
"Kita tidak pulang ke rumah ibu?" tanya Zia saat Zaid membawa mobil bukan arah pulang menuju rumah orang tuanya.
"Tidak, kita pulang ke rumah Zia." jawab Zaid.
"Kita pindah rumah? peralatan rumah sudah dibeli?" tanya Zia senang.
"Sudah, semua sudah abang beli."
"Kenapa tidak ajak Zia?" ucap Zia sedikit manyun karena Zaid belanja peralatan rumah tanpa dirinya.
"Ini kejutan, semoga Zia suka." ucap Zaid sambil melihat Zia dan tersenyum, Zaid kembali fokus menyetir.
"Zia pasti suka, Terimakasih." ucap Zia tersenyum dan mencium pipi Zaid.
Mereka sampai di rumah, terlihat halaman rumah sudah terpasang tenda dan kursi yang tersusun rapi.
"Abang? kita acara syukuran?" tanya Zia gemas melihat ulah suaminya yang tidak memberi kabar jika ada acara di rumah mereka.
"Iya, acara syukuran kecil-kecilan, dihadiri tetangga dan orang-orang terdekat kita."
"Kenapa tidak bilang lebih awal jika ada acara?" ucap Zia menahan pipi Zaid dengan kedua tangannya.
"Zia kerja, abang juga. tenang saja semua keperluan acara malam ini sudah dihandle Ali dan Mama Keke, Paman dan Tante juga ikut membantu." jawab Zaid.
"Zia jadi gak enak sama ibu dan yang lainnya, masa Zia gak ikut kerja saat ada acara di rumah." ucap Zia
"Ini ide Mama Keke dan Ali, mereka yang mau. abang tinggal bayar."
"Mereka jadi sibuk karena kita."
"Jika ingin membantu, ayok kita turun dan masuk kedalam, acara dimulai setelah sholat magrib. ayok." ucap Zaid sambil menurunkan tangan Zia dari wajahnya.
Mereka masuk kedalam rumah, ini kunjungan kedua Zia ke rumah barunya. terlihat perabot rumah yang sudah tertata di setiap ruangan.
"Zia, buruan mandi. Mama sudah selesai mandi. kita tinggal menunggu yang lain datang." ucap Mama Keke yang berada diruang tengah.
"Maaf ya buk, ibuk jadi repot karena acara ini." ucap Zia mendekati Mama Keke.
"Mama gak repot, Mama cuma mengarahkan pekerja tenda dan menunggu catering datang." jawab Mama Keke.
"Oh, Zia pikir ibu yang masak."
"Mana mungkin Zaid memberikan Mama tugas seperti itu. Sekarang Zia cepat mandi, Zaid udah nunggu tuh?" ucap Mama sambil melihat Zaid yang berdiri didepan pintu kamarnya menunggu Zia.
"Oke, Zia kekamar dulu ya buk."
Zia segera menyusul Zaid, mereka masuk kekamar utama yang berada dilantai bawah. kamar yang paling besar diantara dua kamar lainnnya yang berada dilantai atas.
baru saja masuk kekamar Zia langsung memeluk Zaid.
"Kenapa?" tanya Zaid membalas pelukan Zia.
"Kamar kita cantik, semua perabotannya terlihat mahal. terimakasih." ucap Zia. merasa terharu melihat semua perabot rumah yang dibeli Zaid.
"Syukurlah jika Zia suka. waktu kita singkat. ayok segera mandi." ucap Zaid langsung mengangkat tubuh Zia, meninggalkan tas dan dompet diatas meja kemudian membawa Zia kekamar mandi.
__ADS_1
Zaid menyalakan shower yang membuat mereka basah.
"Pakaian kita belum dilepas, turunkan Zia." ucap Zia sambil mengusap wajahnya yang terkena air.
Zaid tersenyum dan menurunkan Zia. zaid membantu Zia melepaskan pakaian dan jilbab yang Zia pakai.
Zaid tahu Zia tadi pagi sudah keramas dan sudah bisa sholat. lebih kurang satu minggu Zaid menahan diri untuk tidak mengganggu Zia karena datang bulan. sore ini Zaid ingin mendapatkan haknya.
Zia paham keinginan Zaid dan dengan senang hati melayani dan memberikannya.
Dari kamar mandi berakhir di kasur empuk.
"Cukup satu ronde dulu, nanti malam kita lanjutkan." ucap Zaid sambil mengecup singkat bibir Zia.
Zia tersenyum, memang itulah kebiasaan Zaid. istirahat sejenak dan mengulang kembali permainan panasnya.
Zaid mengendong Zia, membawa Zia kembali kekamar mandi untuk mandi wajib.
Selesai mandi keduanya memilih pakaian tertutup karena malam ini acara syukuran menaiki rumah baru mereka.
Mereka sholat magrib diruang tengah bersama kerabat. setelah sholat magrib para tamu undangan mulai berdatangan. acara dimulai dan berjalan lancar.
Semua tamu mulai pamit pulang ke rumah masing-masing. Zaid, Zia, Paman dan Tante menyalami semua tamu, mereka berdiri didepan pintu rumah. saat semua tamu sudah pulang, Rianti mendekati Zia.
"Zia rumah mu membuat ku nyaman, boleh aku tidur di rumah mu?" tanya Rianti.
"Bukanlah kau sudah memiliki kontrakan?" jawab Zia.
"Aku hamil, di rumah kontrakan, aku sering merasa mual dan mencium bau tak sedap. aku rasa anak ku menyukai rumah mu." jawab Rianti.
