
Setelah sholat subuh Zaid menelpon Zia, memastikan Zia bangun tidur dalam kondisi aman dan Zia telah melaksanakan sholat subuh.
"Lihat abang lewat didepan rumah ya. abang rindu."
"Ya, kapan berangkatnya?"
"Sebentar lagi, saat abang matikan telpon maka kami akan langsung berangkat."
"Kenapa pagi-pagi sekali pergi belanjanya?"
"Kata Mak cik tempat yang dituju itu jauh."
"Emangnya abang mau beli apa? kenapa harus pergi ketempat jauh?"
"Ada deh, semuanya untuk calon istri abang. doakan kami selamat pulang pergi."
"Iya, Zia pasti doakan."
"Udah ya, abang sudah dipanggil. sepertinya semuanya sudah masuk ke mobil."
"Hati-hati ya bang."
"Ya, assalamualaikum."
"Waalaikummussalam."
Mereka mengakhiri telponnya, Ali sudah membunyikan klakson mobil agar Zaid cepat keluar.
Mereka segera berangkat. Suami mak cik tidak ikut bersama mereka, ia akan mencari kayu bakar untuk keperluan masak acara tunangan dan pesta pernikahan di rumah Pak Ngah.
Zia pergi ke pinggir jalan depan rumah untuk melihat Zaid pergi. Zaid dan Zia saling melambaikan tangan saat mobil Zaid melewati rumah Pak Ngah.
"Kenapa Zia pagi-pagi sudah berada dipinggir jalan?" tanya mak cik saat mobil mereka sudah melewati Zia.
"Aku yang minta." jawab Zaid tersenyum
Zaid duduk dibelakang Ali, sedangkan mak cik duduk didepan bersama Ali.
Mak cik dan Ali saling beradu pandang mendengar jawaban Zaid.
"Dasar mesum dan Bucin." ucap Ali dengan suara kecil tidak terdengar Mak cik, tapi Zaid mendengarnya.
"Makanya cari pasangan yang membuat kamu selalu merindukannya." jawab Zaid.
"Saya sudah punya istri." jawab Ali
"Apa? kenapa kamu tidak pernah menelpon istri mu?" ucap Zaid kaget dengan jawaban Ali.
"Lagi malas memberi kabar." jawab Ali.
"Ini tipe rumah tangga yang mudah dirusak dan akan cepat rusak." jawab mak cik yang mendengar pembicaraan mereka.
"Istri saya hanya taunya minta uang mak cik. saya selalu dibilang pemalas jika tidak punya uang. padahal saya hanya supir. kadang ada trip kadang tidak."
"Wajar jika istrimu minta uang sama kamu. kamu wajib memberinya nafkah lahir batin, bukan sunat." ucap mak cik.
"Masalahnya uang yang dia minta bukan untuk makan, tapi untuk arisan. suka belanja yang tidak penting."
"Itu tugas mu menasehati istrimu. kamu harus bisa mengarahkan istri mu. jangan cepat putus asa. kenapa dulu menikah dengannya?"
"Awalnya karena aku merasa dia wanita baik, aku sempat melihat dia menangis karena diputusin pacarnya, padahal satu bulan lagi mereka akan menikah."
"Kamu menggantikan pria yang memutuskan hubungan dengannya?"
"Iya."
"Orang tua mu merestui pernikahan kalian?"
__ADS_1
"Ayah tidak merestui, kalau ibu asalkan aku bahagia dia ikut bahagia."
"Awal hubungan kalian saja sudah tidak baik. kamu terlalu berani memutuskan untuk cepat menikahinya. dia menelpon jika kamu pergi kerja?"
"Tidak."
"Selama kamu pergi dari rumah dia tidak menelpon?"
"Tidak."
Mak cik terlihat kesal dengan perangai istri Ali.
"Zaid, kalau Zia memiliki sifat seperti ini laporkan pada Mak cik, biar mak cik marahi dia."
