
"Aku kesepian lagi, kali ini benar-benar sepi. paman dan keluarganya juga pergi, bahkan mereka pergi meninggalkan luka untuk ku.
Aku memiliki rumah tapi tidak bisa ditempati lagi, tidak ada apapun di rumah. jika saja aku tidak menitip kunci rumah, mungkin barang-barang ku masih menjadi milik ku. Sekarang aku hidup menumpang, tidak bisa ke mana-mana selain bekerja. bagai mana jika bang Zaid tidak kembali? Aku lupa minta uang, bang Zaid juga mungkin lupa memberi ku uang." ucap Zia seorang diri.
Zia menepikan mobilnya saat perjalan pulang dari mengantar barang, Zia sengaja berhenti untuk merilekskan pikirannya yang masih belum bisa menerima kepergian Zaid yang sangat mendadak.
Dodi dengan setia mengikuti Zia, Dodi berhenti disebuah warung kecil untuk belanja minuman agar Zia tidak curiga dirinya di ikuti, Mobil Zia diparkir dipinggiran jalan yang ramai bangunan.
Zia tahu sebagai istri yang ditinggal bekerja, Zia harus mengikuti perintah Zaid, Zia harus tinggal bersama Keke dan tidak pergi kemanapun selain urusan kerja. Zia harus pandai menjaga diri dan menunggu Zaid kembali.
Zia menyandarkan kepalanya di bagian stir, Zia merasa sangat lelah dan tertidur.
Dodi merasa khawatir karena sudah hampir 30 menit Zia berhenti tapi tidak ada tanda akan berangkat, Zia juga tidak turun.
"Halo pak, mobil Nona Zia berhenti dipinggir jalan. aku tidak tahu dia sedang apa, sudah hampir 30 menit dia berhenti dan tetap didalam mobil."
"Dimana posisi mu?"
Dodi menelpon Harun dan menyebutkan tempat mereka berhenti.
Harun segera berangkat ke lokasi membawa Keke ikut bersamanya. hari sudah sangat sore, Harun yakin Zia merasa sedih dan perlu waktu sendiri. berhenti dipinggir jalan bukanlah solusi yang baik untuk menenangkan diri.
Satu jam perjalanan dari kantor ketempat Zia berhenti. Keke dan Harun keluar dari mobil berjalan mendekati mobil Zia. kaca mobil Zia hanya diturunkan sedikit. pintu mobil dikunci.
"Zia."
"Zia."
Harun dan Keke bergantian memanggil Zia sambil mengetok kaca mobil bagian penumpang. Harun pindah posisi mengetok kaca mobil bagian stir. Zia terkejut dan melihat Harun. Zia segera membuka pintu mobil.
"Ada apa?" tanya Zia melihat hari sudah gelap.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Harun.
"Aku lelah, aku ketiduran." jawab Zia.
"Turunlah. serahkan mobil ini pada Dodi."
Zia turun dari mobil dan langsung dipeluk Keke.
"Kau ini membuat kami khawatir saja, pantas saja pak Zaid sangat menjaga mu." ucap Keke yang sudah mengetahui jika Zia selalu di ikuti oleh Dodi saat bekerja.
"Maaf Zia ketiduran."
"Lain kali jangan seperti ini, telpon Kakak atau pak Harun. Kami akan membantu mu. sekarang Zia tanggung jawab kami." ucap Keke.
Harun tertegun mendengar ucapan Keke yang menyebutkan kata "Kami."
Harun tersenyum, Keke memperlakukan Zia seperti adik kecil mereka berdua yang harus mereka jaga dan lindungi saat suaminya pergi.
"Aku yakin Zaid akan cepat kembali. pantas saja Zaid sangat gelisah untuk meninggalkan istrinya. bisa-bisanya dia memilih tidur dipinggir jalan, padahal dia seorang wanita." Batin Harun.
__ADS_1
"Ayo masuk ke mobil, kita langsung pulang ke rumah Kakak."
Keke melepaskan pelukannya dan merangkul Zia masuk ke mobil. Keke duduk dibelakang bersama Zia. Harun menyetir.
Keke meminta Hp Zia, menyimpan nomornya dan nomor pak Harun di ponsel Zia.
"Mbak, Zia mau kekantor dulu ambil pakaian."
"Pakaian Zia sudah disiapkan pak Zaid. koper Zia juga sudah didalam mobil kakak, dan tolong jangan panggil mbak. panggil kakak."
"Panggil aku abang Harun." ucap Harun ikut menyela.
Zia dan Keke tersenyum mendengar ucapan Harun.
Keke menyebutkan alamat rumahnya. akhirnya mereka sampai di rumah minimalis bertingkat.