"Izinkan saja Zia, Rianti inikan kakak mu satu-satunya. siapa tahu karena kebaikan mu, kamu bisa cepat hamil seperti Rianti." ucap Tante merayu Zia.
"Rianti tidur di rumah kita saja. jangan menyusahkan Zia lagi." jawab paman tidak setuju dengan ide Istrinya.
"Bapak tidak ingat, dulu waktu ibu hamil, ibu juga sering menginap di rumah Zia. almarhum Ibu Zia baik, dia selalu menyiapkan makan malam untuk ibuk. bahkan dia menunggu kedatangan ibuk setiap sore." jawab Tante.
"Bagaimana bang?" tanya Zia menatap Zaid.
"Baiklah, kami izinkan Rianti tidur di rumah ini." jawab Zaid dengan berat hati karena sudah pasti kebersamaannya bersama Zia akan terganggu dengan keberadaan Rianti.
"Terimakasih Zaid, kau memang laki-laki baik dan pengertian. semoga kalian cepat mendapat keturunan." ucap Rianti sambil tersenyum senang.
"Baiklah ibu pulang dulu, Zia, Zaid kami pulang dulu." ucap Tante tersenyum bahagia Rianti akhirnya bisa tinggal di rumah baru Zia.
Keke dan kedua orang tuanya juga pamit pulang ke rumah, Harun ikut mengantar mereka pulang.
Dodi bersama keluarganya juga pamit pulang.
Ali menghampiri Zaid dan Zia berencana untuk pamit.
"Ali, malam ini kau tidur dikamar satu lagi. pastikan barang-barang di rumah ini tidak dikeluarkan saat kami tidur." ucap Zaid yang didengar oleh Rianti karena berada tidak jauh dari mereka.
"Tenang saja Zaid, aku tidak akan melakukan itu. aku sedang hamil, aku juga akan tidur sendirian dikamar, suami ku tidur di bengkel. malam ini dia tidak bisa datang karena pekerjaannya belum selesai" jawab Rianti.
"Rianti, kau hanya kami izinkan tidur di rumah ini. pagi hari kau harus kembali ke rumah mu." ucap Zia penuh penekanan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera pulang ke rumah setelah aku bangun." jawab Rianti.
"Ali, antar Rianti kekamar atas." ucap Zaid tidak ingin Rianti berada diantara mereka lebih lama.
Ali mengantar Rianti, Rianti menempati kamar dilantai atas yang bersebrangan dengan kamar Ali.
"Abang, apakah kita akan aman?" tanya Zia saat hanya bersama Zaid.
"Entahlah, yang jelas kita tidak bisa menyuruh Ali keluar dari rumah ini. kita memerlukan Ali untuk memantau Rianti." jawab Zaid.
Zia diam dan memikirkan banyak hal, Zia tidak menyangka Rianti akan begitu mudah masuk dalam rumahnya.
"Jangan terlalu difikirkan. rumah kita sudah abang pasang kamera pengintai. abang juga tidak akan biarkan Rianti mendapatkan kunci utama rumah ini." jawab Zaid.
"Baiklah, kita memang harus lebih waspada dan hati-hati." jawab Zia.
Zaid membawa Zia kekamar, mereka sholat isya berjamaah. setelah sholat Zaid meminta Zia untuk tidur duluan. Zaid ingin melihat pekerja ketering dan tenda menyelesaikan pekerjaannya.
Ali turun dari lantai atas ikut menemani Zaid.
"Dia sudah tidur?" tanya Zaid.
"Sepertinya belum." jawab Ali.
"Jangan tinggalkan rumah saat dia di rumah ini dan pastikan dia tidak membawa barang rumah ini saat dia pulang." ucap Zaid.
"Baik. aku yakin Zia tidak menyukainya, tapi karena alasan saudara Zia terpaksa menerimanya." ucap Ali.
"Kau benar. aku juga terpaksa menerima kehadirannya.
Aku ingatkan kau untuk tidak turun dan pergi ke dapur setelah sholat subuh karena kami akan berada di dapur." ucap Zaid
"Baiklah aku tidak akan mengintip dan mengganggu kebersamaan kalian." Jawa Ali.
"Ingat kata-kata mu, aku tidak ingin kau melihat Zia yang memakai pakaian rumah." jawab Zaid
"Ya. Jam berapa aku baru boleh turun?" tanya Ali.
"Jam 7 pagi." jawab Zaid.
"Baiklah, aku akan membawa minuman kekamar dan tidak akan turun sebelum jam 7 pagi." jawab Ali.
Tenda dan kursi sudah selesai dibongkar, semua barang itu juga sudah masuk kedalam mobi pemilik tenda. petugas ketering sudah lebih dulu pulang.
Zaid segera memasukkan mobilnya ke garasi rumah, Begitu juga dengan Ali yang memasukkan motornya ke garasi. Zaid mengunci pagar dan mengunci rumah. Zaid segera ke kamar nya menyusul Zia yang sudah tidur duluan.
Ali juga segera naik kelantai atas untuk tidur.
***
"Ah, akhirnya aku bisa juga menikmati apa yang Zia miliki. ternyata dengan alasan hamil aku dengan mudah masuk ke rumah ini." ucap Rianti.
Rianti sangat iri dengan kehidupan Zia. Zia seolah mendapat surga dunia setelah menikah. bahkan tubuh Zia tampak semakin berisi, kulit terawat dan pakaian yang dipakai Zia semuanya bermerek.
rumah Zia juga menjadi rumah paling cantik di komplek perumahan saat ini.
__ADS_1
...----------------...