Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Serly ketahuan


__ADS_3

Setelah bertemu Melani Zaid kembali keruangan nya.


"Pak, tadi pagi mbak Melani mencoba masuk keruangan bapak, tapi dia tidak bisa masuk." ucap Keke sebelum Zaid melangkah masuk kedalam ruang kerjanya.


"Oh, jadi dia sudah berani ingin masuk keruangan ku, terimakasih informasinya. tolong panggilkan Harun, aku tunggu di ruangan ku."


"Baik pak."


Keke pergi menemui Harun yang sudah duduk di kursi kerjanya dan menyampaikan pesan dari Zaid.


"Pagi Bos," ucap Harun datang menemui Zaid.


"Pagi. aku baru bertemu Melani, dia menyatakan isi hatinya dan dia juga berkata mau menjadi istri ku."


"Wah, apa kau akan menerima dia? punya istri dua dalam waktu berdekatan pasti membuat batin mu sangat terpuaskan."


"Sialan. kau kira aku akan menjilat sampah busuk? bagi ku tidak ada kesempatan kedua untuk Melani. aku hanya mencintai Zia ku."


"Benar juga, semakin muda semakin hot. kau tau ternyata milik Keke lebih padat dan tegang dari pada milik Serly."


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku tidak memintanya, Keke sendiri yang memberikannya walaupun aku tahu dia tidak sengaja, kau tahu bukit kembaran nya mengenai wajah tampan ku,.ha.ha,.ha,. benar-benar suatu keberuntungan."


"Kau akan lebih beruntung jika mendapatkan hati dan menjadikannya istri. Kenapa membawa Keke bekerja saat hari minggu?"


"Serly masih di hati ku. Aku ingin berbagi kesibukan ku dengannya. Keke pintar dan teliti. aku puas dengan hasil kerjanya."


"Baguslah. ayo kita berangkat menemui investor. aku yakin dia membuat penawaran baru."


"Baiklah, mari kita temui tua bangka kaya raya itu."


Zaid dan Harun berangkat menemui seorang Investor yang sudah menanam modal selama lima tahun di perusahaan keluarga Zaid.


investor itu bernama Robert. Keturunan Australia dan memilih menetap di Bali berumur 50 tahun.


Zaid dan Harun tiba lebih dulu, mereka duduk menunggu kehadiran Robert di ballroom hotel Dirgantara. sepuluh menit menunggu, Robert datang dan mereka langsung pada inti pertemuan.


"Aku ingin perusahaan mu menaikan jasa pendapatan untuk ku, tidak banyak. aku, hanya minta dinaikkan 10 persen. jika kamu tidak sanggup, maka aku akan menarik seluruh modal yang sudah aku investasikan. bagi ku lima tahun bekerja sama itu sudah membuat perusahaan mu beruntung. pertimbangkan lah. kau masih ada waktu 3 minggu untuk menjawab permintaan ku."


"Baiklah, terimakasih sudah memberi ku waktu. aku akan memikirkan tawaran mu. senang bertemu dengan mu."


"Aku juga senang bertemu dengan mu, aku tahu kau lebih berbakat dari ayah mu. sampaikan salam ku padanya. aku permisi dulu."


Robert pergi meninggalkan Zaid dan Harun.


"Apa jawaban mu?" tanya Harun


"Aku akan minta pendapat Abi. kita masih ada waktu tiga minggu."


Harun tahu Robert merupakan investor terbesar di perusahaan keluarga Zaid. ia menanam modal empat puluh persen. sedangkan enam puluh persennya lagi dimiliki oleh keluarga Abi Zaid, terdiri dari Kakek, dua orang paman Zaid dan satu dari keluarga ibu Zaid.


Tidak mungkin bagi Zaid untuk mengembalikan modal Robert dan mustahil juga untuk menambah pembagian 10 persen keuntungan perusahaan hanya untuk Robert.


"Halo sayang, sudah selesai mengantar barang?"


"Belum, Zia masih di gudang satu. masih memuat barang ke mobil. tempat pengantaran barang dua jam perjalanan, kalau tidak macet."

__ADS_1


"Jadi kita tidak bisa makan siang bersama?"


"Sepertinya tidak, maaf ya bang."


"Baiklah. hati-hati dijalan, langsung pulang setelah mengantar barang. abang tunggu di perusahaan."


"Baiklah."


Zia dan Zaid menutup percakapan mereka ditelpon.


"Aku kira kau akan memikirkan ucapan Robert, ternyata di otak mu hanya ada Zia. bahkan situasi seperti ini kau masih bisa bermesraan dengannya."


"Aku tidak bisa mengabaikan panggilan istri ku. masalah Robert biarkan Abi ku yang mencari solusi."


"Hei,.kemana jiwa pejuang mu? biasanya kau akan langsung membuat keputusan. kenapa sekarang harus menunggu keputusan Abi mu?"


"Setelah menikah kau akan tahu jawabannya. ayo kita pulang." ucap Zaid


"Aku sudah lapar, kita makan disini dulu."


