Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Berangkat ke Qatar


__ADS_3

"Abi punya punya teman yang tertarik menanam modal di perusahaan kita, dia meminta mu datang ke Qatar menemuinya. jika penjelasan mu tentang perusahaan mampu menarik perhatiannya dia akan menanamkan modal dalam waktu dekat. dengan begitu kita bisa mengembalikan modal Robert. Abi juga sudah ingin menjalin kerja sama dengannya."


"Tidak bisakah Abi yang melobi dan membuat kesepakatan bersamanya?"


"Perusahaan sepenuhnya tanggung jawab mu. Abi hanya pengawas, membantu mu mencari solusi. apa salahnya jika kamu kesini, bawa istri mu. kami juga ingin bertemu dengannya."


"Zia tidak bisa Zaid bawa, sepupunya akan menikah dalam waktu dekat."


Zaid sengaja berbohong, takut Abi marah mengetahui Zia bekerja di perusahaan yang mereka miliki.


"Sayang sekali, kami juga tidak tahu kapan kembali ke Indonesia. kamu harus cepat datang kesini karena teman Abi akan melakukan perjalanan keluar negeri. dia suka melancong. usahakan dalam dua hari ini kamu sudah sampai di Qatar."


"Baiklah." jawab Zaid dengan nada berat.


Mereka mengakhiri percakapan melalui video call. Zaid merasa khawatir jika meninggalkan Zia sendirian. Zaid juga tidak mungkin membawa Zia bersamanya karena akan mempengaruhi kinerja Zia dan mengganggu kelancaran proses pengangkutan barang.


Untuk melobi investor memerlukan waktu lama apa lagi jika investor suka mengulur waktu. Zaid bimbang untuk meninggalkan Zia sendiri. rumah orang tua Zaid terlalu besar dan jauh dari perusahaan. sementara untuk tinggal di perusahaan Zia belum melakukan rekam sidik jadi untuk akses masuk kantor Zaid dan terlalu beresiko untuk Zia tinggal sendiri di perusahaan.


Tinggal di rumah Zia sendiri juga tidak mungkin karena Zaid sedang membuat kejutan untuk Zia. Zaid meminta Ali memantau pengerjaan renovasi rumah Zia. Zaid tidak mau hanya menukar kunci rumah Zia. Zaid memilih merenovasi rumah Zia yang nanti bisa mereka tinggali karena jarak rumah Zia dengan perusahaan tidak sejauh rumah orang tua Zaid.


Zaid menelpon Harun meminta Harun datang ke kantor nya setelah selesai membawa Ibunya kontrol kesehatan.


Jam 11.00 menjelang siang Harun datang.


"Ada masalah serius?" tanya Harun.


"Aku harus ke Qatar dalam waktu dua hari ini, Aku tidak bisa membawa Zia. dia baru bekerja. aku juga bingung untuk tempat tinggal Zia selama aku pergi."


"Zia tinggal bersama ku saja. aku akan mengantar dan membawanya pulang ke rumah."


"Tidak mungkin, di rumah mu ramai. ada kedua orang tua mu dan adik-adik mu. di umah mu juga tidak ada kamar kosong."


"Atau Zia tinggal di kantor mu saja, aku akan menjaganya, aku akan tidur di kantor ku selama kamu pergi."


"Itu lebih tidak aku inginkan, kau laki-laki normal. bagaimana jika kau menyentuh Zia ku. di perusahaan juga banyak satpam. aku tidak suka ide mu."


"Sial. kau meragukan iman ku."


"Aku hanya mengantisipasi. Aku takut tidak kembali dalam waktu dekat, kau dan Zia akan semakin dekat. itu membuatku cemburu dan aku tidak ingin kita kelahi karena wanita."


"Kau terlalu jauh berpikir, aku tidak setampan dan sekaya dirimu. mana mungkin Zia tertarik pada ku."

__ADS_1


"Kau ingat Melani, saat kami bersama dia tahu aku anak orang kaya, bahkan aku membantu biaya kuliah dan keperluannya selama di negeri orang. kau lihat apa yang dia lakukan? dia mengikuti nafsunya hanya karena urusan ranjang."


"Kau takut ranjang mu digantikan oleh ku?"


"Aku tidak akan izinkan dan berikan peluang untuk siapa pun menggantikan ranjang ku."


"Hey,. santai saja. jangan marah. lihat wajah mu merah. kau sudah mendapatkan segalanya dari istri mu tapi masih cemburu. Zia tidak akan begitu, dia perempuan baik dan sangat penurut. aku sampai terharu saat melihat Zia tertidur dalam pelukanmu. aku ingin mencari yang seperti dia. dia cantik, menggemaskan dan juga mandiri."


