Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Perjanjian


__ADS_3

Setelah menelpon Zaid, Harun segera kembali ke lantai 26, memanggil Keke untuk bicara di ruangannya.


"Pagi pak." sapa Keke


"Pagi, duduklah." jawab Harun.


Keke duduk dihadapan Harun.


"Nama wanita yang mendatangi mu tadi adalah Melani, dia bekerja di perusahaan kita, bagian perencanaan. dia mantan Zaid."


"Wah, pak Zaid pernah menyukai wanita seram itu? syukurlah sekarang pak Zaid dapat wanita yang imut dan lembut."


"Kau sudah pernah bertemu dengan Zia?"


"Sudah, dua hari lalu pak Zaid membawanya kekantor memperkenalkan nya kepadaku."


"Sialan, aku sahabatnya tidak diberi izin untuk bertemu." ucap Harun dengan suara kecil.


"Ada apa memanggil saya pak?"


"Saya mau mengingatkan kamu, untuk tidak memberi tahu siapapun jika pak Zaid sudah punya kekasih."


"Wah, telat pak. waktu Zia kekantor, pak Zaid meminta saya mengambil mukenah diruang sholat perusahaan. waktu itu ada karyawati yang bertanya kenapa saya tidak sholat diruang sholat malah membawa mukenah, saya jawab mukenah ini untuk pacarnya pak Zaid. jadi saya rasa semua orang di kantor sudah tahu pak Zaid punya pacar."


Harun mengusap wajah nya.


"Kacau, apa kabar ini yang membuat Melani datang dan ingin bertemu Zaid?" ucap Harun dihatinya.


"Apa kamu menyebutkan ciri-ciri pacar Zaid pada karyawati waktu itu?"


"Tidak."


"Baguslah, tolong kamu rahasiakan ciri-ciri pacar Zaid, jangan sampai mereka tahu."


"Baiklah pak, masih ada lagi yang ingin bapak sampaikan?"


"Tidak ada, silahkan kembali ke ruangan mu "


"Pak, tadi mbak Melani ngancam saya, katanya kalau dia bertemu Pak Zaid saya pasti dipecat. tolong saya pak, saya belum satu bulan bekerja disini, belum terima gaji.


tolong saya. jika bapak menolong saya, maka saya akan menolong bapak."


"Menolong saya?"


"Iya, saya akan lakukan apapun untuk membalas kebaikan Bapak."


"Baiklah, saya akan tolong kamu dan selama kamu masih bekerja, kamu harus ingat ucapan mu. KAMU AKAN MENOLONG SAYA."


"Ya pak, saya pasti ingat."


Keke tersenyum dan merasa bahagia, Harun mau menolongnya.


"Oke, kapan perjanjian ini kita mulai?."


"Tunggu Pak Zaid datang, saat pak Zaid sudah kembali dan bekerja maka perjanjian kita berlaku."


"Ide bagus, apa tidak sebaiknya perjanjian ini kita buat tertulis?"


"Baiklah, saya setuju. itu juga akan mengingatkan bapak untuk selalu membela saya dan saya tidak di pecat."


"Bagaimana dengan maksud ucapan mu *bersedia menolong saya*".


"Semua yang bapak suruh, akan saya lakukan. asal tidak membahayakan dan menghilangkan nyawa saya."


"Hanya itu syarat dari pertolongan mu?"


"Ya, saya rasa itu saja."


"Baiklah, tolong kamu ketik dan buatkan perjanjian itu kita tandatangan berdua, buat dua rangkap. masing-masing kita harus memegang satu dan saling bekerja dengan profesional."


"Baiklah, akan saya buatkan. saya permisi dulu pak."


Harun mengangguk. Keke segera keluar dari ruang kerja Harun. Harun tersenyum penuh arti.


"Aku jadi tidak sabar untuk mendapatkan pertolongan dari mu, aku tidak akan membuat mu dalam bahaya apa lagi kehilangan nyawa." batin Harun.


Harun tersenyum sendiri memikirkan rencana nya.


Hanya butuh lima menit, Keke kembali mengetuk ruang kerja Harun.


"Ini pak kertas kerja sama kita."


Harun membaca isi yang tertulis di kertas yang diserahkan Keke.


"Oke, silahkan kamu tanda tangan."


"Baik pak."


Keke menanda tangani kedua lembar surat perjanjian mereka, kemudian menyerahkannya pada Harun. Harun melakukan hal yang sama. setelah kedua surat ditanda tangani masing-masing dari mereka memegang satu lembar.


"Jadi perjanjian ini batal jika kamu berhenti bekerja?"


"Iya."

__ADS_1


"Sepertinya pekerjaan ini sangat berarti bagi mu."