"Baiklah. mari kita makan siang."


Zaid dan Harun makan siang di hotel itu. Harun melihat wanita yang tidak asing baginya.


"Tunggu aku disini. aku ingin memastikan sesuatu."


Harun pergi tanpa memberi kesempatan Zaid bertanya. Harun memasang masker dan kaca mata hitam yang ia siapkan setiap bepergian.


Harun mengikuti perempuan yang ia kenal, ikut masuk kedalam lift. perempuan itu bersama laki-laki yang tidak dikenal Harun.


"Sayang, kita tidak makan dulu?"


"Kenapa kamu hanya menginap semalam di kota ini?"


"Aku bekerja sayang, ini juga cuti dadakan. aku sangat merindukan mu. aku ingin kita menghabiskan waktu bersama."


Serly tersenyum bahagia mendengar jawaban kekasihnya. Serly tidak mempedulikan Harun yang ikut masuk kedalam lift dan tidak mengenalnya.


Harun mendengar percakapannya Serly bersama kekasihnya.


Sekarang Harun tahu kebiasaan Serly yang suka menempelkan tubuhnya kepada pria yang ia goda. Hati dan telinga Harun terasa panas mendengar percakapannya Serly bersama kekasihnya.


Hubungan Harun dan Serly memang sudah renggang semenjak mereka bertengkar malam itu. Mereka juga jarang berkomunikasi.


Serly dan pasangannya keluar dari Lift tanpa mempedulikan Harun yang berada dibelakang mereka.


Harun segera menekan tombol turun, kembali ketempat pertemuannya bersama Zaid. Harun tidak perlu menyelidiki Serly lebih jauh lagi Harun sudah dapat menebak apa yang akan mereka lakukan.


Harun sampai ditempat Zaid.


"Siapa yang kau temui?"


"Aku tidak menemui siapapun. aku hanya menangkap basah Serly bersama pasangannya. mereka menginap di hotel ini."


"Wah, siang-siang begini mereka sudah check in?"


"Sudahlah, jangan membahas dia lagi."

__ADS_1


"Baguslah, jika kamu sudah melepaskannya." ucap Zaid


"Akhirnya aku dicampakkan lagi."


"Sabar, pasti diganti dengan yang lebih baik."


"Aku tidak selera lagi, ayo kita pulang." ucap Harun


"Haha, kau baru makan dua suap, lihatlah kau sangat mubazir."


"Mau bagaimana lagi, nafsu makan ku sudah hilang." jawab Harun dengan wajah hilang semangat.


"Baiklah, ayo segera kekantor." ucap Zaid yang sudah menghabiskan makan siangnya.


Zaid dan Harun kembali kekantor, saat masuk perusahaan Mereka bertemu beberapa karyawan yang memilih makan diluar.


Karyawan yang mereka temui tersenyum dan terlihat berbisik saat Zaid dan Harun sudah melewati mereka.


Zaid dan Harun sampai diruang kerja mereka. Keke sedang istirahat dan tidak berada di meja nya. Zaid segera masuk ke ruangan nya, bersiap menunaikan sholat zhuhur.


Setelah sholat dan makan siang Keke kembali ke ruang kerjanya, Keke mengetuk pintu ruang kerja Harun.


"Masuk." ucap Harun.


Keke masuk dan duduk didepan meja kerja Harun, duduk saling berhadapan.


"Pak, semua karyawan sedang bergosip katanya pak Zaid dan Melani akan segera menikah."


"Hahaha,. kenapa ada gosip seperti itu?"


"Saya juga tidak tahu. padahal tadi pagi pak Zaid menolak mbak Melani. Apa pak Zaid dan Zia masih bersama?"


"Masih."


"Kenapa pak Zaid tidak pernah membawa Zia ke perusahaan lagi?"


"Mereka sudah menikah, mereka datang saat orang di kantor tidak ada. jadi wajar saja kamu tidak pernah bertemu mereka berdua."


"Wah, ternyata mereka sudah menikah. tapi kenapa pak Zaid tidak membuat acara syukuran dan mengundang kita?"


"Orang tua Zaid sedang diluar negeri. setelah mereka kembali baru Zaid akan pesta."


"Aku ikut bahagia mendengar pak Zaid dan Zia sudah menikah, semoga mereka menjadi pasangan yang tidak terpisahkan."


"Doakan aku juga, aku juga ingin menikah dan mengakhiri masa lajang ku."


"Aku tidak mau mendoakan bapak bersama Serly, dia tidak pantas untuk bapak."


"Aku tahu."


"Bapak hanya pantas untuk ku." Batin Keke


"Tolong pesankan aku makan siang."


"Bukannya bapak dari luar?"


Harun melihat Keke, menatap Keke tanpa menjawab pertanyaan Keke.

__ADS_1


"Baiklah akan aku pesankan." ucap Keke dan pergi meninggalkan Harun.


...----------------...


__ADS_2