"Kami belum melakukan urusan ranjang."


"Apa!!!"


"Kenapa?"


"Apa kau sakit?"


Harun kaget mendengar ucapan Zaid karena sudah hampir seminggu usia pernikahan mereka.


"Zia sedang datang bulan."


"Ha...ha..ha...ha.ha." Harun memegang perutnya yang terasa berguncang karena tawanya.


"Maaf, aku tidak tahu. aku kira kalian sudah...ha..ha..ha.."


Zaid hanya mendengarkan ucapan Harun yang menertawakan nasibnya.


"Cepat carikan solusi lain. aku tidak punya waktu banyak. aku akan segera memesan tiket bisa jadi sore ini aku akan berangkat." ucap Zaid kesal melihat Harun yang terus tertawa.


"Keke, ya.. tinggalkan Zia bersama Keke. aku yakin Keke akan menjaga Zia mu. Keke juga memiliki mobil dia bisa mengantar dan menjemput Zia."


"Baiklah, aku akan membicarakan ini bersama Keke."


Zaid berdiri dan hendak meninggalkan Harun di ruangan nya.


"Kau mau kemana?"


"Membawa Keke makan siang bersama Zia juga."


"Aku ikut. aku yang memiliki ide, seharusnya kau mentraktir ku."


"Baiklah, ayo segera berangkat."

__ADS_1


Mereka keluar dari ruangan, Zaid membawa Keke ikut bersama mereka. Keke merasa bahagia karena ini makan siang pertamanya bersama dua pria tampan yang memiliki jabatan tinggi di tempat ia bekerja.


Harun membawa mobil duduk didepan bersama Zaid, Keke duduk sendirian dibelakang. dalam perjalanan Zaid menelpon Zia, menanyakan keberadaan Zia. Zia masih berada di gudang masih antrian pengisian barang. Zaid meminta Harun menjemput Zia ke gudang C.


Mereka sampai di gudang C. Zaid memberi kode kepada Dodi untuk menggantikan pekerjaan Zia. Zia dan Zaid masuk kedalam mobil dan meminta Keke pindah duduk ke dapan bersama Harun. Zaid dan Zia duduk dibelakang mereka.


"Kita makan siang dimana?" tanya Harun


"Restoran langganan saja." jawab Zaid


"Baik." ucap Harun langsung tancap gas menuju lokasi.


Keke merasa risih dengan kemesraan Zaid dan Zia. mulai dari pertama masuk mobil Zaid sudah memeluk Zia, mencium wajah Zia berkali kali. menyandarkan kepala Zia di dada nya.


Berbeda dengan Harun yang menganggap perbuatan Zaid biasa saja. karena mereka suami istri dan Zaid sangat mencintai Zia.


Mereka sampai di restoran, mereka memilih tempat makan vip, agar pembicaraan mereka tidak didengar pengunjung lain.


Ini pertama kalinya Zia masuk ke restoran langganan dua sahabat itu. Zia yakin harga makanan di restoran ini tidak mungkin harga standar.


Zia duduk disebelah Zaid, sedangkan Keke duduk disebelah Harun.


Keke merasa malu, karena sempat berpikir hanya mereka bertiga yang akan makan satu meja siang ini. Keke lupa kalau Zaid sudah menikah dan pasti akan membawa Zia kemanapun.


Mereka makan siang. setelah selesai makan siang Zaid menanyakan tentang rumah dan keluarga Keke. ternyata Keke anak tunggal dan masih memiliki kamar kosong dirumahnya. Zaid meminta Keke membawa Zia tinggal bersamanya. membawanya bekerja dan kembali pulang ke rumah setelah Zia bekerja. Keke setuju dan sangat senang Zia menginap dirumahnya.


Selesai sholat, mereka mengantar Zia kembali ke gudang. Zaid juga pamit karena jadwal penerbangan jam 15.00 siang ini.


Zia tidak menangis tapi ia sangat sedih.


"Abang hati-hati dan telpon Zia jika abang sudah sampai. titipkan salam untuk kedua mertua Zia."


"Baiklah, abang akan sampaikan pesan Zia. Zia juga jaga diri, jangan pergi kemana pun selain urusan kerja. jika ada keperluan tunggu abang kembali. setelah urusan selesai abang akan kembali."


"Ya."


Zia memeluk Zaid, memeluknya dengan erat.


"Abang sudah boleh pergi?" tanya Zaid.


Zia mengangguk, Zia melepaskan pelukannya. Zia mengangkat tumitnya untuk mencium bibir Zaid. mereka melakukannya di samping mobil Zia.

__ADS_1


Keke dan Harun yang duduk di mobil melihat apa yang dilakukan suami istri itu. Keke menutup matanya.


...----------------...


__ADS_2