"Tentu saja, saya mengalahkan 58 pelamar di perusahaan ini. artinya saya orang berbakat dan terpilih secara khusus, saya tidak mau diberhentikan hanya karena laporan mantan."


"Ha,.ha,.ha,. kamu memiliki mantan?"


"Tidak, saya hanya fokus sekolah, kuliah. kedua orang tua saya juga melarang saya pacaran saat belajar. itulah yang membuat saya berprestasi, saya juga menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu 3 tahun setengah. Bapak tau? saya dapat hadiah luar biasa dari kedua orang tua saya."


Keke bercerita dengan wajah ceria. membuat Harun tertarik untuk terus mendengarkan cerita Keke.


"Hadiah apa yang kamu dapatkan?"


"Mobil."


"Wah, hebat sekali."


"Tentu saja, saya tahu orang tua saya harus menabung untuk membelikan saya hadiah itu. saya juga tidak menyangka mereka memberikan saya hadiah semewah itu. padahal dari TK sampai Kuliah saya tidak di izinkan membawa kendaraan sendiri. mereka selalu mengantar saya. sekarang saya bebas membawa kendaraan sendiri. besok setelah gajian saya juga mau traktir kedua orang tua saya, makan ditempat yang mereka inginkan."


"Boleh aku bergabung?"


"Tentu saja, asalkan saya tidak dipecat."


"Tentu, aku akan berusaha mempertahankan posisi kerja mu."


"Yes,. terimakasih pak, dulu bapak juga yang memutuskan memilih saya. sekali lagi terimakasih."


Harun tersenyum mendengar ucapan Keke.


"Aku memilih mu karena menurut ku kamu itu bisa jadi wanita yang mengisi kekosongan hati Zaid, ternyata Zaid lebih gesit dari yang aku tahu. baru bertemu langsung mengurus pernikahan. aku ketinggalan lagi darinya." batin Harun.


"Kembali lah bekerja. jika tidak aku dan kamu bisa sama-sama dipecat."


"Oke pak, saya pamit dulu."


Keke segera keruang kerjanya melanjutkan pekerjaan pagi ini.


Baru kali ini Harun berbicara lama dengan Keke, mereka tampak akrab dan saling memberi umpan balik.


****


Zia dan rombongan sampai di halaman rumah pak Ngah. rumah papan dikelilingi kebun singkong dan tebu. jauh dari tetangga karena rumah pak Ngah berada ditengah-tengah lahan perkebunannya yang lumayan luas.


"Apa kepalanya masih sakit?" tanya Zaid


"Tidak terlalu."


"Jika masih sakit nanti kita cari dokter di desa ini, kita temui Pak Ngah dulu."


"Baiklah, ayo keluar."


Zaid dan Zia keluar dari sisi berbeda. Ali masih duduk di bagian kemudi.


Seorang pria paruh baya mendekati mereka.


"Zia? Alhamdulillah kamu datang mengunjungi kami."


Zia menyalami Pak Ngah yang masih dengan baju petaninya.


"Tangan bapak kotor, tadi menggali singkong."


"Tidak apa-apa Pak Ngah, Pak Kenalkan ini bang Zaid."


Zaid dan Pak Ngah saling bersalaman.


"Dia bisa bahasa kita?"


"Bisa, Pak Ngah. saya lahir dan dibesarkan di indonesia." jawab Zaid


"Oo, baguslah. mari masuk ke rumah."


Zia berencana kembali ke mobil. Zaid menahan tangan Zia.


"Zia ikut pak Ngah dulu ke rumah, oleh-olehnya biar abang yang bawakan."


"Baiklah."


Zia menyusul Pak Ngah yang sudah berjalan duluan menuju rumahnya.


Zaid membawa semua buah yang mereka beli.


"Tolong bawakan koper Zia kedalam." ucap Zaid menatap Ali yang masih duduk di bangku stir.


"Baik Pak. apa koper bapak juga diturunkan?"


"Tidak usah."


"Kenapa? apa pak Zaid berencana pulang malam ini?"


Zaid tersenyum mendengar ucapan Ali.


"Aku dan Zia belum menikah, tidak mungkin kami di izinkan tidur satu rumah."


Ali merasa malu atas tuduhannya, Ali pikir Zaid akan kembali pulang setelah mengetahui kondisi keluarga Zia yang mereka temui. ternyata Ali keliru dan mendapat malu.

__ADS_1


"Maaf pak, saya pikir bapak akan pulang setelah mengetahui rumah yang kita datangi."


"Jangan menilai ku seperti itu, aku harap kamu bisa menjadi teman ku."


