur?"


Zaid mendekatkan wajahnya menatap Zia dengan tatapan menggoda.


"Cuma tanya abang sayaaang." Zia memegang kedua pipi Zaid, menahan wajah Zaid yang sangat dekat dengan wajahnya.


Sentuhan tangan Zia membuat Zaid semakin ingin memangsa Zia. Zaid menahan diri dan segera memperbaiki posisinya.


"Ayo kesini." Zaid berjalan duluan mendekati dinding, mendorong bagian dinding yang berbentuk petak kecil.


Pintu kamar Zaid terbuka, terlihat ruangan yang lumayan lebar, dilengkapi kasur tidur, Tv dan lemari yang membentuk dinding membatasi kamar mandi


"Wah, apa semua karyawan memiliki ruang kerja seperti ini?"


"tidak, ini..." ucapan Zaid terpotong


"Orang tua abang tinggal dimana?" Zia kembali bertanya saat Zaid belum sempat menjelaskan jabatannya di kantor.


"Sakit apa?"


"Penyakit tua, usia kakek sudah 81 tahun. Sudah siap untuk bertemu keluarga abang?"


Zia tersenyum dan mengangguk.


"kita akan berkunjung kerumah kakek?"


"Tidak, kita video call saja."


Zaid mengambil Hp nya dan melakukan panggilan.


"Assalamualaikum Zaid."


"Waalaikummussalam Ibu. Apa seluruh keluarga bisa berkumpul didepan kamera?"


"Kamu sudah bersama calon istri mu?"


"Iya."


"Tunggu sebentar Ibu panggil Abi dan Adik mu."


Ibu meletakkan kamera di atas meja dan pergi mencari Suami serta Anak perempuannya.


Zaid menggandeng tangan Zia, membawa Zia ke ruang santai, mereka dudu bersebelahan.


Zia merapikan jilbab dan berkali-kali menghisap bibirnya.


"Jangan dihisap lagi, itu membuat abang tergoda." Zaid tersenyum.


"Zia grogi. apa Zia sudah terlihat cantik?"


"Sudah, jangan takut."

__ADS_1


Zaid memegang tangan Zia yang terasa dingin. Zaid mengarahkan kamera kesamping.


tanpa aba-aba Zaid langsung ******* bibir Zia, mencoba memberikan ketenangan dan kehangatan. Zia menikmati permainan Zaid dan mulai membalas, Zaid semakin lihai bermain.


"Zaid?"


"Dimana mereka?"


Zaid dan Zia menghentikan permainan mereka setelah mendengar suara ibu dan Abi. Zaid mengusap bibir Zia yang terlihat basah.


"Sudah siap untuk melihat mereka? Zaid berbicara dengan suara kecil.


Zia mengangguk.


Zaid segera memutar kamera kearahnya.


"Maaf, Zaid salah memposisikan kamera."


"Tidak apa-apa, mana calon menantu kami?"


Zaid menggeser kamera agar Zia terlihat.


"Assalamualaikum Ibu, Abi." Zia melihat kamera sambil melambaikan tangannya.


"Waalaikummussalam, Masha Allah. kamu imut dan cantik. siapa nama mu nak?"


"Zia Ananda, biasanya dipanggil Zia Bu."


"Nak Zia sudah siap untuk menikah?"


"Insyallah sudah Bu."


"Syukurlah jika Zia sudah siap. apakah Zia memiliki keluarga dari ayah yang masih hidup?"


"Masih Bu, ayah memiliki adik laki-laki dan adik perempuan, mereka tinggal di propinsi X, rumah mereka juga berdekatan."


"Baguslah, besok temui mereka, minta izin kepada mereka untuk menikah, minta adik ayah Zia yang laki-laki untuk menjadi wali nikah. Kapan kalian akan menikah?"


Zia dan Zaid saling menatap.


"Kami belum membahas tanggal pernikahan Bu." jawab Zaid.


"Kenapa masih belum?" tanya Abi


"Kami mau mengunjungi semua keluarga Zia dulu, setelah mendapat restu dari mereka, baru kami akan menentukan hari pernikahan."


"Oh, baiklah. cepat kabari kami jika sudah mendapat izin dari keluarga Zia."


"Baiklah Bu."


"Ingat pesan Abi, kalian harus jaga diri dan jarak. kalian belum boleh bersentuhan sebelum menikah."


Zaid dan Zia saling menatap dan tersenyum.


"Dimana Amirah Bu?"


"Dia sedang bermain dengan anak paman mu."


"Bagaimana kondisi kakek?"


"Kakek masih sering merasa sakit di kaki dan perutnya, doakan saja kakek bisa segera sehat dan kami bisa membantu persiapan pernikahan kalian."


"Tentu akan kami doakan, Abi dan Ibu juga jaga kesehatan."


"Iya kalian juga. Zia jangan sungkan untuk menelpon Ibu."


"Iya Bu."


Mereka mengakhiri panggilan video call itu.


"Sudah saatnya makan siang, kita pesan atau pergi?" Zaid bertanya.


"Kita pesan saja."


"Baiklah."

__ADS_1


Zaid segera memesan makan siang untuk mereka berdua.


...----------------...


__ADS_2