
Harun segera menemui Zaid di ruangan nya.
"Maaf tadi aku sedang makan."
"Apa kau sudah kenyang dan telah selesai sholat?"
"Sudah keduanya."
"Apa masalah mu?"
"Apakah terlihat jelas aku memiliki masalah?"
"Iya, ceritakan pada ku, semoga aku dapat membantu mu."
"Aku memang memerlukan bantuan mu."
"Cepat sebutkan."
Harun selalu bersemangat menolong Zaid, Setiap kali Zaid memiliki masalah Harun akan pasang badan. menuntaskan masalah Zaid sampai ke akar nya.
"Aku ingin menikah dalam waktu dekat ini, aku ingin kamu mencarikan informasi untuk ku, kenapa bagian gudang membutuhkan supir cadangan untuk pengantaran barang dan mengontrak supir cadangan itu?"
"Apa hubungan pernikahan mu dengan supir kontrak, yang dibuat bagian gudang?"
"yang mereka kontrak adalah calon istriku."
"APA? ha..ha..ha.. kenapa ini bisa terjadi?"
"Aku membutuhkan jawaban, bukan pertanyaan."
"Santai Bro, oke,. aku akan carikan tahu jawabannya. ada lagi?"
"Aku ingin mereka tidak mempekerjakan Supir cadangan itu dalam waktu dua minggu ini. kami akan ke propinsi X, menemui keluarga dari ayah Zia."
"Oh, jadi nama gadis itu Zia?" kapan aku bisa bertemu dengannya?"
"Setelah tugas mu selesai."
"Baiklah, aku akan mencari informasi, meminta bagian gudang menunda mempekerjakan calon istrimu, ada lagi?"
"Tolong belikan aku mobil sekarang juga."
"Mau merek apa?"
"Kami memerlukan mobil untuk berangkat ke propinsi X, membutuhkan 15 jam perjalanan, tempat yang dikunjungi juga terpencil, kami juga akan membawa barang untuk keperluan selama perjalanan dan ditempat tujuan."
"Baiklah aku tahu jenis mobil yang kau butuhkan."
Harun segera menelpon kenalannya yang memiliki showroom mobil.
"Aku sudah memesan mobil baru untuk mu, besok siang akan mereka antar. ada lagi yang kau butuhkan?"
"Tolong awasi perusahaan selama aku cuti."
"Ini sudah tugas ku. kapan aku bisa mendapatkan cincin ku?"
"Ah, iya maaf aku lupa dan Zia juga lupa mengembalikannya, nanti malam akan aku ambilkan cincin itu."
"Baiklah, terimakasih."
__ADS_1
"Tolong awasi Melani, aku belum mempercayai kinerjanya. aku takut dia datang dengan tujuan tertentu."
"Baiklah, kau juga jangan mendekatinya lagi."
"Tenang saja, aku sudah tidak tertarik lagi dengan kehidupannya."
"Baguslah."
"Apa kau berencana mengumumkan pernikahan mu?"
"Untuk sementara aku sembunyikan dulu, Zia akan bekerja selama 6 bulan. aku takut dia diserang orang saat bekerja. tolong carikan bodyguard untuknya, aku ingin saat dia bekerja ada yang mengawasi dan menjaganya."
"Baiklah, kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya, dalam waktu dua minggu ini."
"Oh, karena itu kamu meminta ku untuk tidak mempekerjakan Zia dulu?"
"Iya."
"Ada lagi yang kau butuhkan?"
"Aku rasa tidak ada lagi, besok pagi aku akan mendatangi kantor KUA mencaritahu syarat untuk mendaftarkan pernikahan."
"Perlu aku temani?"
"Tidak usah, tugas mu sudah banyak. sekarang kembalilah kekantor mu."
"Tumben mengusir ku."
"Aku ingin tidur siang, nanti malam akan bertemu paman Zia. rasanya lebih deg degan dari pada bertemu investor."
"Aku doakan secepatnya kau bisa menyusul ku."
"Terimakasih doanya. baiklah aku permisi dulu. selamat istirahat."
Zaid melihat Harun yang pergi meninggalkan ruangannya. Zaid merasa lega setelah menceritakan semua masalahnya kepada Harun. Zaid memilih istirahat siang diruang santai. Zaid tidak ingin mengganggu tidur siang Zia, apalagi mereka belum berstatus sebagai suami istri.
jam 16.30 Zaid terbangun dari tidur siangnya, Zaid ingat Zia masih berada di kamar nya dan mereka belum sholat ashar. Zaid kekamar dan melihat Zia yang masih tidur, Zia melepas jilbabnya.