"Kita sudah sampai, ayo turun." ucap Keke
Zia dan Harun turun dari mobil.
"Bang Harun tolong bawakan koper Zia ke rumah." ucap Keke sambil tersenyum.
Harun dan Zia tersenyum mendengar ucapan Keke. Keke memegang tangan Zia dan membawa Zia masuk ke dalam rumah. Harun mengambil koper milik Zia dan membawanya ke rumah Keke.
"Assalamualaikum." ucap Keke
"Waalaikummussalam." jawab seorang perempuan yang memakai baju rumahan berjilbab dalam.
"Ma, ini Zia dan ini pak Harun." ucap Keke memperkenalkan orang yang ia bawa.
"Iya buk." jawab Zia
"Dan ini pak Harun yang satu kantor dengan Keke?" ucap Mama Keke seolah memastikan semua cerita Keke.
"Iya buk." jawab Harun.
"Kalian mandi dulu, nanti setelah mandi baru kita makan. mandinya jangan lama, kami sudah lapar." ucap Mama Keke.
Keke mengambil koper Zia dari Harun dan membawa Zia ke kamar yang sudah disiapkan.
"Cepat mandi, Mama kakak bisa menggedor pintu mu kalau terlalu lama."
"Ya." ucap Zia.
Zia menutup pintu dan segera membuka Kopernya melihat pakaian apa yang sudah disiapkan suaminya. ternyata Zaid memasukkan semua pakaian Zia yang ada di lemari kantor.
"Bang Zaid pasti pergi lama, karena itu semua pakaian Zia dimasukkan kedalam koper." ucap Zia sedih.
Zia segera mandi dan bersiap-siap untuk makan malam, Zia memakai pakaian tertutup dan jilbab.
Keke juga selesai mandi, memakai pakaian rumah biasa yang dalam serta memakai jilbab.
__ADS_1
Papa Keke keluar dari kamar dan menyuruh Harun untuk mandi dikamar mandi kamarnya, Papa juga mencarikan pakaian miliknya untuk dipakai Harun. Harun sangat sungkan dengan keramahan Papa Zia. Papa menunggu dikamar sampai Harun selesai mandi.
"Wah, kau memiliki otot perut yang bagus. aku sewaktu seusia mu juga memiliki tubuh terawat. semenjak punya istri dan berumur aku tidak lagi mempedulikan penampilan ku. ini pakaian untuk mu. cepat pakai dan keluar untuk makan bersama."
Harun tersenyum dan mengambil pakaian yang diberikan Papa Keke.
Papa Keluar dari kamar membiarkan Harun sendirian untuk memakai pakaian.
Mama dan Papa sudah duduk di kursi makan menunggu semuanya. Keke dan Zia sama-sama keluar dari kamar.
Zia sempat kaget melihat penampilan Keke. Keke terlihat cantik memakai jilbab. Mereka segera duduk diruang makan.
Harun datang dengan baju koas dan celana jins dibawah lutut. baju dan celana yang dipakai Harun terlihat kebesaran. Zia dan Keke tersenyum melihat penampilan Harun.
"Harun sini, uduk disebelah Papa." ucapan Papa seolah sudah sangat mengenal Harun. Harun patuh dan duduk disebelah Papa Keke.
"Ayo makan dan jangan malu." ucap Mama Keke.
Mereka makan sambil bercengkrama, Keke memiliki keluarga yang hangat, baik dan ramah.
Selesai makan Keke mengantar Harun pulang ke kantor, tak lupa Harun membawa pakaian kotornya.
"Kenapa memakai jilbab?" tanya Harun saat mereka diperjalanan.
"Papa bisa marah jika aku tidak memakai jilbab saat ada tamu laki-laki."
"Kenapa tidak memakai jilbab saat bekerja?"
"Tuntutan pekerjaan."
"Kantor tidak menuntut mu untuk berpakaian seksi."
"Itu jawaban ku saat orang tua ku bertanya."
"Kau membohongi mereka selama bekerja, itu tidak baik. Kamu cantik berpakaian seperti ini." ucap Harun memuji Keke.
Keke tersenyum mendapat pujian dari laki-laki yang disukainya.
"Terimakasih, sudah mengantar ku pulang." ucap Harun saat mereka sampai di parkiran kantor.
"Oke."
"Kabari aku jika Zia melakukan hal aneh."
"Baik."
Keke segera pulang.
Setelah bercengkrama bersama kedua orang tua Keke dan Keke, Zia masuk ke kamar nya.
"Abang sudah sampai?" pesan yang dikirim Zia belum masuk ke nomor Zaid artinya ponsel Zaid masih belum aktif.
__ADS_1
Zia memilih tidur dan tidak mempedulikan Hp nya lagi.
...----------------...