"Zia penurut mak cik. mak cik tahu, Zia sempat menolak cinta ku. dia merasa tidak percaya diri untuk mendampingi ku. padahal aku sangat mencintainya, tidak bisa jauh darinya. dia membuatku rindu siang dan malam." ucap Zaid dengan membayangkan wajah Zia yang selalu bahagia saat mereka bersama.
"Syukurlah, semoga kalian langgeng dan selalu bersama sampai akhir hayat."
"Terimakasih doanya mak cik." jawab Zaid.
Zaid melihat wajah Ali yang sedikit murung, Zaid merasa kasihan dengan kehidupan Ali yang masih muda sudah mengalami permasalahan rumah tangga.
"Ali, berapa usia istrimu?" tanya Zaid.
"Kami sebaya, usia kami sama-sama 25 tahun."
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Sudah 2 tahun."
"Sudah memiliki anak?"
"Istri ku tidak mau punya anak sebelum aku menemukan pekerjaan tetap."
Jawaban Ali kembali membuat Mak cik geram.
"Aku tidak memiliki waktu mengawasinya mak cik. aku supir, harus bekerja dan membawa uang saat pulang."
"Kamu terlalu pasrah jadi laki-laki. apa kamu tidak diberitahu jika pertama bertemu jodoh mu hati mu pasti bergetar dan menginginkannya, kemudian jika kamu membayangkan dia, dalam bayangan mu wajah nya akan terlihat sempurna, tidak ada yang menghalangi bayangan wanita itu." ucap mak cik.
"Tips dari mana sih mak cik?" tanya Ali.
"Dari orang tua-tua dulu, mak cik diajarkan begitu saat memilih jodoh."
"Karena itu mak cik pilih suami sekarang?"
"Iya lah, dulu mak cik punya tiga laki-laki yang memperebutkan mak cik, mereka selalu mendekati dan mencari perhatian Mak cik, atas nasehat dari orang tua yang mak cik temui mak cik memilih suami mak cik sekarang."
"Apa hanya karena trik itu?"
"Tidak juga, suami mak cik ni dulu suka berkunjung ke rumah, suka bawa ini itu. ramah sama orang tua mak cik. jadi orang tua mak cik suka dia datang ke rumah. karena itu juga mak cik pilih suami mak cik."
"Trus solusi untuk hubungan aku gimana mak cik?" tanya Ali.
"Selidiki istrimu. jangan sampai kamu suaminya tapi dia hamil anak orang lain."
Jawaban mak cik membuat Ali me-rem mendadak mobil yang ia bawa. untungnya mobil yang dibawa Ali tidak dalam kondisi laju dan jalan yang mereka lalui sepi.
"Biar aku yang bawa mobil." ucap Zaid.
Zaid segera turun dari mobil dan menyuruh Ali duduk dibelakang. ucapan mak cik membuat Ali tertekan dan merasa harus memantau istrinya. Ali juga takut hal yang disampaikan Mak cik terjadi dalam pernikahannya. apalagi sampai sekarang Ayah Ali masih belum merestui pernikahannya.
Ali duduk dibelakang, berpikir dan merenungi nasib dirinya. Ali membayangkan Zia dan istrinya yang sangat jauh berbeda. Zia selalu tersenyum dan menatap Zaid dengan tatapan penuh cinta. sedangkan istrinya, Ali tidak merasa istrinya tulus menerima kebaikan darinya.
Zaid dan mak cik merasa kasihan dengan nasib Ali, terlihat terpukul dan memikirkan ucapan mak cik.
Dua jam perjalanan, mereka sampai dipusat perbelanjaan, mereka belanja di jejeran toko sepanjang jalan.
__ADS_1
Hari ini Zaid dan mak cik belanja hantaran untuk Zia, sekalian belanja mahar perkawinan.
Zaid memberikan mahar berupa satu set perhiasan emas.
Setelah membeli untuk hantaran dan mahar, Zaid singgah di toko perabot furniture. membeli tempat tidur dan kasur springbed serta lemari untuk dipakai Zia selama menginap di rumah Pak Ngah.
"Ini untuk Zia?" tanya mak cik
"Untuk dipakai Zia selama tinggal di rumah Pak Ngah."