Zaid membangunkan Zia untuk segera mengambil wudhu dan sholat sendiri. Zia bangun dan mengikuti ucapan Zaid. Zaid mengunci pintu dan mandi. setelah selesai mandi Zaid sholat sendiri di kamar nya.
"Pakai jilbab ini, abang akan mengantar mu pulang."
Zia mengambil jilbabnya yang ditangan Zaid, Zia memakai jilbab tanpa melihat kaca. Jilbab Zia terlihat rapi.
"Sepertinya mudah memasang jilbab, kenapa tidak memakai jilbab setiap hari?"
"Panas. Zia kemana-mana jalan kaki. oh iya, Zia harus ketempat servis motor, motor Zia hari ini selesai diperbaiki, Ayo bang, segera antar Zia."
Zaid tersenyum melihat ekspresi Zia yang terlihat menggemaskan.
"Ayo."
Mereka segera berangkat menuju tempat servis motor Zia. tempat Servis sudah mau tutup untung Zia datang lebih cepat dan bisa membawa motornya pulang.
"Zia pulang sendiri aja kerumah bang, Zia juga mau mandi."
"Baiklah, abang akan kerumah sebelum magrib, kita sholat jamaah, makan bersama dan kerumah paman."
__ADS_1
"Zia gak akan sempat masak, bahan di rumah juga sudah habis."
"Abang tidak menyuruh Zia masak, tunggu abang di rumah, abang akan membeli makan malam untuk kita."
"Baiklah." Zia tersenyum cantik.
Zaid segera memasuki mobilnya dan berangkat duluan membeli makan malam untuk mereka berdua malam ini.
Zia pulang kerumah menggunakan motornya dan segera mandi, Zia tidak ingin Zaid melihatnya dalam keadaan selesai mandi dan masih menggunakan handuk apalagi kamar mandi Zia berada diluar kamar.
Zia kembali memakai baju gamis, Zia hanya memiliki beberapa helai baju gamis dan jilbab.
Zaid datang kerumah Zia lima menit sebelum azan magrib dikumandangkan. Zaid membawa tiga kotak makan malam untuk mereka, Zaid menempatkan tentengannya makan malam di atas meja tamu. Zia segera mengatur tempat sholat untuknya dan Zaid. mereka sholat diruang tamu, karena tidak ada lagi tempat untuk mereka bisa sholat jamaah. Mereka juga tidak mungkin sholat didalam kamar Zia atau kamar orang tua Zia.
Selesai sholat Zia langsung mencari persiapan untuk makan malam mereka. setelah piring, gelas dan cuci tangan ditata di atas meja, Mereka segera makan.
Zaid dan Zia hanya menghabiskan dua kotak makan.
"Abang sengaja beli lebih?"
"Iya, siapa tau ada yang mau nambah."
Zia tertawa, " Zia belum kenyang, sisanya untuk Zia ya?"
Zaid tertawa mendengar ucapan Zia.
"Abang sengaja beli lebih, abang tahu porsi makan Zia."
"Abang buat malu Zia aja."
"Kenapa harus malu, abang suka lihat Zia yang lahap saat makan. rasanya bahagia sekali melihat makanan habis dimakan."
"Abang mau bilang, Zia pendek tapi makannya banyak?"
"Tidak, itu hanya perasaan Zia."
Mereka tertawa bersamaan.
"Ayo segera siap-siap, Zia pakai jilbab. biar abang yang bereskan meja ini."
"Zia aja, Zia hanya sebentar memakai jilbab."
"No, biar abang. cepat kekamar."
Zaid menahan tangan Zia agar tidak menyentuh barang-barang yang di atas meja.
Zia patuh dan segera kekamar untuk memakai jilbab. Zaid membereskan meja tamu meletakkan piring kotor ke dapur dan memasukkan sampah kotak makan mereka dalam tong sampah.
Mereka sama-sama selesai dan siap untuk berangkat kerumah paman Zia.
Zia mengunci pintu rumah, Zaid mengambil bingkisan dari dalam mobil Harun untuk dibawa kerumah paman Zia.
Zia tersenyum melihat bingkisan yang disiapkan Zaid.
"Ternyata bang Zaid benar-benar mempersiapkan diri, ya allah lancar kan lah hubungan kami. jadikan kami pasangan yang tidak terpisahkan sampai ajal menjemput."
Zia berdoa didalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1