Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Lamaran


__ADS_3

Setelah sholat Subuh Zaid dan Harun duduk di atas tempat tidur, mereka tidur sekamar karena tempat tidur dikamar Ali hanya muat untuk satu orang.


"Harun coba lihat Ali, apakah dia sudah bangun?" ucap Zaid


"Baiklah. kita apakan dia pagi ini?"


"Suruh untuk datang ke kamar ini."


Tanpa banyak bertanya lagi Harun segera kekamar Ali. Harun melihat Ali yang baru selesai sholat. Harun menyampaikan pesan Zaid dan mengiringinya memasuki kamar Zaid.


"Ada apa pagi-pagi sudah memanggil ku?" tanya Ali sambil berdiri menatap Zaid yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Aku ingin mengingatkan mu untuk hati-hati memegang kamera dan ambil gambar yang bagus." ucap Zaid.


"Tentu saja, aku sudah tahu itu." jawab Ali.


"Harun sewaktu di rumah Zia tolong hubungi Ibu ku, mereka ingin melihat proses lamaran. selalu arahkan kamera ketempat acara agar mereka bisa melihat acaranya." ucap Zaid.


"Baiklah, apa kau gugup Zaid? suara mu terdengar lain." ucap Harun


"Ya, aku merasa gugup detak jantung ku juga tidak stabil."


"Apa kamu juga seperti ini dulu Ali?" tanya Harun.


"Kami tidak tunangan, kami langsung ijab qobul. saat akan ijab qobul jantung ku rasanya mau copot, sulit konsentrasi. benar-benar menegangkan. hari ini hanya lamaran kenapa pak Zaid bisa begitu gugup? awas jangan sampai pingsan saat bertemu Zia. ha..ha..ha.."


Ali tertawa, membuat Zaid menjadi kesal karena Ali membuatnya malu.


"Entah kapan aku akan merasakan seperti yang kalian rasakan. calon ku masih belum mau di ajak menikah." ucap Harun Sedih.


"Jangan sedih, lebih baik lambat dari pada buru-buru seperti aku." jawab Ali.


"Kau menyindir ku Ali?" tanya Zaid.


"Tidak, aku hanya menyebut diriku. Pak Zaid dan Zia pasangan serasi, terlihat jika kalian pasangan yang saling mencintai dan mesum."


"Kau.." ucapan Zaid ingin berdiri memukul Ali.

__ADS_1


"Apa? mereka mesum? artinya kamu melihat mereka saling" Harun menyatukan jari kiri dan kanannya memberi kode apa yang dilakukan Zaid dan Zia.


"Ya " jawab Harun sambil tertawa dan keluar dari kamar, meninggalkan Harun dan Zaid.


"Hey sobat, sepertinya iman mu sangat tipis saat bersama Zia, apakah karena dia begitu muda hingga kau ingin menyantapnya?,. Ha..ha.. aku tidak percaya ini, perbuatan kalian berdua sampai dilihat Ali. bukankah kita tidak boleh mencicipi wanita sebelum menjadi istri kita?"


ucap Harun sambil duduk disebelah Zaid.


"Aku tidak kuat menahan diri melihat bibirnya dan,.. ah.. sudah la. jangan membuat ku membuka aib ku sendiri. yang jelas calon istriku sangat menggemaskan. kau lihat saja nanti." ucap Zaid sambil tersenyum melihat Harun.


"Aku semakin penasaran dengan Zia mu."


"Zaid, Harun. segera mandi, jam 7.30 kita sudah berangkat." Ucap Mak cik yang baru datang, berdiri didepan kamar Zaid yang dibiarkan terbuka.


"Ya, Mak cik." jawab keduanya.


Mereka segera bersiap untuk mandi. Zaid mandi dikamar mandinya, sementara Harun pergi ke kamar Ali untuk mandi karena pakaian Harun masih dikamar Ali.


Semuanya telah siap, mereka segera berangkat menuju rumah Pak Ngah. sampai di rumah pak Ngah mereka dijamu dengan sarapan pagi.


"Zia dimana pak Ngah?" tanya Zaid.


Zaid merasa penasaran dengan wajah Zia setelah di make up. sambil sarapan Zaid berkali-kali menoleh ke pintu kamar Zia yang tertutup rapat.


Dinding rumah pak Ngah yang bagian dalam sudah dilapisi kain berwarna pink dan putih hingga tidak terlihat lagi papan dinding rumah pak Ngah. Rumah pak Ngah juga didekorasi dengan cantik untuk tempat berfoto saat acara lamaran.