"Saya akan jadi teman bapak."


Ali begitu cepat menjawab tawaran Zaid, Ali merasa senang bertemu orang kaya dan baik seperti Zaid, yang menghargainya sebagai rekan kerja dengan profesi layak dihargai.


Zaid tersenyum dan segera membawa oleh-oleh yang mereka beli ke rumah pak Ngah.


"Wah, banyak sekali buah tangan yang kalian bawa."


"Kami hanya bawa buah, semoga pak Ngah dan keluarga suka." jawab Zaid.


"Tentu saja suka. Zia, Zaid saya panggil istri dan anak-anak saya dulu. kalian di rumah dulu ya."


"Dimana mereka?" tanya Zaid


"Mereka sedang panen jagung di belakang, jangan ikut, kalian di rumah saja."


"Baiklah." jawab Zaid.


Pak Ngah segera pergi memanggil anggota keluarganya yang berada di kebun belakang rumah.


"Sayang, abang buatkan teh hangat ya."


"Gak usah, Zia aja yang buat."


Zia segera berjalan ke dapur, Zaid mengikuti Zia dan memeluk tubuh Zia dari belakang.


"Jangan bekerja dulu, biar abang yang buatkan."


Zia terdiam ditempatnya, kaget dengan pelukan yang diberikan Zaid.


"Abang, kita sedang di rumah pak Ngah jangan sampai mereka melihat kita begini."


"Pak Ngah lagi diluar tidak akan ada yang lihat. toh kita kesini juga untuk menikah."


"Iya, tapi jangan sampai..."


Ucapan Zia terhenti karena Zaid tiba-tiba menyambar bibirnya, ciuman yang diberikan Zaid mengurangi sakit kepala Zia. bahkan Zia tampak menikmati obat yang diberikan Zaid.


Wajah Zia yang tadinya pucat sekarang tampak berdarah kembali.


setelah merasa puas Zaid menghentikan permainannya.


"Tunggu abang didepan, abang buatkan Zia minum."


"Zia udah merasa baikan, kita buat teh hangat sama-sama, agar bisa diminum bersama keluarga paman."


"Baiklah abang setuju."


Zaid mengisi dandang dengan air dan menyalakan kompor gas, Zia mengambil teko yang kosong, mengisinya dengan gula dan teh celup. sambil menunggu air mendidih. Zia mengajak Zaid melihat tanaman dibelakang rumah paman.


"Enak juga tinggal di rumah Pak Ngah. semua lahannya ditanami dan terawat. udara juga terasa segar."


"Menurut Zia di rumah jauh abang juga enak, nyaman dan membuat pikiran tenang."


"Sayang rumah jauh itu adalah villa abang, jika abang sudah merasa jenuh dengan kehidupan di kantor abang akan pulang ke sana untuk mencari suasana dan semangat baru."


"Oh, pantas saja tempatnya terpencil dan rumahnya juga sangat cantik."


"Kenapa kemaren tidak mau tinggal lebih lama?"


"Baterai Hp Zia habis, Zia sedang menunggu panggilan kerja dari Om Suryo. besok kita ke sana lagi ya."


"Baiklah, abang akan atur jadwal kita untuk ke villa."


"Apa setelah dari tempat pak Ngah kita tidak bisa ke sana?"


"Cuti abang hanya dua minggu ke depan, kita menunggu jadwal Penataran pra nikah dari kantor urusan agama disini. hari jum'at depan jadwal pernikahan kita. abang tidak tahu acara seperti apa yang di inginkan pak Ngah, karena itulah kita cepat kesini."


"Zia akan minta acara sederhana saja."


"Jangan, abang ingin ada acara ditempat pak Ngah, setelah enam bulan Zia bekerja baru kita buat resepsi untuk kenalan kita di kota."


"Abang ingin merahasiakan pernikahan kita dari orang kantor?"


"Iya, semuanya untuk keamanan Zia saat bekerja. abang tidak ingin terjadi hal buruk saat Zia bekerja. setelah masa kontrak Zia berakhir baru kita memberitahu semua orang di kantor."


"Abang malu Zia bekerja sebagai supir?"


"Tidak, abang ingin mewujudkan impian Zia, bekerja, merasakan terima gaji dan setelah enam bulan Zia tidak boleh lagi bekerja diluar rumah. abang ingin Zia fokus untuk kehamilan."


"Baiklah, Zia setuju kita merahasiakan pernikahan dari orang kantor. apa kita akan pisah rumah setelah menikah?"


"Tidak akan, abang tidak mau tidur sendiri."


"Zia juga."


Keduanya tersenyum bahagia. mereka kembali memasuki dapur dan membuat teh hangat.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2