"Oh."
"Kasur nya lebih mahal dari yang aku punya. beruntung sekali abang ku." batin Mak cik.
Zaid meminta Mak cik menyebutkan alamat mereka agar pemilik toko bisa mengantar pesanan Zaid ke alamat rumah Pak Ngah.
Setelah belanja perabot rumah, Zaid mengajak mak cik dan Ali makan siang, Zaid berhenti di rumah makan yang memiliki pondok-pondok kecil untuk pelanggan duduk dengan nyaman.
Mereka makan dengan lahap.
"Mak cik sering kesini?"
"Ini rumah makan mahal, bisa habis duit yang mak cik bawa dari rumah kalau makan disini."
"Harganya standar mak cik."
"Iya, itu bagi kamu yang banyak duit."
"Mak cik ada-ada saja, menurut mak cik menunya mana yang enak?"
"Mak cik suka daging ini, rasa asamnya segar sekali, ini juga enak daging yang sudah jadi kerupuk. ayam panggang nya juga enak." jawab mak cik.
Mak cik memenuhi piringnya dengan lauk yang terhidang di depan mereka.
Zaid memanggil pelayanan. memesan enam porsi lagi untuk dibawa pulang.
Setelah makan mereka mencari mesjid terdekat karena hari ini hari jum'at, wajib bagi laki-laki untuk sholat jum'at, mak cik menunggu mereka selesai sholat, setelah kaum adam selesai sholat jum'at baru mak cik sholat zuhur sendiri.
Setelah Sholat, Zaid berhenti di toko busana pria wanita. Zaid menyuruh Ali memilih pakaian yang ia suka begitu juga dengan Mak cik.
mak cik memanfaatkan kesempatan ini untuk belanja baju mahal yang bisa ia gunakan saat acara Zia dan Zaid, Mak cik juga membelikan untuk suami, kakak ipar dan abang nya. masing-masing mendapat dua pasang baju.
Ali juga memanfaatkan momen ini untuk membelikan dirinya pakaian yang selama ini di inginkan nya, Ali mengambil empat pasang baju dan celana untuk dirinya.
Zaid memilihkan pakaian untuk Zia, beberapa helai baju kaos dan kemeja panjang tangan, beberapa helai rok dan celana kain serta baju tidur sexy untuk Zia pakai malam hari.
Zaid melihat kerudung yang tidak terlalu dalam, Zaid berharap Zia mau memakai kerudung saat keluar rumah untuk menutupi bagian dadanya. Zaid mengambil tiga helai kerudung mengikuti warna baju yang ia pilih.
Setelah selesai memilih pakaian Zaid menemui kasir, Mak cik dan Ali sudah berada di kasir. Mak cik berencana melihat isi dompet Zaid.
Zaid membayar semua belanja hanya dari Hp nya.
Mak cik merasa kagum dengan kecanggihan metode pembayaran sekarang, tidak perlu mengisi dompet dengan banyak uang. hanya memakai Hp semuanya tuntas.
Mereka segera pulang, karena tidak ada lagi yang harus mereka beli.
Jam 17.00 Zaid sampai di rumah pak Ngah, mereka sengaja singgah untuk memastikan barang yang mereka beli sudah di antar, Zaid juga memberikan kotak nasi yang ia beli untuk Zia dan keluarga Pak Ngah, Baju yang dibeli Zaid sengaja tidak diberikan, Zaid ingin memberikannya setelah mereka menikah.
Mak cik juga memberikan baju yang ia pilih untuk abang dan kakak iparnya, mak cik juga menentukan pakaian yang dipakai saat acara lamaran dan acara pernikahan.
"Terimakasih kasur dan lemari nya." ucap Zia tersenyum
"Ya, abang khawatir Zia masuk angin dan pegal-pegal saat bangun." jawab Zaid.
"Ayo pulang." ucap mak cik sambil menarik tangan Zaid. memisahkan Zaid dan Zia yang sedang menatap mesra.
Zaid pasrah dan ikut keluar rumah bersama mak cik.
__ADS_1
...----------------...