Mak cik dan Bundo benar-benar mempersiapkan diri dan tempat untuk acara lamaran dan pernikahan keponakan mereka.


Acara lamaran Zia hanya di hadiri oleh tetangga dekat Pak Ngah dan Mak cik, mereka sengaja tidak melibatkan banyak orang. setelah selesai sarapan dan piring kotor sudah disusun ke dapur. mereka mempersiapkan diri untuk acara lamaran.


Harun menelpon orang tua Zaid, Ibu dan Abi Zaid sudah terhubung dan mereka sudah bersiap didepan kamera untuk melihat acara lamaran anak sulung mereka.


Rombongan Zaid duduk saling berhadapan dengan keluarga Zia, mereka menunggu kedatangan Zia. Zia keluar dari kamar dengan make up yang dibuat fresh mengikuti usia Zia. Zia memakai hijab dan baju batik yang sama dengan baju dipakai Zaid.


Semua mata tertuju melihat penampilan Zia, yang tampak cantik dan menggemaskan.


"Wauw, pantas saja Zaid tidak bisa menahan diri. ternyata gadis kecil ini cantik dan menggemaskan." batin Harun.

__ADS_1


Zaid tersenyum melihat Zia yang cantik dan memakai hijab sesuai permintaan Zaid. Zaid terus memandangi Zia yang baru keluar kamar yang berjalan mendekati tempat pertemuan, duduk disebelah Bundo.


Acara dimulai, Mak cik selaku perwakilan dari orang tua Zaid menyampaikan maksud kedatangan mereka. Ibu Zaid meneteskan air mata melihat acara yang berlangsung, merasa sedih karena tidak bisa menghadiri langsung acara lamaran itu.


Setelah ucapan maksud kedatangan dari Mak cik, Ibu Zaid berbicara memohon maaf tidak bisa menghadiri acara lamaran dan menyaksikan langsung acar tersebut. keluarga Zia merasa bangga dengan usaha keluarga Zaid yang menyaksikan acara lamaran anak mereka bersama Zia, mereka juga saling menyapa video call yang di dipegang Harun.


Selanjutnya acara pemasangan cincin, pak Ngah meminta istrinya dan adiknya untuk memasang kan cincin dijari Zia dan Zaid, setelah pemasangan cincin mereka melakukan foto bersama, Zia dan Zaid juga berfoto tanpa saling menyentuh. Pak Ngah benar-benar menjaga Zia, karena Zia belum halal bagi Zaid.


Acara lamaran sudah selesai, mereka kembali dijamu dengan aneka kue yang sudah dibuat Mak cik dan Bundo.


"Cantik sekali tunangan mu." bisik Harun yang duduk di samping Zaid.


"Kedua orang tua ku juga berkata begitu, bahkan mereka langsung menyarankan untuk segera menikah." jawab Zaid.


"Wah, sebentar lagi aku akan jadi paman. ingat untuk berbagi pengalaman malam pertama mu."


"Jangan harap. itu akan jadi rahasia kami berdua."


"Dasar pelit, Oh iya SIM B Zia sedang di urus, ternyata salah satu supir kita ada yang terkena penyakit TBC, dia memerlukan pengobatan selama 6 bulan. karena itu Zia dikontrak sebagai supir cadangan. perjalan mereka hanya dalam kota."


"Oh syukurlah, Bodyguard untuk Zia sudah dapat?"


"Sudah, begitu Zia bekerja dia akan langsung mengawasi Zia."


"Baguslah, semoga Zia bisa menyelesaikan kontrak kerjanya."


"Sayang sekali cantik-cantik jadi supir."


"Itu keinginannya, aku sudah menawarkan untuk membatalkan kontrak itu, tapi Zia menolak, dia ingin merasakan yang namanya gajian."


"Aku kagum dengan prinsipnya. semoga kalian selalu bahagia, saling setia dan selalu bersama sampai maut memisahkan."


"Terimakasih."


Cukup lama mereka berada di rumah pak Ngah, Zia dan Zaid tidak bisa duduk berdekatan. Zia duduk bersama Bundo, Mak cik dan tetangga perempuan yang hadir agak jauh dari Zaid. sesekali pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum.


Acara sudah selesai, Mak cik mengajak Zaid dan teman-temannya untuk pulang. Zia mengantar mereka sampai ke pintu,

__ADS_1


melihat kepergian Zaid dan rombongan menuju rumah Mak cik.


...----------------...


__ADS_2