
Pagi hari setelah sholat subuh Zia dan Zaid ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Zaid memberitahu Zia jika Ali tidak akan datang ke dapur dan Zia tidak perlu menganti pakaian saat ke dapur.
Rianti bangun dan turun, Rianti mendengar suara Zia dan Zaid dari arah dapur. Rianti pergi ke dapur, melihat Zaid dan Zia yang sedang sibuk di dapur. bahkan Zaid tampak lebih menguasai dapur dibanding Zia.
"Kita tidak usah masak untuk makan siang, sebentar lagi Ali akan turun." ucap Zaid.
"Baiklah." ucap Zia.
"Apa yang kalian masak? baunya membuatku lapar." ucap Rianti
Zia dan Zaid menoleh, melihat Rianti yang tidak jauh dari mereka.
"Kau tidak mual?" tanya Zia
"Tidak, justru membuatku ingin memakannya." jawab Rianti.
"Kau tunggu saja dimeja makan, sebentar lagi bisa kau cicipi." jawab Zaid.
Zaid ingat ketika Ibunya hamil, Abi akan selalu memenuhi keinginan ibu, memasak semua yang di suka ibu bahkan Abi selalu memberikan porsi lebih di mangkuk Ibu.
Zaid mengisi empat mangkok, satu mangkok di isi dengan porsi lebih banyak. sementara tiga mangkok lainnya di isi sama banyak.
Zia membawa piring berisi perkedel hangat menaruhnya di atas meja makan.
"Wah kau pintar sekali membuat perkedel." puji Rianti yang sudah duduk di kursi makan.
Zia hanya diam dan kembali ke dapur.
Zia kembali membawa kerupuk yang sudah ditempatkan dalam toples mini. Zaid membawa tiga mangkuk soto yang sudah diberi kuah.
Zaid memberikan satu mangkuk yang paling banyak isinya kepada Rianti. Zia kaget, Zia pikir mangkuk yang penuh untuk Zaid karena Zaid selalu makan dengan porsi banyak, sesuai dengan ukuran tubuhnya.
"Pantas saja berat badan Zia cepat naik, ternyata menu sarapan kalian sangat segar dan enak. bahkan kalian memasaknya bersama." ucap Rianti.
"Abang, Zia makan di kamar ya. sebentar lagi Ali akan turun." ucap Zia yang hanya memakai baju tidur pendek.
"Baiklah, kita sarapan dikamar saja." jawab Zaid.
"Rianti, ambillah perkedel dan kerupuk untuk mu." ucap Zia.
Rianti mengambil tisu dan menempatkan perkedel untuknya di atas tisu begitu juga dengan kerupuk.
"Apa segitu cukup?" tanya Zaid karena Rianti hanya mengambil satu perkedel dan sedikit kerupuk.
"Sebenarnya tidak, tapi aku tidak enak karena kalian sudah repot memasak." jawab Rianti.
"Ambillah seberapa kau mau." ucap Zaid.
Rianti tidak melewatkan tawaran yang diberikan Zaid. Rianti menyisakan empat perkedel untuk Zia dan Zaid.
Zia merasa Rianti sengaja melakukan itu untuk memancing emosinya.
Zia mengambil piring perkedel dan kerupuk, membawanya kekamar. Zaid membawa mangkuk berisi soto kekamar.
__ADS_1
"Dia tidak punya perasaan." ucap Zia saat sampai di kamar dan duduk di kursi.
"Dia sedang hamil, jangan marah." ucap Zaid menenangkan Zia dan meletakkan mangkuk soto di atas meja.
"Sewaktu ibu hamil, selera makan ibu juga meningkat. bahkan Abi akan mengisi piring ibu dulu baru mengisi piring nya. Abi juga akan memasak masakan kesukaan ibu, Abi mengabaikan selera nya." ucap Zaid sambil memeluk Zia memberikan pengertian.
"Dia punya suami, dia juga punya ibu. kenapa harus menyusahkan kita." ucap Zia yang tidak bisa menerima keberadaan Rianti.
"Tenanglah, dia sedang hamil. Zia harus ikhlas menolongnya." ucap Zaid.
"Ayo segera sarapan, mumpung masih hangat." ucap Zaid sambil melepaskan pelukannya dan mengusap lengan Zia.
Zia tidak membantah lagi dan makan sarapan yang sudah mereka buat.
"Besok jika Rianti masih tidur di rumah kita, kita akan masak lebih banyak." ucap Zaid yang sudah menghabiskan sarapannya.
"Abang masih lapar?" tanya Zia.
"Ya." jawab Zaid.
"Tidak jauh dari perumahan ini ada warung sarapan yang menyediakan soto, nanti Zia temani abang sarapan." ucap Zia.
"Baiklah."
Zaid mengumpulkan mangkok dan piring perkedel yang sudah kosong, mengantarnya ke dapur.
Zaid melihat Rianti masih menikmati sarapannya dan melewatinya.
"Pagi Bos." sapa Ali yang sudah berada di dapur.
"Oh, ternyata Bos sudah masak. saya berencana memasak mie rebus." ucap Ali.
"Kau sering masak mie?" tanya Zaid.
"Jika sedang malas keluar, masak mie instan lebih mudah." jawab Ali.
"Buatlah sarapan yang lebih sehat." jawab Zaid.
Ali memanaskan kuah soto dan mengambil mangkok soto yang sudah disimpan Zaid untuk dirinya. di mangkuk Ali sudah ada perkedel dua buah dan satu piring kerupuk.
Zaid kembali melewati Rianti. Zaid melihat Rianti yang tidak menghabiskan soto nya.
"Kau tidak suka?" tanya Zaid.
"Ini terlalu banyak, aku tidak kuat menghabiskannya." jawab Rianti. perkedel yang diambil Rianti juga masih banyak.
"Sebentar lagi suami ku akan datang. Aku memberikan perkedel dan soto ku untuknya." ucap Rianti.
"Terserah." ucap Zaid dan meninggalkan Rianti.
Zaid mendengar suara klakson motor didepan pagar rumah. Zaid keluar dan membuka pintu pagar.
"Kau suami Rianti?" tanya Zaid.
__ADS_1
"Ya." jawab laki-laki itu.
"Kenapa kau cepat sekali memakai baju kerja? istri mu sedang hamil, seharusnya kau menjemputnya dengan pakaian bersih agar dia tidak mual." ucap Zaid.
"Oh, aku tidak tahu jika dia mual mencium bau ku." jawab laki-laki itu.
"Masuk lah." ucap Zaid.
Laki-laki itu mengikuti Zaid. Zaid menunjukkan keberadaan Rianti. laki-laki itu segera ketempat Rianti.
"Kenapa menjemput ku dengan pakaian kotor?" tanya Rianti merasa malu melihat penampilan suaminya.
"Aku ingin langsung bekerja setelah menjemput mu." jawab suaminya.
"Kau sudah sarapan? tapi ini sisa ku." ucap Rianti.
"Belum, baiklah tidak masalah." ucap Suaminya ikut duduk di kursi dan memakan sisa sarapan Rianti, dia juga menghabiskan perkedel yang disisakan Rianti.
Ali merasa prihatin melihat suami Rianti yang memakan sisanya.
"Seharusnya kau membagi isi mangkuk mu, kau sudah tahu suami mu akan datang menjemput mu, tapi tidak punya inisiatif untuk membagi sarapan mu. pak Zaid saja menyisakan satu mangkuk untuk ku." ucap Ali yang telah menghabiskan sarapannya.
Rianti merasa malu, Rianti juga merasa kasihan terhadap suaminya yang terlihat sangat lapar.
"Tidak apa-apa, kami memang sering berbagi makanan." jawab suami Rianti.
Suami Rianti sangat baik, apalagi usaha bengkelnya mendapat modal penuh dari Ayah Rianti. dia tidak pernah marah jika Rianti tidak masak. mereka akan membeli nasi dan lauk dari rumah makan. Ibu Rianti sering menasehati Rianti agar tidak boros dan uang hasil kerja suaminya disimpan, bengkel tempat kerja suami Rianti juga masih menyewa.
Rianti boros dan lebih mementingkan kesenangan hidupnya, penghasilan suaminya tidak tersimpan. bahkan suaminya kesulitan membeli barang-barang kebutuhan bengkel.
"Kami pulang dulu." ucap Suami Rianti kepada Ali.
"Ya, hati-hati." jawab Ali.
Ali melihat suami Rianti seperti dirinya. bekerja mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. tapi istri tidak memberikan timbal balik yang baik. Ali sering makan diluar dan diremehkan jika tidak memiliki uang.
Rianti keluar dari rumah Zia dan segera pulang ke rumahnya.
"Benar kau hamil?" tanya suaminya saat sampai di rumah.
"Tidak tahu, aku belum periksa." jawab Rianti.
"Sebaiknya kita ke dokter, cepatlah mandi. aku akan mengantar mu ke dokter." ucap suaminya.
"Tidak perlu ke dokter. nanti aku beli alat tes kehamilan saja." jawab Rianti.
"Baiklah, semoga saja kau memang hamil." ucap suaminya.
Rianti diam dan pergi ke kamar nya.
"Aku tidak akan hamil karena aku sudah pakai pencegah. uang hasil kerja mu juga belum cukup untuk ku, bagaimana mungkin aku hamil." batin Rianti.
Suami Rianti kembali ketempat kerjanya. Rianti biasa tidur pagi sampai jam 10 pagi.
__ADS_1
...----------------...